title cover

title cover

Wednesday, April 13, 2011

Headline News 13.04.11

US & GLOBAL 
• Harga minyak menderita penurunan terbesar selama 11 bulan untuk basis 2 harian, dibarengi dengan kejatuhan bursa saham pada hari Selasa
kemarin di tengah kembali munculnya kekhawatiran tentang prospek pemulihan ekonomi global serta adanya warning dari Goldman Sachs
bahwa harga minyak dunia (brent crude oil) akan mengalami tekanan dari penguatannya – ke level $105 dalam beberapa bulan ke depan dari
areal puncaknya di $127an Senin lalu. Harga minyak mentah yang diperdagangkan di New York turun lebih dari 3% dan sekaligus mengakumulasi
penurunannya sebesar 5,8% sejak Jumat lalu. Sementara lembaga energi dunia (IEA) mengatakan bahwa tingginya harga minyak/bahan bakar
energi justru akan menekan demand‐nya di pasar dunia.
 

• Indeks bursa saham dunia, yang diukur dalam indeks MSCI turun 1,3%, merupakan terbesarnya selama 4 minggu terakhir untuk basis harian.
Kekhawatiran atas prospek pemulihan ekonomi global kembali meningkat setelah menteri ekonomi Jepang memperingatkan bahwa kerusakan
yang disebabkan oleh gempa bumi dan tsunami besar bulan lalu bisa lebih buruk dari yang diduga. Pernyataan dari otoritas Jepang yang
mensejajarkan keparahan kebocoran radiasi di PLTN Fukushima dengan bencana nuklir terburuk dunia, di Chernobyl, juga menekan sentimen.
 

• Pasar semakin menjadi prihatin dengan situasi di Jepang sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia, dan oleh karenanya harga
minyak dan harga komoditas yang tinggi pada akhirnya akan memperparah tekanan ekonomi. Saham AS berakhir lebih rendah setelah angka
pendapatan mengecewakan dari produsen aluminium Alcoa Inc, komponen Dow yang menandai awal musim pendapatan triwulanan dengan rilis
setelah pasar tutup pada hari Senin. Saham Energi memimpin penurunan pada indeks S&P500. Sub‐Indeks energi S&P <. GSPE>, top performer
pada kuartal pertama, turun 3% Selasa kemarin. Sub‐indeks tersebut telah memimpin penguatan di bursa Wall Street sedemikian lama mengikuti
kenaikan harga komoditas dan optimisme pertumbuhan ekonomi global kala itu. Jadi saat harga komoditas mulai berguling, maka bursa saham
pun mengikuti.
 

• Indeks FTSEurofirst 300 <. FTEU3> saham top Eropa tergelincir 1,7%, yang juga dipimpin oleh saham‐saham energy dan pertambangan. Bursa
saham di negara‐negara berkembang, yang mengandalkan eksportir sumber daya alam, jatuh 1,9%.
 

• Brent <LC0c1> minyak mentah jatuh $3,06 untuk menetap di $120,92 per barel. Kontrak Mei Brent berakhir pada hari Kamis. Harga minyak
mentah di pasar AS tipe kontrak bulan Mei <CLc1> jatuh hingga areal $106/barel. Kekhawatiran terhadap rusaknya demand di sektor ini
menyebabkan tekanan di pasar. Pasar pun meragukan level kenaikannya belakangan ini tidak akan lestari. Harga emas di pasar spot <XAU=>
turun dari rekor tinggi Senin sementara perak <XAG=> merosot dari level tertinggi selama 31 tahun yang dicapai sehari sebelumnya. Reuters‐
Jefferies CRB index <.CRB>, patokan komoditas global, jatuh sekitar 2% dalam penurunan tertajamnya selama 1 bulan untuk basis harian akibat
harga bahan baku mengalami tekanan dari sell off‐nya minyak.
 

• Arus safe‐haven meningkat dan memicu kenaikan harga obligasi di pasar Treasury AS serta menguatkan nilai tukar yen dan Swiss franc – karena
para investor yang mulai gelisah melakukan aksi jual aset‐aset beresiko mereka yang didanai dengan meminjam mata uang ber‐yield rendah.
Carry Trade ini nampaknya demikian marak, terutama yen terhadap mata uang dunia – sehingga membuatnya berfluktuasi cukup besar kemarin.
Yen bergerak ke level terkuatnya selama 1,5 minggu terhadap dolar AS di 83.47, meskipun geraknya ke depan kemungkinan akan diatasi oleh
sikap BoJ yang menjaga kebijakan moneter yang longgar untuk membantu pemulihan ekonomi. Dolar melemah 1,2% ke level terendahnya
selama lebih dari 3 minggu terhadap Swiss franc <CHF=EBS> di 0,8943.
 

• Sementara euro masih perkasa dengan melanjutkan kenaikan ke level tertinggi 15 bulan terhadap dolar di atas 1,45, didorong oleh laporan aksi
beli dari China dan berita bahwa Cina, ekonomi terbesar kedua dunia, bersedia untuk membeli lebih banyak obligasi Spanyol.
 

• Komentar lunak dari pejabat penting Federal Reserve AS menekan sentimen dolar. Adalah Janet Yellen dan William Dudley yang kemarin
mengatakan bahwa bank sentral AS harus tetap berpegang pada kebijakan moneter yang super‐longgar karena inflasi bukan merupakan
ancaman dan tingkat pengangguran masih terlalu tinggi. Indeks dolar AS <. DXY>, yang merupakan indeks dollar terhadap sejumlah mata uang
utama dunia, turun hingga level terendah sejak Desember 2009, di 74,704.



GOLD & COMMODITIES 
• Emas anjlok 1 persen Selasa lalu, yang mencatatkan penurunan terbesarnya dalam satu bulan, karena penurunan tajam pada minyak mentah
mengikuti perkiraan bearish dari Goldman Sachs yang menekan metal kedepannya dari level tertingginya.
 

• Bullion/emas juga melemah setelah data menunjukkan defisit perdagangan AS merosot bulan Februari, suatu pertanda dari melambatnya
permintaan global. Emas telah menguntungkan dalam beberapa bulan karena rally pada oil dan gandum yang memicu kekhawatiran inflasi.
 

• Silver melemah dari level tertingginya Senin lalu dalam level tertingginya 31‐tahun.
 

• "That (Goldman report) has given enough reasons for investors to trim their positions, in particular for those markets that have gone parabolic.
That's enough to cool enthusiasm for commodities at the moment," ungkap Mark Luschini, kepala investment strategist pada broker‐dealer
Janney Montgomery Scott dengan $53 milyar assets under management.
 

• Tetapi dia menambahkan: "I don't think this is the end of the commodity bull market."
 

• Spot gold <XAU=> turun 1 persen ke level $1451,40 per ons hingga pukul 11:46 a.m. EDT (1546 GMT), yang pada awalnya telah sempat mencapai
level terendahnya dalam satu minggu level $1443,49. Senin lalu, emas mencapai level tertingginya $1476,21.
 

• U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCM1> merosot 1.1 persen ke level $1452,60 per ons, dengan volume perdagangan rebound
setelah melambat dari aktivitas normal pada beberapa hari sebelumnya.
 

• Silver <XAG=> membalikkan kenaikan pada awalnya untuk diperdagangkan turun 0.5 persen ke level $39.97 per ons, dan sekitar 5 persen
dibawah level tertingginya dalam 31‐tahun Senin lalu level $41.93.
 

• Di antara platinum group metals, platinum <XPT=> melemah 0.3 persen ke level $1774,49 per ons, sementara itu palladium <XPD=> turun 1.7
persen ke level $768.

Tuesday, April 12, 2011

Japan raises nuclear crisis to same level as Chernobyl


TOKYO | Tue Apr 12, 2011 7:51am EDT
TOKYO (Reuters) - Japan put its nuclear calamity on a par with the world's worst nuclear disaster, Chernobyl, on Tuesday after new data showed that more radiation leaked from its earthquake-crippled power plant in the early days of the crisis than first thought.

Japanese officials said it had taken time to measure radiation from the plant after it was smashed by March 11's massive quake and tsunami, and the upgrade in its severity rating to the highest level on a globally recognised scale did not mean the situation had suddenly become more critical.

"The situation at the Fukushima Daiichi plant is slowly stabilizing, step by step, and the emission of radioactive substances is on a declining trend," Prime Minister Naoto Kan told a press briefing on Tuesday.
Kan said he wanted to move from emergency response to long-term rebuilding.

"A month has passed. We need to take steps toward restoration and reconstruction," he said.
He also called on opposition parties, whose help he needs to pass bills in a divided parliament, to take part in drafting reconstruction plans from an early stage.

The operator of the stricken facility appears to be no closer to restoring cooling systems at the reactors, critical to lowering the temperature of overheated nuclear fuel rods. Late on Tuesday, Japan's science ministry said small amounts of strontium, one of the most harmful and long-lasting radioactive elements, had been found in soil near Fukushima Daiichi.

Hidehiko Nishiyama, a deputy director-general of the Nuclear and Industrial Safety Agency (NISA), said the decision to raise the severity of the incident from level 5 to 7 -- the same as the Chernobyl disaster in Ukraine in 1986 -- was based on cumulative quantities of radiation released.

No radiation-linked deaths have been reported since the earthquake struck, and only 21 plant workers have been affected by minor radiation sickness, according to Chief Cabinet Secretary Yukio Edano.

"Although the level has been raised to 7 today, it doesn't mean the situation today is worse than it was yesterday, it means the event as a whole is worse than previously thought," said nuclear expert John Price, a former member of the Safety Policy Unit at the UK's National Nuclear Corporation.


"NOWHERE NEAR CHERNOBYL"


A level 7 incident means a major release of radiation with a widespread health and environmental impact, while a 5 level is a limited release of radioactive material, with several deaths, according to the International Atomic Energy Agency (IAEA).
Several experts said the new rating exaggerated the severity of the crisis.

"It's nowhere near that level. Chernobyl was terrible -- it blew and they had no containment, and they were stuck," said nuclear industry specialist Murray Jennex, an associate professor at San Diego State University in California.
"Their containment has been holding, the only thing that hasn't is the fuel pool that caught fire."

The blast at Chernobyl blew the roof off a reactor and sent large amounts of radiation wafting across Europe. The accident contaminated vast areas and led to the evacuation of well over 100,000 people.

Nevertheless, the increase in the severity level heightens the risk of diplomatic tension with Japan's neighbors over radioactive fallout. Chinese Premier Wen Jiabao told Kan on Tuesday he was "concerned" about the release of radiation into the ocean.

"If Japan mishandles this issue, especially if, to solve its own problems, it affects the safety of neighboring countries, then that will have a bad effect on relations at the government and public levels," said Sun Cheng, a professor specializing in Japanese politics and Sino-Japanese relations at the China University of Political Science and Law in Beijing.

Chinese worries have not reached that point yet, he said.
China has so far been sympathetic rather than angry, though it and South Korea have criticized the plant operator's decision to pump radioactive water into the sea, a process it has now stopped.

HUGE ECONOMIC DAMAGE

The March earthquake and tsunami killed up to 28,000 people and the estimated financial cost stands at $300 billion, making it the world's most expensive disaster.

Japan's economics minister warned the damage was likely to be worse than first thought as power shortages would cut factory output and disrupt supply chains.

The Bank of Japan governor said the economy was in a "severe state," while central bankers were uncertain when efforts to rebuild the northeast would boost growth, according to minutes from a meeting held three days after the earthquake struck.

NISA said the amount of radiation released into the atmosphere from the plant, 240 km (150 miles) north of Tokyo, was around 10 percent that of Chernobyl.

"Radiation released into the atmosphere peaked from March 15 to 16. Radiation is still being released, but the amount now has fallen considerably," said NISA's Nishiyama.

Lam Ching-wan, a chemical pathologist at the University of Hong Kong and member of the American Board of Toxicology, said this level of radiation was harmful.

"It means there is damage to soil, ecosystem, water, food and people. People receive this radiation. You can't escape it by just shutting the window," Lam said.

Headline News 12.04.11

US & GLOBAL 
• Harga minyak mentah turun tajam pada hari Senin di tengah kekhawatiran tingginya harga bisa mengikis permintaan dan mengancam pemulihan
ekonomi, sementara aksi jual saham energi dan kegelisahan menjelang musim rilis laporan pendapatan perusahaan kuartal pertama 2011
menekan bursa saham AS.
 

• Tekanan harga minyak mentah juga dipicu oleh Uni‐Afrika mengatakan pemimpin Libya Muammar Khadafi menyambut upaya untuk mengakhiri
perang sipil, termasuk gencatan senjata dalam waktu dekat, meskipun pemberontak mengatakan penyelesaian apapun akan menuntutnya
mundur. Para analis masih skeptis terhadap kondisi di Libya, meskipun kesepakatan damai dan upaya untuk mengakhiri perang sipil sudah di
depan mata. Menurut mereka masih perlu waktu untuk mengembalikan ekspor (minyak) Libya ke tingkat sebelum konflik. Sementara Goldman
Sachs tetap mengatakan kepada nasabahnya bahwa ada kemungkinan kuat harga komoditas akan berbalik, dan merekomendasikan untuk
mengambil keuntungan. Faktor lain, seperti pemilu di Nigeria, sebagai salah satu produsen minyak terbesar dunia, juga menurut Goldman akan
membatasi gerak naik harga‐harga minyak saat ini.
 

• Harga minyak mentah Brent untuk Mei <LCOc1> berakhir $2,67 lebih rendah ke $123,98 per barel, setelah mencapai puncak 32‐bulan $127,02.
Harga minyak mentah AS <CLc1> jatuh ke $ 108,86 dari puncak tertinggi sejak September 2008, di $113,46 yang dicapai Jumat lalu.
 

• Bursa saham Wall Street mayoritas mengalami tekanan, setelah turunnya harga minyak membebani saham energi dan mulai maraknya aksi jual
di tengah kekhawatiran terhadap laporan pendapatan perusahaan untuk kuartal pertama tahun ini. Tapi Alcoa Inc, komponen Dow pertama yang
merilis hasil, melaporkan laba kuartal pertama yang besar Senin kemarin, setelah mengalami kerugian tahun lalu. Naiknya harga alumunium,
produk utama Alcoa, akibat permintaan untuk logam, menjadi pemicu perolehan keuntungannya di periode tersebut. Ada proyeksi dari Thomson
Reuters yang mengatakan bahwa laba perusahaan pada kuartal pertama tahun 2011 di indeks S&P500 akan meningkat 11,4% dari tahun lalu.
 

• Indeks saham industri Dow Jones <DJI.> naik tipis 0,01 persen, tapi 500 benchmark Standard & Poor's Index turun <SPX.> 0,28%. Indeks Nasdaq
Composite Index <. IXIC> juga turun 0,32 persen. Ada keraguan di pasar apakah perusahaan dapat memenuhi harapan yang cukup optimis. Ada
potensi kekecewaan, tetapi jika data‐data laporan pendapatan perusahaan tersebut dirilis sesuai atau di atas estimasi pasar, maka bukan tidak
mungkin bisa mengalami rally lanjutan.
 

• Sementara indeks saham di bursa dunia yang dihitung dalam indeks MSCI juga mengalami penurunan kemarin, sebesar 0,2%. Sementara untuk
bursa saham di Negara‐negara berkembang turun 0,6%. Saham Eropa jatuh, ditandai dengan turunnya indeks FTSEurofirst 300 sebesar 0,2%.
 

• Dana Moneter Internasional mengatakan pada hari Senin bahwa tidak percaya bahwa kenaikan harga komoditas akan menggagalkan pemulihan
ekonomi global tetapi memang memperingatkan bahwa inflasi akan tetap tinggi untuk sementara waktu.
 

• Dolar AS menguat terhadap euro setelah Kongres AS pada hari Jumat mencapai kesepakatan menit‐menit terakhir anggaran federal yang
menghindari government shutdown. Namun, fokus pada perdebatan batas maksimum utang AS dapat membatasi keuntungan. Rebound dolar
kemarin juga sebagai reaksi dari turun tajamnya terhadap euro pada hari Jumat melanjutkan downtrend‐nya dari empat bulan terakhir. Untuk
bulan April, dolar masih turun sekitar 2,0 persen. Pada hari Senin EUR/USD terkoreksi 0,4% dari level tertingginya selama 15‐bulan, di sekitar $
1,4486 pada hari Jumat.
 

• Sentimen negatif dollar berpotensi terus berkembang selama The Fed masih mempertahankan suku bunga yang rendah dan sementara bank
sentral di luar negeri, yaitu Bank Sentral Eropa dan Bank of England, cenderung akan menaikkan suku bunganya. Potensi kelanjutan kenaikan
suku bunga ECB di bulan Juli masih akan mendukung kenaikan EUR/USD dan juga mata uang euro terhadap mata uang utama dunia lainnya.
 

• Yen cenderung rebound dari pelemahannya yang mencapai level di 11‐bulan sebelumnya terhadap euro dan di 2,5 tahun terhadap dolar
Australia setelah gempa bumi kembali mengguncang Jepang Senin kemarin yang menyebabkan beberapa investor melepas aset‐aset beresiko
mereka yang didanai dari pinjaman murah (carry trade) mata uang Jepang.



GOLD & COMMODITIES 
• Emas naik ke level tertingginya Senin lalu karena ekspektasi the Fed akan menekan bank sentral lainnya dalam memperketat kebijakan moneter
yang menekan dollar AS, meskipun kemudian mereda dengan harga minyak dari tanda‐tanda kemungkinan perjanjian damai di Libya.
 

• Spot gold <XAU=> naik ke level tertingginya $1476,21 per ons dan diperdagangkan pada level $1467,40 per ons pada pukul 1323 GMT, terhadap
$1472,70 pada perdagangan terakhir New York Jumat lalu. Silver <XAG=> mencapai level tertingginya sejak awal 1980 pada level $41.93 dan
kemudian terakhir diperdagangkan $41.13 per ons terhadap level $40.85.
 

• Investor money telah mengarah pada komoditas pada umumnya dan logam mulia khususnya bulan ini karena investor khawatir mengenai
kenaikan inflasi yang potensial dalam perkembangan pasar dan perubahan pada kebijakan moneter di AS.
 

• "Gold investor interest is likely driven by ongoing concerns about inflationary pressures, both in emerging and developed economies, sovereign
debt levels and economic uncertainty, notably in the light of current high oil prices," kata analis BNP Paribas Anne‐Laure Tremblay.
 

• "Global monetary policy ‐‐ not only the U.S. ‐‐ is one of the key themes for gold in 2011," tambahnya.
 

• U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> melemah $5.60 per ons ke level $1468,50. Diantara harga logam mulai lainnya, platinum
<XPT=> diperdagangkan pada level $1798,24 per ons terhadap level $1803,75, sementara itu palladium <XPD=> ke level $792.98 terhadap level
$790.75.

Monday, April 11, 2011

Headline News 11.04.11

US & GLOBAL 
• Bursa saham AS ditutup melemah akhir pekan lalu tertekan lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi akan
menghambat pemulihan ekonomi, kondisi mana menurunkan minat investor ditengah kehati‐hatian menjelang rilis earning korporasi.
Kenaikan harga minyak menekan saham‐saham penerbangan dan transportasi AS. Volume perdagangan masih tetap rendah, pertanda
bahwa investor menahan diri menjelang rilis earning kuartalan awal pekan depan. Indeks Dow Jones <DJI.> turun 29,44 poin atau 0,24%
ke 12,380.05, S&P500 <. SPX> turun 5,34 poin atau 0,40% ke 1,328.17 dan Nasdaq <. IXIC> turun 15,72 poin atau 0,56% ke 2,780.42.
Dalam sepekan terakhir, Dow Jones tercatat naik 0,03%, sedangkan S&P500 dan Nasdaq masing‐masing turun 0,3%.
 

• Harga emas naik ke rekor tertinggi sepanjang sejarah menyusul kombinasi dari pelemahan dollar AS, ancaman penghentian aktifitas
pegawai pemerintah AS dan kekhawatiran akan inflasi yang mengangkat kinerja logam mulia tersebut. Emas mencapai kenaikan terbesar
mingguan dalam 4‐bulan (sebesar 2,5%), mendapat dukungan dari meningkatnya kekhawatiran pada kondisi Uni‐Eropa dan tekanan
inflasi.
 

• Emas mencatat kenaikan 10% sejak Januari menyusul kerusuhan politik di Timur Tengah dan Afrika Utara. Harga spot emas <XAU=> naik
1% ke 1,471.74 USD per troy ounce setelah sempat naik hingga 1,474.85 USD per troy ounce. Namun demikian, emas masih jauh dari
level inflation adjusted high‐nya, dimana jika disesuaikan dengan tingkat inflasi saat ini maka harga emas seharusnya berada pada kisaran
2.500 USD per troy ounce.
 

• Harga minyak mentah Brent melonjak hampir 3% kelevel tertinggi dalam 32‐bulan terakhir di atas 126 USD per barel, sementara Crude
AS naik hingga 112 USD per barel terdorong pelemahan dollar AS dan serangan terhadap ladang minyak Libya yang berpotensi
memangkas pasokan minyak jangka panjang. Selain konflik Libya, kerusuhan yang sedang berlangsung di Timur Tengah dan serangan
bom yang ditujukan untuk menunda pemilu Nigeria menambah kekhawatiran akan pasokan minyak.
 

• Minyak mentah Brent untuk Mei <LCOc1> naik 3,28 USD menjadi 125,95 USD per barel, setelah mencapai 126,40 USD per barel, harga
tertinggi sejak Agustus 2008. Sementara harga minyak mentah Crude AS <CLc1> naik 2,08 USD menjadi 112,38 USD per barel setelah
mencapai 112,58 USD per barel, level tertinggi sejak September 2008.
 

• Euro naik ke level tertinggi 15‐bulan terhadap dolar AS, mencatat kenaikan 1,7% dalam sepekan terakhir. Hingga akhir sesi Jumat, euro
tercatat menguat 1,1% ke 1,4478 <EUR=> setelah sempat naik hingga 1,4488, level tertinggi sejak 15‐bulan. Prospek penutupan kegiatan
pemerintahan AS yang akan menghentikan sekitar 800.000 pekerja pemerintah federal akan berdampak buruk pada pemulihan ekonomi
AS dan akan memberi tekanan pada dollar AS.
 

• Terhadap yen, dollar AS turun 0,1% ke 84,76 yen <JPY=>, analis memperkirakan yen akan melanjutkan pelemahannya lebih lanjut seiring
ekspektasi Bank of Japan akan terus mempertahankan kebijakan moneter stimulatif lebih lama setelah terjadinya gempa dan krisis nuklir.
Aussie dollar naik hingga level tertinggi sejak 1983 di 1,0582 <AUD=>. Kinerja aussie mendapat manfaat dari pertumbuhan ekonomi
Australia yang cukup kuat didukung oleh ekspor bahan baku ke China.
 

• Ekspektasi semakin besarnya rentang suku bunga ECB dengan bank sentral lainnya diperkirakan akan mendukung kinerja euro dalam
sepekan kedepan, sementara investor akan memperhatikan rilis data inflasi AS yang akan menjadi salah satu landasan penentuan
kebijakan The Fed. Investor juga akan mengamati rilis data penjualan ritel AS untuk Maret untuk mengukur kekuatan belanja konsumen.
 

• Dollar AS mengalami tekanan hebat setelah Gedung Putih dan Kongres AS mengalami kebingungan dalam upaya menangani deadlock
persetujuan anggaran AS hingga akhir pekan lalu untuk menghindari penghentian aktifitas pemerintah. Tanpa persetujuan pada anggaran
baru, pemerintah harus menghentikan segala kegiatan pada tengah malam hari Jumat waktu setempat (sekitar Sabtu tengah hari WIB).
Jika hal itu terjadi, sekitar 800.000 pegawai pemerintah AS tidak boleh bekerja dan tidak akan digaji, pemberian pinjaman oleh
pemerintah akan berhenti dan taman nasional serta situs‐situs yang dikelola pemerintah akan tutup. Ketegangan antara anggota Kongres
dari Partai Demokrat dan Republik dilaporkan meningkat saat mereka mencoba mencapai kata sepakat mengenai anggaran.



GOLD & COMMODITIES 
• Emas naik untuk mencapai level tertingginya empat hari dan perak menguat Jumat lalu, karena melemahnya dollar AS, prospek pada
U.S. government shutdown dan kekhawatiran inflasi yang mendorong bullion/emas diatas level $1470 per ons.
 

• Emas membuat kenaikan besar mingguannya dalam empat bulan, yang menggambarkan dukungan dari mengemukanya kembali
sovereign debt zona euro ditengah krisis keuangan Portugal dan gejolak inflasi karena crude oil dan corn mencapai level tertinggi
barunya minggu ini.
 

• Pada sisi grafik teknikal, emas mencapai level diatas level utama dan dapat mencapai target diatas $1500 per ons. Harga logam telah
naik lebih dari 10 persen sejak akhir Januari ketika gejolak politik mulai melebar pada Timur Tengah dan Afrika Utara.
 

• "With the expected future inflation being higher in this low interest rate environment, investors are more inclined to have some
contributions to commodities as an inflation hedge," kata Hakan Kaya, commodities portfolio manager pada Neuberger Berman, yang
mengelola sekitar $190 milyar aset‐aset klien.
 

• Spot gold <XAU=> naik ke level $1474,19 per ons dan terakhir naik 1 persen ke level $1472,70 per ons pada pukul 11:18 a.m. EDT (1518
GMT).
 

• Silver <XAG=> naik 2.3 persen ke level $40.40 per ons, menghentikan level tertingginya $40.44.

As worry list grows, G20 gets wonky


WASHINGTON | Sun Apr 10, 2011 4:59pm EDT
WASHINGTON (Reuters) - While the world watches revolutions in the Arab world and a nuclear crisis in Japan, the Group of 20 is engrossed in an esoteric debate over something called indicative guidelines.

The club of rich and emerging economies banded together at the height of the financial crisis and earned praise for swiftly putting in place policies that helped prevent a repeat of the Great Depression.

But as a new list of potential economic dangers grows, the G20 seems to have few immediate answers.
Instead, finance leaders meeting in Washington this week are likely to tout progress on establishing guidelines to measure imbalances between major exporters and importers.

Andrew Kenningham, senior international economist at Capital Economics in London, said the G20 had "gone done a cul de sac" that distracted it from the global economic stability issues it was meant to address.

"It will be increasingly difficult to disguise the fact that there is no agreement on macroeconomic coordination at a global level," he said. "The G20 is struggling to find a useful role for itself, no matter how frequently it meets."

The G20 lost its crisis-forged cohesion last year as different countries recovered at different rates, generating different policy priorities.

That has made it difficult for leaders to follow through on a promise they made back in 2009 to work together to smooth out imbalances. The idea was that consumer-driven economies such as the United States would save and invest more, while export powerhouses like China would develop domestic demand.

When it came time to set specifics, however, the G20 unity broke down. When they could not agree on any numerical targets, they set their sights on "indicative guidelines" instead, and even those have become a source of friction.

Kenningham said the G20 will have to show some progress this week that puts it on track to deliver something that leaders can sign at a November summit.

That means finance ministers will probably find some way to set aside their differences and establish broad guidelines, but leave agreement on the details for a later discussion.

SLIPPING ON OIL

With oil at its highest level since 2008's record-setting run, finance leaders will no doubt acknowledge economic risks in a statement released at the conclusion of the G20 meeting on Friday.

The International Monetary Fund, which holds its twice-yearly meeting on the weekend, is scheduled to release its economic outlook on Monday. The Fund warned last week of long-term oil scarcity that could lead to persistently higher prices.

At $126 per barrel, oil prices are high enough to threaten world economic growth, and some economists predict they will continue to creep higher. If oil prices average $150 per barrel over the next three months, it would erase three-quarters of a percentage point from global growth, Barclays Capital estimated.
A slew of data this week will offer some clues on how hard the oil price spike has hit economies.

Wednesday brings U.S. retail sales for March, which may provide the first hint that steep gasoline prices are cutting into consumer spending. Economists polled by Reuters are looking for a gain of 0.5 percent, which would be half the growth rate recorded in February, and much of the gain may come from rising prices rather than demand.

China releases a report on its first-quarter gross domestic product on Friday, and it is expected to show growth eased a tad to a still-lofty 9.5 percent. China has clamped down on credit conditions to try to cool inflation, which will likely constrain growth.
"Policymakers may have to choose between higher inflation and lower growth," said Luca Ricci, a Barclays analyst in New York.

Friday, April 8, 2011

Headline News 08.04.11


U.S. & GLOBAL

• Bursa  saham Wall  Street ditutup melemah  setelah  gempa  dengan 7,4  magnitude  menghantam  bagian  utara  Jepang,  kembali  meningkatkan  kekhawatiran tentang  krisis  nuklirnya,  namun  kepercayaan  investor  pada  kondisi  ekonomi  AS  berhasil  menahan  pelemahan  lebih  lanjut.  Saham-saham  ritel  menguat setelah  data   chain  store  sales   pada  Maret  meningkat  diata  sperkiraan,  meningkatkan  harapan  bahwa  pemulihan  ekonomi  AS  telah  berjalan  secara berkesinambungan.  Indeks  Dow Jones  <DJI.>  turun  17,26  poin  atau  0,14%  ke  12,409.49,  S&P500  <.  SPX>  turun  2,03  poin  atau  0,15%  pada  1,333.51  dan Nasdaq <.  IXIC> turun 3,68 poin  atau 0,13% pada 2,796.14.

• Harga  emas  mencapai  rekor tertinggi sepanjang sejarah  dalam  penguatan  beruntun dalam 3-sesi  terakhir  akibat  meningkatnya kekhawatiran  akan  tekanan inflasi dan  ekspektasi  bahwa kenaikan suku bunga ECB  akan melemahkan  dolar. Emas sempat  mencatat  kenaikan hingga level 1,464.80  USD per  trroy  ounce setelah berita gempa kuat menghantam Jepang.  Harga spot emas <XAU=> naik 0,1% ke 1.459 USD per troy ounce.

• Sementara  itu harga minyak  dunia  ditutup pada penutupan tertinggi  2-1/2-tahun  menyusul  kekhawatiran akan  terhambatnya pasokan  akibat  pertempuran di  Libya  dan  gejolak  di  Timur  Tengah  yang  dibayangi  oleh  peningkatan  suku  bunga  zona  euro  serta  gempa  besar  yang  kembali  melanda  Jepang.  Harga minyak  mentah  Brent  untuk  pengiriman  Mei <LCOc1>  naik  37  sen  ke  122,67 USD per  barel,  level tertinggi  sejak 4 Agustus  2008.  Sedangkan  harga  minyak mentah Crude AS  untuk pengiriman  Mei <CLc1>  ditutup naik 1,47 USD ke 110,30 USD per barel, penutupan  tertinggi sejak 22 September 2008.

• Euro  beringsut melemah  dari level  tertinggi  14-bulanannya  terhadap  dollar  AS  setelah pernyataan  Presiden ECB  meredam  ekspektasi pasar akan  kenaikan suku  bunga agresif  ECB,  meskipun  pelemahan  euro diperkirakan tidak  akan  terlalu  tajam.  Euro  juga  melemah  terhadap  yen,  yen  menguat  terhadap  mata uang  utama  dunia  lainnya  setelah  adanya  berita  bahwa  Jepang  dilanda  gempa  7,4  skala  richter  yang  kemudian  menurunkan  minat  investor  pada  aset
beresiko.

• ECB  menaikkan  suku  bunga  sebesar 25  basis  poin,  kenaikan  pertama  sejak  krisis  keuangan  tahun  2008,  sebuah  langkah  yang  ditujukan  untuk memerangi peningkatan  tekanan  inflasi.  Presiden  ECB  Jean-Claude  Trichet  mengisyaratkan  bank  sentral  sudah  siap  untuk  mengetatkan  kebijakan  lebih  lanjut  jika diperlukan, tetapi menambahkan  bahwa langkah  April ini belum  pasti menjadi kenaikan yang  pertama dalam serangkaian kenaikan suku bunga selanjutnya.
Euro terakhir turun 0,3%  ke  1,4292 <EUR=>. 

• Investor saat ini meningkatkan kehati-hatiannya  terhadap krisis utang  zona euro setelah Portugal  meminta bailout dari  Uni Eropa, yang  diperkirakan  nilainya mencapai  80  miliar  euro  (  114  miliar  USD).  Namun  kekhawatiran  bahwa  kondisi  serupa  akan  menular  ke  Spanyol  sedikit  mereda  setelah  Madrid  sukses menjual obligasi dengan tenor 3-tahun senilai 4,1 miliar euro.

• Terhadap yen, dolar turun  ke session low 84,57 <JPY=> setelah berita gempa terbaru di  Jepang. Hingga akhis  sesi  New York,  dollar tercatat melemah  0,7% ke 84,88  yen.  Bank  of  Japan  mempertahankan  kebijakan  moneternya  seperti  yang  telah  diprediksi  sebelumnya  dan  memberikan  sinyal  akan  kesiapan  pada pelonggaran  moneter lanjutan,  sebuah langkah yang berseberangan dengn tren bank sentral global yang mulai menarik bantuan likuiditas yang ditempatkan selama krisis keuangan. 

• Euro  melemah  lebih  dari  1%  terhadap yen  ke  121.32 yen  <EURJPY=>.  Sedangkan sterling turun  tipis  terhadap  dollar  ke 1.6324  <GBP=D4>  setelah  Bank  of   England mempertahankan suku bunga seperti yang diperkirakan sebelumnya.             

Gold retreats from record high after Japan quake

NEW YORK | Thu Apr 7, 2011 1:45pm EDT
NEW YORK (Reuters) - Gold was little changed on Thursday afternoon, retreating from a record high after another strong earthquake hit Japan.

In early trading, gold rose to a record for a third straight session on inflation worries and expectations that the 
 European Central Bank's first rate hike since 2008 would weaken the dollar.
Crude oil and global equities also retreated after a strong earthquake shook Japan, pressuring gold. The dollar strengthened against the euro instead of weakening as many had expected, which put further pressure on gold.
Even though the European Central Bank raised rates, investors were not convinced that more rate hikes were on the way.

"You're back to a dollar story for the first time in a long time." said Frank McGhee, head precious metals trader of Integrated Brokerage Services. "Gold prices and the dollar both benefit from that rate hike because it increases the differentials between euro zone and the U.S. interest rates."
Rising interest rates generally are negative for gold, but investors bought bullion immediately after the ECB rate hike because they expected the dollar to weaken in the future.

Spot gold hit a record $1,464.80 an ounce and was later down 0.1 percent to $1,456.14 at 1:14 p.m. EDT. U.S. gold futures for June delivery eased 0.1 percent to $1,357.50 an ounce.
The ECB raised rates by 25 basis points to 1.25 percent to counter inflation pressure. Gold has risen more than 2 percent this week, benefiting from rallies in crude oil and corn and as Portugal requested a European Union rescue package.

"Of course the ECB will be vigilant in monitoring inflation developments very closely. But it is more inflation expectations that made the ECB concerned, and less the actual increase (in inflation)," said Peter Fertig, a consultant at Quantitative Commodity Research.
ECB President Jean-Claude Trichet said the rate hike was not necessarily the start of a series, disappointing some who had expected a more hawkish tone.

The traditional inverse correlation between gold and the dollar appeared to be strengthening this week to a negative 0.8, as gold hit successive records, but the link could be erratic in the near term. A correlation of minus 1 indicates a perfect inverse link, while a correlation of plus 1 indicates that both are moving in perfect tandem.
SILVER EDGES UP, BUT OFF 31-YEAR HIGH

Among other precious metals, silver gained 0.2 percent at $39.50 an ounce, just off the previous session's 31-year high at $39.75.

Silver has not shaken its image of an unpredictable metal with high volatility and chronic oversupply, but investors seem set on driving prices beyond the recent 31-year high.

On fundamentals, industrial demand for silver is expected to rise less than 10 percent this year, after prices more than doubled to 31-year highs since late 2010, the head of metals research and consultant GFMS said on Thursday.

Platinum was down 0.4 percent to $1,781 an ounce, while palladium shed 0.2 percent to $776.50.
(Additional reporting by Jan Harvey in London)

Thursday, April 7, 2011

Headline News 07.04.11

US & GLOBAL 
• Indeks S&P500 berhasil menguat diatas level teknis penting 1333 yang telah bertahan dalam beberapa sesi terakhir, meskipun volume
perdagangan relatif masih tipis. Investor sangat selektif dalam memilih saham yang dibeli untuk menghindari spekulasi menjelang
earning korporasi. Saham‐saham teknologi menguat, pasar mendapat sokongan dari komentar Chief Executive Cisco John Chambers.
Saham Cisco Systems Inc naik 4,9% setelah Chambers mengakui perusahaannya telah kehilangan arah dan memerlukan waktu untuk
mengembalikan kredibilitasnya. Indeks semikonduktor PHLX <. SOX> naik 1,5%, didukung kenaikan Hewlett‐Packard Co yang menguat
2,2% dan Microsoft Corp yang naik 1,4%.
 

• Bursa saham AS juga mendapat dukungan dari pernyataan Presiden The Fed asal Atlanta ‐ Dennis Lockhart, yang mengatakan Fed akan
meneruskan program pembelian obligasi senilai 600 miliar USD sesuai jadwal hingga Juni mendatang, Lockhart menilai tidak ada alasan
untuk mengakhiri program tersebut lebih awal. Indeks Dow Jones <. DJI> naik 32,85 poin atau 0,27% ke 12,426.75, S&P500 <. SPX> naik
2,91 poin atau 0,22% ke 1,335.54 dan Nasdaq <. IXIC> maju 8,63 poin atau 0,31% ke 2,799.82.
 

• Emas mencapai rekor tertinggi dalam sejarah ditengah kenaikan harga minyak dunia kelevel tertinggi 2‐1/2 tahun, memicu kekhawatiran
akan inflasi yang dapat merugikan perekonomian dunia. Emas telah berperan lebih sebagai mata uang daripada komoditas dalam
beberapa waktu terakhir, investor mengambil emas sebagai mekanisme lindung nilai terhadap pelemahan dolar dan masalah politik yang
membebani nilai mata uang lainnya. Harga spot emas <XAU=> sempat naik hingga 1461.91, USD per troy ounce, level tertinggi sepanjang
sejarah, ditutup menguat lebih dari 5 USD di 1460 USD per troy ounce.
 

• Harga minyak dunia naik level tertinggi 2‐1/2 tahun didukung oleh kerusuhan di Timur Tengah dan Afrika Utara serta pelemahan dolar.
Minyak mentah Crude AS <CLc1> naik hampir 0.5% ke 108,83 USD per barel ‐ penutupan tertinggi sejak September 2008. Sementara
harga minyak Brent London <LCOc1> ditutup stagnan di 122,30 USD per barel setelah sempat naik di atas 123 USD per barel ‐ level
tertinggi sejak Agustus 2008.
 

• Euro berhasil menguat terhadap dollar AS ke level tertinggi dalam kurun 14‐bulan terakhir menyusul spekulasi kenaikan lanjutan ECB
setelah kenaikan April ini. Yen turun ke level terendah 11‐bulan terhadap euro dan terendah 6‐bulan terhadap dollar. Yen diperkirakan
akan melanjutkan pelemahannya seiring mulai maraknya aksi carry trade dari para investor dan institusi keuangan selaras dengan
pandangan bahwa BOJ masih akan mempertahankan suku bunganya dalam waktu yang lebih panjang, sementara bank sentral negara
maju lainnya mulai melakukan pengetatan moneter.
 

• Dalam sidangnya Kamis 07 April ini ECB secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, akan menjadi
kenaikan pertama sejak Juli 2008. Saat ini para analis memperkirakan Presiden ECB Jean‐Claude Trichet akan menambah nada hawkish
terhadap inflasi, yang akan meningkatkan ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga lanjutan dari ECB. Sementara disisi lain, kondisi
ekonomi AS masih terlalu rapuh bagi The Fed untuk mulai menaikkan suku bunga, demikian pernyataan dari petinggi The Fed asal Atlanta
‐ Dennis Lockhart.
 

• Euro naik hingga level 1,4350 <EUR=>, tertinggi sejak akhir Januari 2010, ditutup menguat 0,8% ke 1,4334, tidak terlalu terpengaruh
berita bahwa otoritas Portugal telah meminta bantuan finansial dari Uni‐Eropa. Sementara itu euro naik 1,4% terhadap yen ke 122,45
yen, setelah sempat mencapai level tertinggi 11‐bulan di 122.61 yen <EURJPY=>. Dollar AS naik 0,6% ke 85,43 yen <JPY=>, setelah
mencapai level puncak 6‐bulan di 85,52 yen. Terhadap the basket of currencies, dollar AS turun 0,5% ke 75,540 <DXY.>.



GOLD & COMMODITIES 
• Emas mencapai level tertinggi dalam dua harinya berturut‐turut Rabu lalu dan minyak mentah melejit kelevel terbarunya dalam 2‐1/2
tahun, memicu kekhawatiran pada inflasi yang dapat menekan pada perekonomian dunia yang paling diandalkan.
 

• Tekanan harga dari kenaikan negara‐negara ekonomi berkembang Asia – yang telah menjadi katalis/acuan pada recovery dunia dari
krisis finansial ‐‐ dan tidak mungkin mereda secepatnya, Asian Development Bank memperingatkannya.
 

• "High and volatile oil and food prices will, in particular, reverberate through the world economy, and they are likely to stay that way in
2011‐2012," ADB mengatakannya.
 

• "They will thus be a significant source of global inflation, especially in developing countries where recovery is firmly under way," Manilaberbasis
agen mengungkapkannya dalam sebuah laporan.
 

• Harga spot gold <XAU=>, yang menggambarkan perdagangan emas/bullion, naik ke level tertingginya sepanjang masa pada level
$1461,91 per ons, naik lebih dari $5 dari level puncak Selasa lalu. Pada perdagangan futures, U.S. gold untuk pengiriman bulan Juni
<GCM1> menguat setengah persen ke level tertingginya $1467,00 per ons.
 

• Perak /Silver <XAG=>, mencapai level tertingginya dalam 31‐tahun ke level $39.75 per ons pada perdagangan spot.

Monday, April 4, 2011

Headline News 04.04.11


US & GLOBAL

• Bursa saham  AS memulai perjalanan April dengan pijakan  yang cukup kuat  didukung oleh data sektor ketenagakerjaan AS  yang membaik. April merupakan
bulan dimana  secara  tradisonal  performa  saham-saham AS  menguat  signifikan. Pertumbuhan  sektor  ketenagakerjaan  yang  kuat dan  dukungan komentar
  korporasi  dari  pejabat  teras  The  Fed  menduung  kinerja  bursa  pada  akhir  pekan  lalu,  namun  pelaku  pasar  diperkirakan  akan  mengamati  rilis                              earning
kedepannya untuk mendukung  kinerja bursa lebih tinggi lagi. Dudley menyatakan pelonggaran kuantitatif  yang mencapai 600  milyar USD untuk  pembelian
obligasi diperkirakan akan berjalan hingga Juni, komentar ini berlawanan dengan komentar              hawkish   dari pejabat The Fed lainnya.

• Indeks  Dow  Jones  <.  DJI>  mencapai  12,419.71 -  level  intraday  tertinggi  sejak  Juni  2008 -  dan  ditutup  menguat  56,99  poin  atau  0,46%  ke  12,376.72,
sementara  S&P500  <.  SPX> naik 6,58  poin  atau  0,50%  ke  1,332.41  dan Nasdaq  <.  IXIC> naik  8,53  poin  atau  0,31%  ke  2,789.60. Dalam sepekan  terakhir,
Dow naik 1,3%, S  & P menguat 1,4%  dan Nasdaq naik 1,7%.

• Penguatan  dollar  AS  menekan  kinerja  emas  pada  sesi  Jumat  akhir  pekan  lalu,  meskipun  kemudian  kekhawatiran  akan  kondisi  hutang  Uni-Eropa  dan
-nya.  Harga  spot  emas  <XAU=>  turun  0,6%  ke  1,428.20  per  troy  ounce.  Dalam  sepekan  terakhir  kerusuhan  di  Timur  Tengah  mengangkat  emas  dari         low
emas tercatat menguat  0,5%, mencetak kenaikan  dalam 2-pekan berturut-turut,  setelah  sempat naik ke rekor tertinggi 1,447.40  USD per  troy ounce  pada
pekan lalu. Emas mencatat penguatan beruntun dalam 10-kuartal  berturut-turut, naik  0.7% pada kuartal  pertama  2011 yang merupakan kenaikan terkecil
sejak krisis keuangan  2008.

• Sementara itu  harga  minyak melonjak  tajam  ke  level tertinggi  sejak  2008  didukung oleh  membaiknya data sektor  ketenagakerjaan  AS  yang memperkuat
ekskeptasi  pertumbuhan ekonomi  sementara  konflik  Libya  dan kerusuhan di Timur Tengah  terus  menebar ancaman  akan pasokan  minyak.  Harga minyak
mentah  Brent  untuk  Mei  <LCOc1>  naik  1,34  USD  ke  118,70  USD  per  barel,  penutupan tertinggi  sejak  Agustus  2008  dan  mencatat  kenaikan  3,11  dalam
sepekan terakhir. Harga  minyak mentah Crude AS <CLc1>  naik 1,22 USD  ke 107,94 USD per barel, sempat  mencatat kenaikan  hingga  108,47 USD per barel.

• Penambahan  lebih  dari  200.000  pekerjaan  di  Amerika  belum  cukup  untuk  mengangkat  kinerja  dollar  AS  terhadap  euro  yang  masih  ditopang  kuatnya
ekspektasi  kenaikan  suku  bunga.  Laporan  data  sektor  ketenaga  kerjaan  menunjukkan  tingkat  pengangguran  AS  turun  menjadi  8,8%  pada  Maret  lalu
sempat mengangkat dollar AS hingga 84 yen, level tertinggi dalam kurun  6-bulan. 

• Adalah  komentar  Presiden  The  Fed  New  York - William  Dudley  yang  kemudian  membebani                 rally   dollar  terhadap  euro,  Dudley  mengatakan  ia  belum
melihat cukup landasan  untuk menyesuaikan kebijakan moneter  longgar  bank sentral meskipun data  pekerjaan membaik. Komentar Dudley  ini mereduksi
sentimen   hawkish   yang  sebelumnya  sempat  dihembuskan  beberapa  anggota  The  Fed  tentang  kemungkinan  pengetatan  moneter,  karena  Dudley
merupakan  anggota  yang  kuat  pengaruhnya  dalam  sidang  FOMC.  Kondisi  ini  kontras  dengan  ekspektasi kenaikan  suku  bunga  ECB pada  sidang  April  ini,
kenaikan mana diperkirakan akan menjadi  dasar bagi  beberapa  kenaikan  berikutnya. Euro naik 0,5% ke 1,4231  <EUR=>.

• Stress  test  perbankan  di Irlandia pada Kamis 31  Maret memperlihatkan bahwa perbankan di Irlandia memerlukan tambahan bantuan 24  miliar euro untuk
menutupi potensi kerugiannya. Namun demikian, masalah tersebut dan kombinasinnya dengan  krisis yang terjadi di Portugal belum cukup untuk  menekan
euro  dibawah  level  1,40  dalam  beberapa  minggu  terakhir,  hal  tersebut  tertutupi  ekspektasi  kenaikan  suku  bunga.  Sementara  itu  BOJ  yang  menggelar
sidangnya pekan  ini juga  diperkirakan  belum akan menaikkan  suku  bunga dalam waktu  dekat,  terutama sejak terdampak gempa dan tsunami pertengahan
Maret  lalu.  Kondisi  tersebut  membantu  kinerja  dollar  AS  dan  euro  terhadap yen.  Dollar  AS  naik  1,2%  ke  84,15 yen  <JPY=>, performa  mingguan terbaik
sejak Desember 2009. Sementara itu euro naik 1,5% ke  119.60 <EURJPY=> setelah menguat hingga level tertinggi  dalam 11-bulan.                                         



GOLD & COMMODITIES

• Emas  tergelincir  pada  hari Jumat  saat  laporan  pekerjaan  mendorong  dolar AS, meskipun kekhawatiran  utang  zona  euro  dan  kerusuhan di Timur  Tengah mengangkat emas dari level  intraday low .

• Rilis  optimis  data   nonfarm  payrolls   dan  manufaktur  menegaskan  penguatan  ekonomi  AS,  namun  kalangan  ekonom  mengatakan  berita  tersebut  tidak cukup  kuat  untuk  mendorong  Federal  Reserve  melepaskan  kebijakan  moneter  super longgar,  dimana  hal  ini  telah  memberi  sentimen  positif bagi  emas hingga mencapai rekor tertingginya.

• Emas  telah  menguat  sekitar  0,5%  selama  sepekan  kemarin,  merupakan  kenaikan  mingguan  kedua  secara  berturut-turut.  Emas  mencapai  level  rekor tertinggi di $1447.40 per ons  pekan sebelumnya.

• Kerusuhan politik di  Timur Tengah  dan masalah utang  negara  zona euro telah menopang penguatan  emas,  dan alokasi  dana  akhir-kuartal  juga mendorong logam awal pekan kemarin  sebelum perdagangan melemah  pada hari Jumat.

• Penjualan  sukses  obligasi  Portugal  pada  hari  Jumat  tidak  banyak  mengubah  ekspektasi  bahwa  negara  tersebut  akan  masuk  daftar  negara  yang
membutuhkan   bailout ,  sementara peringkat utang Irlandia dipangkas setelah hasil stress tests  bank mengecewakan.

• Meskipun terjadi rally pada  harga energi,  namun pertumbuhan  upah yang  stagnan nampaknya  bukan  pertanda  baik  bagi  emas sebagai  aset lindung nilai   Meskipun  terjadi  rally terhadap  inflasi.

• Walaupun  sebagian  besar  ekonom  pasar  setuju  The  Fed  tidak  akan  mengetatkan  kebijakan  moneter  dalam  jangka  pendek,  namun  seju mlah  komentar petinggi  The  Fed  (yang  cenderung  mengarah  pada  prospek  kenaikan  suku  bunga)  telah  membebani  emas.  Presiden  Fed  Richmond             Jeffrey  Lacker
mengatakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga  pada akhir tahun untuk  mengekang kenaikan inflasi Emas cenderung menderita ketika suku bunga dinaikkan. Harga emas kemungkinan besar akan menderita lebih jauh akibat  ekspektasi bahwa  Bank Sentral Eropa akan  menaikkan suku bunga  bulan ini.      

Friday, April 1, 2011

Headline News 01.04.11

US & GLOBAL

• Bursa saham  AS  mengakhiri  perdagangan  kuartal  pertama  dengan  solid,  meskipun  volume  perdagangan  masih  tipis  seiring  penantian  investor  pada  rilis data  sektor  ketenagakerjaan  AS  yang  diharapkan  akan  memberikan  katalis  pendukung  kenaikan  indeks  untuk  mencapai  level  tertinggi  tahunannya.
Tercatat  menguat 5,4%  pada  kuartal  pertama,  indeks  S&P500  berada  dikisaran  level 1.330,  level teknis  yang  belum  bisa  dipecahkan  lebih  lanjut  dalam beberapa  bulan  terakhir.  Jika  data Non-Farm  Payrolls   dirilis  lebih  tinggi  dari  perkiraan,  maka  bursa  saham  AS  akan  mendapat  tambahan  momentum penguatan  lebih  lanjut.  Dow  Jones  <.  DJI>  turun  30,88  poin  atau  0,25%  ke  12,319.73,  S&P500  <.  SPX>  melemah  2,43  poin  atau  0,18%  ke  1,325.83
sedangkan Nasdaq <IXIC.> naik tipis  4,28 poin  atau 0,15%  ke 2,781.07. Selama  Maret, Dow naik  tipis  0,76%, S&P  turun  0,1% dan  Nasdaq  melemah 0,04%.
Sedangkan dalam kuartal  pertama 2011, Dow naik 6,4%,  S&P menguat 5,4% sementara Nasdaq  naik 4,8%.

• Harga  emas  naik  hampir  1%,  mencatat  kenaikan  beruntun  dalam  10-kuartal  terakhir  seiring  pelemahan  dollar AS  dan  maraknya  demonstrasi  di  negara pengeskppor  minyak  yang  meningkatkan  daya  tarik  emas  sebagai  mekanisme  lindung  nilai  terhadap  inflasi.  Kombinasi  antara  kebijakan  moneter  ultra-longgar  oleh  bank  sentral, kekhawatiran  kondisi  hutang  zona  euro dan  kerusuhan  politik  di  Timur  Tengah  telah  menjadi  pendorong  laju  kenaikan  emas, meskipun terbilang sebagai kenaikan kuartalan terkecil sejak  2008. Harga spot emas <XAU=> naik 0,8% ke 1,435.10 USD per troy ounce.

• Harga  minyak mencatat penutupan  tertinggi  dalam  2-1/2 tahun  terakhir  dalam  perdagangan  akhir-kuartal yang  tipis.  Harga  minyak  Brent  naik mendekati level  tertinggi  dalam  satu  kuartal  terakhir  dan  naik  22  USD  sejak  Januari  seiring  meningkatnya  konflik  Libia  dan  kerusuhan  di  Timur  Tengah  yang mengancam  pasokan  minyak.  Kinerja  minyak  mendapat  dukungan  dari  meningkatnya  risiko  geopolitik  Timur  tengah  dan  mulai  munculnya  sinyal sejak  akhir  2008  silam.  Minyak  pemulihan  pertumbuhan  ekonomi  AS.  Pergerakan  minyak  dalam  kuartal  pertama  tercatat  sebagai  yang  paling volatile mentah  Brent  untuk  pengiriman  Mei  <LCOc1> naik 2,23  USD  ke  117,36  USD  per  barel, penutupan  tertinggi  sejak  Agustus  2008 dan  mencetak penguatan 23,9% dalam Q1 2011. Sedangkan harga  minyak  Crude  AS <CLc1> naik  2,45  USD  ke  106,72  USD per  barel, penutupan  tertinggi sejak  September  2008,  dan mencatat  kenaikan 16,8% selama Q1 2011.

• Euro berhasil mencatat penguatan terhadap dollar  AS pada  kuartal pertama  2011 yang  didukung oleh  ekspektasi  kenaikan  suku bunga zona  euro.  Namun sehubungan dengan masih  berlanjutnya  kekhawatiran  pada  kondisi  hutang sebagian  negara  di  kawasan tersebut, laju  penguatan  euro  diperkirakan akan terhambat.  Terlebih  penting  lagi,  prospek  fundamental  ekonomi  Uni-Eropa  masih  redup,  terutama  dibeberapa  negara  denagn  taraf  ekonomi  kecil.
Tantangan terbaru untuk pemangku  kebijakan  di  Uni-Eropa adalah  hasil stress  test  perbankan di  Irlandia yang  mengindikasikan bahwa  bank-bank  negara
itu memerlukan  modal senilai  24 miliar  euro sebagai kompensasi menutup  perkiraan  kerugiannya. Menurut  beberapa  analis, persyaratan  modal tersebut
akan  sulit  untuk  dipenuhi  dan  pemerintah  Irlandia  harus  merestrukturisasi industri  perbankan  secara  keseluruhan.  Kondisi  inilah  yang  diperkirakan akan
memb ebani kinerja euro pada  awal  kuartal kedua.

• Hingga  akhir  sesi  New  York,  euro tercatat  naik  0,4%  ke  1,4178  <EUR=>.  Euro  tercatat menguat  masing-masing  6%  terhadap  dolar dan  8%  terhadap  yen
pada  kuartal pertama 2011, dimana penguatan  tersebut  disebabkan  oleh  ekspektasi  kenikan  suku  bunga  ECB mendhului The  Fed  dan Bank of Japan.  Data inflasi Uni-Eropa yang dirilis lebih tinggi dari perkiraan semakin memperkuat  ekspektasi kenaikan  suku  bunga ECB  pekan depan. Pasar Interest Rate Futures
saat ini  melihat  kemungkinan  kenaikan suku bunga sebesar 125  basis  poin dalam 12-bulan  kedepan. Terhadap yen, euro tercatat menguat 0.7% ke 117.90
<EURJPY=>  setelah  sempat  mencapai  level  tertinggi  10-bulan  terakhir  di  117,90  yen.  Dollar  AS  berakhir  menguat  0.3%  terhadap  yen  ke  83.13  <JPY=>.
Pelaku pasar  saat ini menantikan  rilis data  Non-Farm Payrolls  AS  yang diperkirakan akan  mengarahkan  kinerja euro  terhadap dollar  AS dalam jangka dekat
kedepan.  Para  ekonom  yang  disurvei  oleh  Reuters memperkirakan akan  ada  penambahan  sekitar  190.000  pekerjaan  (terangkum  dalam  data  Non-Farm  Payrolls ) pada  bulan Maret setelah sebelumnya meningkat sebesar 192.000  pada  Februari.                 




GOLD & COMMODITIES

• Harga  emas  naik  hampir  1 persen  pada  hari Kamis,  mencatat  kenaikan  kuartalan  ke-10  secara  berturut-turut,  dipicu  jatuhnyaa  dolar  dan  naiknya  harga minyak serta gandum sehingga menambah  daya tarik  emas  sebagai lindung nilai terhadap inflasi.

• Kebijakan  moneter yang sangat  longgar  oleh  sejumlah  bank  sentral, kekhawatiran  hutang  zona  euro dan  kerusuhan  politik  di Timur Tengah  telah menjadi faktor pendorong  utama bagi emas, meskipun  logam mulia tersebut hanya  naik 1 persen,  kenaikan kuartalan terkecil  sejak 2008, sebelum  krisis keuangan melanda.

• non-farm  payrolls   AS hari Jumat  untuk  periode Maret,   Emas  juga  mencatat kenaikan harian  terbesarnya  selama hampir  2  pekan, sehari  sebelum  rilis  data yang dianggap  sebagai indikator  kunci  kesehatan ekonomi AS.

• Investor  membeli  emas  untuk  lindung nilai terhadap ketidakpastian  yang terkait dengan  laporan pekerjaan hari Jumat.  Kekhawatiran terhadap inflasi juga menguntungkan  emas  seiring  kenaikan  harga minyak  akibat  kekhawatiran  kurangnya  pasokan  dari  Timur  Tengah,  dan  juga  melonjaknya  harga  gandum karena permintaan yang kuat. Emas diperkirakan akan terus melanjutkan  rally -nya menuju level rekor $1500 per ounce.

• Emas  juga  didukung  oleh  penguatan  euro  atas  dolar  dipicu  data  inflasi  yang  meningkatkan  peluang  ECB  untuk  menaikkan  suku  bunganya,  namun penguatan euro kemungkinan hanya  sementara saja, karena masalah krisis utang kawasan masih menjadi faktor  negatif  di kuartal kedua  tahun ini. Adapun kekhawatiran  utang  zona  euro  telah  menjadi  faktor  utama  kenaikan  30%  harga  emas  di  tahun  lalu.  Indikasi  kemungkinan  dilanjutkannya  penurunan
peringkat  utang negara  zona euro oleh lembaga pemeringkat Moody’s  pada  hari Kamis kemarin juga masih berpotensi men-support  emas lebih lanjut.

• tercatat sebesar  2,18 juta   Namun indikasi kenaikan  suku  bunga  oleh The  Fed  dan ECB telah  menggerogoti  beberapa  daya tarik emas,  dimana net outflow ons, atau  3,5 persen, dari dana yang diperdagangkan di bursa utama  tahun ini.

• Sementara jika pasar tenaga  kerja  AS terus membaik, maka akan mendorong The  Fed untuk menaikkan  suku  bunga lebih cepat dari perkiraan semula,  dan hal ini akan berpotensi menekan kembali harga emas.       


Survey BOJ-Tankan menguat tipis di Q1


Sentimen di kalangan pebisnis manufaktur Jepang menguat tipis di kuartal pertama tahun ini,
namun analis pasar mengantisipasi k emungkinan terjadi penurunan kepercayaan dalam
tahun ini setelah Jepang dilanda gempa dahsyat, tsunami dan juga krisis nuklir, demikian
data BOJ-Tankan menerangkan.
Data menunjukkan indeks untuk sentimen manufaktur besar sebesar plus 6 di periode Maret,
naik dari plus 5 di periode Desember. Data Maret sedikit lebih rendah dari ekspektasi plus 7.
Namun data Tankan tersebut belum merefleksikan dampak dari bencana gempa bumi,
tsunami dan juga krisis nuklir, karena survey BOJ dilakukan sebelum bencana melanda
negeri Sakura tersebut.
Adapun indeks untuk periode Juni (Q2) diperkirakan akan sebesar plus 2, menggambarkan
bahwa perusahaan memprediksi kondisi bisnis akan memburuk dalam 3 bulan kedepan.
Data Tankan juga menunjukkan bahwa perusahaan-peruahaan s kala besar berencana untuk
memangkas belanja modal mereka sebesar 0,4% di tahun fiskal Maret mendatang, kontras
dengan ekspektasi kenaikan 1,8%.

Oil jumps to 2-1/2-year highs, posts big Q1 gains

NEW YORK | Thu Mar 31, 2011 6:33pm EDT
NEW YORK (Reuters) - Oil prices jumped to their highest close in 2-1/2 years on Thursday in thin end-of-quarter trading that left Brent near a record quarterly rise of more than $22 as Libya's conflict and Middle East unrest kept supply threats in focus and U.S. economic data added lift.

Oil remained supported by geopolitical supply risks and signs of economic growth after the most volatile quarter for the oil market since the end of 2008, analysts said.

Prices built on early gains after a report that U.S. jobless claims fell last week and data pointing to improving Midwest employment, all coming ahead of the closely watched March nonfarm payrolls report due on Friday.
"End of quarter positioning and today's jobless figures again surprised on the favorable side with further economic optimism likely to be on display tomorrow morning," Jim Ritterbusch, president at Ritterbusch & Associates said in a note.

Brent crude for May rose $2.23 to settle at $117.36 a barrel, highest close since August 2008 and up 23.9 percent for the quarter.
Brent reached $117.70 intraday on Thursday, leaving May Brent's $118.42 contract high ahead of the front-month 2-1/2-year intraday peak near $120 struck on February 24.
Brent's recovery comes after it fell below $108 in the aftermath of Japan's March 11 earthquake and tsunami.

U.S. crude rose $2.45 to settle at $106.72, highest close since September 2008, and jumping 16.8 percent for the quarter.
Prices rose to $106.83 intraday, close to the March 7 peak of $106.95 that is the highest intraday price since 2008.

"Crude bounced off $102.70 (on Tuesday), finding support there, and Libya looks like it will be shut for awhile and with the Middle East and improving economic data the market is looking for a catalyst to take out the 2011 high," said Gene McGillian, analyst, Tradition Energy in Stamford, Connecticut.
Trading volumes remained tepid, well below 30-day averages for both Brent and U.S. crude.

CONFLICT IN LIBYA

Investors' belief that a protracted conflict in Libya will keep exports shut off was reinforced as forces loyal to Muammar Gaddafi took back oil ports at Ras Lanuf and Brega. Rebels readying a counter-attack were both encouraged by and wary of news of covert U.S. support and the defection of Gaddafi's foreign minister.
Libya's top oil official Shokri Ghanem said from Tripoli that the country was continuing to produce some oil, although output was much reduced.

MIDDLE EAST UNREST

Investors also eyed Bahrain, where dozens were missing and more than 300 were detained after a crackdown targeting activists and Shi'ites, the opposition said.
"Friday prayers may be a key issue supporting the market now, and some of the focus is starting to shift back to Japan and the cost of rebuilding the country," said Thorbjoern Bak Jensen, an analyst at Global Risk Management.
The conclusion of Friday prayers has been a favored time for protests in the region.
Protests and unrest in Syria and Yemen have also been part of the geopolitical risk premium.

Thursday, March 31, 2011

Headline News 31.03.11

 US & GLOBAL

• Bursa saham AS naik  pada Rabu  dengan  aktivitas  didominasi oleh pembelian dari manajer  investasi  pada saham-saham yang  berperforma terbaik,
termasuk  pada  saham-saham  energi dan  saham  yang tergolong        small-caps , menjelang akhir  kuartal. Volume  perdagangan masih tipis, sekitar 6,8
miliar saham yang  diperdagangkan  di  New York  Stock Exchange, NYSE Amex  dan  Nasdaq,  jauh  di  bawah perkiraan rata-rata harian tahun lalu 8,47
miliar.  Rilis  data  sektor  ketenagakerjaan  yang  tidak  terlalu  mengecewakan  cukup  untuk  mempe rtahankan  sentimen  pasar  menjelang  rilis  data
Non-Farm Payrolls  akhir pekan ini.  Indeks Dow  Jones  <. DJI>  naik 71,60 poin  atau 0,58% ke  12,350.61, indeks  S&P500  <. SPX> naik  8.82 poin  atau
0,67% ke 1,328.26 dan Nasdaq <. IXIC> naik  19,90  poin atau 0,72% ke 2,776.79.

• memangkas  pelemahan 4-sesi  sebelumnya seiring  menguatnya minat   Harga emas berbalik  menguat  dalam  sesi  perdagangan yang cukup        volatile,
beli  investor  menjelang  data  sektor ketenagakerjaan  AS pada  akhir pekan ini.  Harga  spot emas  <XAU=>  naik  0,4%  ke  1.422 USD per  troy  ounce,
setelah sebelumnya sempat membukukan kenaikan hingga 1430 USD. 

• Harga minyak  dunia  melemah  pada  sesi  Rabu  dalam  sesi  perdagangan dengan  volume  yang  tipis,  ditekan  oleh  naiknya  stok  minyak  Amerika  ke
rekor tertinggi.  Minyak  tidak  terlalu  terpengaruh ketidakpastian  pasokan  dari Libya dan Timur Tengah, namun saat ini performa  minyak potensial
untuk  membukukan  kenaikan  lebih  dari  10%  dalam  kuartal  pertama  2011.  Harga  minyak  Brent  untuk  pengiriman  Mei  <LCOc1>  turun  3  sen  ke
115,13 USD per barel,  sementara harga minyak  mentah Crude AS pengiriman Mei <CLc1> turun 52 sen ke  104,27  USD per barel.

• Euro  mencapai  level  tertinggi  10-bulan  terhadap  yen  dan  mencatat  penguatan  terhadap  dollar  AS,  menyusul  semakin  kuatnya  ekspektasi
kenaikan  suku  bunga  ECB,  sementara  itu  Aussie  dollar  mencapai  level  tertinggi  sejak  awal  tahun  1980.  Euro  menghapus  penurunan  pada  awal
sesi  setelah petinggi  ECB menyatakan ECB  bermaksud untuk menaikkan  suku  bunga  secara  bertahap,  pernyataan  ini  menunjukkan  kenaikan suku
bunga  pada  April  diprediksi akan  menjadi  kenaikan  pertama dari  beberapa kenaikan suku bunga kedepannya. 

• Prospek  kenaikan suku bunga  ECB menaikkan  pandangan bahwa pemulihan  ekonomi  global telah  membaik dan  mendorong  minat  investor pada
aset-aset  yang  lebih  beresiko,  sebuah  tren  yang  potensial  mendukung  berlanjutnya  kinerja  euro  dalam  bebe rapa  pekan  mendatang.  Secara
khusus,  euro  telah  menunjukkan  daya  tahan  yang  luar  biasa,  tercatat  menguat  5%  sejak  awal  2011  meskipun  masih  terdapat  masalah  fiskal
dibeberapa  negara anggotanya.
 Euro  mencapai sempat menguat hingga  1,4147 dan ditutup pada  kisaran level 1,4128 <EUR=>,  terhadap yen  euro ditutup  menguat  ke 117,12 yen

• <EURJPY=R>,  tepat  di  bawah  level  tertinggi  sejak  Mei  2010.  Dollar  AS  naik  0.4%  terhadap  yen  ke  82. 86  yen  <JPY=>  setelah  sempat  menguat
hingga  83.19  yang  merupakan  level  tertinggi  sejak  11  Maret.  Investor  juga  mengamati  dengan  seksama  penguatan  tajam  Aussie  dollar  yang
menguat  hingga  1,0338  <AUD=>  atau  level  tertinggi  sejak  awal  tahun  1980  silam.  Aussie  dollar  mencapai  level  tertinggi  10 bulan  terhadap  yen
<AUDJPY=>. Kenaikan  ini diperkirakan akibat overestimasi pelaku  pasar  pada kemungkinan pengetatan  kebijakan moneter  The  Fed, dan  disisi lain
mengecilkan  kemungkinan kenaikan suku bunga oleh RBA.



 GOLD & COMMODITIES

• Harga  emas  terkoreksi dari  level   intraday  high   pada  hari  Rabu  ditengah  upaya  pencapaian  level  tertingginya. Aksi          profit-taking   dan  penurunan
harga  minyak  serta  kondisi  teknikal  yang  cenderung  lemah  telah  memicu  koreksi  emas.  Ekspektasi kenaikan  suku  bunga  oleh  The  Fed  dan  ECB
  AS  turut  mendorong  pelemahan  harga  emas.  Namun  demikian  emas  akhirnya  serta  kekhawatiran  terhadap  hasil  rilis  data        non-farm  payrolls
berhasil ditutup menguat dan mengakhiri pelemahannya selama 4 sesi terakhir.

• Di  awal  sesi,  harga emas dan minyak melemah setelah data menunjukkan  peningkatan pada stok  minyak mentah. Namun demikian, emas sekitar
$10  berada di bawah level  intraday high  meskipun harga  minyak berhasil  rebound . 

• Emas  gagal  mencetak  rekor  puncak  yang      baru  ditengah  kuatnya  volume  transaksi  dimana  mengindikasikan  investor  mulai  skeptis  mengenai
prospek  investasi  dalam  logam mulia tersebut.

• emas  selama  satu  dekade,  yang  mencatat  rekor  tertinggi  pekan  lalu,  tampaknya  akan  stabil   Sebuah  jajak  pendapat  Reuters  menunjukkan   rally
pada  kuartal kedua menyusul mulai bertambahnya  risiko penurunan  untuk logam mulia tersebut.

• Emas  memperoleh  keuntungan  dari  melemahnya  dolar  atas  euro  setelah  salah  seorang  petinggi  ECB  mengatakan  kenaikan  suku  bunga  akan
dilakukan secara gradual,  dan bursa saham  dunia naik  lebih  dari  1%  menyusul  rilis  optimis  data ADP  Employment mendorong  kenaikan  pasar  AS
  dan  juga Eropa.