title cover

title cover

Monday, June 4, 2012

Headline News 04.06.12




US & GLOBAL
Yields  dari  obligasi  AS  dan  Eropa  turun  ke  level  terendahnya  Jumat  lalu  dan  pasar  saham  anjlok  setelah  laporan  jobs  AS  yang  merosot  memperparah pada ketakutan penurunan (ekonomi) global dan membawa investor bergegas pada safety.   

Data  yang  menunjukkan  pertumbuhan  job  AS  melemah  dalam  level  terendah  tahunannya,  menggarisbawahi  tumbuhnya  rasa  bahwa  perekonomian  AS  tidaklah  kebal  terhadap  perlambatan  di  Eropa  dimana  Spanyol  berjuang  untuk  mendukung  perbankannya  atau  terhadap  turunnya perekonomian Cina.    

Indeks  bursa  AS  dan  Eropa  merosot  tajam.  Indeks  blue‐chip  Dow  dan  FTSEurofirst  300  dari  saham‐saham  Eropa  menghapus  kenaikan  tahunannya.   

Data manufaktur Cina yang melemah dan suramnya laporan aktivitas factory Eropa menambah ketakutan, mendorong safe‐haven emas kepada  kenaikan terbesar hariannya yang lebih dari tiga tahun.  

Indeks  MSCI's  all‐country  world  equity  <.MIWD00000PUS>  turun  1.9  persen,  sementara  itu  FTSEurofirst  300  <.FTEU3>  ditutup  melemah  1.9  persen ke level 954.874, menghapus kenaikan tahunannya.   

Indeks Dow Jones industrial average <.DJI> ditutup merosot 274.88 poin, atau 2.22 persen, untuk ditutup ke level 12,118.57. Indeks Standard &  Poor's 500 <.SPX> berkurang 32.29 poin, atau 2.46 persen, untuk ditutup 1,278.04. Indeks Nasdaq Composite <.IXIC> melorot 79.86 poin, atau  2.82 persen, ke level 2,747.48.    

Obligasi  bertenor  10‐tahun  AS/Treasury  notes  <US10YT=RR>  naik  hingga  1‐4/32  pada  harga  dengan  yield  1.442  persen,  terendah  dalam  tahunannya pada awal 1800‐an, menurut data Reuters.   

Dollar melemah terhadap euro dan yen Jumat lalu setelah suramnya laporan jobs AS yang mendorong pembicaraan the Fed kemungkinan perlu  mengambil langkah kedepannya pada monetary easing untuk menopang rapuhnya perekonomian. Dollar melorot 0.27 persen ke level 78.14 yen,  setelah mecapai level terendahnya 77.65 pada data Reuters, terendah sejak pertengahan Februari. Euro diperdagangkan naik 0.40 persen ke  level  $1.2406  <EUR=>,  rebound  dari  level  terendahnya  $1.2286,  terendah  sejak  1  Juli,  2010.  Telah  naik  hingga  ke  level  $1.2456  pada  data  Reuters, dibantu oleh pembicaraan pasar dari koordinasi monetary easing oleh negara G20 pada akhir pekan.   

Emas naik lebih dari 4 persen dalam hariannya pada spekulasi otoritas AS dapat meluncurkan putaran berikutnya pada monetary easing (QE3)  untuk mendorong pertumbuhan  ekonomi. Spot emas <XAU=> naik ke level tertingginya $1,629.41, sebelum membagi kenaikannya. U.S.  gold  futures <GCQ2> untuk pengiriman Agustus di settled naik $57.90 ke level $1,620.50 per ons.   

Brent crude oil futures <LCOc1> turun ke level terendah sejak Februari 2011 ke level intra‐day terendah $97.70, sebelum di settling anjlok $3.44  ke level $98.43. U.S. July crude <CLc1> melorot $3.30 untuk di settle ke level $83.23 per barrel, settlement terendah sejak 7 Okt.   



GOLD & COMMODITIES
Emas berhasil melonjak 4% pada hari Jumat, mencatat kenaikan harian terbesarnya selama lebih dari 3 tahun terakhir, menyusul rilis buruk data  non‐farm  payrolls  AS  telah  menambah  kekhawatiran  seputar  melambatnya  pemulihan  ekonomi  global  dan  meningkatkan  spekulasi  untuk  kemungkinan The Fed malanjutkan kebijakan moneter longgarnya. 

Logam mulia awalnya terkoreksi, namun kemudian berhasil rebound $60 per ounce dari level intraday low setelah investor memburu emas untuk  melindungi  asetnya  dari  ketidakpastian  kondisi  ekonomi  global  setelah  tingkat  pengangguran  AS  meningkat  untuk  pertama  kalinya  dalam  11  bulan terakhir. 

Emas tercatat naik 3.5% dalam sepekan terakhir, merupakan kenaikan terbesarnya sejak akhir Januari, ketika investor sudah resah atas kondisi  keuangan Spanyol yang morat‐marit dan Yunani yang mungkin keluar dari zona euro, yang bisa memicu krisis utang Eropa di luar kendali. 

Logam mulia terlihat bergerak berlawanan arah dengan aset beresiko, mencatat kenaikan disaat harga minyak Brent jatuh di bawah $100 per  barel dan indeks Dow Jones merosot 2% dan menghapus keuntungannya tahun ini. 

Aksi beli secara teknikal juga turut membantu menopang kenaikan emas setelah areal tripple bottom di sekitar $1,530 per ounce cukup kuat  menahan koreksi emas lebih lanjut. 

Harga emas spot terapresiasi mendekati level tertinggi 2 pekan setelah mencatat intraday high di $1,629.41 per ounce dan tercatat naik 3.9% di  $1,624.20 pada akhir sesi New York, rally 1 hari terbesarnya sejak Januari 2009.  Sedangkan emas berjangka untuk pengiriman Agustus naik $57.90 di level $1,620.50, dengan volume transaksi berada sekitar 50% di atas level  rata‐rata 30 hari. 

Pertumbuhan  lapangan  kerja  di  AS  di  bulan  Mei  mencatat  yang  terlemah  dalam  setahun  terakhir  dan  perusahaan  menambah  lebih  sedikit  lowongan  kerja  dalam  2  bulan  sebelumnya  dibandingkan  laporan  awalnya,  mengindikasikan  pemulihan  ekonomi  tengah  terhambat.  Jumlah  pekerjaan  yang  mampu  disediakan  di  bulan  Mei  sebanyak  69.000,  level  terkecilnya  sejak  Mei  tahun  lalu,  jauh  di  bawah  ekspektasi  sebanyak  150.000 pekerjaan, demikian data dari Departemen Tenaga Kerja menunjukkan. Sementara di bulan Maret dan April, pekerjaan yang disediakan  49.000 lebih sedikit dari laporan awalnya. Adapun tingkat pengangguran naik menjadi 8.2% dari 8.1%. Para ekonom menyalahkan krisis keuangan  yang berkepanjangan di Eropa dan pertumbuhan Cina yang melambat telah menyebabkan lesunya aktivitas pabrikan di AS pada bulan Mei. 




OIL & COMMODITIES
Harga minyak Brent jatuh dalam 4 hari berturut‐turut pada hari Jumat, terkoreksi di bawah $100 per barel ke level terendah 16 bulan, dipicu  buruknya data ekonomi AS dan Cina sehingga mendorong investor untuk memburu aset‐aset aman resiko. 

Data  menunjukkan  pertumbuhan  lapangan  kerja  di  AS  di  bulan  Mei  mencatat  yang  terlemah  dan  tingkat  pengangguran  mengalami  kenaikan  untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir dan perusahaan menambah lebih sedikit lowongan kerja dalam 2 bulan sebelumnya dibandingkan  laporan  awalnya,  mengindikasikan  pemulihan  ekonomi  tengah  terhambat.  Sementara  laporan  dari  Cina,  sebagai  negara  konsumen  minyak  terbesar kedua di dunia mengindikasikan melambatnya pertumbuhan ekonomi di negara tersebut setelah data manufakturnya dirilis turun, yang  membuat harga minyak tertekan di awal sesi. Kekhawatiran terhadap krisis utang eropa kian manambah sentimen negatif di pasar minyak, dan  membuat Brent terkoreksi lebih dari $128 per barel dari level puncak 2012 yang dicapainya di awal maret.  

Di bulan Mei, minyak Brent dan dan minyak mentah AS (US crude) mencatat kerugian bulanan terbesarnya sejak akhir 2008, setelah pelaku pasar  fokus pada potensi terhambatnya suplai minyak Iran akibat sanksi yang dijatuhkan pihak Barat terhadap Teheran. 

Harga  minyak  Brent  untuk  pengiriman  Juli  anjlok  $3.44  ke  $98.43  per  barel,  level  penutupan  terendahnya  sejak  27  Januari  2011,  setelah  tergelincir  di  bawah  $100  untuk  pertama  kalinya  sejak  Oktober.  Adapun  level  intraday  low  Brent  tercatat  di  $97.54,  yang  merupakan  level  terendahnya sejak Februari 2011. 

Sementara untuk harga minyak mentah AS (US crude) pengiriman Juli juga jatuh untuk keempat kalinya secara berturut‐turut, merosot $3.30 dan  berkahir di level $83.23 per barel, level penutupan terendahnya sejak 7 Oktober. Adapun level intraday low minyak mentah AS tercatat di $82.29,  juga merupakan level terendahnya sejak Okotber. US crude tercatat merosot 8.4% dalam sepekan, merupakan korkesi mingguankelimanya secara  berturut‐turut. Penurunan sebesar 20.68% dalam 5 pekan adalah prosentase penurunan 5 pekan terbesarnya sejak pekan yang berakhir per 18  Januari 2009. 

Data ekonomi AS yang dirilis Departemen Tenaga Kerja akhir pekan kemarin menunjukkan jumlah pekerjaan yang mampu disediakan di bulan  Mei sebanyak 69.000, level terkecilnya sejak Mei tahun lalu, jauh di bawah ekspektasi sebanyak 150.000 pekerjaan. Sementara di bulan Maret  dan April, pekerjaan yang disediakan 49.000 lebih sedikit dari laporan awalnya. Adapun tingkat pengangguran naik menjadi 8.2% dari 8.1%. Para  ekonom  menyalahkan  krisis  keuangan  yang  berkepanjangan  di  Eropa  dan  pertumbuhan  Cina  yang  melambat  telah  menyebabkan  lesunya  aktivitas pabrikan di AS pada bulan Mei. Laporan buruk payrolls dapat memaksa The Federal Reserve untuk segera meluncurkan putaran ketiga  pembelian obligasi untuk menopang kelanjutan pertumbuhan ekonominya. 
EURO ZONE
Dollar AS melemah terhadap euro pada sesi Jumat akhir pekan lalu tertekan rilis data sektor ketenagakerjaan Amerika untuk periode Mei yang memburuk, kondisi  mana meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed pada akhirnya akan menerapkan program quantitative easing lanjutan guna menopang pemulihan ekonomi Amerika.  Program tersebut berpretensi melemahkan dolar AS karena meningkatkan ketersediaan dolar AS di pasaran.  

Euro  bangkit  dari  pelemahan  ke  level  terendah  sejak  23‐bulan  terakhir  terhadap  dolar  AS  setelah  mencatat  pelemahan  bulanan  sebesar  7  persen  selama  Mei.  Namun  demikian  para  analis  masih  mempertahankan  pandangan  bearish  terhadap  euro  sehubungan  masih  kuatnya  tekanan  dari  berbagai  ketidakpastian  dan  potensi faktor‐faktor yang dapat memperburuk krisis hutang kawasan tersebut ditengah minimnya upaya signifikan dari para pengambil kebijakan. 

Pekan depan pelaku pasar akan mengamati hasil dari sidang ECB, yang meskipun berdasarkan ekspektasi para analis dalam jajak pendapat Reuters, ECB masih akan  mempertahankan suku bunga pada level 1 persen. Namun spekulasi bahwa bank sentral akan melakukan pemangkasan suku bunga mulai berkembang.  

Sementara  itu  berdasarkan  data dari  bank  sentral  Spanyol,  Bank  of  Spain,  memperlihatkan  besaran  dana  yang  ditarik  keluar  dari  perbankan  Spanyol  sepanjang  periode Maret naik menjadi sebesar 66,2 miliar euro (82 miliar USD). Ini merupakan level penarikan dana terbesar sejak 1990 silam, dipicu oleh kekhawatiran akan  kesehatan perbankan Spanyol. 

Dalam sepekan terakhir euro tercatat mengalami pelemahan 0,66 persen terhadap dolar AS ke 1.2432, sementara itu euro juga mencatat pelemahan 2,73 persen  terhadap yen ke 97.00, sebaliknya euro mencatat penguatan 1,33 persen terhadap sterling ke 0.8093 dan stagnan terhadap Swiss franc di 1.2012.




U.K.
Aktivitas manufaktur Inggris merosot kefase tercepatnya dalam tiga tahun pada bulan Mei karena meluasnya perlambatan ekonomi global yang menekan  permintaan pada barang‐barang Inggris, menurut survei Jumat lalu. 

Indeks Markit/CIPS Manufacturing Purchasing Managers' memperkirakan sektor akan berlanjut tertekan dari perekonomian yang mana terperosok dalam  resesi keduanya dalam dua tahun, dan kemungkinan ditambah ekspektasi Bank of England yang akan membutuhkan tindakan  untuk menangkis ancaman  yang berlarut‐larut pada perlambatan zona euro. 

Gambaran  tersebut  juga  kemungkinan  menambah  permintaan  untuk  Konservatif  Inggris  yang  memimpin  koalisi  pemerintah  untuk  menemukan  cara  terkini untuk mendorong pertumbuhan dengan austerity plans




JAPAN
Dolar AS melemah terhadap yen pada sesi Jumat akhir pekan lalu tertekan buruknya rilis data sektor ketenagakerjaan Amerika yang meningkatkan ekspektasi bahwa  The Fed pada akhirnya akan mengumumkan program quantitative easing lanjutan guna menopang pemulihan ekonomi yang masih rentan. Yen menguat ke level  tertinggi sejak pertengahan Februari tahun ini. Namun berkaitan dengan penguatan ini, Menteri Keuangan sementara menolak untuk berkomentar. 

Padahal sepanjang pekan ini spekulasi pasar akan kemungkinan intervensi oleh otoritas Jepang mulai berkembang, dipicu pernyataan Menteri Keuangan Jun Azumi  dan Gubernur BOJ – Masaaki Shirakawa yang menegaskan bahwa penguatan yen saat ini tidak selaras dengan kondisi fundamental ekonomi. Bank of Japan sendiri  dikabarkan telah melakukan pengecekan kurs dan suku bunga di perbankan negara tersebut, sebuah mekanisme yang biasa dilakukan sebelum otoritas melakukan  upaya intervensi guna melemahkan yen secara sistematis.  

Dalam sepekan terakhir dolar AS tercatat melemah 2,08 persen terhadap yen ke 77.99, sementara itu euro melemah 2,73 persen terhadap yen ke 97.00. Sedangkan  Aussie dolar tercatat melemah 2,70 persen terhadap yen 75.63 dan sterling turun tajam 3,98 persen terhadap yen ke 119.77.



AUSTRALIA
Aussie sudah terlihat mengalami tekanan jual di awal sesi Jumat setelah rilis data manufaktuur Cina yang melemah. Indeks PMI Cina untuk bulan Mei turun ke 50.4  poin dari 53.3 di bulan April sebelumnya. Cina merupakan pasar ekspor utama Ausralia, dimana jika terlihat adanya indikasi pelemahan pada data ekonominya maka  akan memberi pukulan pada sektor ekspor Australia, dan berdampak buruk pada nilai tukar mata uang lokalnya.  

Tekanan pada Aussie terus berlanjut di sesi New York, setelah data ketenagakerjaan AS dirilis buruk. Aussie sempat terkoreksi di bawah $0.9600 setelah mencatat  intraday low di $0.9583, sebelum akhirnya bergerak di sekitar $0.9685. 

Pertumbuhan lapangan kerja di AS di bulan Mei mencatat yang terlemah dalam setahun terakhir dan perusahaan menambah lebih sedikit lowongan kerja dalam 2  bulan sebelumnya dibandingkan laporan awalnya, mengindikasikan pemulihan ekonomi tengah terhambat. Jumlah pekerjaan yang mampu disediakan di bulan Mei  sebanyak  69.000,  level  terkecilnya  sejak  Mei  tahun  lalu,  jauh  di  bawah  ekspektasi  sebanyak  150.000  pekerjaan,  demikian  data  dari  Departemen  Tenaga  Kerja  menunjukkan. Sementara di bulan Maret dan April, pekerjaan yang disediakan 49.000 lebih sedikit dari laporan awalnya. Adapun tingkat pengangguran naik menjadi  8.2%  dari  8.1%.  Para  ekonom  menyalahkan  krisis  keuangan  yang  berkepanjangan  di  Eropa  dan  pertumbuhan  Cina  yang  melambat  telah  menyebabkan  lesunya  aktivitas pabrikan di AS pada bulan Mei. 

Sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan sebenyak 8 dari 20 kalangan ekonom memprediksi RBA akan mempertahankan suku bunganya di level 3.75% pada  sidangnya hari Selasa besok, setelah secara mengejutkan memangkas 50 basis poin bulan lalu. Beberapa alasan yang mendasari ekspektasi ini adalah bahwa RBA  nampaknya butuh beberapa waktu untuk melihat dampak dari  langkah  pemangkasan suku  bunga  yang telah  dilakukannya  dan  disamping itu indikator ekonomi  dalam negeri juga masih menunjukkan peningkatan. 




SWISS
Aktifitas manufaktur Swiss turun ke level terendah 3 tahun di bulan Mei dan berpotensi terus melemah seiring minimnya order, menyusul sektor berjuag ditengah  kuatnya  nilai  tukar  dan  lemahnya  permintaan  dari  zona  euro  akibat  krisis  utang  yang  tenag  melanda  kawasan  tersebut,  demikian  sebuah  survey  menunjukkan.  Indeks PMI yang dirilis oleh Credit Suisse turun ke 45.4 di bulan Mei dari 46.9 di bulan sebelumnya. Indeks terus tergelincir di bawah angka 50 yang mengindikasikan  sektor manufaktur tengah mengalami kontraksi untuk kedua kalinya secara berturut‐turut. Data bulan Mei adalah yang terendah sejak Juli 2009 ketika perusahaan‐ perusahaan  pulih  dari  dampak  runtuhnya  Lehman  Brothers.  Zona  euro  adalah  mitra  dagang  terbesar  Swiss.  Sektor  manufaktur  dan  ekspor  adalah  yang  paling  terpukul akibat kuatnya nilai tukar Swiss franc, meskipun pengiatan franc telah dibatasi di level 1.20 franc per euro oleh SNB pada September tahun lalu untuk  mengurangi resiko deflasi dan resesi.  

Dolar awalnya menguat terhadap Swiss franc hingga  mencatat intraday  high  di 0.9771 franc,  level tertingginya sejak 11 Februari 2011,  namun kemudian anjlok  hingga mencatat intraday low di 0.9641 franc sebelum akhirnya bergerak di sekitar 0.9675 franc setelah rilis data pekerjaan AS yang mengecewakan. 

Pertumbuhan lapangan kerja di AS di bulan Mei mencatat yang terlemah dalam setahun terakhir dan perusahaan menambah lebih sedikit lowongan kerja dalam 2  bulan sebelumnya dibandingkan laporan awalnya, mengindikasikan pemulihan ekonomi tengah terhambat. Jumlah pekerjaan yang mampu disediakan di bulan Mei  sebanyak  69.000,  level  terkecilnya  sejak  Mei  tahun  lalu,  jauh  di  bawah  ekspektasi  sebanyak  150.000  pekerjaan,  demikian  data  dari  Departemen  Tenaga  Kerja  menunjukkan. Sementara di bulan Maret dan April, pekerjaan yang disediakan 49.000 lebih sedikit dari laporan awalnya. Adapun tingkat pengangguran naik menjadi  8.2%  dari  8.1%.  Para  ekonom  menyalahkan  krisis  keuangan  yang  berkepanjangan  di  Eropa  dan  pertumbuhan  Cina  yang  melambat  telah  menyebabkan  lesunya  aktivitas pabrikan di AS pada bulan Mei.   

Pekan ini pasar akan mencermati data tingkat pengangguran dan CPI untuk periode Mei, dimana nampaknya masih relatif terkendali.  

Friday, June 1, 2012

Headline News 01.06.12



US & GLOBAL
Bursa saham ditutup dalam penutupan terbesarnya delapan bulan pada bulan Mei dan komoditas juga mendapat tekanan setelah  serentetan  kekhawatiran  mengenai  data  ekonomi  AS  Kamis  lalu  yang  menekan  pasar  dari  permasalahan  utang  Eropa.  Bursa  saham AS merosot Kamis lalu karena indeks S&P 500 ditutup pada kinerja terburuk bulanannya sejak bulan September, ditandai  oleh ketakutan berkenaan memuncaknya permasalahan utang Eropa.     

Indeks Dow Jones industrial average <.DJI> melemah 26.41 poin, atau 0.21 persen, ke level 12,393.45. Indeks Standard & Poor's  500 <.SPX> turun 3.00 poin, atau 0.23 persen, ke level 1,310.32. Indeks Nasdaq Composite <.IXIC> berkurang 10.02 poin, atau  0.35 persen, ke level 2,827.34.     

Yield obligasi AS melorot ke level terendahnya karena ketakutan mengenai permasalahan perbankan Spanyol dan kemungkinan  Yunani keluar dari zona euro yang memacu perkembangan global pada aset‐aset yang lebih aman/safe assets.   

Kebanyakan investor mengaitkan putaran dari risk aversion Jumat ini dengan laporan payrolls bulanan dari pemerintah AS yang  berisi turunnya jumlah dari rilis data jobs sebelumnya Kamis lalu.   

Bursa saham Eropa <.FTEU3> merosot 7 persen untuk bulan Mei dan indeks saham global <.MIWD00000PUS> turun 10 persen –  yang juga mencatatkan kinerja terburuknya sejak September.   

Euro merosot Kamis lalu terhadap dollar AS pada perdagangan yang volatile ditandai oleh keprihatinan sektor perbankan Spanyol  dan  kekecewaan  data  ekonomi  AS  yang  merupakan  tekanan  yang  membawa  mata  uang  tunggal  ke  level  terendah  dalam  23‐ bulan. Euro juga tertekan ke level terendah 11‐1/2‐tahun terhadap rally Japanese yen.     

Emas ditutup kedalam rangkaian penurunan empat bulannya pada bulan Mei, tetapi penutupan perdagangan Kamis lalu dengan  kenaikan tipis harian karena makin dalamnya krisis zona euro yang mendorong investor untuk berbalik pada emas ditengah aksi  melepas aset‐aset beresiko. Spot emas <XAU=> sedikit naik 0.2 persen ke level $1,564.30 per ons pada pukul 3:30 p.m. EDT (1930  GMT). Penurunan logam mulia 6 persen dalam bulanan ditandai penurunan besar sejak aksi jual akhir Desember yang membawa  kegoyahan menuju bear market.   

Crude oil futures anjlok Kamis lalu lebih dari 1 persen, menutup bulan Mei dengan penurunan terbesar bulanan yang lebih dari  tiga tahun karena membengkaknya cadangan AS dan pelemahan data ekonomi yang menambah kekhawatiran mengenai krisis  utang  zona  euro,  yang  semuanya  menekan  prospek  permintaan  pada  oil.  Front‐month  Brent  melorot  14.7  persen  dalam bulanannya,  penurunan  terbesar  bulanannya  sejak  Desember  2008,  setelah  anjlok  3  persen  Rabu  sebelumnya.  Brent  telah  melorot  lebih  dari  21  persen  dari  level  tertinggi  tahun  2012  ke  level  $128.40  yang  tercapai  Maret  lalu.  U.S.  crude  untuk  pengiriman bulan Juli <CLc1> di settled ke level $86.53, anjlok $1.29, dan menandai level terendah U.S. front‐month sejak 20 Okt.  




GOLD & COMMODITIES
Emas  menutup  bulan  Mei  dengan  mencatat  koreksi  bulanan  keempat  kalinya  secara  berturut‐turut,  merupakan  koreksi  terbesarnya dalam 12 tahun terakhir, meskipun pada hari Kamis ditutup menguat tipis menyusul memburuknya kondisi krisis zona  euro telah mendorong sejumlah investor untuk kembali memburu emas dan melepas aset beresiko mereka. 

Pada hari Rabu sebelumnya, emas naik $30 per ounce dalam sebuah rally yang dramatis setelah rebound dari level support‐nya di  $1,530. Meskipun mengalami rebound, namun emas masih mencatat koreksi bulanan sebesar 6% di bulan Mei. 

Pelaku pasar melihat performa emas masih lebih baik dibandingkan aset‐aset lainnya seperti ekuitas dan  minyak mentah, dan  nampaknya  saat  ini  emas  akan  kembali  dipandang  sebagai  aset  aman  ditengah  kondisi  Eropa  yang  semakin  buruk  dan  kekhawatiran akan melambatnya pertumbuhan ekonomi global. Harga emas spot naik 0.2% di sekitar $1,564.30 per ounce. 

Kekhawatiran terhadap krisis Eropa telah memberikan penawaran positif bagi emas, setelah Dow Jones melaporkan bahwa Dana  Moneter  Internasional  (IMF)  tengah  mempertimbangkan  sebuah  pinjaman  penyelamatan  untuk  Spanyol  jika  negara  tersebut  gagal memberikan bailout pada bank besarnya. Namun jurubicara IMF mengatakan bahwa pihaknya belum melakukan pertemuan  dengan Spanyol perihal laporan finansial tersebut, meskipun IMF akan pergi ke Madrid pekan depan untuk melakukan konsultasi  ekonomi. 

Emas telah menguat 15% sebelumnya di tahun ini setelah The Federal Reserve mengatakan akan mempertahankan suku bunga  mendekati  0%  hingga  2014  mendatang  dan  berpeluang  untuk  melanjutkan  program  pembelian  aset  yang  dikenal  dengan  quantitative easing (QE) untuk merangsang pertumbuhan ekonominya. 

Pasar akan mencermati data non‐farm payrolls AS yang akan dirilis hari Jumat, yang diperkirakan terjadi penambahan pekerjaan  baru sebanyak 150.000 di bulan Mei. Jika data dirilis buruk maka berpotensi menambah volatilitas di pasar. 




OIL & COMMODITIES
Harga  minyak  mentah  berjangka  turun  lebih  dari  1%  pada  hari  Kamis,  mengakhiri  bulan  Mei  dengan  mencatat  koreksi  bulanan  terbesarnya selama lebih dari 3 tahun terakhir, menyusul meningkatnya stok minyak AS dan buruknya data ekonomi ditambah dengan  kekhawatiran terhadap krisis utang Eropa, kesemuanya telah melemahkan prospek permintaan minyak. 

Minyak memangkas koreksi tajamnya lebih dari 2% di sesi sore setelah Dow Jones melaporkan bahwa Dana Moneter Internasional (IMF)  tengah mempertimbangkan sebuah pinjaman penyelamatan untuk Spanyol jika negara tersebut gagal memberikan bailout pada bank  besarnya. Namun jurubicara IMF mengatakan bahwa pihaknya belum melakukan pertemuan dengan Spanyol perihal laporan finansial  tersebut, meskipun IMF akan pergi ke Madrid pekan depan untuk melakukan konsultasi ekonomi. 

Harga  minyak  mentah  berjangka  sempat  anjlok  ke  level  terendah  7  bulan  setelah  data  menunjukkan  jumlah  stok  minyak  mentah  AS  meningkat  di  pekan  lalu,  menembus  level  tertingginya  mendekati  22  tahun.  Data  dari  U.S.  Energy  Information  Administration  (EIA)  menunjukkan jumlah stok minyak mentah naik melampaui perkiraan dan menembus level tertingginya sejak Juli 1990 sekaligus mencatat  kenaikan  ke  10  kalinya  secara  berturut‐turut.  Stok  minyak  domestik  diluar  Strategic  Petroleum  Reserve  (SPR)  atau  cadangan  minyak  strategis, naik 2.2 juta barel menjadi 384.74 juta barel di pekan per 25 Mei dibandingkan dengan data pekan sebelumnya. Data dirilis  melampaui ekspektasi terjadi penambahan 600.000 barel. Selama 10 pekan terakhir, stok minyak mentah AS telah meningkat lebih dari  38 juta barel. 

Euro  melemah  terhadap  dolar  ditengah  kondisi  perdagangan  yang fluktuatif,  menyentuh  level  terendah  23  tahun dipicu keprihatinan  pada  masalah  perbankan  Spanyol  dan  buruknya  data  ekonomi  AS.  kondisi  btersebut  telah  mendorong  investor  untuk  melepas  kepemilikan mereka pada aset komoditas dan ekuitas yang beresiko. 

Di  bursa  London,  harga  minyak  berjangka  jenis  Brent  untuk  pengiriman  Juli  berakhir  di  $101.87,  turun  $1.60,  level  penutupan  terendahnya sejak 4 Oktober. Dalam sebulan, Brent tercatat telah turun 14.7%, koreksi bulanan terbesarnya sejak Desember 2008.  Sementara  untuk  harga  minyak  mentah  berjangka  AS  untuk  pengiriman  Juli  berakhir  di  $86.53,  turun  $1.29  dan  mencatat  level  penutupan terendahnya sejak 20 Oktober. Di bulan Mei, harga minyak telah turun 17.5%, koreksi bulanan terbesarnya sejak Desember  2008. 

Pasar akan mencermati data non‐farm payrolls AS yang akan dirilis hari Jumat, yang diperkirakan terjadi penambahan pekerjaan baru  sebanyak 150.000 di bulan Mei. Jika data dirilis buruk maka berpotensi menambah volatilitas di pasar. 




EURO ZONE
Euro melemah mendekati level terendahnya sejak 2‐tahun terakhir terhadap dolar AS di 1.2335, dan anjlok ke level terendah sejak lebih dari 1‐dekade terakhir  terhadap yen menyusul berlanjutnya kekhawatiran investor akan kondisi Spanyol dan rilis data ekonomi Amerika yang lebih buruk dari perkiraan. Imbal hasil obligasi  Spanyol masih berkutat di level tertingginya seiring ekspektasi bahwa pada akhirnya pemerintah Spanyol akan mengajukan permintaan bail out.  

Ofisial Komisi Eropa – Oli Rehn mengingatkan bahwa euro bisa mengalami disintegrasi jika tidak ada mekanisme penanganan krisis yang kuat dan ketertiban fiskal  yang  mantap.  Komentar  serupa  diserukan  oleh  Presiden  ECB  –  Mario  Draghi  yang  menegaskan  bahwa  diperlukan  visi  dan  aksi  bersama  untuk  memastikan  kelangsungan Uni Eropa. 

Namun euro berhasil beranjak dari level terendahnya tersebut ditunjang oleh ekspektasi bahwa jajak pendapat di Irlandia pada akhirnya akan menyetujui pakta  fiskal Uni Eropa. Euro tercatat melemah 6,6 persen sepanjang Mei, performa bulanan terburuk sejak September 2011. 

Hingga akhir sesi New York, euro tercatat melemah 0,04 persen terhadap dolar AS ke 1.2362, euro juga kembali melemah 0,98 persen terhadap yen ke 96.85 yen,  namun naik 0,41 persen terhadap sterling ke 0.8024 dan naik tipis 0,02 persen Swiss franc di 1.2009.




U.K.
Deputi gubernur Bank of England Charlie Bean Kamis lalu memberikan tanda‐tanda yang paling eksplisit mengenai putaran stimulus berikutnya  untuk perekonomian yang dapat terjadi, tetapi komentar baru‐baru  ini dari pengambil  kebijakan lainnya memperkirakan bank masih menjadi  topik pada permasalahan tersebut.   

Tingkat  consumer  confidence  untuk  bulan  Mei  Kamis  lalu  juga  sedikit  membaik  dari  ekspektasi  tetapi  masih  menunjukkan  perekonomian  terperosok pada perlambatan yang mengarahkannya pada resesi kedua dalam dua tahun.   




JAPAN
Yen menguat terhadap mata uang utama dunia lainnya, setelah mencapai level tertinggi terhadap euro dalam kurun lebih dari 1‐dekade terakhir dan naik ke level  tertinggi sejak Februari terhadap dolar AS. Penguatan yen ini ditunjang oleh maraknya aksi beli investor terhadap aset safe haven berkaitan ketidakpastian kondisi  Uni Eropa dan rilis data ekonomi Amerika yang di bawah perkiraan para analis.  

Menanggapi penguatan yen akhir‐akhir ini Menteri Keuangan Jun Azumi menegaskan bahwa pihaknya terus mengamati dengan seksama pergerakan yen, sebuah  indikasi yang meningkatkan ekspektasi intervensi untuk menahan penguatan yen. Azumi mengingatkan para speculator bahwa penguatan yen akhir‐akhir ini tidak  merupakan  refleksi  dari  kondisi  fundamental  ekonomi  Jepang.  Demikian  juga  Gubernur  BOJ  –  Masaaki  Shirakawa  yang  menyatakan  pihaknya  terus  mengamati  perkembangan yen karena mempengaruhi sentiment pelaku bisnis dan memiliki dampak negative terhadap ekonomi Jepang pada umumnya. 

Hingga  akhir  sesi  New  York,  dolar  AS  tercatat  melemah  0,95  persen  terhadap  yen  di  78.34,  sementara  itu  euro  turun  0,98  persen  terhadap  yen  ke  96.85  yen.  Sedangkan  Aussie  dolar  tercatat  anjlok  0,72  persen  terhadap  yen  di  76.18  dan  sterling  juga  melemah  1,41  persen  terhadap  yen  ke  120.63.    




AUSTRALIA
Aussie berhasil rebound dari level terendahnya 6 bulan pada hari Kamis setelah rilis data domestic capital expenditure yang lebih baik dari perkiraan. Setelah sempat  terkoreksi ke level intraday low di $0.9668, Aussie kemudian rebound dan mencatat intraday high di $0.9770 sebelum akhirnya bergerak di sekitar $0.9730, atau  naik sekitar 0.2% dari posisi penutupan New York hari Rabu di sekitar $0.9708. 

Rebound terjadi setelah Biro Statistis Australia merilis data yang menunjukkan kenaikan 6.1% pada new private capital expenditure atau belanja modal swasta yang  baru di kuartal pertama tahun ini. Data dirilis jauh melampaui ekspektasi terjadi kenaikan 4%. Namun kekhawatiran seputar masih suramnya kondisi ekonomi global,  khususnya yang tengah terjadi di Spanyol, telah membatasi penguatan Aussie lebih lanjut. 

Di  sesi  overnight  Komisi  Eropa  mengusulkan  penggunaan  dana  bailout  Eropa  untuk  mengatasi  masalah  dalam  sistem  perbankan  Spanyol,  yang  diyakini  tengah  membutuhkan bantuan milyaran dolar dari pemerintah. 

Pasar akan mencermati data non‐farm payrolls AS yang akan dirilis hari Jumat, yang diperkirakan terjadi penambahan pekerjaan baru sebanyak 150.000 di bulan  Mei. Jika data dirilis buruk maka berpotensi menambah volatilitas di pasar. 




SWISS
Swiss mencatat pertumbuhan PDB yang mengagumkan di permulaan tahun ini, menyusul langkah bank sentral yang membatasi penguatan franc telah melindungi ekonomi dari  resiko resesi akibat memburuknya kondisi ekonomi di zona euro. Untuk melindungi ekonomi dari resiko deflasi dan resesi, maka pada September lalu bank sentral Swiss (SNB)  mematok batasan penguatan untuk mata uang lokalnya terhadap euro karena krisis utang yang tengah melanda kawasan Eropa berpotensi mendorong anjloknya euro dan  mengangkat Swiss franc. 

Dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, PDB Swiss tercatat naik 0.7% di kuartal pertama, melampaui ekspektasi 0.0%. Sedangkan dalam basis tahunan, PDB naik 2%, juga  jauh melampaui ekspektasi 0.9%. Wakil Ketua SNB Jean‐Pierre Danthine menegaskan dalam pidatonya pada hari Kamis, bahwa batas atas 1.20 telah berhasil mengurangi risiko  deflasi dan resesi tetapi tekanan bisa muncul lagi jika franc, yang masih diperdagangkan di sekitar 1.20, melanjutkan penguatannya. 

Swiss franc terkoreksi ke level terendahnya lebih dari setahun terhadap dolar pada hari Kamis, dipicu meningkatnya keprihatinan terhadap kondisi perbankan Spanyol yang  buruk dan naiknya biaya pinjaman. Swiss franc juga bergerak di sekitar level kritisnya (1.20 franc) terhadap euro karena masalah krisis utang Eropa yang masih terus menghantui  investor.  

Euro terkoreksi ke level terendah sejak medio 2010 terhadap dolar dipicu kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi Spanyol, negara yang memiliki perekonomian lebih besar  dibandingkan  dengan  penggabungan  antara  Yunani,  Portugal  dan  Irlandia,  dimana  Spanyol  kemungkinan  akan  membutuhkan  bantuan  luar  untuk  mengatasi  rapuhnya  perekonomian dan memperbaiki sektor perbankan yang membuatnya akan sulit untuk memangkas defisitnya. 

Swiss franc juga terkoreksi ke 0.9735 franc terhadap dolar, level terendahnya sejak 16 Februari 2011, sebelum akhirnya bergerak di sekitar 0.9710 franc. Sedangkan terhadap  euro, Swiss franc bergerak relatif stabil di sekitar 1.2010 franc. 

Pasar akan mencermati data non‐farm payrolls AS yang akan dirilis hari Jumat, yang diperkirakan terjadi penambahan pekerjaan baru sebanyak 150.000 di bulan Mei. Jika data  dirilis buruk maka berpotensi menambah volatilitas di pasar.

Thursday, May 31, 2012

Headline News 31.05.12



US & GLOBAL
Bursa  saham  AS  anjlok  Rabu  lalu  karena  naiknya  yields  obligasi  Spanyol  dan  Italia  yang  menambah  tensi  pada  pasar  keuangan mengenai kemampuan Eropa dalam menyelesaikan krisis utang yang bertumbuh.   

Indeks  S&P  500  telah  merosot  mendekati  6  persen  pada  bulan  Mei,  menghadapi  kinerja  terburuknya  sejak  bulan  September. Indeks Dow Jones industrial average <.DJI> melemah 160.83 poin, atau 1.28 persen, ke level 12,419.86. Indeks  S&P 500 <.SPX> berkurang 19.10 poin, atau 1.43 persen, ke level 1,313.32. Indeks Nasdaq Composite <.IXIC> melorot 33.63  poin, atau 1.17 persen, ke level 2,837.36.   

Yield obligasi benchmark Treasury AS anjlok ke level terendah sekurang‐kurangnya dalam 60 tahun Rabu lalu, sementara itu  saham dan komoditas terjadi aksi jual karena ketakutan krisis utang zona euro yang menghantui investor.    

Bursa  saham  Eropa  yang  dicatatkan  oleh  indeks  FTSEurofirst  300  <.FTEU3>,  merosot  1.5  persen  untuk  ditutup  ke  level  975.74, setelah diperdagangkan 105 persen dari rata‐rata volume perdagangan 90‐harinya. Indeks MSCI's all‐country world  equity <.MIWD00000PUS> berkurang 1.66 persen.   

Di Yunani, hasil dari pemilu bulan depan yang kemungkinan memutuskan apakah masih berada dalam euro masih tidak  pasti karena polling menunjukkan pihak yang mendukung atau melawan terhadap bailout.    

Euro  melorot  1  persen  terhadap  dollar  AS  Rabu  lalu,  merosot  mendekati  level  terendah  dua  tahunnya  karena  permasalahan krisis sovereign debt Eropa dan sektor perbankan yang membawa investor untuk melakukan aksi jual pada  mata  uang  tunggal  tersebut.  Euro  turun  ke  level  terendahnya  $1.2360  EUR=,  terendah  sejak  1  Juli  2010.  Terakhir  diperdagangkan  pada  level  $1.2374,  merosot  0.98  persen  dalam  hariannya.  Support  saat  ini  disekitar  level  $1.2150,  terendah yang terjadi akhir Juni 2010, dan kemudian terendah tahun 2010 pada level $1.1875.   

Emas melakukan pemulihan yang dramatis pada pertengahan hariannya pada volume perdagangan yang besar Rabu lalu,  rebound  lebih  dari  $30  per  ons  setelah  anjlok  pada  awalnya  bersamaan  dengan  aset‐aset  beresiko,  kemudian  melonjak  sebagaimana aksi beli safe‐haven yang berbalik setelah technical bounce diatas support utama di level $1,530 per ons. Spot  emas <XAU=> naik 0.7 persen ke level $1,565.30 per ons pada pukul 1828 GMT, yang telah melorot ke level terendah dua  minggunya $1,531.49.     

Harga oil anjlok lebih dari 3 persen Rabu lalu ke level terendah yang mendekati enam bulannya karena ketakutan mengenai  krisis utang zona euro memicu penurunan pada risk appetite. Harga untuk Brent dan U.S. West Texas Intermediate futures  mengalami  penurunan  terbesar  bulanannya  sejak  krisis  keuangan  tahun  2008,  dengan  U.S.  oil  mencapai  level  utama  dibawah teknikal karena investor beralih kepada safer havens. Brent July crude <LCOc1> melorot $3.21 ke level $103.47 per  barrel,  settlement  terendah  sejak  16  Des.  Harga  Brent  merosot  lebih  dari  $15  per  barrel  pada  bulan  Mei,  menghadapi  penurunan bulanan terbesarnya sejak Oktober 2008, tepat setelah ambruknya Lehman  Brothers. U.S. July crude <CLc1>  merosot $2.94 ke level $87.82 per barrel, settlement terendah sejak 21 Okt. 2011.



GOLD & COMMODITIES
Emas  menguat  ditengah  kondisi  perdagangan  yang  fluktuatif  pada  hari  Rabu,  menyusul  koreksi  tajam  pada  ekuitas  dan  komoditas  lainnya  telah  mendorong  permintaan  terhadap  aset  aman,  sementara  technical  buying  juga  turut  memberi  dukungan. Emas mengalami rebound setelah mendekati areal support $1,530 per ounce. 

Emas  di  awal  sesi  terkoreksi  lebih  dari  1%  dipicu  meningkatnya  kekhawatiran  seputar  krisis  utang  Eropa  yang  telah  menyebabkan  tertekannya  euro,  ekuitas  dan  komoditas.  Sedangkan  aset  aman  lainnya  seperti  Treasury  AS  dan  Bunds  Jerman naik tajam. 

Harga  emas  sendiri  tercatat  telah  terkoreksi  sebesar  6%  di  bulan  Mei,  merupakan  performa  bulanan  terburuk  sejak  Desember, ketika mengalami penurunan 11%. 

Harga emas spot naik 0.6% di $1,563.70 per ounce, setelah menembus level terendah 2 pekan di $1,531.49.    Sedangkan U.S. COMEX gold futures <GCM2> untuk pengiriman Juni naik $14.70 per ounce di $1,563.40.   

Perhatian  pasar  saat  ini  tertuju  pada  data  non‐farm  payrolls  AS  yang  akan  dirilis  hari  Jumat,  yang  diperkirakan  terjadi  penambahan pekerjaan baru sebanyak 150.000 di bulan Mei. Jika data dirilis buruk maka berpotensi menambah volatilitas  di pasar. 




OIL & COMMODITIES
Harga minyak turun lebih dari 3% pada hari Rabu ke level terendahnya selama hampir 6 bulan dipicu kekhawatiran terhadap krisis utang  Eropa yang mendorong investor menjauhi aset beresiko. 

Harga minyak jenis Brent dan West Texas Intermediate crude futures AS menuju koreksi bulanan terbesarnya sejak krisis finansial 2008,  setelah harga minyak menembus di bawah level support‐nya secara teknikal. 

Kekhawatiran  terhadap memburuknya krisis finansial di Eropa semakin meningkat setelah yield obligasi Spanyol dan Italia mengalami  kenaikan  dan  hasil  jajak  pendapat  terbaru  menunjukkan  partai  sayap  kiri,  yang  anti  penghematan,  nampaknya  akan  mengalami  kemenangan menjelang pemilu yang baru di bulan depan. 

Krisis yang terjadi di Eropa telah memicu koreksi Brent hampir $100 per barel, jauh di bawah level puncak 2012 di atas $128 yang dicapai  awal Maret lalu. Ekuitas dan komoditas, termasuk logam industri platinum dan tembaga juga turut melemah. 

Brent July crude <LCOc1> turun $3.21 ke $103.47 per barel,level penutupan terendahnya sejak 16 Desember. Harga minyak Brent telah  turun lebih dari $15 per barel sepanjang bulan Mei ini, berpotensi mencatat koreksi bulanan terbesarnya sejak Oktober 2008, sebulan  pasca runtuhnya Lehman Brothers. 

Sedangkan U.S. July crude <CLc1> turun $2.94 ke $87.82 per barel, level penutupan terendahnya sejak 21 Oktober 2011. Harga minyak  berjangka AS tersebut berpotensi mencatat kerugian lebih dari 17% di bulan Mei, dan akan mencatat koreksi bulanan terbesarnya sejak  Oktober 2008. 

Sementara itu data menunjukkan stok minyak turun 353,000 barel di pekan lalu berdasarkan laporan dari American Petroleum Institute  (API), kontras dengan ekspektasi terjadi kenaikan. Sementara data serupa dari U.S. Energy Information Administration baru akan dirilis  nanti malam sekitar pukul 22.00 wib. 

Permintaan minyak di bulan Maret sebesar 194,000 barel per hari, lebih rendah dari estimasi sebelumnya, dan turun 1.228 juta bpd dari  tahun sebelumnya, demikian laporan dari Energy Information Administration (EIA) Rabu kemarin.  Permintaan minyak di bulan Maret telah direvisi turun 1.07% menjadi 18.020 juta bpd dari estimasi EIA sebelumnya 18.214 juta bpd.  Permintaan telah turun 6.38% dari 19.248 juta bpd yang tercatat di bulan tersebut tahun lalu. 

Perhatian  pasar  saat  ini  tertuju  pada  data  non‐farm  payrolls  AS  yang  akan  dirilis  hari  Jumat,  yang  diperkirakan  terjadi  penambahan  pekerjaan baru sebanyak 150.000 di bulan Mei. Jika data dirilis buruk maka berpotensi menambah volatilitas di pasar. 



EURO ZONE
Euro  kembali  melemah  mendekati  level  terendah  sejak  2‐tahun  terakhir  terhadap  dolar  AS  terdesak  berlanjutnya  pesimisme  investor  setelah  naiknya  tingkat  borrowing  cost  Italia  dan  memuncaknya  kewaspadaan  terhadap  sektor  perbankan  Spanyol.  Biaya  pendanaan  di  Italia  meningkat  tajam  setelah  pada lelang obligasi tenor 10‐tahun, imbal hasilnya meningkat ke level 6 persen untuk pertama kalinya sejak Januari.  

Turut menekan performa euro adalah hasil jajak pendapat terbaru yang memperlihatkan kemungkinan naiknya dukungan bagi partai radikal sayap kiri  SYRIZA di Yunani yang meningkatkan kewaspadaan akan penolakan bail out dan pemangkasan anggaran oleh pemerintah baru Yunani.  

Sementara  itu  berdasarkan  sumber  terdekat  dari  pemerintah  Spanyol,  menyatakan  kemungkinan  pemerintah  akan  melakukan  rekapitalisasi  senilai  19  miliar euro dengan menerbitkan surat utang baru dan juga mengambil dana dari sumber dana restrukturisasi perbankan dan cadangan devisa tresuri.  

Hingga akhir sesi New York, euro tercatat melemah 1,02 persen terhadap dolar AS ke 1.2367, euro juga kembali melemah 1,51 persen terhadap yen ke  97.81 yen, namun naik  tipis 0,04 persen terhadap sterling ke 0.7991 dan turun tipis 0,02 persen Swiss franc di 1.2006 .




U.K.
Bank of England kemungkinan tidak  menginjeksi lebih banyak uang ke dalam perekonomiannya ketika terjadi pertemuan minggu depan, tetapi  polling para ekonom pada Reuters Rabu lalu mengatakan bahkan akan memulai mencetak untuk menekan dimasa mendatang.   

Meskipun berita resesi yang sedikit mendalam sejak Monetary Policy Committee pada pertemuan lalu, hanya 2 dari 50 responden pada polling  mengatakan kemungkinan untuk menambah menjadi 325 milyar pound yang telah siap untuk dicetak ketika pertemuan 7 Juni.   

Perpecahan pada zona euro tidak dapat dihindari, pengambil kebijakan Bank of England Paul Fisher dikutip pernyataannya Rabu lalu, ditengah  tumbuhnya kegelisahan mengenai stabilitas pada mata uang tunggal.   

Dalam  wawancaranya,  Fisher  yang  menduduki  BoE's  Monetary  Policy  Committee  and  Financial  Policy  Committee  untuk  regulasi  dari  sistem  keuangan yang luas, dikutip perkataannya bahwa pengaruh dari perpecahan euro tergantung pada bagaimana otoritas Eropa menanganinya.   

"No one is trying to anticipate a euro break‐up, but you just can't rule it out," ungkapnya.   

Pasar properti Inggris menunjukkan tanda‐tanda dari kecilnya kenaikan kembali pada bulan April, dengan data Bank of England menunjukkan  mortgage  approvals  naik  ke  level  tertingginya  sejak  Januari,  tetapi  meluasnya  gambaran  lending  diperkirakan  keseluruh  perekonomian  yang  masih melemah. 




JAPAN
Anggota  BOJ  Hidrohide  Yamaguchi  menegaskan  bahwa  pihaknya  belum  mengesampingkan  kemungkinan  pelonggaran  moneter  lanjutan  terutama  jika  kondisi  krisis  eropa  semakin  mengerucut  dan  berdampak  negative  bagi  ekonomi  Jepang.  Dalam  wawancaranya  dengan  the  Nikkei  Business  Daily,  Yamaguchi menandaskan bahwa keputusan untuk melakukan pelonggaran moneter akan didasari oleh perkembangan ekonomi dan tingkat inflasi yang  dibawah target BOJ.  

Sementar itu Perdana Menteri Yoshihiko Noda menyatakan bahwa pemerintah akan menghidupkan kembali reactor nuklir yang tidak beroperasi pasca  tsunami tahun lalu untuk menangani kemungkinan berkurangnya suplai listrik selama musim panas. Tenaga listrik pembangkit nuklir mencakup 30 persen  dari seluruh suplai listrik di Jepang. Sebanyak 50 reaktor dihentikan operasionalnya pasca tsunami dan tragedy nuklir di Fukushima.  

Hingga akhir sesi New York, dolar AS tercatat melemah 0,52 persen terhadap yen di 79.09, sementara itu euro turun 1,51 persen terhadap yen ke 97.81  yen. Sedangkan Aussie dolar tercatat anjlok 1,92 persen terhadap yen di 76.73 dan sterling juga melemah 1,55 persen terhadap yen ke 122.36.  



AUSTRALIA
Buruknya  data  penjualan  ritel  Australia  telah  memicu  koreksi  Aussie  lebih  dari  1  sen  dolar.  Hingga  sesi  New  York  semalam,  Aussie  terkoreksi ke  level  intraday low $0.9721, level terendahnya sejak akhir November sebelum akhirnya bergerak di sekitar $0.9710. Kekhawatiran bahwa Spanyol memerlukan  untuk melakukan bailout telah turut pula memicu tertekannya Aussie. 

Aussie tertekan secara tajam setelah data penjualan ritel dirilis turun 0.2% di bulan April, kontras dengan ekspektasi terjadi kenaikan 0.2%. 

Aussie telah mulai mengalami tekanan jual sejak hari Selasa sebelumnya setelah lembaga pemeringkat Egan‐Jones memangkas peringkat utang Spanyol  menjadi BB minus dari B. Pemerintah Spanyol juga sedang dalam sorotan, setelah juru bicara Kementerian Ekonomi mengatakan bahwa pemerintah akan  mendanai rekapitalisasi Bankia setelah lembaga keuangan tersebut meminta bantuan keuangan sebesar 19 miliar euro. 

Namun demikian, rilis optimis data konstruksi berpotensi memberikan dukungan positif bagi Aussie dalam perdagangan Kamis ini. Data  construction work  done untuk periode kuartal pertama dirilis naik 5.5%, utamanya didukung oleh peningkatan aktifitas di sektor pertambangan. 

Hari  kamis ini pasar  akan  menyoroti data perumahan  Australia. Jika data dirilis membaik,  maka berpotensi mendorong  berkembangnya rebound  pada  Aussie. 

Pasar  juga  akan  mencermati  data  non‐farm  payrolls  AS  yang  akan  dirilis  hari  Jumat,  yang  diperkirakan  terjadi  penambahan  pekerjaan  baru  sebanyak  150.000 di bulan Mei. Jika data dirilis buruk maka berpotensi menambah volatilitas di pasar. 




SWISS
Swiss franc dan euro mengalami tekanan jual terhadap dolar setelah muncul laporan bahwa ECB menolak rencana Spanyol yang akan memberikan bailout pada  sejumlah bank lokalnya, dimana telah memicu koreksi euro ke level terendah 23 bulan yang baru. 

Euro dan Swiss franc sempat memperoleh keuntungan di akhir sesi Selasa sebelumnya menyusul hasil jajak pendapat menunjukkan meningkatnya dukungan pada  partai pro‐bailout. Namun kedua mata uang tersebut kemudian mengalami koreksi di hari Rabu. 

Swiss franc telah diperdagangkan sejalan dengan euro, setelah SNB membatasi penguatan mata uang lokalnya pada 1.20 franc per euro pada September 2011 lalu,  setelah aksi beli telah mendorong penguatan franc mendekati paritasnya, yang berpotensi mengancam terjadinya resesi ekonomi di Swiss. Meskipun terjadi tekanan  yang berat pada euro, namun SNB merasa belum perlu untuk melakukan intervensi ke pasar untuk mempertahankan nilai batasan 1.20 franc per euro tersebut.  Franc terkoreksi 1% terhadap dolar di sekitar 0.9708 franc, dibandingkan dengan penutupan New York hari Selasa di sekitar 0.9610 franc, setelah mencatat level  terendah 15 bulan yang baru di awal sesi. Sementara franc bergerak relatif stabil terhadap euro di sekitar 1.2012 franc. 

Sebuah indikator utama untuk pertumbuhan ekonomi Swiss dirlis naik untuk ketiga kalinya secara berturut‐turut di bulan Mei, jauh melampaui ekspektasi pasar,  mengindikasikan ekonomi Swiss akan dapat mengatasi tekanan akibat krisis utang zona euro. Indeks yang dirilis oleh lembaga riset KOF, barometer untuk melihat  kondisi  ekonomi  dalam  kurun  waktu  6  bulan  kedepan,  melonjak  ke  0.81  di  bulan  Mei  dari  level  revisinya  0.43  di  bulan  April  sebelumnya.  Data  tersebut  mengindikasikan bahwa dalam 6 bulan kedepan dalam basis tahunan, produk domestik bruto (PDB) Swiss diperkirakan akan tumbuh secara nyata. 

Kepala SNB Thomas Jordan di akhir pekan lalu mengatakan bank sentral masih memprediksi ekonomi bakal tumbuh sebesar 1% tahun ini. Data PDB Swiss kuartal  pertama akan dirilis hari Kamis ini yang diprediksi akan menunjukkan pertumbuhan yang lebih rendah dari kuartal sebelumnya.  Sementara Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) pekan lalu mengatakan bahwa ekonomi Swiss berpotensi terpacu pertumbuhannya di  semester kedua tahun ini dan bank sentral nampaknya harus menaikkan suku bunga di tahun 2013 seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi. 

Perhatian pasar saat ini tertuju pada data non‐farm payrolls AS yang akan dirilis hari Jumat, yang diperkirakan terjadi penambahan pekerjaan baru sebanyak 150.000  di bulan Mei. Jika data dirilis buruk maka berpotensi menambah volatilitas di pasar.