title cover

title cover

Tuesday, April 19, 2011

Headline News 19.04.11

US & GLOBAL
 

• Ancaman oleh Standard & Poor's untuk men‐downgrade peringkat utang pemerintah AS dari levelnya saat ini (AAA‐rating) serta
munculnya kembali kekhawatiran tentang krisis utang Eropa mendorong aksi jual pada bursa saham dunia dan mata uang ber‐yield
tinggi Senin kemarin.
 

• Tekanan jual sudah mulai terlihat di sesi Eropa kemarin di tengah kekhawatiran bahwa Yunani harus merestrukturisasi hutangnya,
kemungkinan pada awal musim panas tahun ini. Aksi jual berkembang saat muncul laporan dari lembaga Standard & Poor’s, yang
merevisi turun outlook untuk Amerika Serikat menjadi negative dari stabil – dengan menyebut resiko bahwa proposal untuk
memangkas defisit anggaran AS dalam target 2 tahun tidak akan disetujui parlemen.
 

• Meskipun kemarin S&P masih mempertahankan peringkat utang AS di level AAA, langkah revisinya tersebut berpeluang membuatnya
memangkas peringkat jangka panjang utang AS tersebut dalam kurun waktu 2 tahun ini.
 

• Indeks bursa saham dunia yang tercakup dalam indeks saham MSCI mengawali minggu yang pendek ini (karena libur paskah Jumat)
dengan penurunan 1,5%. Sementara indeks bursa saham Wall Street rata‐rata mengalami penurunan lebih dari 1% akibat langkah S&P,
dan langkah pengetatan moneter Cina pada hari Minggu (17/Apr) dengan menaikkan rasio cadangan modal perbankan yang keempat
kalinya untuk tahun ini. Indeks bursa saham Eropa ditutup melemah di level terendah selama 3 pekan.
 

• EUR/USD pun mengalami tekanan terbesarnya selama 5 bulan untuk basis harian. EUR/USD tertekan ke level terendah selama 2 pekan
di 1,4155/59, sebelum kemudian mengalami sedikit rebound hingga 1,4230an setelah penutupan NY tadi. EUR/JPY merosot lebih dari
2% ke level 116.50. Tekanan euro mulai terakumulasi ketika sumber di pemerintah Jerman mengatakan mereka tidak percaya Yunani,
yang tahun lalu di‐bailout oleh EU dan IMF senilai €110 milyar ($157,milyar), bisa melalui musim panas ini tanpa restrukturisasi.
Sementara pemerintah Yunani telah berulang kali membantah bahwa pihaknya berencana untuk merestrukturisasi utang‐utangnya.
 

• Tekanan pada Portugal juga tumbuh setelah partai True Finns (di FInlandia) yang anti‐euro memenangkan pemilu hari Minggu dan
berikrar akan mendorong perubahan untuk penyelamatan Portugis yang diperkirakan akan mencapai nilai €80 milyar.
 

• Harga emas rally ke rekor tertinggi hampir $ 1.500/troy ounce, sementara komoditas lainnya jatuh karena para investor ‘lari’ ke aset
safe haven (yang beresiko rendah). Kekhawatiran tentang masalah utang Zona Eropa dan kondisi inflasi di China kian memicu
kegelisahan investor saat ini.
 

• Minyak berada di bawah tekanan setelah menteri OPEC mengatakan harga minyak yang tinggi dapat menimbulkan ketegangan ekonomi
para Negara konsumennya. Harga minyak mentah Brent tipe kontrak Juni <LCOc1> turun $1,84 ke level di $121,61/barel, setelah
tergelincir ke sesi rendah $121. Harga minyak mentas AS tipe kontrak Mei turun ke $107,58 (Reuters Graphic), setelah tergelincir hingga
areal $106,50‐an/barel.
 

• Tekanan jual di bursa saham dan beberapa komoditas mendorong penguatan yen karena investor melepas aset‐aset beresiko yang
didanai oleh mata uang Jepang yang ber‐yield rendah – USD/JPY merosot hingga 82,19.



GOLD & COMMODITIES
 

• Harga emas mengalami rally ke level puncaknya yang mendekati $1500 per ons Senin lalu setelah agen pemeringkat Standard & Poor's
memangkas outlook dari AS menjadi negatif dari stabil, yang mendorong arus safe‐haven menuju metal.
 

• S&P mencatatkan suatu "material risk" bahwa policymakers kemungkinan tidak menyetujui pada rencana untuk memangkas defisit
bujet AS.
 

• Spot gold <XAU=> naik ke level tertingginya $1497,20 per ons dan diperdagangkan pada level $1492,25 per ons pada pukul 1358 GMT,
terhadap level $1483,75 pada penutupan Jumat lalu di New York. U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> naik $7.60 per
ons ke level $1,493.60, yang menghentikan level puncaknya $1498,60.
 

• Pemangkasan menekan dollar AS, yang pada awalnya membagi kenaikan terhadap euro, sementara itu Treasury debt AS berbalik
menjadi negatif.
 

• Di antara logam mulia lainnya, silver <XAG=> diperdagangkan pada level $43.11 per ons terhadap $42.99, tercapai pada awalnya yang
menyentuh level tertingginya dalam 31‐tahun pada level $43.51 per ons. Silver telah membuat kinerja terbaiknya pada tahun ini, yang
naik 40 persen sejak bulan Januari.
 

• Analis mengatakan the metal, yang telah menguntungkan dari penguatan investment flows dan persepsi pada membaiknya permintaan
industri akan melemah berikutnya, kemungkinan overpriced pada levelnya saat ini.
 

• Platinum <XPT=> pada level $1782,49 per ons terhadap level $1782,70, sementara itu palladium <XPD=> diperdagangkan pada level
$744.22 terhadap level $760.55.

Gold firms below record and sovereign debt worries support

SINGAPORE | Mon Apr 18, 2011 8:40pm EDT
SINGAPORE (Reuters) - Spot gold prices firmed on Tuesday below their record high, as worries over sovereign debt problems in both Europe and the United States further stoked investors' interest in bullion, while silver took a breather from a recent rally.

FUNDAMENTALS

* Spot gold gained 0.8 percent to $1,493.29 an ounce by 7:19 p.m. EDT, off the record high of $1,497.20 hit in the previous session.

* U.S. gold futures were little changed, at $1,494.10.

* Spot gold reached record highs in two consecutive sessions, as the momentum was boosted on Monday after Standard & Poor's threatened to downgrade the U.S. credit rating, amid worries about Europe's debt crisis.

* Federal Reserve officials offered clashing views on Monday of whether soft U.S. growth or inflation pose a greater risk to the economy but the face-off looked unlikely to alter the Fed's ultra-loose stance for now.

* Spot silver eased 0.4 percent to $43.16 an ounce, after hitting 31-year highs for three sessions in a row, as the weakness in the equities market affected sentiment in the precious metals that have industrial applications, such as silver and palladium.

* Spot palladium fell 0.7 percent to $734.47.

MARKET NEWS

* Wall Street fell more than 1 percent on Monday as sovereign debt fears on both sides of the Atlantic and China's monetary tightening hurt the outlook for global economic growth. .N

* The euro nursed heavy losses early in Asia on Tuesday while the yen gained across the board as worries about sovereign debt problems in Europe and the United States prompted investors to unwind carry trades.

Monday, April 18, 2011

Headline News 18.04.11

US & GLOBAL
 

• Pergerakan harga pada aset pasar finansial dunia saat ini, dan juga dalam beberapa sesi ke depan, diwarnai oleh isu suku bunga dan munculnya kembali krisis utang Zona Eropa. Fokus akan tertuju pada sidang FOMC The Fed AS pada 26 April mendatang, menjelang itu aktifitas pasar ‘keluar‐masuk’ dana pada aset beresiko dan safe haven akan memicu fluktuasi.
 

• Isu suku bunga paling jelas pada pasar valuta asing, dimana aktifitas carry trade marak kembali – peminjaman dari mata uang ber‐yield (dengan acuan suku bunga) rendah untuk diinvestasikan ke yang ber‐yield tinggi. Hal ini yang memicu penguatan euro ke level tertingginya selam 15 bulan terhadap dollar, di 1.4520 minggu. Diferensiasi suku bunga adalah faktor yang menyebabkan ini, menyusul ECB beberapa waktu lalu menaikkan suku bunganya 0.25% ke level 1,25% dan diproyeksikan akan melanjutkannya kembali untuk tahun ini. Di sisi lain Jepang masih mempertahankan kebijakan moneter dan level suka bunga yang ultra‐rendah, diperparah oleh bencana gempa dan tsunami besar bulan Maret lalu. Dari AS, juga diperkirakan belum akan menaikkan suku bunganya tahun ini, namun dalam jangka pendek ini harus memutuskan apakah akan mengakhiri atau melanjutkan program Quantitative Easing (QE) – sebuah langkah penyelamatan ekonomi nasional – yang masa waktunya sampai bulan Juni.
 

• Isu QE telah melahirkan arus likuiditas di pasar yang memicu bangkitnya kembali bursa saham belakangan ini – bahkan mampu mengabaikan lonjakan harga minyak dunia, krisis utang Eropa, krisis nuklir Jepang dan panasnya isu geopolitik Timur Tengah. Analis mengatakan bahwa sebenarnya di sisi lain sentimen bullish para investor di pasar equity sudah menurun signifikan. Hal ini yang menyebabkan kerentanan terhadap gejolak pasar yang tiba‐tiba, atau perubahan yang mengejutkan.
 

• Untuk itu di perdagangan ke depan di bulan April ini, isu suku bunga AS dan The Fed sangat mungkin untuk mempengaruhi perdagangan tibatiba. Dari Eropa, data ekonomi, yang pada minggu ini akan diamati data PMI Zona Eropa, yang berpotensi mengarahkan pandangan pasar terhadap outlook suku bunga ke depan. Dari Asia pasar mulai mengkhawatirkan langkah pengetatan moneter dan kenaikan suku bunga China lebih lanjut setelah data CPI Maret mengalami akselerasi kenaikan. India juga dilaporkan mengalami akselerasi inflasi.
 

• Performansi di pasar equity dunia minggu ini akan diuji oleh laporan pendapatan perusahaan Q1 yang memasuki sesi puncak, seperti dari Eropa dan AS. Sejumlah perusahaan besar dunia, seperti Goldman Sachs, Citigroup, Novartis hingga Peugeot dijadwalkan akan dirilis minggu ini.
 

• Jumat lalu bursa saham global dan minyak mentah naik setelah data ekonomi AS dirilis lebih baik dari perkiraan dan meningkatnya kepercayaan konsumen AS karena meredanya kekhawatiran tentang biaya bahan bakar, meskipun emas mencapai rekor tinggi karena kekhawatiran inflasi.
 

• Core CPI Maret AS, harga konsumen tanpa makanan dan biaya energi, naik tipis 0,1% di bawah perkiraan, dibarengi oleh adanya ekspektasi inflasi konsumen untuk 5‐10 tahun ke depan yang jatuh – memberikan sentimen positif untuk aset pendapatan tetap, seperti obligasi. Data lain menunjukkan penggunaan kapasitas industri melonjak Maret ke level tertinggi sejak Agustus 2008, sementara aktivitas manufaktur di negara bagian New York lebih baik dari yang diharapkan, mengurangi kekhawatiran tentang pertumbuhan lebih lambat. Tapi harga emas naik 1 persen ke rekornya $ 1,487.90/ounce didorong oleh rally‐nya harga minyak dan penurunan peringkat utang Irlandia. Harga emas mencatat kenaikan
dalam 5 minggu berturut‐turut.



GOLD & COMMODITIES
 

• Emas mencatatkan level tertingginya Jumat lalu karena pemasalahan mengenai sovereign debt zona euro, kekhawatiran mengenai inflasi dan ekspektasi kebijakan moneter AS akan bertahan akomodatif yang kesemuanya mendorong pada harga logam mulia.
 

• Silver juga bertahan pada awalnya yang mendekati level tertingginya dalam 31‐tahun pada level $42.68. Logam ini melemah dari level tertingginya karena euro merosot pada pertengahan perdagangan sore harinya, tetapi mendapatkan traksi setelah data consumer confidence AS
mendorong dollar untuk menguat.
 

• Spot gold <XAU=> dperdagangkan pada level $1480,30 per ons pada pukul 1425 GMT, versus $1472,90 pada Kamis lalu, yang pada awalnya sempat mencapai level tertingginya $1481,14. Silver <XAG=> naik ke level $42.60 dari $42.08. U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> meningkat $9.30 menjadi level $1481,70.
 

• "Gold is still in a healthy upward trend," kata analis LGT Capital Management Bayram Dincer. "You have so much uncertainty over whether the U.S. economy will recover, what the next monetary policy step will be."
 

• "I don't think real interest rates will be (a drag) in the short term or medium term for the gold price," tambahnya. "As long as the opportunity cost for gold holding is low, we will see higher prices."
 

• Di antara logam mulai lainnya, platinum <XPT=> berada pada level $1789,74 per ons terhadap level $1786,49, sementara itu palladium <XPD=> diperdagangkan pada level $770.50 dari level $760.63.

Friday, April 15, 2011

Headline News 15.04.11

US & GLOBAL 
• Mayoritas bursa saham utama dunia dan dolar AS tergelincir pada hari Kamis akibat terdorongnya kembali dominasi kekhawatiran
perlambatan ekonomi global di kalangan investor oleh krisis utang Yunani, inflasi Cina dan rilis pesimis data pekerjaan AS. Akibatnya
aset‐aset safe‐haven seperti obligasi dan emas kembali diburu. Belakangan ini para investor senantiasa memindahkan dana mereka
pada aset beresiko dan aset safe‐haven karena belum jelasnya arah perekonomian global.
 

• Pelaku pasar juga menurunkan skala ekspektasi untuk pertumbuhan ekonomi global akibat kenaikan input cost. Sementara lemahnya
dolar AS memicu kembali kenaikan harga minyak.
 

• Indeks saham dunia, yang tergabung dalam indeks MSCI turun 0,1%, meskipun gejolak aktifitas korporasi saat ini bisa saja mengangkat
kembali sentiment investor. Sepanjang tahun 2011 berjalan, indeks tersebut masih terakumulasi naik 4,1%. Indeks saham Eropa
<.FTEU3> berakhir turun 0,6%. Sementara indeks saham Wall Street berakhir sedikit berubah dari sesi Rabu sebelumnya, meredam
tekanan di sesi awal terdorong oleh aksi beli saham‐saham sektor konsumsi dan energi di akhir sesi. Masih berbedanya pandangan di
antara investor, terhadap kondisi bisnis dan perekonomian, menyebabkan bursa saham diperdagangkan dalam kisaran sempit, yang
oleh para analis diproyeksikan akan bertahan dalam beberapa minggu ini.
 

• Tekanan di sesi awal pada bursa Wall Street dan Eropa Kamis kemarin dipicu oleh sebuah laporan yang mengatakan bahwa inflasi Cina
akan kembali terakselerasi setelah melambat belakangan ini. Stasiun televise Phoenix di Hong Kong, mengutip sumber yang tidak
disebutkan namanya, mengatakan tingkat inflasi tahunan China Maret (yang akan dirilis pagi ini) nampaknya akan mengalami ekspansi
5,3% hingga 5,4% ‐ melampaui hasil polling Reuters. Investor khawatir tentang inflasi Cina yang biasanya akan memicu kenaikan suku
bunganya sebagai upaya pemerintah untuk meredamnya – ini akan beresiko bagi kondisi ekonomi global yang baru saja mencoba
bangkit. Lonjakan data cadangan devisa dan money supply Cina yang telah dirilis sebelumnya, juga turut mengipasi kekhawatiran akan
agresifitas Cina dalam meredam gejolak inflasinya.
 

• DI saat investor resah atas perlambatan global dan kenaikan inflasi, ekonom dalam jajak pendapat terbaru Reuters memprediksi
pertumbuhan dunia 4,2% di tahun ini dan 4,3% pada tahun 2012, tidak berubah sejak jajak pendapat Januari.
 

• Bursa saham tertekan setelah yield obligasi Yunani melambung, setelah meningkatnya kembali antisipasi pasar mengenai besarnya
kemungkinan bahwa pemerintah Yunani akan didesak untuk merestrukturisasi utangnya. Yield obligasi Eropa lainnya juga meningkat
tajam. Setahun lalu, memburuknya masalah utang negara Eropa menahan pemulihan global dan memaksa Bank Sentral Eropa
mempertahankan tingkat bunganya di level rendah untuk waktu lebih lama dari yang diduga.
 

• Selain Eropa, persoalan Jepang akibat gempa dan tsunami besar yang memicu krisis nuklir, juga menjadi kekhawatiran lainnya bagi
pasar. Survei Reuters Tankan dari 400 perusahaan besar pada hari Kamis kemarin menunjukkan bahwa gangguan listrik akibat
lumpuhnya PLTN Jepang memukul hampir 60% perusahaan‐perusahaan lokal, mengganggu produksi dan rantai pasokan.
 

• Di Amerika Serikat, kenaikan yang mengejutkan pada klaim pengangguran menimbulkan keraguan atas pemulihan di pasar tenaga kerja.
Hal ini memicu tekanan terhadap dolar AS dan kian meyakinkan pelaku pasar bahwa The Fed AS masih akan mempertahankan program
– padahal minggu lalu ECB sudah mulai melakukan normalisasi kebijakan moneternya dengan menaikkan suku bunga dalam rangka
meredam inflasi. Indeks dolar AS <DXY.> turun 0,4%, menyentuh level terendah selama 16 bulan, di 74,617. Lemahnya dolar AS
mendukung kembali kenaikan harga minyak meskipun ada kekhawatiran terhadap lemahnya demand jika perekonomian dunia
melambat. Harga minyak US <CLc1> melonjak di atas areal $108/barel. Tapi di London, Brent kontrak Mei <LCOK1> mentah berakhir
turun 52 sen pada $122,39. Harga emas <XAU=> naik lebih dari 1% ke atas areal $1,470an/troy ounce.



GOLD & COMMODITIES
 

• Emas naik 1 persen dan silver meningkat Kamis lalu, karena kombinasi dari pelemahan dollar AS, crude oil naik dan mengemukanya
kembali kekhawatiran sovereign debt Yunani yang mendorong bullion/emas naik $10 dibawah rekor tertingginya.
 

• Emas mendapat dorongan dari kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh data yang menunjukkan kenaikan core producer prices AS bulan
Februari, dan karena menguat dari ekspektasinya jobless claims yang menekan dollar AS.
 

• Silver naik 1.5 persen menuju level tertingginya dalam 31‐tahun karena penguatan investment buying, yang membawa rasio gold/silver
untuk melemah sebelumnya.
 

• "The combination of higher oil prices, weaker dollar and the resurrection of discussions of Greek sovereign risk problems has galvanized
the gold market. It's particularly impressive because we ran into selling above the market yesterday," ucap James Steel, kepala
commodity analyst pada HSBC.
 

• Spot gold <XAU=> naik 0.9 persen ke level $1467,81 per ons pada pukul 11:28 a.m. EDT (1528 GMT), dalam jarak level tertinggi yang
pernah dicatatkannya $1476,21 yang terjadi Senin lalu. U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCM1> naik $13.80 ke level
$1469,40 per ons.
 

• Silver <XAG=> melejit 1.6 persen ke level $41.28, yang mendekati level tertingginya dalam 31‐tahun $41.93 per ons.
 

• Untuk platinum group metals, platinum <XPT=> naik 0.4 persen ke level $1775,75, sementara itu palladium <XPD=> menguat 0.1 persen
ke level $761.72.

China growth sizzles, inflation bubbles

BEIJING | Thu Apr 14, 2011 10:47pm EDT
BEIJING (Reuters) - China's turbo-charged growth eased just a touch in the first quarter, while its inflation jumped to a 32-month high, putting pressure on the government to do more to rein in prices and keep the economy on an even keel.

China's gross domestic product increased by 9.7 percent in the first quarter from a year earlier, down from 9.8 percent in the final three months of 2010 but ahead of an expected 9.5 percent pace.
Consumer price inflation sped to 5.4 percent in the year to March, the fastest since July 2008 and topping market forecasts for a 5.2 percent increase.

Taken together, the data published by the National Bureau of Statistics on Friday showed that the world's second-largest economy was still sizzling, little hindered by the central bank's half-year tightening campaign that many investors had feared would undermine growth.

"The economic figures in the first quarter are strong, but still within market expectations. I don't think the economy faces risks of overheating, and the growth momentum will slow down in coming months," said Wang Jin, an analyst with Guotai Junan Securities in Shanghai.

"The central bank will stick with its tightening stance, and we expect more increases in reserve requirements and interest rates," he added.


The People's Bank of China has increased benchmark interest rates four times since last October and has required the country's big banks to lock up a record high of 20.0 percent of their deposits as reserves.
Inflation had long been expected to run higher in March because of a lower base of comparison. It is likely to register another jump in June and July for the same reason, with officials confident that it will wane in the second half of the year.

Accepting this relatively sanguine view, many economists had thought that the central bank was near the end of its tightening cycle. The median forecast of Reuters poll last week was for just one more interest rate increase over the rest of this year.

But with growth still cruising near double-digits, the scope for the government to continue tightening may be bigger than previously anticipated.

Signaling a potentially hawkish stance in the coming months, Premier Wen Jiabao said this week that the government would use all tools at its disposal to wrestle inflation under control.

"We will try every means to stabilize prices, the top priority of our economic controls this year and also our most pressing task," Wen said at a cabinet meeting.

Thursday, April 14, 2011

No sign of global economy stalling this year

LONDON | Thu Apr 14, 2011 10:25am EDT
LONDON (Reuters) - Surging inflation pressures and the natural disasters that ravaged Japan last month look unlikely to stall an ascendant global economy, a Reuters poll of around 350 economists showed on Thursday.

The survey of analysts from all over the world again showed the United States leading a rich-world recovery along with Canada, while respondents expect a jumble of strong and weak performances from the top European economies.

The world's third largest economy, Japan, will likely contract this quarter after the March 11 earthquake and tsunami that left nearly 28,000 dead or missing, also triggering a nuclear crisis that could last for months.

While economists are still digesting the ramifications of the disaster on global supply lines, many pointed to surging oil prices as the key risk for now.

"We've taken down our global growth forecasts over the last quarter very slightly, and that's on the back of higher oil prices," said Karen Ward, senior global economist at HSBC in London.

"The oil price impact is a net negative for the global economy, particularly for the United States. In the developed world, where wage growth is so weak, it already has dented U.S. consumer confidence and it will be an issue for consumer confidence elsewhere."

The poll showed global growth at 4.2 percent this year and 4.3 percent next year -- unchanged since the January poll.

That was just slightly less optimistic than the International Monetary Fund's forecast on Monday of 4.4 percent for this year. The IMF said oil prices and inflation posed new challenges to the progress of the world economy.

Just as finance ministers from the Group of 20 rich and emerging market nations meet in Washington, the latest Reuters survey showed rich-world economies will lag far behind India and China, which will see near double-digit rates of growth in 2011.

G20 finance ministers will be hoping to make progress on a plan to identify the countries that put the global economy at risk -- but that could be tricky with a fast-diverging array of economic policies and prospects.

Canada and the United States should lead the rich world recovery in 2011 with annual average growth rates of 3.0 and 2.9 percent, respectively. Even rising inflation pressure is unlikely to dent this view in the case of the U.S. economy.

"Inflation is going to be higher than most expect, but I do expect it to moderate some in 2012," said Hugh Johnson, chief investment officer of Hugh Johnson Advisors LLC in Albany, New York. "Does this mean there is a genuine threat to the recovery? No."

On Monday, Brent crude hit a 32-month high above $127 a barrel, pushed higher by unrest in oil producer Libya. While it has since fallen, the commodity and energy rallies since the start of the year have sent gauges much higher, especially in Europe and emerging countries.

REBUILDING JAPAN

The Japan poll of around 30 economists showed the economy flatlining in the first quarter and declining 0.6 percent between April and June.

While they see the economy rebounding in the third quarter once the reconstruction effort gets into full swing, the nuclear crisis and consequent energy shortages will depress the economy for the next few months.

"Not only exports, but private consumption will decline. And unstable power supply will probably prompt companies to postpone capital spending," said Junko Nishioka, chief economist at RBS Securities.

"Also a possible power shortage in the summer is seen weighing on consumer sentiment and pulling down spending, which could drag into the latter half of the year."

The Bank of Japan, which was already struggling to escape deflation before the disaster, will keep rates on hold until at least 2013.

The euro zone, which has already seen an interest rate hike this month in response to above-target inflation, will see mixed fortunes among its biggest economies.

While Germany could rival the growth rates expected of the North American economies with a 2.8 percent expansion this year, economists see the French economy growing 1.7 percent this year and Italy lagging behind with just 1.1 percent growth.

"Higher inflation and significant fiscal tightening will continue to constrain the recovery despite the resurgence in global manufacturing," said James Nixon at Societe Generale.

Overall, the 17-nation euro zone economy will expand around 1.7 percent this year, the poll showed.
Forecasters trimmed their 2011 UK growth forecasts for the third month running, as Britons toil under the strongest levels of inflation anywhere in the G7 and fierce austerity measures.

Headline News 14.04.11

US & GLOBAL
 

• Harga obligasi dan dolar AS naik pada hari Rabu di tengah harapan bahwa pengurangan defisit $4 trilyun Presiden Barack Obama akan
menopang kelayakan kredit Amerika Serikat dan status cadangan devisa dolar. Harga minyak rebound, pulih dari dua hari penurunan,
setelah data inventory bahan bakar AS (gasoline) menunjukkan penurunan mingguan terbesar sejak Oktober 1998.
 

• Obama menetapkan kerangka waktu paling lama 12 tahun untuk program pengurangan defisit hingga $4 trilyun setelah dikatakannya
bahwa terus meningkatnya utang akan beresiko bagi lapangan kerja, merugikan ekonomi dan memaksa Washington untuk meminjam
lebih banyak dari negara lain seperti Cina.
 

• Pergulatan petinggi di pemerintahan AS belakangan ini mengenai bagaimana cara untuk mengatasi kesulitan jangka panjang fiskal
Amerika Serikat, membuat para investor enggan untuk berkomitmen saham dan aset berisiko lainnya karena ketidakpastian atas
ketahanan pertumbuhan ekonomi dan keuntungan global.
 

• Yield obligasi pemerintah AS untuk tenor 10‐tahun turun ke level terendah selama seminggu meskipun lelangnya minim di luar dugaan,
sementara dollar membukukan keuntungan versus yen dan euro. Wall Street berakhir datar, sedikit lebih tinggi dari perdagangan Selasa
sebelumnya setelah berjuang di sepanjang sesi kemarin di tengah keraguan atas perolehan keuntungan perusahaan. Kenaikan awal
pada saham AS melempem, meski ada laporan pertumbuhan laba yang kuat dari JPMorgan Chase & Co, bank terbesar ke‐2 AS. Analis
mempertanyakan apakah hasil dari JPMorgan, bank besar pertama di bursa Wall Street yang merilis laporan keuangannya untuk kuartal
pertama, akan berkelanjutan. Hal tersebut menghambat rebound di bursa Wall Street.
 

• Indeks Dow Jones <. DJI> ditutup naik 0,06%, sedangkan Standard & Poor's 500 <SPX.> naik 0,02%. Indeks Nasdaq Composite Index
<IXIC.> naik 0,61%. Sementara indeks saham dunia, yang dihitung dalam indeks MSCI, naik 0,3%. Indeks FTSEurofirst 300, <FTEU3.>
untuk bursa saham terbaik Eropa ditutup naik 0,7%, setelah Selasa sebelumnya mengalami penurunan harian terbesar selama sebulan.
Saham perbankan Eropa naik, didorong oleh hasil JPMorgan. Sementara Indeks Nikkei <. N225> naik 0,9% di tengah tipisnya volume
perdagangan Rabu kemarin.
 

• Seperti saham, komoditas pun bergerak fluktuatif Rabu kemarin. Harga minyak mentah Brent <LCOc1> akhirnya naik lebih dari $1,50 ke
level $122,61 per barel setelah dua hari mengalami aksi sell‐off karena meningkatnya kekhawatiran bahwa tingginya harga akan
mengganggu demand. Harga minyak mentah AS <CLc1> ditutup naik di $ 107,38, menghapus penurunan di sore hari. Harga emas di
pasar spot <XAU=> ditutup naik sekitar $3 ke level $1456.74 per troy ounce.
 

• Dollar sedikit rebound terhadap yen setelah pemerintah Jepang menurunkan prospek ekonomi sebagai refleksi dari bencana gempa dan
tsunami besar bulan lalu. Ini merupakan pertama kalinya selama 6 bulan terakhir pemerintah Jepang melakukan hal tersebut. Pada hari
Selasa dolar mencatat penurunan harian terbesar dalam persentase selama empat bulan terakhir terhadap yen, sekitar 83.40‐an.
EUR/USD turun 0,3% ke level $ 1,4437, setelah sebelumnya sempat mencapai puncak selama 15‐bulan, di $ 1,4520.
 

• Namun secara keseluruhan sentimen terhadap dolar AS masih bearish karena selama ekspektasi bahwa The Fed AS akan mengalami
ketertinggalan dari bank‐bank sentral dunia lainnya dalam melakukan normalisasi kebijakan moneter – yakni dimulainya siklus kenaikan
suku bunga.


GOLD & COMMODITIES
 

• Emas naik di Eropa Rabu lalu, recovery setelah penurunan terbesar hariannya yang mendekati satu bulan karena dollar AS melemah
ditengah ekspektasi the Fed yang akan menjaga kebijakan moneter yang akomodatif saat ini.
 

• Metals consultancy GFMS mengeluarkan secara luas laporan antisipasi industri yang mengatakan gold's decade‐long price rally dapat
diatas level $1600 per ons sampai akhir tahun, karena hasrat investor terhadap emas menguat berikutnya.
 

• Perusahaan melihat harga emas rata‐rata dilevel $1455 per ons tahun ini dan berada dikisaran $1319‐1620 per ons, executive chairman
Philip Klapwijk mengatakan pada delegasi dalam Gold Survey 2011.
 

• Spot gold <XAU=> diperdagangkan pada level $1458,09 per ons pada pukul 1416 GMT, terhadap $1453,95 pada penutupan New York
Selasa lalu. U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> naik $5.60 per ons ke level $1459,20.
 

• Silver <XAG=> berada pada level $40.34 per ons dari level $40.04. Platinum <XPT=> diperdagangkan pada level $1781 per ons terhadap
level $1765.70, sementara itu palladium <XPD=> pada level $764.97 terhadap $761.40 level sebelumnya.


Obama says will "refuse" to renew tax cuts for rich



WASHINGTON | Wed Apr 13, 2011 1:59pm EDT
WASHINGTON (Reuters) - President Barack Obama said on Wednesday that tackling the U.S. budget deficit would require broad sacrifice and said that he would refuse to renew Bush-era tax breaks for wealthier Americans.
"We cannot afford $1 trillion worth of tax cuts for every millionaire and billionaire in our society. And I refuse to renew them again," Obama said in remarks prepared for delivery.

Wednesday, April 13, 2011

Headline News 13.04.11

US & GLOBAL 
• Harga minyak menderita penurunan terbesar selama 11 bulan untuk basis 2 harian, dibarengi dengan kejatuhan bursa saham pada hari Selasa
kemarin di tengah kembali munculnya kekhawatiran tentang prospek pemulihan ekonomi global serta adanya warning dari Goldman Sachs
bahwa harga minyak dunia (brent crude oil) akan mengalami tekanan dari penguatannya – ke level $105 dalam beberapa bulan ke depan dari
areal puncaknya di $127an Senin lalu. Harga minyak mentah yang diperdagangkan di New York turun lebih dari 3% dan sekaligus mengakumulasi
penurunannya sebesar 5,8% sejak Jumat lalu. Sementara lembaga energi dunia (IEA) mengatakan bahwa tingginya harga minyak/bahan bakar
energi justru akan menekan demand‐nya di pasar dunia.
 

• Indeks bursa saham dunia, yang diukur dalam indeks MSCI turun 1,3%, merupakan terbesarnya selama 4 minggu terakhir untuk basis harian.
Kekhawatiran atas prospek pemulihan ekonomi global kembali meningkat setelah menteri ekonomi Jepang memperingatkan bahwa kerusakan
yang disebabkan oleh gempa bumi dan tsunami besar bulan lalu bisa lebih buruk dari yang diduga. Pernyataan dari otoritas Jepang yang
mensejajarkan keparahan kebocoran radiasi di PLTN Fukushima dengan bencana nuklir terburuk dunia, di Chernobyl, juga menekan sentimen.
 

• Pasar semakin menjadi prihatin dengan situasi di Jepang sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia, dan oleh karenanya harga
minyak dan harga komoditas yang tinggi pada akhirnya akan memperparah tekanan ekonomi. Saham AS berakhir lebih rendah setelah angka
pendapatan mengecewakan dari produsen aluminium Alcoa Inc, komponen Dow yang menandai awal musim pendapatan triwulanan dengan rilis
setelah pasar tutup pada hari Senin. Saham Energi memimpin penurunan pada indeks S&P500. Sub‐Indeks energi S&P <. GSPE>, top performer
pada kuartal pertama, turun 3% Selasa kemarin. Sub‐indeks tersebut telah memimpin penguatan di bursa Wall Street sedemikian lama mengikuti
kenaikan harga komoditas dan optimisme pertumbuhan ekonomi global kala itu. Jadi saat harga komoditas mulai berguling, maka bursa saham
pun mengikuti.
 

• Indeks FTSEurofirst 300 <. FTEU3> saham top Eropa tergelincir 1,7%, yang juga dipimpin oleh saham‐saham energy dan pertambangan. Bursa
saham di negara‐negara berkembang, yang mengandalkan eksportir sumber daya alam, jatuh 1,9%.
 

• Brent <LC0c1> minyak mentah jatuh $3,06 untuk menetap di $120,92 per barel. Kontrak Mei Brent berakhir pada hari Kamis. Harga minyak
mentah di pasar AS tipe kontrak bulan Mei <CLc1> jatuh hingga areal $106/barel. Kekhawatiran terhadap rusaknya demand di sektor ini
menyebabkan tekanan di pasar. Pasar pun meragukan level kenaikannya belakangan ini tidak akan lestari. Harga emas di pasar spot <XAU=>
turun dari rekor tinggi Senin sementara perak <XAG=> merosot dari level tertinggi selama 31 tahun yang dicapai sehari sebelumnya. Reuters‐
Jefferies CRB index <.CRB>, patokan komoditas global, jatuh sekitar 2% dalam penurunan tertajamnya selama 1 bulan untuk basis harian akibat
harga bahan baku mengalami tekanan dari sell off‐nya minyak.
 

• Arus safe‐haven meningkat dan memicu kenaikan harga obligasi di pasar Treasury AS serta menguatkan nilai tukar yen dan Swiss franc – karena
para investor yang mulai gelisah melakukan aksi jual aset‐aset beresiko mereka yang didanai dengan meminjam mata uang ber‐yield rendah.
Carry Trade ini nampaknya demikian marak, terutama yen terhadap mata uang dunia – sehingga membuatnya berfluktuasi cukup besar kemarin.
Yen bergerak ke level terkuatnya selama 1,5 minggu terhadap dolar AS di 83.47, meskipun geraknya ke depan kemungkinan akan diatasi oleh
sikap BoJ yang menjaga kebijakan moneter yang longgar untuk membantu pemulihan ekonomi. Dolar melemah 1,2% ke level terendahnya
selama lebih dari 3 minggu terhadap Swiss franc <CHF=EBS> di 0,8943.
 

• Sementara euro masih perkasa dengan melanjutkan kenaikan ke level tertinggi 15 bulan terhadap dolar di atas 1,45, didorong oleh laporan aksi
beli dari China dan berita bahwa Cina, ekonomi terbesar kedua dunia, bersedia untuk membeli lebih banyak obligasi Spanyol.
 

• Komentar lunak dari pejabat penting Federal Reserve AS menekan sentimen dolar. Adalah Janet Yellen dan William Dudley yang kemarin
mengatakan bahwa bank sentral AS harus tetap berpegang pada kebijakan moneter yang super‐longgar karena inflasi bukan merupakan
ancaman dan tingkat pengangguran masih terlalu tinggi. Indeks dolar AS <. DXY>, yang merupakan indeks dollar terhadap sejumlah mata uang
utama dunia, turun hingga level terendah sejak Desember 2009, di 74,704.



GOLD & COMMODITIES 
• Emas anjlok 1 persen Selasa lalu, yang mencatatkan penurunan terbesarnya dalam satu bulan, karena penurunan tajam pada minyak mentah
mengikuti perkiraan bearish dari Goldman Sachs yang menekan metal kedepannya dari level tertingginya.
 

• Bullion/emas juga melemah setelah data menunjukkan defisit perdagangan AS merosot bulan Februari, suatu pertanda dari melambatnya
permintaan global. Emas telah menguntungkan dalam beberapa bulan karena rally pada oil dan gandum yang memicu kekhawatiran inflasi.
 

• Silver melemah dari level tertingginya Senin lalu dalam level tertingginya 31‐tahun.
 

• "That (Goldman report) has given enough reasons for investors to trim their positions, in particular for those markets that have gone parabolic.
That's enough to cool enthusiasm for commodities at the moment," ungkap Mark Luschini, kepala investment strategist pada broker‐dealer
Janney Montgomery Scott dengan $53 milyar assets under management.
 

• Tetapi dia menambahkan: "I don't think this is the end of the commodity bull market."
 

• Spot gold <XAU=> turun 1 persen ke level $1451,40 per ons hingga pukul 11:46 a.m. EDT (1546 GMT), yang pada awalnya telah sempat mencapai
level terendahnya dalam satu minggu level $1443,49. Senin lalu, emas mencapai level tertingginya $1476,21.
 

• U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCM1> merosot 1.1 persen ke level $1452,60 per ons, dengan volume perdagangan rebound
setelah melambat dari aktivitas normal pada beberapa hari sebelumnya.
 

• Silver <XAG=> membalikkan kenaikan pada awalnya untuk diperdagangkan turun 0.5 persen ke level $39.97 per ons, dan sekitar 5 persen
dibawah level tertingginya dalam 31‐tahun Senin lalu level $41.93.
 

• Di antara platinum group metals, platinum <XPT=> melemah 0.3 persen ke level $1774,49 per ons, sementara itu palladium <XPD=> turun 1.7
persen ke level $768.

Tuesday, April 12, 2011

Japan raises nuclear crisis to same level as Chernobyl


TOKYO | Tue Apr 12, 2011 7:51am EDT
TOKYO (Reuters) - Japan put its nuclear calamity on a par with the world's worst nuclear disaster, Chernobyl, on Tuesday after new data showed that more radiation leaked from its earthquake-crippled power plant in the early days of the crisis than first thought.

Japanese officials said it had taken time to measure radiation from the plant after it was smashed by March 11's massive quake and tsunami, and the upgrade in its severity rating to the highest level on a globally recognised scale did not mean the situation had suddenly become more critical.

"The situation at the Fukushima Daiichi plant is slowly stabilizing, step by step, and the emission of radioactive substances is on a declining trend," Prime Minister Naoto Kan told a press briefing on Tuesday.
Kan said he wanted to move from emergency response to long-term rebuilding.

"A month has passed. We need to take steps toward restoration and reconstruction," he said.
He also called on opposition parties, whose help he needs to pass bills in a divided parliament, to take part in drafting reconstruction plans from an early stage.

The operator of the stricken facility appears to be no closer to restoring cooling systems at the reactors, critical to lowering the temperature of overheated nuclear fuel rods. Late on Tuesday, Japan's science ministry said small amounts of strontium, one of the most harmful and long-lasting radioactive elements, had been found in soil near Fukushima Daiichi.

Hidehiko Nishiyama, a deputy director-general of the Nuclear and Industrial Safety Agency (NISA), said the decision to raise the severity of the incident from level 5 to 7 -- the same as the Chernobyl disaster in Ukraine in 1986 -- was based on cumulative quantities of radiation released.

No radiation-linked deaths have been reported since the earthquake struck, and only 21 plant workers have been affected by minor radiation sickness, according to Chief Cabinet Secretary Yukio Edano.

"Although the level has been raised to 7 today, it doesn't mean the situation today is worse than it was yesterday, it means the event as a whole is worse than previously thought," said nuclear expert John Price, a former member of the Safety Policy Unit at the UK's National Nuclear Corporation.


"NOWHERE NEAR CHERNOBYL"


A level 7 incident means a major release of radiation with a widespread health and environmental impact, while a 5 level is a limited release of radioactive material, with several deaths, according to the International Atomic Energy Agency (IAEA).
Several experts said the new rating exaggerated the severity of the crisis.

"It's nowhere near that level. Chernobyl was terrible -- it blew and they had no containment, and they were stuck," said nuclear industry specialist Murray Jennex, an associate professor at San Diego State University in California.
"Their containment has been holding, the only thing that hasn't is the fuel pool that caught fire."

The blast at Chernobyl blew the roof off a reactor and sent large amounts of radiation wafting across Europe. The accident contaminated vast areas and led to the evacuation of well over 100,000 people.

Nevertheless, the increase in the severity level heightens the risk of diplomatic tension with Japan's neighbors over radioactive fallout. Chinese Premier Wen Jiabao told Kan on Tuesday he was "concerned" about the release of radiation into the ocean.

"If Japan mishandles this issue, especially if, to solve its own problems, it affects the safety of neighboring countries, then that will have a bad effect on relations at the government and public levels," said Sun Cheng, a professor specializing in Japanese politics and Sino-Japanese relations at the China University of Political Science and Law in Beijing.

Chinese worries have not reached that point yet, he said.
China has so far been sympathetic rather than angry, though it and South Korea have criticized the plant operator's decision to pump radioactive water into the sea, a process it has now stopped.

HUGE ECONOMIC DAMAGE

The March earthquake and tsunami killed up to 28,000 people and the estimated financial cost stands at $300 billion, making it the world's most expensive disaster.

Japan's economics minister warned the damage was likely to be worse than first thought as power shortages would cut factory output and disrupt supply chains.

The Bank of Japan governor said the economy was in a "severe state," while central bankers were uncertain when efforts to rebuild the northeast would boost growth, according to minutes from a meeting held three days after the earthquake struck.

NISA said the amount of radiation released into the atmosphere from the plant, 240 km (150 miles) north of Tokyo, was around 10 percent that of Chernobyl.

"Radiation released into the atmosphere peaked from March 15 to 16. Radiation is still being released, but the amount now has fallen considerably," said NISA's Nishiyama.

Lam Ching-wan, a chemical pathologist at the University of Hong Kong and member of the American Board of Toxicology, said this level of radiation was harmful.

"It means there is damage to soil, ecosystem, water, food and people. People receive this radiation. You can't escape it by just shutting the window," Lam said.

Headline News 12.04.11

US & GLOBAL 
• Harga minyak mentah turun tajam pada hari Senin di tengah kekhawatiran tingginya harga bisa mengikis permintaan dan mengancam pemulihan
ekonomi, sementara aksi jual saham energi dan kegelisahan menjelang musim rilis laporan pendapatan perusahaan kuartal pertama 2011
menekan bursa saham AS.
 

• Tekanan harga minyak mentah juga dipicu oleh Uni‐Afrika mengatakan pemimpin Libya Muammar Khadafi menyambut upaya untuk mengakhiri
perang sipil, termasuk gencatan senjata dalam waktu dekat, meskipun pemberontak mengatakan penyelesaian apapun akan menuntutnya
mundur. Para analis masih skeptis terhadap kondisi di Libya, meskipun kesepakatan damai dan upaya untuk mengakhiri perang sipil sudah di
depan mata. Menurut mereka masih perlu waktu untuk mengembalikan ekspor (minyak) Libya ke tingkat sebelum konflik. Sementara Goldman
Sachs tetap mengatakan kepada nasabahnya bahwa ada kemungkinan kuat harga komoditas akan berbalik, dan merekomendasikan untuk
mengambil keuntungan. Faktor lain, seperti pemilu di Nigeria, sebagai salah satu produsen minyak terbesar dunia, juga menurut Goldman akan
membatasi gerak naik harga‐harga minyak saat ini.
 

• Harga minyak mentah Brent untuk Mei <LCOc1> berakhir $2,67 lebih rendah ke $123,98 per barel, setelah mencapai puncak 32‐bulan $127,02.
Harga minyak mentah AS <CLc1> jatuh ke $ 108,86 dari puncak tertinggi sejak September 2008, di $113,46 yang dicapai Jumat lalu.
 

• Bursa saham Wall Street mayoritas mengalami tekanan, setelah turunnya harga minyak membebani saham energi dan mulai maraknya aksi jual
di tengah kekhawatiran terhadap laporan pendapatan perusahaan untuk kuartal pertama tahun ini. Tapi Alcoa Inc, komponen Dow pertama yang
merilis hasil, melaporkan laba kuartal pertama yang besar Senin kemarin, setelah mengalami kerugian tahun lalu. Naiknya harga alumunium,
produk utama Alcoa, akibat permintaan untuk logam, menjadi pemicu perolehan keuntungannya di periode tersebut. Ada proyeksi dari Thomson
Reuters yang mengatakan bahwa laba perusahaan pada kuartal pertama tahun 2011 di indeks S&P500 akan meningkat 11,4% dari tahun lalu.
 

• Indeks saham industri Dow Jones <DJI.> naik tipis 0,01 persen, tapi 500 benchmark Standard & Poor's Index turun <SPX.> 0,28%. Indeks Nasdaq
Composite Index <. IXIC> juga turun 0,32 persen. Ada keraguan di pasar apakah perusahaan dapat memenuhi harapan yang cukup optimis. Ada
potensi kekecewaan, tetapi jika data‐data laporan pendapatan perusahaan tersebut dirilis sesuai atau di atas estimasi pasar, maka bukan tidak
mungkin bisa mengalami rally lanjutan.
 

• Sementara indeks saham di bursa dunia yang dihitung dalam indeks MSCI juga mengalami penurunan kemarin, sebesar 0,2%. Sementara untuk
bursa saham di Negara‐negara berkembang turun 0,6%. Saham Eropa jatuh, ditandai dengan turunnya indeks FTSEurofirst 300 sebesar 0,2%.
 

• Dana Moneter Internasional mengatakan pada hari Senin bahwa tidak percaya bahwa kenaikan harga komoditas akan menggagalkan pemulihan
ekonomi global tetapi memang memperingatkan bahwa inflasi akan tetap tinggi untuk sementara waktu.
 

• Dolar AS menguat terhadap euro setelah Kongres AS pada hari Jumat mencapai kesepakatan menit‐menit terakhir anggaran federal yang
menghindari government shutdown. Namun, fokus pada perdebatan batas maksimum utang AS dapat membatasi keuntungan. Rebound dolar
kemarin juga sebagai reaksi dari turun tajamnya terhadap euro pada hari Jumat melanjutkan downtrend‐nya dari empat bulan terakhir. Untuk
bulan April, dolar masih turun sekitar 2,0 persen. Pada hari Senin EUR/USD terkoreksi 0,4% dari level tertingginya selama 15‐bulan, di sekitar $
1,4486 pada hari Jumat.
 

• Sentimen negatif dollar berpotensi terus berkembang selama The Fed masih mempertahankan suku bunga yang rendah dan sementara bank
sentral di luar negeri, yaitu Bank Sentral Eropa dan Bank of England, cenderung akan menaikkan suku bunganya. Potensi kelanjutan kenaikan
suku bunga ECB di bulan Juli masih akan mendukung kenaikan EUR/USD dan juga mata uang euro terhadap mata uang utama dunia lainnya.
 

• Yen cenderung rebound dari pelemahannya yang mencapai level di 11‐bulan sebelumnya terhadap euro dan di 2,5 tahun terhadap dolar
Australia setelah gempa bumi kembali mengguncang Jepang Senin kemarin yang menyebabkan beberapa investor melepas aset‐aset beresiko
mereka yang didanai dari pinjaman murah (carry trade) mata uang Jepang.



GOLD & COMMODITIES 
• Emas naik ke level tertingginya Senin lalu karena ekspektasi the Fed akan menekan bank sentral lainnya dalam memperketat kebijakan moneter
yang menekan dollar AS, meskipun kemudian mereda dengan harga minyak dari tanda‐tanda kemungkinan perjanjian damai di Libya.
 

• Spot gold <XAU=> naik ke level tertingginya $1476,21 per ons dan diperdagangkan pada level $1467,40 per ons pada pukul 1323 GMT, terhadap
$1472,70 pada perdagangan terakhir New York Jumat lalu. Silver <XAG=> mencapai level tertingginya sejak awal 1980 pada level $41.93 dan
kemudian terakhir diperdagangkan $41.13 per ons terhadap level $40.85.
 

• Investor money telah mengarah pada komoditas pada umumnya dan logam mulia khususnya bulan ini karena investor khawatir mengenai
kenaikan inflasi yang potensial dalam perkembangan pasar dan perubahan pada kebijakan moneter di AS.
 

• "Gold investor interest is likely driven by ongoing concerns about inflationary pressures, both in emerging and developed economies, sovereign
debt levels and economic uncertainty, notably in the light of current high oil prices," kata analis BNP Paribas Anne‐Laure Tremblay.
 

• "Global monetary policy ‐‐ not only the U.S. ‐‐ is one of the key themes for gold in 2011," tambahnya.
 

• U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> melemah $5.60 per ons ke level $1468,50. Diantara harga logam mulai lainnya, platinum
<XPT=> diperdagangkan pada level $1798,24 per ons terhadap level $1803,75, sementara itu palladium <XPD=> ke level $792.98 terhadap level
$790.75.

Monday, April 11, 2011

Headline News 11.04.11

US & GLOBAL 
• Bursa saham AS ditutup melemah akhir pekan lalu tertekan lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi akan
menghambat pemulihan ekonomi, kondisi mana menurunkan minat investor ditengah kehati‐hatian menjelang rilis earning korporasi.
Kenaikan harga minyak menekan saham‐saham penerbangan dan transportasi AS. Volume perdagangan masih tetap rendah, pertanda
bahwa investor menahan diri menjelang rilis earning kuartalan awal pekan depan. Indeks Dow Jones <DJI.> turun 29,44 poin atau 0,24%
ke 12,380.05, S&P500 <. SPX> turun 5,34 poin atau 0,40% ke 1,328.17 dan Nasdaq <. IXIC> turun 15,72 poin atau 0,56% ke 2,780.42.
Dalam sepekan terakhir, Dow Jones tercatat naik 0,03%, sedangkan S&P500 dan Nasdaq masing‐masing turun 0,3%.
 

• Harga emas naik ke rekor tertinggi sepanjang sejarah menyusul kombinasi dari pelemahan dollar AS, ancaman penghentian aktifitas
pegawai pemerintah AS dan kekhawatiran akan inflasi yang mengangkat kinerja logam mulia tersebut. Emas mencapai kenaikan terbesar
mingguan dalam 4‐bulan (sebesar 2,5%), mendapat dukungan dari meningkatnya kekhawatiran pada kondisi Uni‐Eropa dan tekanan
inflasi.
 

• Emas mencatat kenaikan 10% sejak Januari menyusul kerusuhan politik di Timur Tengah dan Afrika Utara. Harga spot emas <XAU=> naik
1% ke 1,471.74 USD per troy ounce setelah sempat naik hingga 1,474.85 USD per troy ounce. Namun demikian, emas masih jauh dari
level inflation adjusted high‐nya, dimana jika disesuaikan dengan tingkat inflasi saat ini maka harga emas seharusnya berada pada kisaran
2.500 USD per troy ounce.
 

• Harga minyak mentah Brent melonjak hampir 3% kelevel tertinggi dalam 32‐bulan terakhir di atas 126 USD per barel, sementara Crude
AS naik hingga 112 USD per barel terdorong pelemahan dollar AS dan serangan terhadap ladang minyak Libya yang berpotensi
memangkas pasokan minyak jangka panjang. Selain konflik Libya, kerusuhan yang sedang berlangsung di Timur Tengah dan serangan
bom yang ditujukan untuk menunda pemilu Nigeria menambah kekhawatiran akan pasokan minyak.
 

• Minyak mentah Brent untuk Mei <LCOc1> naik 3,28 USD menjadi 125,95 USD per barel, setelah mencapai 126,40 USD per barel, harga
tertinggi sejak Agustus 2008. Sementara harga minyak mentah Crude AS <CLc1> naik 2,08 USD menjadi 112,38 USD per barel setelah
mencapai 112,58 USD per barel, level tertinggi sejak September 2008.
 

• Euro naik ke level tertinggi 15‐bulan terhadap dolar AS, mencatat kenaikan 1,7% dalam sepekan terakhir. Hingga akhir sesi Jumat, euro
tercatat menguat 1,1% ke 1,4478 <EUR=> setelah sempat naik hingga 1,4488, level tertinggi sejak 15‐bulan. Prospek penutupan kegiatan
pemerintahan AS yang akan menghentikan sekitar 800.000 pekerja pemerintah federal akan berdampak buruk pada pemulihan ekonomi
AS dan akan memberi tekanan pada dollar AS.
 

• Terhadap yen, dollar AS turun 0,1% ke 84,76 yen <JPY=>, analis memperkirakan yen akan melanjutkan pelemahannya lebih lanjut seiring
ekspektasi Bank of Japan akan terus mempertahankan kebijakan moneter stimulatif lebih lama setelah terjadinya gempa dan krisis nuklir.
Aussie dollar naik hingga level tertinggi sejak 1983 di 1,0582 <AUD=>. Kinerja aussie mendapat manfaat dari pertumbuhan ekonomi
Australia yang cukup kuat didukung oleh ekspor bahan baku ke China.
 

• Ekspektasi semakin besarnya rentang suku bunga ECB dengan bank sentral lainnya diperkirakan akan mendukung kinerja euro dalam
sepekan kedepan, sementara investor akan memperhatikan rilis data inflasi AS yang akan menjadi salah satu landasan penentuan
kebijakan The Fed. Investor juga akan mengamati rilis data penjualan ritel AS untuk Maret untuk mengukur kekuatan belanja konsumen.
 

• Dollar AS mengalami tekanan hebat setelah Gedung Putih dan Kongres AS mengalami kebingungan dalam upaya menangani deadlock
persetujuan anggaran AS hingga akhir pekan lalu untuk menghindari penghentian aktifitas pemerintah. Tanpa persetujuan pada anggaran
baru, pemerintah harus menghentikan segala kegiatan pada tengah malam hari Jumat waktu setempat (sekitar Sabtu tengah hari WIB).
Jika hal itu terjadi, sekitar 800.000 pegawai pemerintah AS tidak boleh bekerja dan tidak akan digaji, pemberian pinjaman oleh
pemerintah akan berhenti dan taman nasional serta situs‐situs yang dikelola pemerintah akan tutup. Ketegangan antara anggota Kongres
dari Partai Demokrat dan Republik dilaporkan meningkat saat mereka mencoba mencapai kata sepakat mengenai anggaran.



GOLD & COMMODITIES 
• Emas naik untuk mencapai level tertingginya empat hari dan perak menguat Jumat lalu, karena melemahnya dollar AS, prospek pada
U.S. government shutdown dan kekhawatiran inflasi yang mendorong bullion/emas diatas level $1470 per ons.
 

• Emas membuat kenaikan besar mingguannya dalam empat bulan, yang menggambarkan dukungan dari mengemukanya kembali
sovereign debt zona euro ditengah krisis keuangan Portugal dan gejolak inflasi karena crude oil dan corn mencapai level tertinggi
barunya minggu ini.
 

• Pada sisi grafik teknikal, emas mencapai level diatas level utama dan dapat mencapai target diatas $1500 per ons. Harga logam telah
naik lebih dari 10 persen sejak akhir Januari ketika gejolak politik mulai melebar pada Timur Tengah dan Afrika Utara.
 

• "With the expected future inflation being higher in this low interest rate environment, investors are more inclined to have some
contributions to commodities as an inflation hedge," kata Hakan Kaya, commodities portfolio manager pada Neuberger Berman, yang
mengelola sekitar $190 milyar aset‐aset klien.
 

• Spot gold <XAU=> naik ke level $1474,19 per ons dan terakhir naik 1 persen ke level $1472,70 per ons pada pukul 11:18 a.m. EDT (1518
GMT).
 

• Silver <XAG=> naik 2.3 persen ke level $40.40 per ons, menghentikan level tertingginya $40.44.

As worry list grows, G20 gets wonky


WASHINGTON | Sun Apr 10, 2011 4:59pm EDT
WASHINGTON (Reuters) - While the world watches revolutions in the Arab world and a nuclear crisis in Japan, the Group of 20 is engrossed in an esoteric debate over something called indicative guidelines.

The club of rich and emerging economies banded together at the height of the financial crisis and earned praise for swiftly putting in place policies that helped prevent a repeat of the Great Depression.

But as a new list of potential economic dangers grows, the G20 seems to have few immediate answers.
Instead, finance leaders meeting in Washington this week are likely to tout progress on establishing guidelines to measure imbalances between major exporters and importers.

Andrew Kenningham, senior international economist at Capital Economics in London, said the G20 had "gone done a cul de sac" that distracted it from the global economic stability issues it was meant to address.

"It will be increasingly difficult to disguise the fact that there is no agreement on macroeconomic coordination at a global level," he said. "The G20 is struggling to find a useful role for itself, no matter how frequently it meets."

The G20 lost its crisis-forged cohesion last year as different countries recovered at different rates, generating different policy priorities.

That has made it difficult for leaders to follow through on a promise they made back in 2009 to work together to smooth out imbalances. The idea was that consumer-driven economies such as the United States would save and invest more, while export powerhouses like China would develop domestic demand.

When it came time to set specifics, however, the G20 unity broke down. When they could not agree on any numerical targets, they set their sights on "indicative guidelines" instead, and even those have become a source of friction.

Kenningham said the G20 will have to show some progress this week that puts it on track to deliver something that leaders can sign at a November summit.

That means finance ministers will probably find some way to set aside their differences and establish broad guidelines, but leave agreement on the details for a later discussion.

SLIPPING ON OIL

With oil at its highest level since 2008's record-setting run, finance leaders will no doubt acknowledge economic risks in a statement released at the conclusion of the G20 meeting on Friday.

The International Monetary Fund, which holds its twice-yearly meeting on the weekend, is scheduled to release its economic outlook on Monday. The Fund warned last week of long-term oil scarcity that could lead to persistently higher prices.

At $126 per barrel, oil prices are high enough to threaten world economic growth, and some economists predict they will continue to creep higher. If oil prices average $150 per barrel over the next three months, it would erase three-quarters of a percentage point from global growth, Barclays Capital estimated.
A slew of data this week will offer some clues on how hard the oil price spike has hit economies.

Wednesday brings U.S. retail sales for March, which may provide the first hint that steep gasoline prices are cutting into consumer spending. Economists polled by Reuters are looking for a gain of 0.5 percent, which would be half the growth rate recorded in February, and much of the gain may come from rising prices rather than demand.

China releases a report on its first-quarter gross domestic product on Friday, and it is expected to show growth eased a tad to a still-lofty 9.5 percent. China has clamped down on credit conditions to try to cool inflation, which will likely constrain growth.
"Policymakers may have to choose between higher inflation and lower growth," said Luca Ricci, a Barclays analyst in New York.

Friday, April 8, 2011

Headline News 08.04.11


U.S. & GLOBAL

• Bursa  saham Wall  Street ditutup melemah  setelah  gempa  dengan 7,4  magnitude  menghantam  bagian  utara  Jepang,  kembali  meningkatkan  kekhawatiran tentang  krisis  nuklirnya,  namun  kepercayaan  investor  pada  kondisi  ekonomi  AS  berhasil  menahan  pelemahan  lebih  lanjut.  Saham-saham  ritel  menguat setelah  data   chain  store  sales   pada  Maret  meningkat  diata  sperkiraan,  meningkatkan  harapan  bahwa  pemulihan  ekonomi  AS  telah  berjalan  secara berkesinambungan.  Indeks  Dow Jones  <DJI.>  turun  17,26  poin  atau  0,14%  ke  12,409.49,  S&P500  <.  SPX>  turun  2,03  poin  atau  0,15%  pada  1,333.51  dan Nasdaq <.  IXIC> turun 3,68 poin  atau 0,13% pada 2,796.14.

• Harga  emas  mencapai  rekor tertinggi sepanjang sejarah  dalam  penguatan  beruntun dalam 3-sesi  terakhir  akibat  meningkatnya kekhawatiran  akan  tekanan inflasi dan  ekspektasi  bahwa kenaikan suku bunga ECB  akan melemahkan  dolar. Emas sempat  mencatat  kenaikan hingga level 1,464.80  USD per  trroy  ounce setelah berita gempa kuat menghantam Jepang.  Harga spot emas <XAU=> naik 0,1% ke 1.459 USD per troy ounce.

• Sementara  itu harga minyak  dunia  ditutup pada penutupan tertinggi  2-1/2-tahun  menyusul  kekhawatiran akan  terhambatnya pasokan  akibat  pertempuran di  Libya  dan  gejolak  di  Timur  Tengah  yang  dibayangi  oleh  peningkatan  suku  bunga  zona  euro  serta  gempa  besar  yang  kembali  melanda  Jepang.  Harga minyak  mentah  Brent  untuk  pengiriman  Mei <LCOc1>  naik  37  sen  ke  122,67 USD per  barel,  level tertinggi  sejak 4 Agustus  2008.  Sedangkan  harga  minyak mentah Crude AS  untuk pengiriman  Mei <CLc1>  ditutup naik 1,47 USD ke 110,30 USD per barel, penutupan  tertinggi sejak 22 September 2008.

• Euro  beringsut melemah  dari level  tertinggi  14-bulanannya  terhadap  dollar  AS  setelah pernyataan  Presiden ECB  meredam  ekspektasi pasar akan  kenaikan suku  bunga agresif  ECB,  meskipun  pelemahan  euro diperkirakan tidak  akan  terlalu  tajam.  Euro  juga  melemah  terhadap  yen,  yen  menguat  terhadap  mata uang  utama  dunia  lainnya  setelah  adanya  berita  bahwa  Jepang  dilanda  gempa  7,4  skala  richter  yang  kemudian  menurunkan  minat  investor  pada  aset
beresiko.

• ECB  menaikkan  suku  bunga  sebesar 25  basis  poin,  kenaikan  pertama  sejak  krisis  keuangan  tahun  2008,  sebuah  langkah  yang  ditujukan  untuk memerangi peningkatan  tekanan  inflasi.  Presiden  ECB  Jean-Claude  Trichet  mengisyaratkan  bank  sentral  sudah  siap  untuk  mengetatkan  kebijakan  lebih  lanjut  jika diperlukan, tetapi menambahkan  bahwa langkah  April ini belum  pasti menjadi kenaikan yang  pertama dalam serangkaian kenaikan suku bunga selanjutnya.
Euro terakhir turun 0,3%  ke  1,4292 <EUR=>. 

• Investor saat ini meningkatkan kehati-hatiannya  terhadap krisis utang  zona euro setelah Portugal  meminta bailout dari  Uni Eropa, yang  diperkirakan  nilainya mencapai  80  miliar  euro  (  114  miliar  USD).  Namun  kekhawatiran  bahwa  kondisi  serupa  akan  menular  ke  Spanyol  sedikit  mereda  setelah  Madrid  sukses menjual obligasi dengan tenor 3-tahun senilai 4,1 miliar euro.

• Terhadap yen, dolar turun  ke session low 84,57 <JPY=> setelah berita gempa terbaru di  Jepang. Hingga akhis  sesi  New York,  dollar tercatat melemah  0,7% ke 84,88  yen.  Bank  of  Japan  mempertahankan  kebijakan  moneternya  seperti  yang  telah  diprediksi  sebelumnya  dan  memberikan  sinyal  akan  kesiapan  pada pelonggaran  moneter lanjutan,  sebuah langkah yang berseberangan dengn tren bank sentral global yang mulai menarik bantuan likuiditas yang ditempatkan selama krisis keuangan. 

• Euro  melemah  lebih  dari  1%  terhadap yen  ke  121.32 yen  <EURJPY=>.  Sedangkan sterling turun  tipis  terhadap  dollar  ke 1.6324  <GBP=D4>  setelah  Bank  of   England mempertahankan suku bunga seperti yang diperkirakan sebelumnya.             

Gold retreats from record high after Japan quake

NEW YORK | Thu Apr 7, 2011 1:45pm EDT
NEW YORK (Reuters) - Gold was little changed on Thursday afternoon, retreating from a record high after another strong earthquake hit Japan.

In early trading, gold rose to a record for a third straight session on inflation worries and expectations that the 
 European Central Bank's first rate hike since 2008 would weaken the dollar.
Crude oil and global equities also retreated after a strong earthquake shook Japan, pressuring gold. The dollar strengthened against the euro instead of weakening as many had expected, which put further pressure on gold.
Even though the European Central Bank raised rates, investors were not convinced that more rate hikes were on the way.

"You're back to a dollar story for the first time in a long time." said Frank McGhee, head precious metals trader of Integrated Brokerage Services. "Gold prices and the dollar both benefit from that rate hike because it increases the differentials between euro zone and the U.S. interest rates."
Rising interest rates generally are negative for gold, but investors bought bullion immediately after the ECB rate hike because they expected the dollar to weaken in the future.

Spot gold hit a record $1,464.80 an ounce and was later down 0.1 percent to $1,456.14 at 1:14 p.m. EDT. U.S. gold futures for June delivery eased 0.1 percent to $1,357.50 an ounce.
The ECB raised rates by 25 basis points to 1.25 percent to counter inflation pressure. Gold has risen more than 2 percent this week, benefiting from rallies in crude oil and corn and as Portugal requested a European Union rescue package.

"Of course the ECB will be vigilant in monitoring inflation developments very closely. But it is more inflation expectations that made the ECB concerned, and less the actual increase (in inflation)," said Peter Fertig, a consultant at Quantitative Commodity Research.
ECB President Jean-Claude Trichet said the rate hike was not necessarily the start of a series, disappointing some who had expected a more hawkish tone.

The traditional inverse correlation between gold and the dollar appeared to be strengthening this week to a negative 0.8, as gold hit successive records, but the link could be erratic in the near term. A correlation of minus 1 indicates a perfect inverse link, while a correlation of plus 1 indicates that both are moving in perfect tandem.
SILVER EDGES UP, BUT OFF 31-YEAR HIGH

Among other precious metals, silver gained 0.2 percent at $39.50 an ounce, just off the previous session's 31-year high at $39.75.

Silver has not shaken its image of an unpredictable metal with high volatility and chronic oversupply, but investors seem set on driving prices beyond the recent 31-year high.

On fundamentals, industrial demand for silver is expected to rise less than 10 percent this year, after prices more than doubled to 31-year highs since late 2010, the head of metals research and consultant GFMS said on Thursday.

Platinum was down 0.4 percent to $1,781 an ounce, while palladium shed 0.2 percent to $776.50.
(Additional reporting by Jan Harvey in London)

Thursday, April 7, 2011

Headline News 07.04.11

US & GLOBAL 
• Indeks S&P500 berhasil menguat diatas level teknis penting 1333 yang telah bertahan dalam beberapa sesi terakhir, meskipun volume
perdagangan relatif masih tipis. Investor sangat selektif dalam memilih saham yang dibeli untuk menghindari spekulasi menjelang
earning korporasi. Saham‐saham teknologi menguat, pasar mendapat sokongan dari komentar Chief Executive Cisco John Chambers.
Saham Cisco Systems Inc naik 4,9% setelah Chambers mengakui perusahaannya telah kehilangan arah dan memerlukan waktu untuk
mengembalikan kredibilitasnya. Indeks semikonduktor PHLX <. SOX> naik 1,5%, didukung kenaikan Hewlett‐Packard Co yang menguat
2,2% dan Microsoft Corp yang naik 1,4%.
 

• Bursa saham AS juga mendapat dukungan dari pernyataan Presiden The Fed asal Atlanta ‐ Dennis Lockhart, yang mengatakan Fed akan
meneruskan program pembelian obligasi senilai 600 miliar USD sesuai jadwal hingga Juni mendatang, Lockhart menilai tidak ada alasan
untuk mengakhiri program tersebut lebih awal. Indeks Dow Jones <. DJI> naik 32,85 poin atau 0,27% ke 12,426.75, S&P500 <. SPX> naik
2,91 poin atau 0,22% ke 1,335.54 dan Nasdaq <. IXIC> maju 8,63 poin atau 0,31% ke 2,799.82.
 

• Emas mencapai rekor tertinggi dalam sejarah ditengah kenaikan harga minyak dunia kelevel tertinggi 2‐1/2 tahun, memicu kekhawatiran
akan inflasi yang dapat merugikan perekonomian dunia. Emas telah berperan lebih sebagai mata uang daripada komoditas dalam
beberapa waktu terakhir, investor mengambil emas sebagai mekanisme lindung nilai terhadap pelemahan dolar dan masalah politik yang
membebani nilai mata uang lainnya. Harga spot emas <XAU=> sempat naik hingga 1461.91, USD per troy ounce, level tertinggi sepanjang
sejarah, ditutup menguat lebih dari 5 USD di 1460 USD per troy ounce.
 

• Harga minyak dunia naik level tertinggi 2‐1/2 tahun didukung oleh kerusuhan di Timur Tengah dan Afrika Utara serta pelemahan dolar.
Minyak mentah Crude AS <CLc1> naik hampir 0.5% ke 108,83 USD per barel ‐ penutupan tertinggi sejak September 2008. Sementara
harga minyak Brent London <LCOc1> ditutup stagnan di 122,30 USD per barel setelah sempat naik di atas 123 USD per barel ‐ level
tertinggi sejak Agustus 2008.
 

• Euro berhasil menguat terhadap dollar AS ke level tertinggi dalam kurun 14‐bulan terakhir menyusul spekulasi kenaikan lanjutan ECB
setelah kenaikan April ini. Yen turun ke level terendah 11‐bulan terhadap euro dan terendah 6‐bulan terhadap dollar. Yen diperkirakan
akan melanjutkan pelemahannya seiring mulai maraknya aksi carry trade dari para investor dan institusi keuangan selaras dengan
pandangan bahwa BOJ masih akan mempertahankan suku bunganya dalam waktu yang lebih panjang, sementara bank sentral negara
maju lainnya mulai melakukan pengetatan moneter.
 

• Dalam sidangnya Kamis 07 April ini ECB secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, akan menjadi
kenaikan pertama sejak Juli 2008. Saat ini para analis memperkirakan Presiden ECB Jean‐Claude Trichet akan menambah nada hawkish
terhadap inflasi, yang akan meningkatkan ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga lanjutan dari ECB. Sementara disisi lain, kondisi
ekonomi AS masih terlalu rapuh bagi The Fed untuk mulai menaikkan suku bunga, demikian pernyataan dari petinggi The Fed asal Atlanta
‐ Dennis Lockhart.
 

• Euro naik hingga level 1,4350 <EUR=>, tertinggi sejak akhir Januari 2010, ditutup menguat 0,8% ke 1,4334, tidak terlalu terpengaruh
berita bahwa otoritas Portugal telah meminta bantuan finansial dari Uni‐Eropa. Sementara itu euro naik 1,4% terhadap yen ke 122,45
yen, setelah sempat mencapai level tertinggi 11‐bulan di 122.61 yen <EURJPY=>. Dollar AS naik 0,6% ke 85,43 yen <JPY=>, setelah
mencapai level puncak 6‐bulan di 85,52 yen. Terhadap the basket of currencies, dollar AS turun 0,5% ke 75,540 <DXY.>.



GOLD & COMMODITIES 
• Emas mencapai level tertinggi dalam dua harinya berturut‐turut Rabu lalu dan minyak mentah melejit kelevel terbarunya dalam 2‐1/2
tahun, memicu kekhawatiran pada inflasi yang dapat menekan pada perekonomian dunia yang paling diandalkan.
 

• Tekanan harga dari kenaikan negara‐negara ekonomi berkembang Asia – yang telah menjadi katalis/acuan pada recovery dunia dari
krisis finansial ‐‐ dan tidak mungkin mereda secepatnya, Asian Development Bank memperingatkannya.
 

• "High and volatile oil and food prices will, in particular, reverberate through the world economy, and they are likely to stay that way in
2011‐2012," ADB mengatakannya.
 

• "They will thus be a significant source of global inflation, especially in developing countries where recovery is firmly under way," Manilaberbasis
agen mengungkapkannya dalam sebuah laporan.
 

• Harga spot gold <XAU=>, yang menggambarkan perdagangan emas/bullion, naik ke level tertingginya sepanjang masa pada level
$1461,91 per ons, naik lebih dari $5 dari level puncak Selasa lalu. Pada perdagangan futures, U.S. gold untuk pengiriman bulan Juni
<GCM1> menguat setengah persen ke level tertingginya $1467,00 per ons.
 

• Perak /Silver <XAG=>, mencapai level tertingginya dalam 31‐tahun ke level $39.75 per ons pada perdagangan spot.