US & GLOBAL
• Indeks Dow Jones dan S&P500 menguat pada sesi akhir pekan lalu menyusul laporan keuangan yang positif dari General Electric Co. yang menaikkan optimisme pada
pemulihan ekonomi. GE yang merupakan perusahaan terkemuka dan berpengaruh di AS melaporkan keuntungan Q4 2010 yang meleibihi perkiraan ditopang oleh
pemulihan keuntungan pada unit usaha keuangannya serta meningkatnya keuntungan pendapatan pada unit industri termasuk naik tajamnya penjualan lokomotif.
Indeks Dow Jones <. DJI> naik 49,04 poin atau 0,41% ke 11,871.84. Indeks S&P500 <. SPX> menguat 3,09 poin atau 0,24% ke 1,283.35 sementara Nasdaq <. IXIC> turun
14,75 poin atau 0,55% ke 2,689.54. Dalam sepekan terakhir, Dow Jones naik 0,7%, S&P turun 0,8% dan Nasdaq turun 2,4%.
• Euro mencatat kenaikan ke level tertinggi dalam 2‐bulan terakhir diatas 1,36 dan berhasil menguat diatas level teknis penting yang membuka peluang pada
berlanjutnya penguatan seiring meredanya kekhawatiran pada krisis utang Uni‐Eropa. Performa euro telah mengungguli dollar AS dalam delapan dari 10 sesi terakhir
setelah berhasil menembus diatas level 1,3570 (50% retracement dari downward move sejak November hingga Januari). Euro tercatat menguat 1% kelevel 1,3615
<EUR=>.Euro juga mencapai level tertinggi dalam 5‐pekan terakhir terhadap yen ke 112,49 dimana kenaikan diatas level 112 yen secara teknis akan mendukung
berlanjutnya rally euro terhadap yen <EURJPY=R>. Sementara itu dollar AS melemah 0,5% ke 82,55 yen <JPY=>. Sementara sterling <GBP=D4> naik 0.6% ke1.6008.
• Akhir pekan lalu harga emas turun menyusul naiknya minat terhadap aset beresiko terutama pada equity seiring membaiknya outlook ekonomi global yang
menurunkan minat beli pada aset safe haven. Emas tercatat mengalami pelemahan beruntun dalam 3‐pekan berturut yang merupakan rentetan penurunan
terpanjang sejak Juli yang mulai meredakan proyeksi bullish yang bertahan sejak awal Agustus 2010 silam. Harga spot emas <XAU=> turun 0,2% ke 1.343 USD per troy
ounce.
• Harga minyak mentah AS turun pada sesi Jumat 21 Januari, mencatat pelemahan mingguan hingga 2% menyusul naiknya cadangan minyak AS. Pada bursa New York,
minyak mentah untuk pengiriman Maret <CLH1> ditutup melemah 0.54% ke level 89,11 USD per barel. Dalam sepekan terakhir, US crude tercatat melemah 2.65%.
• Outlook (Senin ‐ Jumat, 24‐28/Jan./2011): Penggiat bursa ekuitas AS akan mengamati pernyataan petinggi The Fed pada sidang FOMC Kamis dini hari 26‐Januari, yang
diperkirakan akan menggarisbawahi tanda‐tanda pemulihan ekonomi AS terutama pada sektor konsumen dan industri. Sementara itu dalam sepekan ke depan akan
dirilis sejumlah data ekonomi diantaranya consumer confidence, durable goods orders dan survei konsumen dari University of Michigan serta estimasi pertama untuk
GDP Q4 2010 AS. Rilis earning korporasi pekan ini antara lain dari sektor energi yaitu Chevron Corp & ConocoPhillips dan dari sektor teknologi diantaranya dari
Microsoft & Yahoo.
• Terdapat harapan di kalangan investor bahwa The Fed akan mengubah komitmen pada kebijakan moneter longgarnya atau rencana pembelian Treasury AS senilai 600
milyar USD pada pertengahan 2011 ini. Sebaliknya, ECB baru‐baru ini memperingatkan peningkatan tekanan inflasi di kawasan Uni‐Eropa yang memicu spekulasi
bahwa kondisi tersebut akan mengantar kenaikan suku bunga Eropa sebelum The Fed melakukannya. Proyeksi tersebut diprediksi akan menambah momentum
penguatan pada euro dalam sepekan ke depan. Inflasi Inggris saat ini juga berada jauh di atas target BoE, meskipun anggota BoE ‐ Adam Posen menyatakan bahwa
kenaikan suku bunga belum diperlukan dalam waktu dekat. Untuk mencermati isu tersebut, pelaku pasar akan menantikan rilis minutes sidang BoE untuk Januari pada
Rabu 26 Januari.
• Namun demikian penguatan euro sebesar 4% sejak 10 Januari silam meningkatkan resiko terkoreksinya mata uang tunggal Uni‐Eropa tersebut. Dimana data
menunjukkan pada sepekan terakhir spekulan memposisikan dukungan minat beli pada euro untuk pertama kalinya dalam 2‐bulan terakhir, kondisi mana potensial
menggiring aksi ambil untung dalam sepekan mendatang. Juga masih terdapat ketidakpastan pada berlanjutnya krisis hutang terutama pada Spanyol dan Portugis
yang kemungkinan akan memerlukan bailout serupa dengan yang diberikan kepada Yunani dan Irlandia. Untuk mencermatinya, perlu diperhatikan rilis laporan credit
outlook antar tahun Eropa yang akan dihadirkan oleh lembaga pemeringkat terkemuka dunia ‐ Fitch ratings pada Selasa 25 Januari.
No comments:
Post a Comment