LONDON (Reuters) - Surging inflation pressures and the natural disasters that ravaged Japan last month look unlikely to stall an ascendant global economy, a Reuters poll of around 350 economists showed on Thursday.
The survey of analysts from all over the world again showed the United States leading a rich-world recovery along with Canada, while respondents expect a jumble of strong and weak performances from the top European economies.
The world's third largest economy, Japan, will likely contract this quarter after the March 11 earthquake and tsunami that left nearly 28,000 dead or missing, also triggering a nuclear crisis that could last for months.
While economists are still digesting the ramifications of the disaster on global supply lines, many pointed to surging oil prices as the key risk for now.
"We've taken down our global growth forecasts over the last quarter very slightly, and that's on the back of higher oil prices," said Karen Ward, senior global economist at HSBC in London.
"The oil price impact is a net negative for the global economy, particularly for the United States. In the developed world, where wage growth is so weak, it already has dented U.S. consumer confidence and it will be an issue for consumer confidence elsewhere."
The poll showed global growth at 4.2 percent this year and 4.3 percent next year -- unchanged since the January poll.
That was just slightly less optimistic than the International Monetary Fund's forecast on Monday of 4.4 percent for this year. The IMF said oil prices and inflation posed new challenges to the progress of the world economy.
Just as finance ministers from the Group of 20 rich and emerging market nations meet in Washington, the latest Reuters survey showed rich-world economies will lag far behind India and China, which will see near double-digit rates of growth in 2011.
G20 finance ministers will be hoping to make progress on a plan to identify the countries that put the global economy at risk -- but that could be tricky with a fast-diverging array of economic policies and prospects.
Canada and the United States should lead the rich world recovery in 2011 with annual average growth rates of 3.0 and 2.9 percent, respectively. Even rising inflation pressure is unlikely to dent this view in the case of the U.S. economy.
"Inflation is going to be higher than most expect, but I do expect it to moderate some in 2012," said Hugh Johnson, chief investment officer of Hugh Johnson Advisors LLC in Albany, New York. "Does this mean there is a genuine threat to the recovery? No."
On Monday, Brent crude hit a 32-month high above $127 a barrel, pushed higher by unrest in oil producer Libya. While it has since fallen, the commodity and energy rallies since the start of the year have sent gauges much higher, especially in Europe and emerging countries.
REBUILDING JAPAN
The Japan poll of around 30 economists showed the economy flatlining in the first quarter and declining 0.6 percent between April and June.
While they see the economy rebounding in the third quarter once the reconstruction effort gets into full swing, the nuclear crisis and consequent energy shortages will depress the economy for the next few months.
"Not only exports, but private consumption will decline. And unstable power supply will probably prompt companies to postpone capital spending," said Junko Nishioka, chief economist at RBS Securities.
"Also a possible power shortage in the summer is seen weighing on consumer sentiment and pulling down spending, which could drag into the latter half of the year."
The Bank of Japan, which was already struggling to escape deflation before the disaster, will keep rates on hold until at least 2013.
The euro zone, which has already seen an interest rate hike this month in response to above-target inflation, will see mixed fortunes among its biggest economies.
While Germany could rival the growth rates expected of the North American economies with a 2.8 percent expansion this year, economists see the French economy growing 1.7 percent this year and Italy lagging behind with just 1.1 percent growth.
"Higher inflation and significant fiscal tightening will continue to constrain the recovery despite the resurgence in global manufacturing," said James Nixon at Societe Generale.
Overall, the 17-nation euro zone economy will expand around 1.7 percent this year, the poll showed.
Forecasters trimmed their 2011 UK growth forecasts for the third month running, as Britons toil under the strongest levels of inflation anywhere in the G7 and fierce austerity measures.
title cover
Thursday, April 14, 2011
Headline News 14.04.11
US & GLOBAL
• Harga obligasi dan dolar AS naik pada hari Rabu di tengah harapan bahwa pengurangan defisit $4 trilyun Presiden Barack Obama akan
menopang kelayakan kredit Amerika Serikat dan status cadangan devisa dolar. Harga minyak rebound, pulih dari dua hari penurunan,
setelah data inventory bahan bakar AS (gasoline) menunjukkan penurunan mingguan terbesar sejak Oktober 1998.
• Obama menetapkan kerangka waktu paling lama 12 tahun untuk program pengurangan defisit hingga $4 trilyun setelah dikatakannya
bahwa terus meningkatnya utang akan beresiko bagi lapangan kerja, merugikan ekonomi dan memaksa Washington untuk meminjam
lebih banyak dari negara lain seperti Cina.
• Pergulatan petinggi di pemerintahan AS belakangan ini mengenai bagaimana cara untuk mengatasi kesulitan jangka panjang fiskal
Amerika Serikat, membuat para investor enggan untuk berkomitmen saham dan aset berisiko lainnya karena ketidakpastian atas
ketahanan pertumbuhan ekonomi dan keuntungan global.
• Yield obligasi pemerintah AS untuk tenor 10‐tahun turun ke level terendah selama seminggu meskipun lelangnya minim di luar dugaan,
sementara dollar membukukan keuntungan versus yen dan euro. Wall Street berakhir datar, sedikit lebih tinggi dari perdagangan Selasa
sebelumnya setelah berjuang di sepanjang sesi kemarin di tengah keraguan atas perolehan keuntungan perusahaan. Kenaikan awal
pada saham AS melempem, meski ada laporan pertumbuhan laba yang kuat dari JPMorgan Chase & Co, bank terbesar ke‐2 AS. Analis
mempertanyakan apakah hasil dari JPMorgan, bank besar pertama di bursa Wall Street yang merilis laporan keuangannya untuk kuartal
pertama, akan berkelanjutan. Hal tersebut menghambat rebound di bursa Wall Street.
• Indeks Dow Jones <. DJI> ditutup naik 0,06%, sedangkan Standard & Poor's 500 <SPX.> naik 0,02%. Indeks Nasdaq Composite Index
<IXIC.> naik 0,61%. Sementara indeks saham dunia, yang dihitung dalam indeks MSCI, naik 0,3%. Indeks FTSEurofirst 300, <FTEU3.>
untuk bursa saham terbaik Eropa ditutup naik 0,7%, setelah Selasa sebelumnya mengalami penurunan harian terbesar selama sebulan.
Saham perbankan Eropa naik, didorong oleh hasil JPMorgan. Sementara Indeks Nikkei <. N225> naik 0,9% di tengah tipisnya volume
perdagangan Rabu kemarin.
• Seperti saham, komoditas pun bergerak fluktuatif Rabu kemarin. Harga minyak mentah Brent <LCOc1> akhirnya naik lebih dari $1,50 ke
level $122,61 per barel setelah dua hari mengalami aksi sell‐off karena meningkatnya kekhawatiran bahwa tingginya harga akan
mengganggu demand. Harga minyak mentah AS <CLc1> ditutup naik di $ 107,38, menghapus penurunan di sore hari. Harga emas di
pasar spot <XAU=> ditutup naik sekitar $3 ke level $1456.74 per troy ounce.
• Dollar sedikit rebound terhadap yen setelah pemerintah Jepang menurunkan prospek ekonomi sebagai refleksi dari bencana gempa dan
tsunami besar bulan lalu. Ini merupakan pertama kalinya selama 6 bulan terakhir pemerintah Jepang melakukan hal tersebut. Pada hari
Selasa dolar mencatat penurunan harian terbesar dalam persentase selama empat bulan terakhir terhadap yen, sekitar 83.40‐an.
EUR/USD turun 0,3% ke level $ 1,4437, setelah sebelumnya sempat mencapai puncak selama 15‐bulan, di $ 1,4520.
• Namun secara keseluruhan sentimen terhadap dolar AS masih bearish karena selama ekspektasi bahwa The Fed AS akan mengalami
ketertinggalan dari bank‐bank sentral dunia lainnya dalam melakukan normalisasi kebijakan moneter – yakni dimulainya siklus kenaikan
suku bunga.
GOLD & COMMODITIES
• Emas naik di Eropa Rabu lalu, recovery setelah penurunan terbesar hariannya yang mendekati satu bulan karena dollar AS melemah
ditengah ekspektasi the Fed yang akan menjaga kebijakan moneter yang akomodatif saat ini.
• Metals consultancy GFMS mengeluarkan secara luas laporan antisipasi industri yang mengatakan gold's decade‐long price rally dapat
diatas level $1600 per ons sampai akhir tahun, karena hasrat investor terhadap emas menguat berikutnya.
• Perusahaan melihat harga emas rata‐rata dilevel $1455 per ons tahun ini dan berada dikisaran $1319‐1620 per ons, executive chairman
Philip Klapwijk mengatakan pada delegasi dalam Gold Survey 2011.
• Spot gold <XAU=> diperdagangkan pada level $1458,09 per ons pada pukul 1416 GMT, terhadap $1453,95 pada penutupan New York
Selasa lalu. U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> naik $5.60 per ons ke level $1459,20.
• Silver <XAG=> berada pada level $40.34 per ons dari level $40.04. Platinum <XPT=> diperdagangkan pada level $1781 per ons terhadap
level $1765.70, sementara itu palladium <XPD=> pada level $764.97 terhadap $761.40 level sebelumnya.
• Harga obligasi dan dolar AS naik pada hari Rabu di tengah harapan bahwa pengurangan defisit $4 trilyun Presiden Barack Obama akan
menopang kelayakan kredit Amerika Serikat dan status cadangan devisa dolar. Harga minyak rebound, pulih dari dua hari penurunan,
setelah data inventory bahan bakar AS (gasoline) menunjukkan penurunan mingguan terbesar sejak Oktober 1998.
• Obama menetapkan kerangka waktu paling lama 12 tahun untuk program pengurangan defisit hingga $4 trilyun setelah dikatakannya
bahwa terus meningkatnya utang akan beresiko bagi lapangan kerja, merugikan ekonomi dan memaksa Washington untuk meminjam
lebih banyak dari negara lain seperti Cina.
• Pergulatan petinggi di pemerintahan AS belakangan ini mengenai bagaimana cara untuk mengatasi kesulitan jangka panjang fiskal
Amerika Serikat, membuat para investor enggan untuk berkomitmen saham dan aset berisiko lainnya karena ketidakpastian atas
ketahanan pertumbuhan ekonomi dan keuntungan global.
• Yield obligasi pemerintah AS untuk tenor 10‐tahun turun ke level terendah selama seminggu meskipun lelangnya minim di luar dugaan,
sementara dollar membukukan keuntungan versus yen dan euro. Wall Street berakhir datar, sedikit lebih tinggi dari perdagangan Selasa
sebelumnya setelah berjuang di sepanjang sesi kemarin di tengah keraguan atas perolehan keuntungan perusahaan. Kenaikan awal
pada saham AS melempem, meski ada laporan pertumbuhan laba yang kuat dari JPMorgan Chase & Co, bank terbesar ke‐2 AS. Analis
mempertanyakan apakah hasil dari JPMorgan, bank besar pertama di bursa Wall Street yang merilis laporan keuangannya untuk kuartal
pertama, akan berkelanjutan. Hal tersebut menghambat rebound di bursa Wall Street.
• Indeks Dow Jones <. DJI> ditutup naik 0,06%, sedangkan Standard & Poor's 500 <SPX.> naik 0,02%. Indeks Nasdaq Composite Index
<IXIC.> naik 0,61%. Sementara indeks saham dunia, yang dihitung dalam indeks MSCI, naik 0,3%. Indeks FTSEurofirst 300, <FTEU3.>
untuk bursa saham terbaik Eropa ditutup naik 0,7%, setelah Selasa sebelumnya mengalami penurunan harian terbesar selama sebulan.
Saham perbankan Eropa naik, didorong oleh hasil JPMorgan. Sementara Indeks Nikkei <. N225> naik 0,9% di tengah tipisnya volume
perdagangan Rabu kemarin.
• Seperti saham, komoditas pun bergerak fluktuatif Rabu kemarin. Harga minyak mentah Brent <LCOc1> akhirnya naik lebih dari $1,50 ke
level $122,61 per barel setelah dua hari mengalami aksi sell‐off karena meningkatnya kekhawatiran bahwa tingginya harga akan
mengganggu demand. Harga minyak mentah AS <CLc1> ditutup naik di $ 107,38, menghapus penurunan di sore hari. Harga emas di
pasar spot <XAU=> ditutup naik sekitar $3 ke level $1456.74 per troy ounce.
• Dollar sedikit rebound terhadap yen setelah pemerintah Jepang menurunkan prospek ekonomi sebagai refleksi dari bencana gempa dan
tsunami besar bulan lalu. Ini merupakan pertama kalinya selama 6 bulan terakhir pemerintah Jepang melakukan hal tersebut. Pada hari
Selasa dolar mencatat penurunan harian terbesar dalam persentase selama empat bulan terakhir terhadap yen, sekitar 83.40‐an.
EUR/USD turun 0,3% ke level $ 1,4437, setelah sebelumnya sempat mencapai puncak selama 15‐bulan, di $ 1,4520.
• Namun secara keseluruhan sentimen terhadap dolar AS masih bearish karena selama ekspektasi bahwa The Fed AS akan mengalami
ketertinggalan dari bank‐bank sentral dunia lainnya dalam melakukan normalisasi kebijakan moneter – yakni dimulainya siklus kenaikan
suku bunga.
GOLD & COMMODITIES
• Emas naik di Eropa Rabu lalu, recovery setelah penurunan terbesar hariannya yang mendekati satu bulan karena dollar AS melemah
ditengah ekspektasi the Fed yang akan menjaga kebijakan moneter yang akomodatif saat ini.
• Metals consultancy GFMS mengeluarkan secara luas laporan antisipasi industri yang mengatakan gold's decade‐long price rally dapat
diatas level $1600 per ons sampai akhir tahun, karena hasrat investor terhadap emas menguat berikutnya.
• Perusahaan melihat harga emas rata‐rata dilevel $1455 per ons tahun ini dan berada dikisaran $1319‐1620 per ons, executive chairman
Philip Klapwijk mengatakan pada delegasi dalam Gold Survey 2011.
• Spot gold <XAU=> diperdagangkan pada level $1458,09 per ons pada pukul 1416 GMT, terhadap $1453,95 pada penutupan New York
Selasa lalu. U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> naik $5.60 per ons ke level $1459,20.
• Silver <XAG=> berada pada level $40.34 per ons dari level $40.04. Platinum <XPT=> diperdagangkan pada level $1781 per ons terhadap
level $1765.70, sementara itu palladium <XPD=> pada level $764.97 terhadap $761.40 level sebelumnya.
Obama says will "refuse" to renew tax cuts for rich
WASHINGTON (Reuters) - President Barack Obama said on Wednesday that tackling the U.S. budget deficit would require broad sacrifice and said that he would refuse to renew Bush-era tax breaks for wealthier Americans.
"We cannot afford $1 trillion worth of tax cuts for every millionaire and billionaire in our society. And I refuse to renew them again," Obama said in remarks prepared for delivery.
"We cannot afford $1 trillion worth of tax cuts for every millionaire and billionaire in our society. And I refuse to renew them again," Obama said in remarks prepared for delivery.
Wednesday, April 13, 2011
Headline News 13.04.11
US & GLOBAL
• Harga minyak menderita penurunan terbesar selama 11 bulan untuk basis 2 harian, dibarengi dengan kejatuhan bursa saham pada hari Selasa
kemarin di tengah kembali munculnya kekhawatiran tentang prospek pemulihan ekonomi global serta adanya warning dari Goldman Sachs
bahwa harga minyak dunia (brent crude oil) akan mengalami tekanan dari penguatannya – ke level $105 dalam beberapa bulan ke depan dari
areal puncaknya di $127an Senin lalu. Harga minyak mentah yang diperdagangkan di New York turun lebih dari 3% dan sekaligus mengakumulasi
penurunannya sebesar 5,8% sejak Jumat lalu. Sementara lembaga energi dunia (IEA) mengatakan bahwa tingginya harga minyak/bahan bakar
energi justru akan menekan demand‐nya di pasar dunia.
• Indeks bursa saham dunia, yang diukur dalam indeks MSCI turun 1,3%, merupakan terbesarnya selama 4 minggu terakhir untuk basis harian.
Kekhawatiran atas prospek pemulihan ekonomi global kembali meningkat setelah menteri ekonomi Jepang memperingatkan bahwa kerusakan
yang disebabkan oleh gempa bumi dan tsunami besar bulan lalu bisa lebih buruk dari yang diduga. Pernyataan dari otoritas Jepang yang
mensejajarkan keparahan kebocoran radiasi di PLTN Fukushima dengan bencana nuklir terburuk dunia, di Chernobyl, juga menekan sentimen.
• Pasar semakin menjadi prihatin dengan situasi di Jepang sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia, dan oleh karenanya harga
minyak dan harga komoditas yang tinggi pada akhirnya akan memperparah tekanan ekonomi. Saham AS berakhir lebih rendah setelah angka
pendapatan mengecewakan dari produsen aluminium Alcoa Inc, komponen Dow yang menandai awal musim pendapatan triwulanan dengan rilis
setelah pasar tutup pada hari Senin. Saham Energi memimpin penurunan pada indeks S&P500. Sub‐Indeks energi S&P <. GSPE>, top performer
pada kuartal pertama, turun 3% Selasa kemarin. Sub‐indeks tersebut telah memimpin penguatan di bursa Wall Street sedemikian lama mengikuti
kenaikan harga komoditas dan optimisme pertumbuhan ekonomi global kala itu. Jadi saat harga komoditas mulai berguling, maka bursa saham
pun mengikuti.
• Indeks FTSEurofirst 300 <. FTEU3> saham top Eropa tergelincir 1,7%, yang juga dipimpin oleh saham‐saham energy dan pertambangan. Bursa
saham di negara‐negara berkembang, yang mengandalkan eksportir sumber daya alam, jatuh 1,9%.
• Brent <LC0c1> minyak mentah jatuh $3,06 untuk menetap di $120,92 per barel. Kontrak Mei Brent berakhir pada hari Kamis. Harga minyak
mentah di pasar AS tipe kontrak bulan Mei <CLc1> jatuh hingga areal $106/barel. Kekhawatiran terhadap rusaknya demand di sektor ini
menyebabkan tekanan di pasar. Pasar pun meragukan level kenaikannya belakangan ini tidak akan lestari. Harga emas di pasar spot <XAU=>
turun dari rekor tinggi Senin sementara perak <XAG=> merosot dari level tertinggi selama 31 tahun yang dicapai sehari sebelumnya. Reuters‐
Jefferies CRB index <.CRB>, patokan komoditas global, jatuh sekitar 2% dalam penurunan tertajamnya selama 1 bulan untuk basis harian akibat
harga bahan baku mengalami tekanan dari sell off‐nya minyak.
• Arus safe‐haven meningkat dan memicu kenaikan harga obligasi di pasar Treasury AS serta menguatkan nilai tukar yen dan Swiss franc – karena
para investor yang mulai gelisah melakukan aksi jual aset‐aset beresiko mereka yang didanai dengan meminjam mata uang ber‐yield rendah.
Carry Trade ini nampaknya demikian marak, terutama yen terhadap mata uang dunia – sehingga membuatnya berfluktuasi cukup besar kemarin.
Yen bergerak ke level terkuatnya selama 1,5 minggu terhadap dolar AS di 83.47, meskipun geraknya ke depan kemungkinan akan diatasi oleh
sikap BoJ yang menjaga kebijakan moneter yang longgar untuk membantu pemulihan ekonomi. Dolar melemah 1,2% ke level terendahnya
selama lebih dari 3 minggu terhadap Swiss franc <CHF=EBS> di 0,8943.
• Sementara euro masih perkasa dengan melanjutkan kenaikan ke level tertinggi 15 bulan terhadap dolar di atas 1,45, didorong oleh laporan aksi
beli dari China dan berita bahwa Cina, ekonomi terbesar kedua dunia, bersedia untuk membeli lebih banyak obligasi Spanyol.
• Komentar lunak dari pejabat penting Federal Reserve AS menekan sentimen dolar. Adalah Janet Yellen dan William Dudley yang kemarin
mengatakan bahwa bank sentral AS harus tetap berpegang pada kebijakan moneter yang super‐longgar karena inflasi bukan merupakan
ancaman dan tingkat pengangguran masih terlalu tinggi. Indeks dolar AS <. DXY>, yang merupakan indeks dollar terhadap sejumlah mata uang
utama dunia, turun hingga level terendah sejak Desember 2009, di 74,704.
GOLD & COMMODITIES
• Emas anjlok 1 persen Selasa lalu, yang mencatatkan penurunan terbesarnya dalam satu bulan, karena penurunan tajam pada minyak mentah
mengikuti perkiraan bearish dari Goldman Sachs yang menekan metal kedepannya dari level tertingginya.
• Bullion/emas juga melemah setelah data menunjukkan defisit perdagangan AS merosot bulan Februari, suatu pertanda dari melambatnya
permintaan global. Emas telah menguntungkan dalam beberapa bulan karena rally pada oil dan gandum yang memicu kekhawatiran inflasi.
• Silver melemah dari level tertingginya Senin lalu dalam level tertingginya 31‐tahun.
• "That (Goldman report) has given enough reasons for investors to trim their positions, in particular for those markets that have gone parabolic.
That's enough to cool enthusiasm for commodities at the moment," ungkap Mark Luschini, kepala investment strategist pada broker‐dealer
Janney Montgomery Scott dengan $53 milyar assets under management.
• Tetapi dia menambahkan: "I don't think this is the end of the commodity bull market."
• Spot gold <XAU=> turun 1 persen ke level $1451,40 per ons hingga pukul 11:46 a.m. EDT (1546 GMT), yang pada awalnya telah sempat mencapai
level terendahnya dalam satu minggu level $1443,49. Senin lalu, emas mencapai level tertingginya $1476,21.
• U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCM1> merosot 1.1 persen ke level $1452,60 per ons, dengan volume perdagangan rebound
setelah melambat dari aktivitas normal pada beberapa hari sebelumnya.
• Silver <XAG=> membalikkan kenaikan pada awalnya untuk diperdagangkan turun 0.5 persen ke level $39.97 per ons, dan sekitar 5 persen
dibawah level tertingginya dalam 31‐tahun Senin lalu level $41.93.
• Di antara platinum group metals, platinum <XPT=> melemah 0.3 persen ke level $1774,49 per ons, sementara itu palladium <XPD=> turun 1.7
persen ke level $768.
• Harga minyak menderita penurunan terbesar selama 11 bulan untuk basis 2 harian, dibarengi dengan kejatuhan bursa saham pada hari Selasa
kemarin di tengah kembali munculnya kekhawatiran tentang prospek pemulihan ekonomi global serta adanya warning dari Goldman Sachs
bahwa harga minyak dunia (brent crude oil) akan mengalami tekanan dari penguatannya – ke level $105 dalam beberapa bulan ke depan dari
areal puncaknya di $127an Senin lalu. Harga minyak mentah yang diperdagangkan di New York turun lebih dari 3% dan sekaligus mengakumulasi
penurunannya sebesar 5,8% sejak Jumat lalu. Sementara lembaga energi dunia (IEA) mengatakan bahwa tingginya harga minyak/bahan bakar
energi justru akan menekan demand‐nya di pasar dunia.
• Indeks bursa saham dunia, yang diukur dalam indeks MSCI turun 1,3%, merupakan terbesarnya selama 4 minggu terakhir untuk basis harian.
Kekhawatiran atas prospek pemulihan ekonomi global kembali meningkat setelah menteri ekonomi Jepang memperingatkan bahwa kerusakan
yang disebabkan oleh gempa bumi dan tsunami besar bulan lalu bisa lebih buruk dari yang diduga. Pernyataan dari otoritas Jepang yang
mensejajarkan keparahan kebocoran radiasi di PLTN Fukushima dengan bencana nuklir terburuk dunia, di Chernobyl, juga menekan sentimen.
• Pasar semakin menjadi prihatin dengan situasi di Jepang sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia, dan oleh karenanya harga
minyak dan harga komoditas yang tinggi pada akhirnya akan memperparah tekanan ekonomi. Saham AS berakhir lebih rendah setelah angka
pendapatan mengecewakan dari produsen aluminium Alcoa Inc, komponen Dow yang menandai awal musim pendapatan triwulanan dengan rilis
setelah pasar tutup pada hari Senin. Saham Energi memimpin penurunan pada indeks S&P500. Sub‐Indeks energi S&P <. GSPE>, top performer
pada kuartal pertama, turun 3% Selasa kemarin. Sub‐indeks tersebut telah memimpin penguatan di bursa Wall Street sedemikian lama mengikuti
kenaikan harga komoditas dan optimisme pertumbuhan ekonomi global kala itu. Jadi saat harga komoditas mulai berguling, maka bursa saham
pun mengikuti.
• Indeks FTSEurofirst 300 <. FTEU3> saham top Eropa tergelincir 1,7%, yang juga dipimpin oleh saham‐saham energy dan pertambangan. Bursa
saham di negara‐negara berkembang, yang mengandalkan eksportir sumber daya alam, jatuh 1,9%.
• Brent <LC0c1> minyak mentah jatuh $3,06 untuk menetap di $120,92 per barel. Kontrak Mei Brent berakhir pada hari Kamis. Harga minyak
mentah di pasar AS tipe kontrak bulan Mei <CLc1> jatuh hingga areal $106/barel. Kekhawatiran terhadap rusaknya demand di sektor ini
menyebabkan tekanan di pasar. Pasar pun meragukan level kenaikannya belakangan ini tidak akan lestari. Harga emas di pasar spot <XAU=>
turun dari rekor tinggi Senin sementara perak <XAG=> merosot dari level tertinggi selama 31 tahun yang dicapai sehari sebelumnya. Reuters‐
Jefferies CRB index <.CRB>, patokan komoditas global, jatuh sekitar 2% dalam penurunan tertajamnya selama 1 bulan untuk basis harian akibat
harga bahan baku mengalami tekanan dari sell off‐nya minyak.
• Arus safe‐haven meningkat dan memicu kenaikan harga obligasi di pasar Treasury AS serta menguatkan nilai tukar yen dan Swiss franc – karena
para investor yang mulai gelisah melakukan aksi jual aset‐aset beresiko mereka yang didanai dengan meminjam mata uang ber‐yield rendah.
Carry Trade ini nampaknya demikian marak, terutama yen terhadap mata uang dunia – sehingga membuatnya berfluktuasi cukup besar kemarin.
Yen bergerak ke level terkuatnya selama 1,5 minggu terhadap dolar AS di 83.47, meskipun geraknya ke depan kemungkinan akan diatasi oleh
sikap BoJ yang menjaga kebijakan moneter yang longgar untuk membantu pemulihan ekonomi. Dolar melemah 1,2% ke level terendahnya
selama lebih dari 3 minggu terhadap Swiss franc <CHF=EBS> di 0,8943.
• Sementara euro masih perkasa dengan melanjutkan kenaikan ke level tertinggi 15 bulan terhadap dolar di atas 1,45, didorong oleh laporan aksi
beli dari China dan berita bahwa Cina, ekonomi terbesar kedua dunia, bersedia untuk membeli lebih banyak obligasi Spanyol.
• Komentar lunak dari pejabat penting Federal Reserve AS menekan sentimen dolar. Adalah Janet Yellen dan William Dudley yang kemarin
mengatakan bahwa bank sentral AS harus tetap berpegang pada kebijakan moneter yang super‐longgar karena inflasi bukan merupakan
ancaman dan tingkat pengangguran masih terlalu tinggi. Indeks dolar AS <. DXY>, yang merupakan indeks dollar terhadap sejumlah mata uang
utama dunia, turun hingga level terendah sejak Desember 2009, di 74,704.
GOLD & COMMODITIES
• Emas anjlok 1 persen Selasa lalu, yang mencatatkan penurunan terbesarnya dalam satu bulan, karena penurunan tajam pada minyak mentah
mengikuti perkiraan bearish dari Goldman Sachs yang menekan metal kedepannya dari level tertingginya.
• Bullion/emas juga melemah setelah data menunjukkan defisit perdagangan AS merosot bulan Februari, suatu pertanda dari melambatnya
permintaan global. Emas telah menguntungkan dalam beberapa bulan karena rally pada oil dan gandum yang memicu kekhawatiran inflasi.
• Silver melemah dari level tertingginya Senin lalu dalam level tertingginya 31‐tahun.
• "That (Goldman report) has given enough reasons for investors to trim their positions, in particular for those markets that have gone parabolic.
That's enough to cool enthusiasm for commodities at the moment," ungkap Mark Luschini, kepala investment strategist pada broker‐dealer
Janney Montgomery Scott dengan $53 milyar assets under management.
• Tetapi dia menambahkan: "I don't think this is the end of the commodity bull market."
• Spot gold <XAU=> turun 1 persen ke level $1451,40 per ons hingga pukul 11:46 a.m. EDT (1546 GMT), yang pada awalnya telah sempat mencapai
level terendahnya dalam satu minggu level $1443,49. Senin lalu, emas mencapai level tertingginya $1476,21.
• U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCM1> merosot 1.1 persen ke level $1452,60 per ons, dengan volume perdagangan rebound
setelah melambat dari aktivitas normal pada beberapa hari sebelumnya.
• Silver <XAG=> membalikkan kenaikan pada awalnya untuk diperdagangkan turun 0.5 persen ke level $39.97 per ons, dan sekitar 5 persen
dibawah level tertingginya dalam 31‐tahun Senin lalu level $41.93.
• Di antara platinum group metals, platinum <XPT=> melemah 0.3 persen ke level $1774,49 per ons, sementara itu palladium <XPD=> turun 1.7
persen ke level $768.
Tuesday, April 12, 2011
Japan raises nuclear crisis to same level as Chernobyl
TOKYO (Reuters) - Japan put its nuclear calamity on a par with the world's worst nuclear disaster, Chernobyl, on Tuesday after new data showed that more radiation leaked from its earthquake-crippled power plant in the early days of the crisis than first thought.
Japanese officials said it had taken time to measure radiation from the plant after it was smashed by March 11's massive quake and tsunami, and the upgrade in its severity rating to the highest level on a globally recognised scale did not mean the situation had suddenly become more critical.
"The situation at the Fukushima Daiichi plant is slowly stabilizing, step by step, and the emission of radioactive substances is on a declining trend," Prime Minister Naoto Kan told a press briefing on Tuesday.
Kan said he wanted to move from emergency response to long-term rebuilding.
"A month has passed. We need to take steps toward restoration and reconstruction," he said.
He also called on opposition parties, whose help he needs to pass bills in a divided parliament, to take part in drafting reconstruction plans from an early stage.
The operator of the stricken facility appears to be no closer to restoring cooling systems at the reactors, critical to lowering the temperature of overheated nuclear fuel rods. Late on Tuesday, Japan's science ministry said small amounts of strontium, one of the most harmful and long-lasting radioactive elements, had been found in soil near Fukushima Daiichi.
Hidehiko Nishiyama, a deputy director-general of the Nuclear and Industrial Safety Agency (NISA), said the decision to raise the severity of the incident from level 5 to 7 -- the same as the Chernobyl disaster in Ukraine in 1986 -- was based on cumulative quantities of radiation released.
No radiation-linked deaths have been reported since the earthquake struck, and only 21 plant workers have been affected by minor radiation sickness, according to Chief Cabinet Secretary Yukio Edano.
"Although the level has been raised to 7 today, it doesn't mean the situation today is worse than it was yesterday, it means the event as a whole is worse than previously thought," said nuclear expert John Price, a former member of the Safety Policy Unit at the UK's National Nuclear Corporation.
"NOWHERE NEAR CHERNOBYL"
A level 7 incident means a major release of radiation with a widespread health and environmental impact, while a 5 level is a limited release of radioactive material, with several deaths, according to the International Atomic Energy Agency (IAEA).
Several experts said the new rating exaggerated the severity of the crisis.
"It's nowhere near that level. Chernobyl was terrible -- it blew and they had no containment, and they were stuck," said nuclear industry specialist Murray Jennex, an associate professor at San Diego State University in California.
"Their containment has been holding, the only thing that hasn't is the fuel pool that caught fire."
The blast at Chernobyl blew the roof off a reactor and sent large amounts of radiation wafting across Europe. The accident contaminated vast areas and led to the evacuation of well over 100,000 people.
Nevertheless, the increase in the severity level heightens the risk of diplomatic tension with Japan's neighbors over radioactive fallout. Chinese Premier Wen Jiabao told Kan on Tuesday he was "concerned" about the release of radiation into the ocean.
"If Japan mishandles this issue, especially if, to solve its own problems, it affects the safety of neighboring countries, then that will have a bad effect on relations at the government and public levels," said Sun Cheng, a professor specializing in Japanese politics and Sino-Japanese relations at the China University of Political Science and Law in Beijing.
Chinese worries have not reached that point yet, he said.
China has so far been sympathetic rather than angry, though it and South Korea have criticized the plant operator's decision to pump radioactive water into the sea, a process it has now stopped.
HUGE ECONOMIC DAMAGE
The March earthquake and tsunami killed up to 28,000 people and the estimated financial cost stands at $300 billion, making it the world's most expensive disaster.
Japan's economics minister warned the damage was likely to be worse than first thought as power shortages would cut factory output and disrupt supply chains.
The Bank of Japan governor said the economy was in a "severe state," while central bankers were uncertain when efforts to rebuild the northeast would boost growth, according to minutes from a meeting held three days after the earthquake struck.
NISA said the amount of radiation released into the atmosphere from the plant, 240 km (150 miles) north of Tokyo, was around 10 percent that of Chernobyl.
"Radiation released into the atmosphere peaked from March 15 to 16. Radiation is still being released, but the amount now has fallen considerably," said NISA's Nishiyama.
Lam Ching-wan, a chemical pathologist at the University of Hong Kong and member of the American Board of Toxicology, said this level of radiation was harmful.
"It means there is damage to soil, ecosystem, water, food and people. People receive this radiation. You can't escape it by just shutting the window," Lam said.
Japanese officials said it had taken time to measure radiation from the plant after it was smashed by March 11's massive quake and tsunami, and the upgrade in its severity rating to the highest level on a globally recognised scale did not mean the situation had suddenly become more critical.
"The situation at the Fukushima Daiichi plant is slowly stabilizing, step by step, and the emission of radioactive substances is on a declining trend," Prime Minister Naoto Kan told a press briefing on Tuesday.
Kan said he wanted to move from emergency response to long-term rebuilding.
"A month has passed. We need to take steps toward restoration and reconstruction," he said.He also called on opposition parties, whose help he needs to pass bills in a divided parliament, to take part in drafting reconstruction plans from an early stage.
The operator of the stricken facility appears to be no closer to restoring cooling systems at the reactors, critical to lowering the temperature of overheated nuclear fuel rods. Late on Tuesday, Japan's science ministry said small amounts of strontium, one of the most harmful and long-lasting radioactive elements, had been found in soil near Fukushima Daiichi.
Hidehiko Nishiyama, a deputy director-general of the Nuclear and Industrial Safety Agency (NISA), said the decision to raise the severity of the incident from level 5 to 7 -- the same as the Chernobyl disaster in Ukraine in 1986 -- was based on cumulative quantities of radiation released.
No radiation-linked deaths have been reported since the earthquake struck, and only 21 plant workers have been affected by minor radiation sickness, according to Chief Cabinet Secretary Yukio Edano.
"Although the level has been raised to 7 today, it doesn't mean the situation today is worse than it was yesterday, it means the event as a whole is worse than previously thought," said nuclear expert John Price, a former member of the Safety Policy Unit at the UK's National Nuclear Corporation.
"NOWHERE NEAR CHERNOBYL"
A level 7 incident means a major release of radiation with a widespread health and environmental impact, while a 5 level is a limited release of radioactive material, with several deaths, according to the International Atomic Energy Agency (IAEA).Several experts said the new rating exaggerated the severity of the crisis.
"It's nowhere near that level. Chernobyl was terrible -- it blew and they had no containment, and they were stuck," said nuclear industry specialist Murray Jennex, an associate professor at San Diego State University in California.
"Their containment has been holding, the only thing that hasn't is the fuel pool that caught fire."
The blast at Chernobyl blew the roof off a reactor and sent large amounts of radiation wafting across Europe. The accident contaminated vast areas and led to the evacuation of well over 100,000 people.
Nevertheless, the increase in the severity level heightens the risk of diplomatic tension with Japan's neighbors over radioactive fallout. Chinese Premier Wen Jiabao told Kan on Tuesday he was "concerned" about the release of radiation into the ocean.
"If Japan mishandles this issue, especially if, to solve its own problems, it affects the safety of neighboring countries, then that will have a bad effect on relations at the government and public levels," said Sun Cheng, a professor specializing in Japanese politics and Sino-Japanese relations at the China University of Political Science and Law in Beijing.
Chinese worries have not reached that point yet, he said.
China has so far been sympathetic rather than angry, though it and South Korea have criticized the plant operator's decision to pump radioactive water into the sea, a process it has now stopped.
HUGE ECONOMIC DAMAGE
The March earthquake and tsunami killed up to 28,000 people and the estimated financial cost stands at $300 billion, making it the world's most expensive disaster.
Japan's economics minister warned the damage was likely to be worse than first thought as power shortages would cut factory output and disrupt supply chains.
The Bank of Japan governor said the economy was in a "severe state," while central bankers were uncertain when efforts to rebuild the northeast would boost growth, according to minutes from a meeting held three days after the earthquake struck.
NISA said the amount of radiation released into the atmosphere from the plant, 240 km (150 miles) north of Tokyo, was around 10 percent that of Chernobyl.
"Radiation released into the atmosphere peaked from March 15 to 16. Radiation is still being released, but the amount now has fallen considerably," said NISA's Nishiyama.
Lam Ching-wan, a chemical pathologist at the University of Hong Kong and member of the American Board of Toxicology, said this level of radiation was harmful.
"It means there is damage to soil, ecosystem, water, food and people. People receive this radiation. You can't escape it by just shutting the window," Lam said.
Headline News 12.04.11
US & GLOBAL
• Harga minyak mentah turun tajam pada hari Senin di tengah kekhawatiran tingginya harga bisa mengikis permintaan dan mengancam pemulihan
ekonomi, sementara aksi jual saham energi dan kegelisahan menjelang musim rilis laporan pendapatan perusahaan kuartal pertama 2011
menekan bursa saham AS.
• Tekanan harga minyak mentah juga dipicu oleh Uni‐Afrika mengatakan pemimpin Libya Muammar Khadafi menyambut upaya untuk mengakhiri
perang sipil, termasuk gencatan senjata dalam waktu dekat, meskipun pemberontak mengatakan penyelesaian apapun akan menuntutnya
mundur. Para analis masih skeptis terhadap kondisi di Libya, meskipun kesepakatan damai dan upaya untuk mengakhiri perang sipil sudah di
depan mata. Menurut mereka masih perlu waktu untuk mengembalikan ekspor (minyak) Libya ke tingkat sebelum konflik. Sementara Goldman
Sachs tetap mengatakan kepada nasabahnya bahwa ada kemungkinan kuat harga komoditas akan berbalik, dan merekomendasikan untuk
mengambil keuntungan. Faktor lain, seperti pemilu di Nigeria, sebagai salah satu produsen minyak terbesar dunia, juga menurut Goldman akan
membatasi gerak naik harga‐harga minyak saat ini.
• Harga minyak mentah Brent untuk Mei <LCOc1> berakhir $2,67 lebih rendah ke $123,98 per barel, setelah mencapai puncak 32‐bulan $127,02.
Harga minyak mentah AS <CLc1> jatuh ke $ 108,86 dari puncak tertinggi sejak September 2008, di $113,46 yang dicapai Jumat lalu.
• Bursa saham Wall Street mayoritas mengalami tekanan, setelah turunnya harga minyak membebani saham energi dan mulai maraknya aksi jual
di tengah kekhawatiran terhadap laporan pendapatan perusahaan untuk kuartal pertama tahun ini. Tapi Alcoa Inc, komponen Dow pertama yang
merilis hasil, melaporkan laba kuartal pertama yang besar Senin kemarin, setelah mengalami kerugian tahun lalu. Naiknya harga alumunium,
produk utama Alcoa, akibat permintaan untuk logam, menjadi pemicu perolehan keuntungannya di periode tersebut. Ada proyeksi dari Thomson
Reuters yang mengatakan bahwa laba perusahaan pada kuartal pertama tahun 2011 di indeks S&P500 akan meningkat 11,4% dari tahun lalu.
• Indeks saham industri Dow Jones <DJI.> naik tipis 0,01 persen, tapi 500 benchmark Standard & Poor's Index turun <SPX.> 0,28%. Indeks Nasdaq
Composite Index <. IXIC> juga turun 0,32 persen. Ada keraguan di pasar apakah perusahaan dapat memenuhi harapan yang cukup optimis. Ada
potensi kekecewaan, tetapi jika data‐data laporan pendapatan perusahaan tersebut dirilis sesuai atau di atas estimasi pasar, maka bukan tidak
mungkin bisa mengalami rally lanjutan.
• Sementara indeks saham di bursa dunia yang dihitung dalam indeks MSCI juga mengalami penurunan kemarin, sebesar 0,2%. Sementara untuk
bursa saham di Negara‐negara berkembang turun 0,6%. Saham Eropa jatuh, ditandai dengan turunnya indeks FTSEurofirst 300 sebesar 0,2%.
• Dana Moneter Internasional mengatakan pada hari Senin bahwa tidak percaya bahwa kenaikan harga komoditas akan menggagalkan pemulihan
ekonomi global tetapi memang memperingatkan bahwa inflasi akan tetap tinggi untuk sementara waktu.
• Dolar AS menguat terhadap euro setelah Kongres AS pada hari Jumat mencapai kesepakatan menit‐menit terakhir anggaran federal yang
menghindari government shutdown. Namun, fokus pada perdebatan batas maksimum utang AS dapat membatasi keuntungan. Rebound dolar
kemarin juga sebagai reaksi dari turun tajamnya terhadap euro pada hari Jumat melanjutkan downtrend‐nya dari empat bulan terakhir. Untuk
bulan April, dolar masih turun sekitar 2,0 persen. Pada hari Senin EUR/USD terkoreksi 0,4% dari level tertingginya selama 15‐bulan, di sekitar $
1,4486 pada hari Jumat.
• Sentimen negatif dollar berpotensi terus berkembang selama The Fed masih mempertahankan suku bunga yang rendah dan sementara bank
sentral di luar negeri, yaitu Bank Sentral Eropa dan Bank of England, cenderung akan menaikkan suku bunganya. Potensi kelanjutan kenaikan
suku bunga ECB di bulan Juli masih akan mendukung kenaikan EUR/USD dan juga mata uang euro terhadap mata uang utama dunia lainnya.
• Yen cenderung rebound dari pelemahannya yang mencapai level di 11‐bulan sebelumnya terhadap euro dan di 2,5 tahun terhadap dolar
Australia setelah gempa bumi kembali mengguncang Jepang Senin kemarin yang menyebabkan beberapa investor melepas aset‐aset beresiko
mereka yang didanai dari pinjaman murah (carry trade) mata uang Jepang.
GOLD & COMMODITIES
• Emas naik ke level tertingginya Senin lalu karena ekspektasi the Fed akan menekan bank sentral lainnya dalam memperketat kebijakan moneter
yang menekan dollar AS, meskipun kemudian mereda dengan harga minyak dari tanda‐tanda kemungkinan perjanjian damai di Libya.
• Spot gold <XAU=> naik ke level tertingginya $1476,21 per ons dan diperdagangkan pada level $1467,40 per ons pada pukul 1323 GMT, terhadap
$1472,70 pada perdagangan terakhir New York Jumat lalu. Silver <XAG=> mencapai level tertingginya sejak awal 1980 pada level $41.93 dan
kemudian terakhir diperdagangkan $41.13 per ons terhadap level $40.85.
• Investor money telah mengarah pada komoditas pada umumnya dan logam mulia khususnya bulan ini karena investor khawatir mengenai
kenaikan inflasi yang potensial dalam perkembangan pasar dan perubahan pada kebijakan moneter di AS.
• "Gold investor interest is likely driven by ongoing concerns about inflationary pressures, both in emerging and developed economies, sovereign
debt levels and economic uncertainty, notably in the light of current high oil prices," kata analis BNP Paribas Anne‐Laure Tremblay.
• "Global monetary policy ‐‐ not only the U.S. ‐‐ is one of the key themes for gold in 2011," tambahnya.
• U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> melemah $5.60 per ons ke level $1468,50. Diantara harga logam mulai lainnya, platinum
<XPT=> diperdagangkan pada level $1798,24 per ons terhadap level $1803,75, sementara itu palladium <XPD=> ke level $792.98 terhadap level
$790.75.
• Harga minyak mentah turun tajam pada hari Senin di tengah kekhawatiran tingginya harga bisa mengikis permintaan dan mengancam pemulihan
ekonomi, sementara aksi jual saham energi dan kegelisahan menjelang musim rilis laporan pendapatan perusahaan kuartal pertama 2011
menekan bursa saham AS.
• Tekanan harga minyak mentah juga dipicu oleh Uni‐Afrika mengatakan pemimpin Libya Muammar Khadafi menyambut upaya untuk mengakhiri
perang sipil, termasuk gencatan senjata dalam waktu dekat, meskipun pemberontak mengatakan penyelesaian apapun akan menuntutnya
mundur. Para analis masih skeptis terhadap kondisi di Libya, meskipun kesepakatan damai dan upaya untuk mengakhiri perang sipil sudah di
depan mata. Menurut mereka masih perlu waktu untuk mengembalikan ekspor (minyak) Libya ke tingkat sebelum konflik. Sementara Goldman
Sachs tetap mengatakan kepada nasabahnya bahwa ada kemungkinan kuat harga komoditas akan berbalik, dan merekomendasikan untuk
mengambil keuntungan. Faktor lain, seperti pemilu di Nigeria, sebagai salah satu produsen minyak terbesar dunia, juga menurut Goldman akan
membatasi gerak naik harga‐harga minyak saat ini.
• Harga minyak mentah Brent untuk Mei <LCOc1> berakhir $2,67 lebih rendah ke $123,98 per barel, setelah mencapai puncak 32‐bulan $127,02.
Harga minyak mentah AS <CLc1> jatuh ke $ 108,86 dari puncak tertinggi sejak September 2008, di $113,46 yang dicapai Jumat lalu.
• Bursa saham Wall Street mayoritas mengalami tekanan, setelah turunnya harga minyak membebani saham energi dan mulai maraknya aksi jual
di tengah kekhawatiran terhadap laporan pendapatan perusahaan untuk kuartal pertama tahun ini. Tapi Alcoa Inc, komponen Dow pertama yang
merilis hasil, melaporkan laba kuartal pertama yang besar Senin kemarin, setelah mengalami kerugian tahun lalu. Naiknya harga alumunium,
produk utama Alcoa, akibat permintaan untuk logam, menjadi pemicu perolehan keuntungannya di periode tersebut. Ada proyeksi dari Thomson
Reuters yang mengatakan bahwa laba perusahaan pada kuartal pertama tahun 2011 di indeks S&P500 akan meningkat 11,4% dari tahun lalu.
• Indeks saham industri Dow Jones <DJI.> naik tipis 0,01 persen, tapi 500 benchmark Standard & Poor's Index turun <SPX.> 0,28%. Indeks Nasdaq
Composite Index <. IXIC> juga turun 0,32 persen. Ada keraguan di pasar apakah perusahaan dapat memenuhi harapan yang cukup optimis. Ada
potensi kekecewaan, tetapi jika data‐data laporan pendapatan perusahaan tersebut dirilis sesuai atau di atas estimasi pasar, maka bukan tidak
mungkin bisa mengalami rally lanjutan.
• Sementara indeks saham di bursa dunia yang dihitung dalam indeks MSCI juga mengalami penurunan kemarin, sebesar 0,2%. Sementara untuk
bursa saham di Negara‐negara berkembang turun 0,6%. Saham Eropa jatuh, ditandai dengan turunnya indeks FTSEurofirst 300 sebesar 0,2%.
• Dana Moneter Internasional mengatakan pada hari Senin bahwa tidak percaya bahwa kenaikan harga komoditas akan menggagalkan pemulihan
ekonomi global tetapi memang memperingatkan bahwa inflasi akan tetap tinggi untuk sementara waktu.
• Dolar AS menguat terhadap euro setelah Kongres AS pada hari Jumat mencapai kesepakatan menit‐menit terakhir anggaran federal yang
menghindari government shutdown. Namun, fokus pada perdebatan batas maksimum utang AS dapat membatasi keuntungan. Rebound dolar
kemarin juga sebagai reaksi dari turun tajamnya terhadap euro pada hari Jumat melanjutkan downtrend‐nya dari empat bulan terakhir. Untuk
bulan April, dolar masih turun sekitar 2,0 persen. Pada hari Senin EUR/USD terkoreksi 0,4% dari level tertingginya selama 15‐bulan, di sekitar $
1,4486 pada hari Jumat.
• Sentimen negatif dollar berpotensi terus berkembang selama The Fed masih mempertahankan suku bunga yang rendah dan sementara bank
sentral di luar negeri, yaitu Bank Sentral Eropa dan Bank of England, cenderung akan menaikkan suku bunganya. Potensi kelanjutan kenaikan
suku bunga ECB di bulan Juli masih akan mendukung kenaikan EUR/USD dan juga mata uang euro terhadap mata uang utama dunia lainnya.
• Yen cenderung rebound dari pelemahannya yang mencapai level di 11‐bulan sebelumnya terhadap euro dan di 2,5 tahun terhadap dolar
Australia setelah gempa bumi kembali mengguncang Jepang Senin kemarin yang menyebabkan beberapa investor melepas aset‐aset beresiko
mereka yang didanai dari pinjaman murah (carry trade) mata uang Jepang.
GOLD & COMMODITIES
• Emas naik ke level tertingginya Senin lalu karena ekspektasi the Fed akan menekan bank sentral lainnya dalam memperketat kebijakan moneter
yang menekan dollar AS, meskipun kemudian mereda dengan harga minyak dari tanda‐tanda kemungkinan perjanjian damai di Libya.
• Spot gold <XAU=> naik ke level tertingginya $1476,21 per ons dan diperdagangkan pada level $1467,40 per ons pada pukul 1323 GMT, terhadap
$1472,70 pada perdagangan terakhir New York Jumat lalu. Silver <XAG=> mencapai level tertingginya sejak awal 1980 pada level $41.93 dan
kemudian terakhir diperdagangkan $41.13 per ons terhadap level $40.85.
• Investor money telah mengarah pada komoditas pada umumnya dan logam mulia khususnya bulan ini karena investor khawatir mengenai
kenaikan inflasi yang potensial dalam perkembangan pasar dan perubahan pada kebijakan moneter di AS.
• "Gold investor interest is likely driven by ongoing concerns about inflationary pressures, both in emerging and developed economies, sovereign
debt levels and economic uncertainty, notably in the light of current high oil prices," kata analis BNP Paribas Anne‐Laure Tremblay.
• "Global monetary policy ‐‐ not only the U.S. ‐‐ is one of the key themes for gold in 2011," tambahnya.
• U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> melemah $5.60 per ons ke level $1468,50. Diantara harga logam mulai lainnya, platinum
<XPT=> diperdagangkan pada level $1798,24 per ons terhadap level $1803,75, sementara itu palladium <XPD=> ke level $792.98 terhadap level
$790.75.
Monday, April 11, 2011
Headline News 11.04.11
US & GLOBAL
• Bursa saham AS ditutup melemah akhir pekan lalu tertekan lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi akan
menghambat pemulihan ekonomi, kondisi mana menurunkan minat investor ditengah kehati‐hatian menjelang rilis earning korporasi.
Kenaikan harga minyak menekan saham‐saham penerbangan dan transportasi AS. Volume perdagangan masih tetap rendah, pertanda
bahwa investor menahan diri menjelang rilis earning kuartalan awal pekan depan. Indeks Dow Jones <DJI.> turun 29,44 poin atau 0,24%
ke 12,380.05, S&P500 <. SPX> turun 5,34 poin atau 0,40% ke 1,328.17 dan Nasdaq <. IXIC> turun 15,72 poin atau 0,56% ke 2,780.42.
Dalam sepekan terakhir, Dow Jones tercatat naik 0,03%, sedangkan S&P500 dan Nasdaq masing‐masing turun 0,3%.
• Harga emas naik ke rekor tertinggi sepanjang sejarah menyusul kombinasi dari pelemahan dollar AS, ancaman penghentian aktifitas
pegawai pemerintah AS dan kekhawatiran akan inflasi yang mengangkat kinerja logam mulia tersebut. Emas mencapai kenaikan terbesar
mingguan dalam 4‐bulan (sebesar 2,5%), mendapat dukungan dari meningkatnya kekhawatiran pada kondisi Uni‐Eropa dan tekanan
inflasi.
• Emas mencatat kenaikan 10% sejak Januari menyusul kerusuhan politik di Timur Tengah dan Afrika Utara. Harga spot emas <XAU=> naik
1% ke 1,471.74 USD per troy ounce setelah sempat naik hingga 1,474.85 USD per troy ounce. Namun demikian, emas masih jauh dari
level inflation adjusted high‐nya, dimana jika disesuaikan dengan tingkat inflasi saat ini maka harga emas seharusnya berada pada kisaran
2.500 USD per troy ounce.
• Harga minyak mentah Brent melonjak hampir 3% kelevel tertinggi dalam 32‐bulan terakhir di atas 126 USD per barel, sementara Crude
AS naik hingga 112 USD per barel terdorong pelemahan dollar AS dan serangan terhadap ladang minyak Libya yang berpotensi
memangkas pasokan minyak jangka panjang. Selain konflik Libya, kerusuhan yang sedang berlangsung di Timur Tengah dan serangan
bom yang ditujukan untuk menunda pemilu Nigeria menambah kekhawatiran akan pasokan minyak.
• Minyak mentah Brent untuk Mei <LCOc1> naik 3,28 USD menjadi 125,95 USD per barel, setelah mencapai 126,40 USD per barel, harga
tertinggi sejak Agustus 2008. Sementara harga minyak mentah Crude AS <CLc1> naik 2,08 USD menjadi 112,38 USD per barel setelah
mencapai 112,58 USD per barel, level tertinggi sejak September 2008.
• Euro naik ke level tertinggi 15‐bulan terhadap dolar AS, mencatat kenaikan 1,7% dalam sepekan terakhir. Hingga akhir sesi Jumat, euro
tercatat menguat 1,1% ke 1,4478 <EUR=> setelah sempat naik hingga 1,4488, level tertinggi sejak 15‐bulan. Prospek penutupan kegiatan
pemerintahan AS yang akan menghentikan sekitar 800.000 pekerja pemerintah federal akan berdampak buruk pada pemulihan ekonomi
AS dan akan memberi tekanan pada dollar AS.
• Terhadap yen, dollar AS turun 0,1% ke 84,76 yen <JPY=>, analis memperkirakan yen akan melanjutkan pelemahannya lebih lanjut seiring
ekspektasi Bank of Japan akan terus mempertahankan kebijakan moneter stimulatif lebih lama setelah terjadinya gempa dan krisis nuklir.
Aussie dollar naik hingga level tertinggi sejak 1983 di 1,0582 <AUD=>. Kinerja aussie mendapat manfaat dari pertumbuhan ekonomi
Australia yang cukup kuat didukung oleh ekspor bahan baku ke China.
• Ekspektasi semakin besarnya rentang suku bunga ECB dengan bank sentral lainnya diperkirakan akan mendukung kinerja euro dalam
sepekan kedepan, sementara investor akan memperhatikan rilis data inflasi AS yang akan menjadi salah satu landasan penentuan
kebijakan The Fed. Investor juga akan mengamati rilis data penjualan ritel AS untuk Maret untuk mengukur kekuatan belanja konsumen.
• Dollar AS mengalami tekanan hebat setelah Gedung Putih dan Kongres AS mengalami kebingungan dalam upaya menangani deadlock
persetujuan anggaran AS hingga akhir pekan lalu untuk menghindari penghentian aktifitas pemerintah. Tanpa persetujuan pada anggaran
baru, pemerintah harus menghentikan segala kegiatan pada tengah malam hari Jumat waktu setempat (sekitar Sabtu tengah hari WIB).
Jika hal itu terjadi, sekitar 800.000 pegawai pemerintah AS tidak boleh bekerja dan tidak akan digaji, pemberian pinjaman oleh
pemerintah akan berhenti dan taman nasional serta situs‐situs yang dikelola pemerintah akan tutup. Ketegangan antara anggota Kongres
dari Partai Demokrat dan Republik dilaporkan meningkat saat mereka mencoba mencapai kata sepakat mengenai anggaran.
GOLD & COMMODITIES
• Emas naik untuk mencapai level tertingginya empat hari dan perak menguat Jumat lalu, karena melemahnya dollar AS, prospek pada
U.S. government shutdown dan kekhawatiran inflasi yang mendorong bullion/emas diatas level $1470 per ons.
• Emas membuat kenaikan besar mingguannya dalam empat bulan, yang menggambarkan dukungan dari mengemukanya kembali
sovereign debt zona euro ditengah krisis keuangan Portugal dan gejolak inflasi karena crude oil dan corn mencapai level tertinggi
barunya minggu ini.
• Pada sisi grafik teknikal, emas mencapai level diatas level utama dan dapat mencapai target diatas $1500 per ons. Harga logam telah
naik lebih dari 10 persen sejak akhir Januari ketika gejolak politik mulai melebar pada Timur Tengah dan Afrika Utara.
• "With the expected future inflation being higher in this low interest rate environment, investors are more inclined to have some
contributions to commodities as an inflation hedge," kata Hakan Kaya, commodities portfolio manager pada Neuberger Berman, yang
mengelola sekitar $190 milyar aset‐aset klien.
• Spot gold <XAU=> naik ke level $1474,19 per ons dan terakhir naik 1 persen ke level $1472,70 per ons pada pukul 11:18 a.m. EDT (1518
GMT).
• Silver <XAG=> naik 2.3 persen ke level $40.40 per ons, menghentikan level tertingginya $40.44.
• Bursa saham AS ditutup melemah akhir pekan lalu tertekan lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi akan
menghambat pemulihan ekonomi, kondisi mana menurunkan minat investor ditengah kehati‐hatian menjelang rilis earning korporasi.
Kenaikan harga minyak menekan saham‐saham penerbangan dan transportasi AS. Volume perdagangan masih tetap rendah, pertanda
bahwa investor menahan diri menjelang rilis earning kuartalan awal pekan depan. Indeks Dow Jones <DJI.> turun 29,44 poin atau 0,24%
ke 12,380.05, S&P500 <. SPX> turun 5,34 poin atau 0,40% ke 1,328.17 dan Nasdaq <. IXIC> turun 15,72 poin atau 0,56% ke 2,780.42.
Dalam sepekan terakhir, Dow Jones tercatat naik 0,03%, sedangkan S&P500 dan Nasdaq masing‐masing turun 0,3%.
• Harga emas naik ke rekor tertinggi sepanjang sejarah menyusul kombinasi dari pelemahan dollar AS, ancaman penghentian aktifitas
pegawai pemerintah AS dan kekhawatiran akan inflasi yang mengangkat kinerja logam mulia tersebut. Emas mencapai kenaikan terbesar
mingguan dalam 4‐bulan (sebesar 2,5%), mendapat dukungan dari meningkatnya kekhawatiran pada kondisi Uni‐Eropa dan tekanan
inflasi.
• Emas mencatat kenaikan 10% sejak Januari menyusul kerusuhan politik di Timur Tengah dan Afrika Utara. Harga spot emas <XAU=> naik
1% ke 1,471.74 USD per troy ounce setelah sempat naik hingga 1,474.85 USD per troy ounce. Namun demikian, emas masih jauh dari
level inflation adjusted high‐nya, dimana jika disesuaikan dengan tingkat inflasi saat ini maka harga emas seharusnya berada pada kisaran
2.500 USD per troy ounce.
• Harga minyak mentah Brent melonjak hampir 3% kelevel tertinggi dalam 32‐bulan terakhir di atas 126 USD per barel, sementara Crude
AS naik hingga 112 USD per barel terdorong pelemahan dollar AS dan serangan terhadap ladang minyak Libya yang berpotensi
memangkas pasokan minyak jangka panjang. Selain konflik Libya, kerusuhan yang sedang berlangsung di Timur Tengah dan serangan
bom yang ditujukan untuk menunda pemilu Nigeria menambah kekhawatiran akan pasokan minyak.
• Minyak mentah Brent untuk Mei <LCOc1> naik 3,28 USD menjadi 125,95 USD per barel, setelah mencapai 126,40 USD per barel, harga
tertinggi sejak Agustus 2008. Sementara harga minyak mentah Crude AS <CLc1> naik 2,08 USD menjadi 112,38 USD per barel setelah
mencapai 112,58 USD per barel, level tertinggi sejak September 2008.
• Euro naik ke level tertinggi 15‐bulan terhadap dolar AS, mencatat kenaikan 1,7% dalam sepekan terakhir. Hingga akhir sesi Jumat, euro
tercatat menguat 1,1% ke 1,4478 <EUR=> setelah sempat naik hingga 1,4488, level tertinggi sejak 15‐bulan. Prospek penutupan kegiatan
pemerintahan AS yang akan menghentikan sekitar 800.000 pekerja pemerintah federal akan berdampak buruk pada pemulihan ekonomi
AS dan akan memberi tekanan pada dollar AS.
• Terhadap yen, dollar AS turun 0,1% ke 84,76 yen <JPY=>, analis memperkirakan yen akan melanjutkan pelemahannya lebih lanjut seiring
ekspektasi Bank of Japan akan terus mempertahankan kebijakan moneter stimulatif lebih lama setelah terjadinya gempa dan krisis nuklir.
Aussie dollar naik hingga level tertinggi sejak 1983 di 1,0582 <AUD=>. Kinerja aussie mendapat manfaat dari pertumbuhan ekonomi
Australia yang cukup kuat didukung oleh ekspor bahan baku ke China.
• Ekspektasi semakin besarnya rentang suku bunga ECB dengan bank sentral lainnya diperkirakan akan mendukung kinerja euro dalam
sepekan kedepan, sementara investor akan memperhatikan rilis data inflasi AS yang akan menjadi salah satu landasan penentuan
kebijakan The Fed. Investor juga akan mengamati rilis data penjualan ritel AS untuk Maret untuk mengukur kekuatan belanja konsumen.
• Dollar AS mengalami tekanan hebat setelah Gedung Putih dan Kongres AS mengalami kebingungan dalam upaya menangani deadlock
persetujuan anggaran AS hingga akhir pekan lalu untuk menghindari penghentian aktifitas pemerintah. Tanpa persetujuan pada anggaran
baru, pemerintah harus menghentikan segala kegiatan pada tengah malam hari Jumat waktu setempat (sekitar Sabtu tengah hari WIB).
Jika hal itu terjadi, sekitar 800.000 pegawai pemerintah AS tidak boleh bekerja dan tidak akan digaji, pemberian pinjaman oleh
pemerintah akan berhenti dan taman nasional serta situs‐situs yang dikelola pemerintah akan tutup. Ketegangan antara anggota Kongres
dari Partai Demokrat dan Republik dilaporkan meningkat saat mereka mencoba mencapai kata sepakat mengenai anggaran.
GOLD & COMMODITIES
• Emas naik untuk mencapai level tertingginya empat hari dan perak menguat Jumat lalu, karena melemahnya dollar AS, prospek pada
U.S. government shutdown dan kekhawatiran inflasi yang mendorong bullion/emas diatas level $1470 per ons.
• Emas membuat kenaikan besar mingguannya dalam empat bulan, yang menggambarkan dukungan dari mengemukanya kembali
sovereign debt zona euro ditengah krisis keuangan Portugal dan gejolak inflasi karena crude oil dan corn mencapai level tertinggi
barunya minggu ini.
• Pada sisi grafik teknikal, emas mencapai level diatas level utama dan dapat mencapai target diatas $1500 per ons. Harga logam telah
naik lebih dari 10 persen sejak akhir Januari ketika gejolak politik mulai melebar pada Timur Tengah dan Afrika Utara.
• "With the expected future inflation being higher in this low interest rate environment, investors are more inclined to have some
contributions to commodities as an inflation hedge," kata Hakan Kaya, commodities portfolio manager pada Neuberger Berman, yang
mengelola sekitar $190 milyar aset‐aset klien.
• Spot gold <XAU=> naik ke level $1474,19 per ons dan terakhir naik 1 persen ke level $1472,70 per ons pada pukul 11:18 a.m. EDT (1518
GMT).
• Silver <XAG=> naik 2.3 persen ke level $40.40 per ons, menghentikan level tertingginya $40.44.
As worry list grows, G20 gets wonky
WASHINGTON (Reuters) - While the world watches revolutions in the Arab world and a nuclear crisis in Japan, the Group of 20 is engrossed in an esoteric debate over something called indicative guidelines.
The club of rich and emerging economies banded together at the height of the financial crisis and earned praise for swiftly putting in place policies that helped prevent a repeat of the Great Depression.
But as a new list of potential economic dangers grows, the G20 seems to have few immediate answers.
Instead, finance leaders meeting in Washington this week are likely to tout progress on establishing guidelines to measure imbalances between major exporters and importers.
Andrew Kenningham, senior international economist at Capital Economics in London, said the G20 had "gone done a cul de sac" that distracted it from the global economic stability issues it was meant to address.
"It will be increasingly difficult to disguise the fact that there is no agreement on macroeconomic coordination at a global level," he said. "The G20 is struggling to find a useful role for itself, no matter how frequently it meets."
The G20 lost its crisis-forged cohesion last year as different countries recovered at different rates, generating different policy priorities.
That has made it difficult for leaders to follow through on a promise they made back in 2009 to work together to smooth out imbalances. The idea was that consumer-driven economies such as the United States would save and invest more, while export powerhouses like China would develop domestic demand.
When it came time to set specifics, however, the G20 unity broke down. When they could not agree on any numerical targets, they set their sights on "indicative guidelines" instead, and even those have become a source of friction.
Kenningham said the G20 will have to show some progress this week that puts it on track to deliver something that leaders can sign at a November summit.
That means finance ministers will probably find some way to set aside their differences and establish broad guidelines, but leave agreement on the details for a later discussion.
SLIPPING ON OIL
With oil at its highest level since 2008's record-setting run, finance leaders will no doubt acknowledge economic risks in a statement released at the conclusion of the G20 meeting on Friday.
The International Monetary Fund, which holds its twice-yearly meeting on the weekend, is scheduled to release its economic outlook on Monday. The Fund warned last week of long-term oil scarcity that could lead to persistently higher prices.
At $126 per barrel, oil prices are high enough to threaten world economic growth, and some economists predict they will continue to creep higher. If oil prices average $150 per barrel over the next three months, it would erase three-quarters of a percentage point from global growth, Barclays Capital estimated.
A slew of data this week will offer some clues on how hard the oil price spike has hit economies.
Wednesday brings U.S. retail sales for March, which may provide the first hint that steep gasoline prices are cutting into consumer spending. Economists polled by Reuters are looking for a gain of 0.5 percent, which would be half the growth rate recorded in February, and much of the gain may come from rising prices rather than demand.
China releases a report on its first-quarter gross domestic product on Friday, and it is expected to show growth eased a tad to a still-lofty 9.5 percent. China has clamped down on credit conditions to try to cool inflation, which will likely constrain growth.
"Policymakers may have to choose between higher inflation and lower growth," said Luca Ricci, a Barclays analyst in New York.
The club of rich and emerging economies banded together at the height of the financial crisis and earned praise for swiftly putting in place policies that helped prevent a repeat of the Great Depression.
But as a new list of potential economic dangers grows, the G20 seems to have few immediate answers.
Instead, finance leaders meeting in Washington this week are likely to tout progress on establishing guidelines to measure imbalances between major exporters and importers.
Andrew Kenningham, senior international economist at Capital Economics in London, said the G20 had "gone done a cul de sac" that distracted it from the global economic stability issues it was meant to address.
"It will be increasingly difficult to disguise the fact that there is no agreement on macroeconomic coordination at a global level," he said. "The G20 is struggling to find a useful role for itself, no matter how frequently it meets."
The G20 lost its crisis-forged cohesion last year as different countries recovered at different rates, generating different policy priorities.
That has made it difficult for leaders to follow through on a promise they made back in 2009 to work together to smooth out imbalances. The idea was that consumer-driven economies such as the United States would save and invest more, while export powerhouses like China would develop domestic demand.
When it came time to set specifics, however, the G20 unity broke down. When they could not agree on any numerical targets, they set their sights on "indicative guidelines" instead, and even those have become a source of friction.
Kenningham said the G20 will have to show some progress this week that puts it on track to deliver something that leaders can sign at a November summit.
That means finance ministers will probably find some way to set aside their differences and establish broad guidelines, but leave agreement on the details for a later discussion.
SLIPPING ON OIL
With oil at its highest level since 2008's record-setting run, finance leaders will no doubt acknowledge economic risks in a statement released at the conclusion of the G20 meeting on Friday.
The International Monetary Fund, which holds its twice-yearly meeting on the weekend, is scheduled to release its economic outlook on Monday. The Fund warned last week of long-term oil scarcity that could lead to persistently higher prices.
At $126 per barrel, oil prices are high enough to threaten world economic growth, and some economists predict they will continue to creep higher. If oil prices average $150 per barrel over the next three months, it would erase three-quarters of a percentage point from global growth, Barclays Capital estimated.
A slew of data this week will offer some clues on how hard the oil price spike has hit economies.
Wednesday brings U.S. retail sales for March, which may provide the first hint that steep gasoline prices are cutting into consumer spending. Economists polled by Reuters are looking for a gain of 0.5 percent, which would be half the growth rate recorded in February, and much of the gain may come from rising prices rather than demand.
China releases a report on its first-quarter gross domestic product on Friday, and it is expected to show growth eased a tad to a still-lofty 9.5 percent. China has clamped down on credit conditions to try to cool inflation, which will likely constrain growth.
"Policymakers may have to choose between higher inflation and lower growth," said Luca Ricci, a Barclays analyst in New York.
Friday, April 8, 2011
Headline News 08.04.11
U.S. & GLOBAL
• Bursa saham Wall Street ditutup melemah setelah gempa dengan 7,4 magnitude menghantam bagian utara Jepang, kembali meningkatkan kekhawatiran tentang krisis nuklirnya, namun kepercayaan investor pada kondisi ekonomi AS berhasil menahan pelemahan lebih lanjut. Saham-saham ritel menguat setelah data chain store sales pada Maret meningkat diata sperkiraan, meningkatkan harapan bahwa pemulihan ekonomi AS telah berjalan secara berkesinambungan. Indeks Dow Jones <DJI.> turun 17,26 poin atau 0,14% ke 12,409.49, S&P500 <. SPX> turun 2,03 poin atau 0,15% pada 1,333.51 dan Nasdaq <. IXIC> turun 3,68 poin atau 0,13% pada 2,796.14.
• Harga emas mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah dalam penguatan beruntun dalam 3-sesi terakhir akibat meningkatnya kekhawatiran akan tekanan inflasi dan ekspektasi bahwa kenaikan suku bunga ECB akan melemahkan dolar. Emas sempat mencatat kenaikan hingga level 1,464.80 USD per trroy ounce setelah berita gempa kuat menghantam Jepang. Harga spot emas <XAU=> naik 0,1% ke 1.459 USD per troy ounce.
• Sementara itu harga minyak dunia ditutup pada penutupan tertinggi 2-1/2-tahun menyusul kekhawatiran akan terhambatnya pasokan akibat pertempuran di Libya dan gejolak di Timur Tengah yang dibayangi oleh peningkatan suku bunga zona euro serta gempa besar yang kembali melanda Jepang. Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei <LCOc1> naik 37 sen ke 122,67 USD per barel, level tertinggi sejak 4 Agustus 2008. Sedangkan harga minyak mentah Crude AS untuk pengiriman Mei <CLc1> ditutup naik 1,47 USD ke 110,30 USD per barel, penutupan tertinggi sejak 22 September 2008.
• Euro beringsut melemah dari level tertinggi 14-bulanannya terhadap dollar AS setelah pernyataan Presiden ECB meredam ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga agresif ECB, meskipun pelemahan euro diperkirakan tidak akan terlalu tajam. Euro juga melemah terhadap yen, yen menguat terhadap mata uang utama dunia lainnya setelah adanya berita bahwa Jepang dilanda gempa 7,4 skala richter yang kemudian menurunkan minat investor pada aset
beresiko.
• ECB menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, kenaikan pertama sejak krisis keuangan tahun 2008, sebuah langkah yang ditujukan untuk memerangi peningkatan tekanan inflasi. Presiden ECB Jean-Claude Trichet mengisyaratkan bank sentral sudah siap untuk mengetatkan kebijakan lebih lanjut jika diperlukan, tetapi menambahkan bahwa langkah April ini belum pasti menjadi kenaikan yang pertama dalam serangkaian kenaikan suku bunga selanjutnya.
Euro terakhir turun 0,3% ke 1,4292 <EUR=>.
• Investor saat ini meningkatkan kehati-hatiannya terhadap krisis utang zona euro setelah Portugal meminta bailout dari Uni Eropa, yang diperkirakan nilainya mencapai 80 miliar euro ( 114 miliar USD). Namun kekhawatiran bahwa kondisi serupa akan menular ke Spanyol sedikit mereda setelah Madrid sukses menjual obligasi dengan tenor 3-tahun senilai 4,1 miliar euro.
• Terhadap yen, dolar turun ke session low 84,57 <JPY=> setelah berita gempa terbaru di Jepang. Hingga akhis sesi New York, dollar tercatat melemah 0,7% ke 84,88 yen. Bank of Japan mempertahankan kebijakan moneternya seperti yang telah diprediksi sebelumnya dan memberikan sinyal akan kesiapan pada pelonggaran moneter lanjutan, sebuah langkah yang berseberangan dengn tren bank sentral global yang mulai menarik bantuan likuiditas yang ditempatkan selama krisis keuangan.
• Euro melemah lebih dari 1% terhadap yen ke 121.32 yen <EURJPY=>. Sedangkan sterling turun tipis terhadap dollar ke 1.6324 <GBP=D4> setelah Bank of England mempertahankan suku bunga seperti yang diperkirakan sebelumnya.
Gold retreats from record high after Japan quake
NEW YORK (Reuters) - Gold was little changed on Thursday afternoon, retreating from a record high after another strong earthquake hit Japan.
In early trading, gold rose to a record for a third straight session on inflation worries and expectations that the
European Central Bank's first rate hike since 2008 would weaken the dollar.
Crude oil and global equities also retreated after a strong earthquake shook Japan, pressuring gold. The dollar strengthened against the euro instead of weakening as many had expected, which put further pressure on gold.
Even though the European Central Bank raised rates, investors were not convinced that more rate hikes were on the way.
"You're back to a dollar story for the first time in a long time." said Frank McGhee, head precious metals trader of Integrated Brokerage Services. "Gold prices and the dollar both benefit from that rate hike because it increases the differentials between euro zone and the U.S. interest rates."
Rising interest rates generally are negative for gold, but investors bought bullion immediately after the ECB rate hike because they expected the dollar to weaken in the future.
Spot gold hit a record $1,464.80 an ounce and was later down 0.1 percent to $1,456.14 at 1:14 p.m. EDT. U.S. gold futures for June delivery eased 0.1 percent to $1,357.50 an ounce.
The ECB raised rates by 25 basis points to 1.25 percent to counter inflation pressure. Gold has risen more than 2 percent this week, benefiting from rallies in crude oil and corn and as Portugal requested a European Union rescue package.
"Of course the ECB will be vigilant in monitoring inflation developments very closely. But it is more inflation expectations that made the ECB concerned, and less the actual increase (in inflation)," said Peter Fertig, a consultant at Quantitative Commodity Research.
ECB President Jean-Claude Trichet said the rate hike was not necessarily the start of a series, disappointing some who had expected a more hawkish tone.
The traditional inverse correlation between gold and the dollar appeared to be strengthening this week to a negative 0.8, as gold hit successive records, but the link could be erratic in the near term. A correlation of minus 1 indicates a perfect inverse link, while a correlation of plus 1 indicates that both are moving in perfect tandem.
SILVER EDGES UP, BUT OFF 31-YEAR HIGH
Among other precious metals, silver gained 0.2 percent at $39.50 an ounce, just off the previous session's 31-year high at $39.75.
Silver has not shaken its image of an unpredictable metal with high volatility and chronic oversupply, but investors seem set on driving prices beyond the recent 31-year high.
On fundamentals, industrial demand for silver is expected to rise less than 10 percent this year, after prices more than doubled to 31-year highs since late 2010, the head of metals research and consultant GFMS said on Thursday.
Platinum was down 0.4 percent to $1,781 an ounce, while palladium shed 0.2 percent to $776.50.
(Additional reporting by Jan Harvey in London)
In early trading, gold rose to a record for a third straight session on inflation worries and expectations that the
European Central Bank's first rate hike since 2008 would weaken the dollar.
Crude oil and global equities also retreated after a strong earthquake shook Japan, pressuring gold. The dollar strengthened against the euro instead of weakening as many had expected, which put further pressure on gold.
Even though the European Central Bank raised rates, investors were not convinced that more rate hikes were on the way.
"You're back to a dollar story for the first time in a long time." said Frank McGhee, head precious metals trader of Integrated Brokerage Services. "Gold prices and the dollar both benefit from that rate hike because it increases the differentials between euro zone and the U.S. interest rates."
Rising interest rates generally are negative for gold, but investors bought bullion immediately after the ECB rate hike because they expected the dollar to weaken in the future.
Spot gold hit a record $1,464.80 an ounce and was later down 0.1 percent to $1,456.14 at 1:14 p.m. EDT. U.S. gold futures for June delivery eased 0.1 percent to $1,357.50 an ounce.
The ECB raised rates by 25 basis points to 1.25 percent to counter inflation pressure. Gold has risen more than 2 percent this week, benefiting from rallies in crude oil and corn and as Portugal requested a European Union rescue package.
"Of course the ECB will be vigilant in monitoring inflation developments very closely. But it is more inflation expectations that made the ECB concerned, and less the actual increase (in inflation)," said Peter Fertig, a consultant at Quantitative Commodity Research.
ECB President Jean-Claude Trichet said the rate hike was not necessarily the start of a series, disappointing some who had expected a more hawkish tone.
The traditional inverse correlation between gold and the dollar appeared to be strengthening this week to a negative 0.8, as gold hit successive records, but the link could be erratic in the near term. A correlation of minus 1 indicates a perfect inverse link, while a correlation of plus 1 indicates that both are moving in perfect tandem.
SILVER EDGES UP, BUT OFF 31-YEAR HIGH
Among other precious metals, silver gained 0.2 percent at $39.50 an ounce, just off the previous session's 31-year high at $39.75.
Silver has not shaken its image of an unpredictable metal with high volatility and chronic oversupply, but investors seem set on driving prices beyond the recent 31-year high.
On fundamentals, industrial demand for silver is expected to rise less than 10 percent this year, after prices more than doubled to 31-year highs since late 2010, the head of metals research and consultant GFMS said on Thursday.
Platinum was down 0.4 percent to $1,781 an ounce, while palladium shed 0.2 percent to $776.50.
(Additional reporting by Jan Harvey in London)
Thursday, April 7, 2011
Headline News 07.04.11
US & GLOBAL
• Indeks S&P500 berhasil menguat diatas level teknis penting 1333 yang telah bertahan dalam beberapa sesi terakhir, meskipun volume
perdagangan relatif masih tipis. Investor sangat selektif dalam memilih saham yang dibeli untuk menghindari spekulasi menjelang
earning korporasi. Saham‐saham teknologi menguat, pasar mendapat sokongan dari komentar Chief Executive Cisco John Chambers.
Saham Cisco Systems Inc naik 4,9% setelah Chambers mengakui perusahaannya telah kehilangan arah dan memerlukan waktu untuk
mengembalikan kredibilitasnya. Indeks semikonduktor PHLX <. SOX> naik 1,5%, didukung kenaikan Hewlett‐Packard Co yang menguat
2,2% dan Microsoft Corp yang naik 1,4%.
• Bursa saham AS juga mendapat dukungan dari pernyataan Presiden The Fed asal Atlanta ‐ Dennis Lockhart, yang mengatakan Fed akan
meneruskan program pembelian obligasi senilai 600 miliar USD sesuai jadwal hingga Juni mendatang, Lockhart menilai tidak ada alasan
untuk mengakhiri program tersebut lebih awal. Indeks Dow Jones <. DJI> naik 32,85 poin atau 0,27% ke 12,426.75, S&P500 <. SPX> naik
2,91 poin atau 0,22% ke 1,335.54 dan Nasdaq <. IXIC> maju 8,63 poin atau 0,31% ke 2,799.82.
• Emas mencapai rekor tertinggi dalam sejarah ditengah kenaikan harga minyak dunia kelevel tertinggi 2‐1/2 tahun, memicu kekhawatiran
akan inflasi yang dapat merugikan perekonomian dunia. Emas telah berperan lebih sebagai mata uang daripada komoditas dalam
beberapa waktu terakhir, investor mengambil emas sebagai mekanisme lindung nilai terhadap pelemahan dolar dan masalah politik yang
membebani nilai mata uang lainnya. Harga spot emas <XAU=> sempat naik hingga 1461.91, USD per troy ounce, level tertinggi sepanjang
sejarah, ditutup menguat lebih dari 5 USD di 1460 USD per troy ounce.
• Harga minyak dunia naik level tertinggi 2‐1/2 tahun didukung oleh kerusuhan di Timur Tengah dan Afrika Utara serta pelemahan dolar.
Minyak mentah Crude AS <CLc1> naik hampir 0.5% ke 108,83 USD per barel ‐ penutupan tertinggi sejak September 2008. Sementara
harga minyak Brent London <LCOc1> ditutup stagnan di 122,30 USD per barel setelah sempat naik di atas 123 USD per barel ‐ level
tertinggi sejak Agustus 2008.
• Euro berhasil menguat terhadap dollar AS ke level tertinggi dalam kurun 14‐bulan terakhir menyusul spekulasi kenaikan lanjutan ECB
setelah kenaikan April ini. Yen turun ke level terendah 11‐bulan terhadap euro dan terendah 6‐bulan terhadap dollar. Yen diperkirakan
akan melanjutkan pelemahannya seiring mulai maraknya aksi carry trade dari para investor dan institusi keuangan selaras dengan
pandangan bahwa BOJ masih akan mempertahankan suku bunganya dalam waktu yang lebih panjang, sementara bank sentral negara
maju lainnya mulai melakukan pengetatan moneter.
• Dalam sidangnya Kamis 07 April ini ECB secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, akan menjadi
kenaikan pertama sejak Juli 2008. Saat ini para analis memperkirakan Presiden ECB Jean‐Claude Trichet akan menambah nada hawkish
terhadap inflasi, yang akan meningkatkan ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga lanjutan dari ECB. Sementara disisi lain, kondisi
ekonomi AS masih terlalu rapuh bagi The Fed untuk mulai menaikkan suku bunga, demikian pernyataan dari petinggi The Fed asal Atlanta
‐ Dennis Lockhart.
• Euro naik hingga level 1,4350 <EUR=>, tertinggi sejak akhir Januari 2010, ditutup menguat 0,8% ke 1,4334, tidak terlalu terpengaruh
berita bahwa otoritas Portugal telah meminta bantuan finansial dari Uni‐Eropa. Sementara itu euro naik 1,4% terhadap yen ke 122,45
yen, setelah sempat mencapai level tertinggi 11‐bulan di 122.61 yen <EURJPY=>. Dollar AS naik 0,6% ke 85,43 yen <JPY=>, setelah
mencapai level puncak 6‐bulan di 85,52 yen. Terhadap the basket of currencies, dollar AS turun 0,5% ke 75,540 <DXY.>.
GOLD & COMMODITIES
• Emas mencapai level tertinggi dalam dua harinya berturut‐turut Rabu lalu dan minyak mentah melejit kelevel terbarunya dalam 2‐1/2
tahun, memicu kekhawatiran pada inflasi yang dapat menekan pada perekonomian dunia yang paling diandalkan.
• Tekanan harga dari kenaikan negara‐negara ekonomi berkembang Asia – yang telah menjadi katalis/acuan pada recovery dunia dari
krisis finansial ‐‐ dan tidak mungkin mereda secepatnya, Asian Development Bank memperingatkannya.
• "High and volatile oil and food prices will, in particular, reverberate through the world economy, and they are likely to stay that way in
2011‐2012," ADB mengatakannya.
• "They will thus be a significant source of global inflation, especially in developing countries where recovery is firmly under way," Manilaberbasis
agen mengungkapkannya dalam sebuah laporan.
• Harga spot gold <XAU=>, yang menggambarkan perdagangan emas/bullion, naik ke level tertingginya sepanjang masa pada level
$1461,91 per ons, naik lebih dari $5 dari level puncak Selasa lalu. Pada perdagangan futures, U.S. gold untuk pengiriman bulan Juni
<GCM1> menguat setengah persen ke level tertingginya $1467,00 per ons.
• Perak /Silver <XAG=>, mencapai level tertingginya dalam 31‐tahun ke level $39.75 per ons pada perdagangan spot.
• Indeks S&P500 berhasil menguat diatas level teknis penting 1333 yang telah bertahan dalam beberapa sesi terakhir, meskipun volume
perdagangan relatif masih tipis. Investor sangat selektif dalam memilih saham yang dibeli untuk menghindari spekulasi menjelang
earning korporasi. Saham‐saham teknologi menguat, pasar mendapat sokongan dari komentar Chief Executive Cisco John Chambers.
Saham Cisco Systems Inc naik 4,9% setelah Chambers mengakui perusahaannya telah kehilangan arah dan memerlukan waktu untuk
mengembalikan kredibilitasnya. Indeks semikonduktor PHLX <. SOX> naik 1,5%, didukung kenaikan Hewlett‐Packard Co yang menguat
2,2% dan Microsoft Corp yang naik 1,4%.
• Bursa saham AS juga mendapat dukungan dari pernyataan Presiden The Fed asal Atlanta ‐ Dennis Lockhart, yang mengatakan Fed akan
meneruskan program pembelian obligasi senilai 600 miliar USD sesuai jadwal hingga Juni mendatang, Lockhart menilai tidak ada alasan
untuk mengakhiri program tersebut lebih awal. Indeks Dow Jones <. DJI> naik 32,85 poin atau 0,27% ke 12,426.75, S&P500 <. SPX> naik
2,91 poin atau 0,22% ke 1,335.54 dan Nasdaq <. IXIC> maju 8,63 poin atau 0,31% ke 2,799.82.
• Emas mencapai rekor tertinggi dalam sejarah ditengah kenaikan harga minyak dunia kelevel tertinggi 2‐1/2 tahun, memicu kekhawatiran
akan inflasi yang dapat merugikan perekonomian dunia. Emas telah berperan lebih sebagai mata uang daripada komoditas dalam
beberapa waktu terakhir, investor mengambil emas sebagai mekanisme lindung nilai terhadap pelemahan dolar dan masalah politik yang
membebani nilai mata uang lainnya. Harga spot emas <XAU=> sempat naik hingga 1461.91, USD per troy ounce, level tertinggi sepanjang
sejarah, ditutup menguat lebih dari 5 USD di 1460 USD per troy ounce.
• Harga minyak dunia naik level tertinggi 2‐1/2 tahun didukung oleh kerusuhan di Timur Tengah dan Afrika Utara serta pelemahan dolar.
Minyak mentah Crude AS <CLc1> naik hampir 0.5% ke 108,83 USD per barel ‐ penutupan tertinggi sejak September 2008. Sementara
harga minyak Brent London <LCOc1> ditutup stagnan di 122,30 USD per barel setelah sempat naik di atas 123 USD per barel ‐ level
tertinggi sejak Agustus 2008.
• Euro berhasil menguat terhadap dollar AS ke level tertinggi dalam kurun 14‐bulan terakhir menyusul spekulasi kenaikan lanjutan ECB
setelah kenaikan April ini. Yen turun ke level terendah 11‐bulan terhadap euro dan terendah 6‐bulan terhadap dollar. Yen diperkirakan
akan melanjutkan pelemahannya seiring mulai maraknya aksi carry trade dari para investor dan institusi keuangan selaras dengan
pandangan bahwa BOJ masih akan mempertahankan suku bunganya dalam waktu yang lebih panjang, sementara bank sentral negara
maju lainnya mulai melakukan pengetatan moneter.
• Dalam sidangnya Kamis 07 April ini ECB secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, akan menjadi
kenaikan pertama sejak Juli 2008. Saat ini para analis memperkirakan Presiden ECB Jean‐Claude Trichet akan menambah nada hawkish
terhadap inflasi, yang akan meningkatkan ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga lanjutan dari ECB. Sementara disisi lain, kondisi
ekonomi AS masih terlalu rapuh bagi The Fed untuk mulai menaikkan suku bunga, demikian pernyataan dari petinggi The Fed asal Atlanta
‐ Dennis Lockhart.
• Euro naik hingga level 1,4350 <EUR=>, tertinggi sejak akhir Januari 2010, ditutup menguat 0,8% ke 1,4334, tidak terlalu terpengaruh
berita bahwa otoritas Portugal telah meminta bantuan finansial dari Uni‐Eropa. Sementara itu euro naik 1,4% terhadap yen ke 122,45
yen, setelah sempat mencapai level tertinggi 11‐bulan di 122.61 yen <EURJPY=>. Dollar AS naik 0,6% ke 85,43 yen <JPY=>, setelah
mencapai level puncak 6‐bulan di 85,52 yen. Terhadap the basket of currencies, dollar AS turun 0,5% ke 75,540 <DXY.>.
GOLD & COMMODITIES
• Emas mencapai level tertinggi dalam dua harinya berturut‐turut Rabu lalu dan minyak mentah melejit kelevel terbarunya dalam 2‐1/2
tahun, memicu kekhawatiran pada inflasi yang dapat menekan pada perekonomian dunia yang paling diandalkan.
• Tekanan harga dari kenaikan negara‐negara ekonomi berkembang Asia – yang telah menjadi katalis/acuan pada recovery dunia dari
krisis finansial ‐‐ dan tidak mungkin mereda secepatnya, Asian Development Bank memperingatkannya.
• "High and volatile oil and food prices will, in particular, reverberate through the world economy, and they are likely to stay that way in
2011‐2012," ADB mengatakannya.
• "They will thus be a significant source of global inflation, especially in developing countries where recovery is firmly under way," Manilaberbasis
agen mengungkapkannya dalam sebuah laporan.
• Harga spot gold <XAU=>, yang menggambarkan perdagangan emas/bullion, naik ke level tertingginya sepanjang masa pada level
$1461,91 per ons, naik lebih dari $5 dari level puncak Selasa lalu. Pada perdagangan futures, U.S. gold untuk pengiriman bulan Juni
<GCM1> menguat setengah persen ke level tertingginya $1467,00 per ons.
• Perak /Silver <XAG=>, mencapai level tertingginya dalam 31‐tahun ke level $39.75 per ons pada perdagangan spot.
Monday, April 4, 2011
Headline News 04.04.11
US & GLOBAL
• Bursa saham AS memulai perjalanan April dengan pijakan yang cukup kuat didukung oleh data sektor ketenagakerjaan AS yang membaik. April merupakan
bulan dimana secara tradisonal performa saham-saham AS menguat signifikan. Pertumbuhan sektor ketenagakerjaan yang kuat dan dukungan komentar
korporasi dari pejabat teras The Fed menduung kinerja bursa pada akhir pekan lalu, namun pelaku pasar diperkirakan akan mengamati rilis earning
kedepannya untuk mendukung kinerja bursa lebih tinggi lagi. Dudley menyatakan pelonggaran kuantitatif yang mencapai 600 milyar USD untuk pembelian
obligasi diperkirakan akan berjalan hingga Juni, komentar ini berlawanan dengan komentar hawkish dari pejabat The Fed lainnya.
• Indeks Dow Jones <. DJI> mencapai 12,419.71 - level intraday tertinggi sejak Juni 2008 - dan ditutup menguat 56,99 poin atau 0,46% ke 12,376.72,
sementara S&P500 <. SPX> naik 6,58 poin atau 0,50% ke 1,332.41 dan Nasdaq <. IXIC> naik 8,53 poin atau 0,31% ke 2,789.60. Dalam sepekan terakhir,
Dow naik 1,3%, S & P menguat 1,4% dan Nasdaq naik 1,7%.
• Penguatan dollar AS menekan kinerja emas pada sesi Jumat akhir pekan lalu, meskipun kemudian kekhawatiran akan kondisi hutang Uni-Eropa dan
-nya. Harga spot emas <XAU=> turun 0,6% ke 1,428.20 per troy ounce. Dalam sepekan terakhir kerusuhan di Timur Tengah mengangkat emas dari low
emas tercatat menguat 0,5%, mencetak kenaikan dalam 2-pekan berturut-turut, setelah sempat naik ke rekor tertinggi 1,447.40 USD per troy ounce pada
pekan lalu. Emas mencatat penguatan beruntun dalam 10-kuartal berturut-turut, naik 0.7% pada kuartal pertama 2011 yang merupakan kenaikan terkecil
sejak krisis keuangan 2008.
• Sementara itu harga minyak melonjak tajam ke level tertinggi sejak 2008 didukung oleh membaiknya data sektor ketenagakerjaan AS yang memperkuat
ekskeptasi pertumbuhan ekonomi sementara konflik Libya dan kerusuhan di Timur Tengah terus menebar ancaman akan pasokan minyak. Harga minyak
mentah Brent untuk Mei <LCOc1> naik 1,34 USD ke 118,70 USD per barel, penutupan tertinggi sejak Agustus 2008 dan mencatat kenaikan 3,11 dalam
sepekan terakhir. Harga minyak mentah Crude AS <CLc1> naik 1,22 USD ke 107,94 USD per barel, sempat mencatat kenaikan hingga 108,47 USD per barel.
• Penambahan lebih dari 200.000 pekerjaan di Amerika belum cukup untuk mengangkat kinerja dollar AS terhadap euro yang masih ditopang kuatnya
ekspektasi kenaikan suku bunga. Laporan data sektor ketenaga kerjaan menunjukkan tingkat pengangguran AS turun menjadi 8,8% pada Maret lalu
sempat mengangkat dollar AS hingga 84 yen, level tertinggi dalam kurun 6-bulan.
• Adalah komentar Presiden The Fed New York - William Dudley yang kemudian membebani rally dollar terhadap euro, Dudley mengatakan ia belum
melihat cukup landasan untuk menyesuaikan kebijakan moneter longgar bank sentral meskipun data pekerjaan membaik. Komentar Dudley ini mereduksi
sentimen hawkish yang sebelumnya sempat dihembuskan beberapa anggota The Fed tentang kemungkinan pengetatan moneter, karena Dudley
merupakan anggota yang kuat pengaruhnya dalam sidang FOMC. Kondisi ini kontras dengan ekspektasi kenaikan suku bunga ECB pada sidang April ini,
kenaikan mana diperkirakan akan menjadi dasar bagi beberapa kenaikan berikutnya. Euro naik 0,5% ke 1,4231 <EUR=>.
• Stress test perbankan di Irlandia pada Kamis 31 Maret memperlihatkan bahwa perbankan di Irlandia memerlukan tambahan bantuan 24 miliar euro untuk
menutupi potensi kerugiannya. Namun demikian, masalah tersebut dan kombinasinnya dengan krisis yang terjadi di Portugal belum cukup untuk menekan
euro dibawah level 1,40 dalam beberapa minggu terakhir, hal tersebut tertutupi ekspektasi kenaikan suku bunga. Sementara itu BOJ yang menggelar
sidangnya pekan ini juga diperkirakan belum akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, terutama sejak terdampak gempa dan tsunami pertengahan
Maret lalu. Kondisi tersebut membantu kinerja dollar AS dan euro terhadap yen. Dollar AS naik 1,2% ke 84,15 yen <JPY=>, performa mingguan terbaik
sejak Desember 2009. Sementara itu euro naik 1,5% ke 119.60 <EURJPY=> setelah menguat hingga level tertinggi dalam 11-bulan.
GOLD & COMMODITIES
• Emas tergelincir pada hari Jumat saat laporan pekerjaan mendorong dolar AS, meskipun kekhawatiran utang zona euro dan kerusuhan di Timur Tengah mengangkat emas dari level intraday low .
• Rilis optimis data nonfarm payrolls dan manufaktur menegaskan penguatan ekonomi AS, namun kalangan ekonom mengatakan berita tersebut tidak cukup kuat untuk mendorong Federal Reserve melepaskan kebijakan moneter super longgar, dimana hal ini telah memberi sentimen positif bagi emas hingga mencapai rekor tertingginya.
• Emas telah menguat sekitar 0,5% selama sepekan kemarin, merupakan kenaikan mingguan kedua secara berturut-turut. Emas mencapai level rekor tertinggi di $1447.40 per ons pekan sebelumnya.
• Kerusuhan politik di Timur Tengah dan masalah utang negara zona euro telah menopang penguatan emas, dan alokasi dana akhir-kuartal juga mendorong logam awal pekan kemarin sebelum perdagangan melemah pada hari Jumat.
• Penjualan sukses obligasi Portugal pada hari Jumat tidak banyak mengubah ekspektasi bahwa negara tersebut akan masuk daftar negara yang
membutuhkan bailout , sementara peringkat utang Irlandia dipangkas setelah hasil stress tests bank mengecewakan.
• Meskipun terjadi rally pada harga energi, namun pertumbuhan upah yang stagnan nampaknya bukan pertanda baik bagi emas sebagai aset lindung nilai Meskipun terjadi rally terhadap inflasi.
• Walaupun sebagian besar ekonom pasar setuju The Fed tidak akan mengetatkan kebijakan moneter dalam jangka pendek, namun seju mlah komentar petinggi The Fed (yang cenderung mengarah pada prospek kenaikan suku bunga) telah membebani emas. Presiden Fed Richmond Jeffrey Lacker
mengatakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun untuk mengekang kenaikan inflasi Emas cenderung menderita ketika suku bunga dinaikkan. Harga emas kemungkinan besar akan menderita lebih jauh akibat ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa akan menaikkan suku bunga bulan ini.
Friday, April 1, 2011
Headline News 01.04.11
US & GLOBAL
• Bursa saham AS mengakhiri perdagangan kuartal pertama dengan solid, meskipun volume perdagangan masih tipis seiring penantian investor pada rilis data sektor ketenagakerjaan AS yang diharapkan akan memberikan katalis pendukung kenaikan indeks untuk mencapai level tertinggi tahunannya.
Tercatat menguat 5,4% pada kuartal pertama, indeks S&P500 berada dikisaran level 1.330, level teknis yang belum bisa dipecahkan lebih lanjut dalam beberapa bulan terakhir. Jika data Non-Farm Payrolls dirilis lebih tinggi dari perkiraan, maka bursa saham AS akan mendapat tambahan momentum penguatan lebih lanjut. Dow Jones <. DJI> turun 30,88 poin atau 0,25% ke 12,319.73, S&P500 <. SPX> melemah 2,43 poin atau 0,18% ke 1,325.83
sedangkan Nasdaq <IXIC.> naik tipis 4,28 poin atau 0,15% ke 2,781.07. Selama Maret, Dow naik tipis 0,76%, S&P turun 0,1% dan Nasdaq melemah 0,04%.
Sedangkan dalam kuartal pertama 2011, Dow naik 6,4%, S&P menguat 5,4% sementara Nasdaq naik 4,8%.
• Harga emas naik hampir 1%, mencatat kenaikan beruntun dalam 10-kuartal terakhir seiring pelemahan dollar AS dan maraknya demonstrasi di negara pengeskppor minyak yang meningkatkan daya tarik emas sebagai mekanisme lindung nilai terhadap inflasi. Kombinasi antara kebijakan moneter ultra-longgar oleh bank sentral, kekhawatiran kondisi hutang zona euro dan kerusuhan politik di Timur Tengah telah menjadi pendorong laju kenaikan emas, meskipun terbilang sebagai kenaikan kuartalan terkecil sejak 2008. Harga spot emas <XAU=> naik 0,8% ke 1,435.10 USD per troy ounce.
• Harga minyak mencatat penutupan tertinggi dalam 2-1/2 tahun terakhir dalam perdagangan akhir-kuartal yang tipis. Harga minyak Brent naik mendekati level tertinggi dalam satu kuartal terakhir dan naik 22 USD sejak Januari seiring meningkatnya konflik Libia dan kerusuhan di Timur Tengah yang mengancam pasokan minyak. Kinerja minyak mendapat dukungan dari meningkatnya risiko geopolitik Timur tengah dan mulai munculnya sinyal sejak akhir 2008 silam. Minyak pemulihan pertumbuhan ekonomi AS. Pergerakan minyak dalam kuartal pertama tercatat sebagai yang paling volatile mentah Brent untuk pengiriman Mei <LCOc1> naik 2,23 USD ke 117,36 USD per barel, penutupan tertinggi sejak Agustus 2008 dan mencetak penguatan 23,9% dalam Q1 2011. Sedangkan harga minyak Crude AS <CLc1> naik 2,45 USD ke 106,72 USD per barel, penutupan tertinggi sejak September 2008, dan mencatat kenaikan 16,8% selama Q1 2011.
• Euro berhasil mencatat penguatan terhadap dollar AS pada kuartal pertama 2011 yang didukung oleh ekspektasi kenaikan suku bunga zona euro. Namun sehubungan dengan masih berlanjutnya kekhawatiran pada kondisi hutang sebagian negara di kawasan tersebut, laju penguatan euro diperkirakan akan terhambat. Terlebih penting lagi, prospek fundamental ekonomi Uni-Eropa masih redup, terutama dibeberapa negara denagn taraf ekonomi kecil.
Tantangan terbaru untuk pemangku kebijakan di Uni-Eropa adalah hasil stress test perbankan di Irlandia yang mengindikasikan bahwa bank-bank negara
itu memerlukan modal senilai 24 miliar euro sebagai kompensasi menutup perkiraan kerugiannya. Menurut beberapa analis, persyaratan modal tersebut
akan sulit untuk dipenuhi dan pemerintah Irlandia harus merestrukturisasi industri perbankan secara keseluruhan. Kondisi inilah yang diperkirakan akan
memb ebani kinerja euro pada awal kuartal kedua.
• Hingga akhir sesi New York, euro tercatat naik 0,4% ke 1,4178 <EUR=>. Euro tercatat menguat masing-masing 6% terhadap dolar dan 8% terhadap yen
pada kuartal pertama 2011, dimana penguatan tersebut disebabkan oleh ekspektasi kenikan suku bunga ECB mendhului The Fed dan Bank of Japan. Data inflasi Uni-Eropa yang dirilis lebih tinggi dari perkiraan semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga ECB pekan depan. Pasar Interest Rate Futures
saat ini melihat kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 125 basis poin dalam 12-bulan kedepan. Terhadap yen, euro tercatat menguat 0.7% ke 117.90
<EURJPY=> setelah sempat mencapai level tertinggi 10-bulan terakhir di 117,90 yen. Dollar AS berakhir menguat 0.3% terhadap yen ke 83.13 <JPY=>.
Pelaku pasar saat ini menantikan rilis data Non-Farm Payrolls AS yang diperkirakan akan mengarahkan kinerja euro terhadap dollar AS dalam jangka dekat
kedepan. Para ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan akan ada penambahan sekitar 190.000 pekerjaan (terangkum dalam data Non-Farm Payrolls ) pada bulan Maret setelah sebelumnya meningkat sebesar 192.000 pada Februari.
• Bursa saham AS mengakhiri perdagangan kuartal pertama dengan solid, meskipun volume perdagangan masih tipis seiring penantian investor pada rilis data sektor ketenagakerjaan AS yang diharapkan akan memberikan katalis pendukung kenaikan indeks untuk mencapai level tertinggi tahunannya.
Tercatat menguat 5,4% pada kuartal pertama, indeks S&P500 berada dikisaran level 1.330, level teknis yang belum bisa dipecahkan lebih lanjut dalam beberapa bulan terakhir. Jika data Non-Farm Payrolls dirilis lebih tinggi dari perkiraan, maka bursa saham AS akan mendapat tambahan momentum penguatan lebih lanjut. Dow Jones <. DJI> turun 30,88 poin atau 0,25% ke 12,319.73, S&P500 <. SPX> melemah 2,43 poin atau 0,18% ke 1,325.83
sedangkan Nasdaq <IXIC.> naik tipis 4,28 poin atau 0,15% ke 2,781.07. Selama Maret, Dow naik tipis 0,76%, S&P turun 0,1% dan Nasdaq melemah 0,04%.
Sedangkan dalam kuartal pertama 2011, Dow naik 6,4%, S&P menguat 5,4% sementara Nasdaq naik 4,8%.
• Harga emas naik hampir 1%, mencatat kenaikan beruntun dalam 10-kuartal terakhir seiring pelemahan dollar AS dan maraknya demonstrasi di negara pengeskppor minyak yang meningkatkan daya tarik emas sebagai mekanisme lindung nilai terhadap inflasi. Kombinasi antara kebijakan moneter ultra-longgar oleh bank sentral, kekhawatiran kondisi hutang zona euro dan kerusuhan politik di Timur Tengah telah menjadi pendorong laju kenaikan emas, meskipun terbilang sebagai kenaikan kuartalan terkecil sejak 2008. Harga spot emas <XAU=> naik 0,8% ke 1,435.10 USD per troy ounce.
• Harga minyak mencatat penutupan tertinggi dalam 2-1/2 tahun terakhir dalam perdagangan akhir-kuartal yang tipis. Harga minyak Brent naik mendekati level tertinggi dalam satu kuartal terakhir dan naik 22 USD sejak Januari seiring meningkatnya konflik Libia dan kerusuhan di Timur Tengah yang mengancam pasokan minyak. Kinerja minyak mendapat dukungan dari meningkatnya risiko geopolitik Timur tengah dan mulai munculnya sinyal sejak akhir 2008 silam. Minyak pemulihan pertumbuhan ekonomi AS. Pergerakan minyak dalam kuartal pertama tercatat sebagai yang paling volatile mentah Brent untuk pengiriman Mei <LCOc1> naik 2,23 USD ke 117,36 USD per barel, penutupan tertinggi sejak Agustus 2008 dan mencetak penguatan 23,9% dalam Q1 2011. Sedangkan harga minyak Crude AS <CLc1> naik 2,45 USD ke 106,72 USD per barel, penutupan tertinggi sejak September 2008, dan mencatat kenaikan 16,8% selama Q1 2011.
• Euro berhasil mencatat penguatan terhadap dollar AS pada kuartal pertama 2011 yang didukung oleh ekspektasi kenaikan suku bunga zona euro. Namun sehubungan dengan masih berlanjutnya kekhawatiran pada kondisi hutang sebagian negara di kawasan tersebut, laju penguatan euro diperkirakan akan terhambat. Terlebih penting lagi, prospek fundamental ekonomi Uni-Eropa masih redup, terutama dibeberapa negara denagn taraf ekonomi kecil.
Tantangan terbaru untuk pemangku kebijakan di Uni-Eropa adalah hasil stress test perbankan di Irlandia yang mengindikasikan bahwa bank-bank negara
itu memerlukan modal senilai 24 miliar euro sebagai kompensasi menutup perkiraan kerugiannya. Menurut beberapa analis, persyaratan modal tersebut
akan sulit untuk dipenuhi dan pemerintah Irlandia harus merestrukturisasi industri perbankan secara keseluruhan. Kondisi inilah yang diperkirakan akan
memb ebani kinerja euro pada awal kuartal kedua.
• Hingga akhir sesi New York, euro tercatat naik 0,4% ke 1,4178 <EUR=>. Euro tercatat menguat masing-masing 6% terhadap dolar dan 8% terhadap yen
pada kuartal pertama 2011, dimana penguatan tersebut disebabkan oleh ekspektasi kenikan suku bunga ECB mendhului The Fed dan Bank of Japan. Data inflasi Uni-Eropa yang dirilis lebih tinggi dari perkiraan semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga ECB pekan depan. Pasar Interest Rate Futures
saat ini melihat kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 125 basis poin dalam 12-bulan kedepan. Terhadap yen, euro tercatat menguat 0.7% ke 117.90
<EURJPY=> setelah sempat mencapai level tertinggi 10-bulan terakhir di 117,90 yen. Dollar AS berakhir menguat 0.3% terhadap yen ke 83.13 <JPY=>.
Pelaku pasar saat ini menantikan rilis data Non-Farm Payrolls AS yang diperkirakan akan mengarahkan kinerja euro terhadap dollar AS dalam jangka dekat
kedepan. Para ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan akan ada penambahan sekitar 190.000 pekerjaan (terangkum dalam data Non-Farm Payrolls ) pada bulan Maret setelah sebelumnya meningkat sebesar 192.000 pada Februari.
GOLD & COMMODITIES
• Harga emas naik hampir 1 persen pada hari Kamis, mencatat kenaikan kuartalan ke-10 secara berturut-turut, dipicu jatuhnyaa dolar dan naiknya harga minyak serta gandum sehingga menambah daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
• Kebijakan moneter yang sangat longgar oleh sejumlah bank sentral, kekhawatiran hutang zona euro dan kerusuhan politik di Timur Tengah telah menjadi faktor pendorong utama bagi emas, meskipun logam mulia tersebut hanya naik 1 persen, kenaikan kuartalan terkecil sejak 2008, sebelum krisis keuangan melanda.
• non-farm payrolls AS hari Jumat untuk periode Maret, Emas juga mencatat kenaikan harian terbesarnya selama hampir 2 pekan, sehari sebelum rilis data yang dianggap sebagai indikator kunci kesehatan ekonomi AS.
• Investor membeli emas untuk lindung nilai terhadap ketidakpastian yang terkait dengan laporan pekerjaan hari Jumat. Kekhawatiran terhadap inflasi juga menguntungkan emas seiring kenaikan harga minyak akibat kekhawatiran kurangnya pasokan dari Timur Tengah, dan juga melonjaknya harga gandum karena permintaan yang kuat. Emas diperkirakan akan terus melanjutkan rally -nya menuju level rekor $1500 per ounce.
• Emas juga didukung oleh penguatan euro atas dolar dipicu data inflasi yang meningkatkan peluang ECB untuk menaikkan suku bunganya, namun penguatan euro kemungkinan hanya sementara saja, karena masalah krisis utang kawasan masih menjadi faktor negatif di kuartal kedua tahun ini. Adapun kekhawatiran utang zona euro telah menjadi faktor utama kenaikan 30% harga emas di tahun lalu. Indikasi kemungkinan dilanjutkannya penurunan
peringkat utang negara zona euro oleh lembaga pemeringkat Moody’s pada hari Kamis kemarin juga masih berpotensi men-support emas lebih lanjut.
• tercatat sebesar 2,18 juta Namun indikasi kenaikan suku bunga oleh The Fed dan ECB telah menggerogoti beberapa daya tarik emas, dimana net outflow ons, atau 3,5 persen, dari dana yang diperdagangkan di bursa utama tahun ini.
• Sementara jika pasar tenaga kerja AS terus membaik, maka akan mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan semula, dan hal ini akan berpotensi menekan kembali harga emas.
• Harga emas naik hampir 1 persen pada hari Kamis, mencatat kenaikan kuartalan ke-10 secara berturut-turut, dipicu jatuhnyaa dolar dan naiknya harga minyak serta gandum sehingga menambah daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
• Kebijakan moneter yang sangat longgar oleh sejumlah bank sentral, kekhawatiran hutang zona euro dan kerusuhan politik di Timur Tengah telah menjadi faktor pendorong utama bagi emas, meskipun logam mulia tersebut hanya naik 1 persen, kenaikan kuartalan terkecil sejak 2008, sebelum krisis keuangan melanda.
• non-farm payrolls AS hari Jumat untuk periode Maret, Emas juga mencatat kenaikan harian terbesarnya selama hampir 2 pekan, sehari sebelum rilis data yang dianggap sebagai indikator kunci kesehatan ekonomi AS.
• Investor membeli emas untuk lindung nilai terhadap ketidakpastian yang terkait dengan laporan pekerjaan hari Jumat. Kekhawatiran terhadap inflasi juga menguntungkan emas seiring kenaikan harga minyak akibat kekhawatiran kurangnya pasokan dari Timur Tengah, dan juga melonjaknya harga gandum karena permintaan yang kuat. Emas diperkirakan akan terus melanjutkan rally -nya menuju level rekor $1500 per ounce.
• Emas juga didukung oleh penguatan euro atas dolar dipicu data inflasi yang meningkatkan peluang ECB untuk menaikkan suku bunganya, namun penguatan euro kemungkinan hanya sementara saja, karena masalah krisis utang kawasan masih menjadi faktor negatif di kuartal kedua tahun ini. Adapun kekhawatiran utang zona euro telah menjadi faktor utama kenaikan 30% harga emas di tahun lalu. Indikasi kemungkinan dilanjutkannya penurunan
peringkat utang negara zona euro oleh lembaga pemeringkat Moody’s pada hari Kamis kemarin juga masih berpotensi men-support emas lebih lanjut.
• tercatat sebesar 2,18 juta Namun indikasi kenaikan suku bunga oleh The Fed dan ECB telah menggerogoti beberapa daya tarik emas, dimana net outflow ons, atau 3,5 persen, dari dana yang diperdagangkan di bursa utama tahun ini.
• Sementara jika pasar tenaga kerja AS terus membaik, maka akan mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan semula, dan hal ini akan berpotensi menekan kembali harga emas.
Survey BOJ-Tankan menguat tipis di Q1
Sentimen di kalangan pebisnis manufaktur Jepang menguat tipis di kuartal pertama tahun ini,
namun analis pasar mengantisipasi k emungkinan terjadi penurunan kepercayaan dalam
tahun ini setelah Jepang dilanda gempa dahsyat, tsunami dan juga krisis nuklir, demikian
data BOJ-Tankan menerangkan.
Data menunjukkan indeks untuk sentimen manufaktur besar sebesar plus 6 di periode Maret,
naik dari plus 5 di periode Desember. Data Maret sedikit lebih rendah dari ekspektasi plus 7.
Namun data Tankan tersebut belum merefleksikan dampak dari bencana gempa bumi,
tsunami dan juga krisis nuklir, karena survey BOJ dilakukan sebelum bencana melanda
negeri Sakura tersebut.
Adapun indeks untuk periode Juni (Q2) diperkirakan akan sebesar plus 2, menggambarkan
bahwa perusahaan memprediksi kondisi bisnis akan memburuk dalam 3 bulan kedepan.
Data Tankan juga menunjukkan bahwa perusahaan-peruahaan s kala besar berencana untuk
memangkas belanja modal mereka sebesar 0,4% di tahun fiskal Maret mendatang, kontras
dengan ekspektasi kenaikan 1,8%.
Subscribe to:
Posts (Atom)










