title cover

title cover

Thursday, April 21, 2011

Headline News 21.04.11

US & GLOBAL 
• Pasar saham dunia mayoritas mengalami kenaikan tajam pada Rabu kemarin didorong oleh positifnya laporan keuangan perusahaan di AS dan Eropa. Sementara emas melonjak ke rekor tertinggi di atas $1.500/troy ounce berbarengan dengan rally di bursa komoditas dunia. Tekanan dolar AS dan positifnya lelang obligasi Spanyol mendorong euro ke areal tertinggi dalam 15 bulan. Mata uang komoditas, seperti Aussie dollar dan Canadian dollar, memperoleh benefit oleh kenaikan di bursa komoditas dunia tersebut.
 

• Laporan keuangan positif diikuti dengan outlook optimis perusahaan‐perusahaan global, seperti Intel AS, meningkatkan kepercayaan investor terhadap kinerja ekonomi global dan meredam kekhawatiran yang belakangan ini mengemuka, termasuk krisis utang Eropa dan AS. Bahkan laporan keuangan perusahaan global untuk kuartal pertama tahun 2011 tersebut mulai mempengaruhi proyeksi pasar terhadap potensi kinerja ekonomi tahun ini.
 

• Bursa saham dunia, yang tergabung dalam indeks MSCI, naik 2,1% melanjutkan kenaikan Selasa sebelumnya dan meng‐cover tekanan di awal minggu ini. Bursa saham AS mencapai kinerja terbaiknya dalam sebulan ini, terangkat oleh kenaikan indeks Dow Jones ke level tertingginya selama hampir 3 tahun.
 

• Perusahaan produsen memory chip terbesar dunia, Intel, merilis laporan pendapatan Q1 dan proyeksi penjualan kuartal berikutnya jauh di atas perkiraan. Sementara perusahaan Eropa, seperti perusahaan kosmetik terbesar dunia, L'Oreal, dan produsen mobil PSA Peugeot Citroen, juga merilis optimis laporan pendapatannya masing‐masing.
 

• Indeks FTSEurofirst 300 <.FTEU3> Eropa naik 1,9% ke level penutupan tertinggi dalam 1 minggu. Indeks bursa saham di negara‐negara berkembang (emerging market) <.MSCIEF> naik 2,6%. Namun Societe Generale dalam catatannya, seperti yang dilansir Reuters, mengatakan bahwa para hedge fund masih berhati‐hati terhadap bursa saham AS. Hal ini terlihat dengan masih adanya net‐short (tekanan jual) pada indeks S&P500 <SPX.> dan indeks Russell2000 <RUT.>, padahal mereka mulai melakukan net‐long (beli) pada ekuitas Jepang.
 

• Emas <XAU=> menembus rekor $1.500/troy ounce dan perak mencapai level tertinggi 31 tahun. Kekhawatiran tentang masalah utang pemerintah, inflasi dan gejolak di Timur Tengah menjadi pemicu kenaikan gradual emas belakangan ini. Sementara munculnya isu baru dari krisis utang Eropa, yakni resiko restrukturisasi utang Yunani, masih mengguncang pasar obligasi, mendorong kenaikan yield obligasi Yunani dan Portugis ke level tertinggi baru.
 

• EUR/USD naik di atas 1% ke $1,4546, melonjak signifikan dari low minggu ini di sekitar $ 1,4155. Euro juga menguat di atas 1% ke level 120,39
yen.
 

• AUD/USD naik 1,6% ke level $ 1,0692. Sementara dolar AS terkoreksi ke level terlemahnya atas dolar Kanada, C$0,9498. Indeks dolar AS, terhadap mata uang utama dunia, melemah hampir 1% ke 74,328.
 

• Melemahnya dolar AS tersebut menjadi salah satu pendorong naiknya harga komoditas, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni <LCOc1> naik sekitar $2,52 menjadi $ 123,85/barel, setelah mencapai level tertinggi kemarin, di $124,23. Harga minyak mentah AS Juni <CLc1> naik $3,10 menjadi $111,38/barel, tertinggi sejak April 18. Sebagian juga terdorong oleh rilis laporan persediaan minyak mentah AS yang turun untuk pertama kalinya dalam tujuh minggu.


GOLD & COMMODITIES 
• Emas naik diatas level $1500 per ons Rabu lalu untuk pertama kalinya yang pernah ada karena dollar AS merosot, oil naik, kekhawatiran berkenaan dengan outlook ekonomi AS yang mendorong permintaan pada metal sebagai safe haven dan kenaikan inflasi yang mendorong permintaan Asia.
 

• The Reuters‐Jeffries CRB index <.CRB> mencatatkan kenaikan terbesar hariannya dalam dua minggu karena harga komoditas mengalami rally.
 

• Spot gold <XAU=> mencatakan level puncaknya $1505,40 per ons dan diperdagangkan pada level $1501,10 per ons pada pukul 1403 GMT, terhadap level $1493,90 yang terjadi pada penutupan New York Selasa sebelumnya. U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> naik $6.70 per ons ke level $1501,80.
 

• Silver mencatatkan kenaikan melebihi gold, memperluas kinerja kenaikannya yang terlihat the grey metal telah outperform daripada precious metals lainnya tahun ini. Silver <XAG=> mencapai level tertingginya dalam 31‐tahun ke level $44.79 per ons dan terakhir diperdagangkan pada level $44.72 terhadap level $43.89.
 

• Harga emas naik 5 persen bulan April dan kelihatan memperluas kenaikannya karena ketertarikan pada metal sebagai safe haven dari resiko yang didorong oleh pembicaraan bahwa Yunani kemungkinan untuk merestrukturisasi utangnya dan Standard & Poor's mengancam menurunkan peringkat America's triple‐A credit rating.
 

• "Gold has been acting as a currency in its own right, and that is why we are up at $1,500," kata Simon Weeks, kepala precious metals pada Bank of Nova Scotia. "There is an awful lot of bad news in the price. The S&P comment the other day has given us the final kicker to get up here."
 

• Rasio gold:silver – jumlah dari silver ounces yang dibutuhkan untuk membeli ounce dari gold – untuk sementara melemah ke level terendahnya sejak tahun 1983 yang berada dibawah 34.
 

• "The last time silver was this expensive in relation to gold was almost 28 years ago," kata Commerzbank dalam catatannya. "Both precious metals are still reaping the benefit of the news of recent weeks and days."
 

• Platinum <XPT=> berada pada level $1800,99 per ons terhadap level $1761,50, sementara itu palladium <XPD=> di level $754.97 terhadap level $726.95.

Gold powers above $1,500 as inflation worries mount

NEW YORK | Wed Apr 20, 2011 5:05pm EDT
NEW YORK (Reuters) - Gold rallied above $1,500 an ounce for the first time on Wednesday, extending this week's record run as investors hedged growing inflation risks and bought into a broad commodities rally as the dollar slumped.

Mounting evidence of quickening inflation in major Asian economies such as China and India were echoed in Latin America on Wednesday, with Brazilian prices nearing a government ceiling and Mexico's yearly rate exceeding a key target.
The break-even rates on U.S. Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS), which measures investors' inflation expectations, rose for a second day.

A second day of deep losses for the dollar and rallies in oil and grain markets that fueled further inflation concerns also buoyed bullion, which once again rose in tandem with riskier assets like equities as investors turned to gold as a store of value.

"The U.S. government at this point of time has not corrected its fiscal imbalance, and the Federal Reserve continues to maintain exceedingly loose monetary policy, which has the risk of further debasing the dollar," said Mark Luschini, chief investment strategist of broker-dealer Janney Montgomery Scott, which manages $53 billion in client assets.

Gold prices tend to rise with a declining dollar.
Spot gold rose to an all-time high of $1,505.70 an ounce. It was last up 0.4 percent at $1,500.50 by 3:31 p.m. EDT, having risen almost 4 percent over the past eight days. The metal is set for its 11th successive quarterly gain.

While well below their inflation adjusted highs of more than $2,200 struck in 1980 -- when bullion prices spiked in response to the Soviet invasion of Afghanistan -- gold has doubled since the lows of 2008 and risen six-fold since 2001.

Silver also surged above $45 for the first time since 1980, when the Hunt Brothers of Texas cornered the silver market.

Gold has notched new records for four consecutive days, aided in large part by Monday's threat of a downgrade to the United States' triple-A credit rating.

"This is just a continuation of a longer-term move being driven by worldwide monetary policies and specifically here in the United States," said Michael Cuggino, portfolio manager of Permanent Portfolio Funds with $12.5 billion in mutual fund assets.
"Is the U.S. debt ceiling going to be raised? If the debt ceiling is not raised, what happens to the U.S. debt when it matures?" Cuggino asked.

The White House and congressional leaders must agree on a deal on raising the $14.3 trillion cap on borrowing in the next few weeks or the United States will be at risk of defaulting on its debt, which would have dire consequences both for the country and global markets.

INFLATION PRESSURE CREEPING UP

Signs of simmering inflation across the world underpin gold. The break-even rates on the expected new five-year U.S. TIPS rose for a second day to 2.36 percent, roughly 1 basis point higher than late Tuesday.

In Brazil, annual inflation sped dangerously near a government ceiling in the month to mid-April, while Mexico yearly inflation rate climbed above policymakers' target rate of 3.0 percent as investors prepare for higher borrowing costs early next year.

Gold buying in the Asian countries is being fueled by rising consumer incomes and higher inflation. Both China and India reported higher than expected inflation last week.

While gold investors in Western markets have been motivated chiefly by risk aversion in recent years, the precious metal is a much more deeply established asset in Asia, being bought in the form of bullion bars and coins. India and China are by far the world's biggest bullion consumers.

DOLLAR, CREDIT RATING IN FOCUS

The metal is expected to be underpinned by uncertainty over how the United States will adjust monetary policy after the Federal Reserve's $600 billion government bond-buying program -- known as quantitative easing -- comes to an end in June.

If the S&P eventually cuts its long-term rating on the United States, it will weigh heavily on the U.S. dollar, often used as a global reserve currency, and economic stability throughout the world - a perfect recipe for gold rally.

Gold has long been seen as the ultimate haven from risk. During the financial crisis that rattled markets in 2009 and 2010 it was heavily bought on that basis, but its rally has since taken on a momentum of its own, luring more and more speculators who have begun to view it as a one-way bet.

"Gold has been acting as a currency in its own right, and that is why we are up at $1,500," said Simon Weeks, head of precious metals at the Bank of Nova Scotia.

Wednesday, April 20, 2011

Breaking News 20.04.11

Jepang - Export & Import (Maret)

Tingkat ekspor Jepang periode Maret merosot tajam -2,2% (Y/Y) dari bulan sebelumnya, dan ini merupakan penurunan pertamanya selama 16 bulan untuk basis tahunan, yang disinyalir
sebagai dampak dari bencana gempa dan tsunami besar yang menerjang Jepang saat itu.

Impornya di periode Maret naik 11,9%, sementara surplus
Trade Balance-nya merosot hingga 196,5 milyar yen, jauh di bawah perkiraan 493,6 milyar yen dari polling Reuters.

Para ekonom memproyeksikan ekspor Jepang akan terus mengalami penurunan di bulan-bulan mendatang dan mengkhawatirkan bakal terjadinya defisit perdagangan di Jepang,
menyusul masih adanya gangguan produksi karena kebocoran di PLTN Fukushima menyebabkan tidak stabilnya penyebaran arus listrik – termasuk ke pabrik-pabrik di sana.

Selain itu dampak gempa-tsunami besar Jepang tersebut telah terkonfirmasi menelan harta benda senilai $300 milyar, ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal dan menelan korban
jiwa sekitar 14 ribu orang. Secara material ini merupakan dampak gempa terbesar di dunia, yang tidaklah mengherankan jika beresiko mengguncang ekonomi Jepang dan juga global.
Perlu diwaspadai guncangan ekonomi Jepang yang beresiko mempengaruhi kinerja pasar finansial lokalnya dan juga global tahun ini

Headline News 20.04.11

US & GLOBAL 
• Bursa saham dunia naik pada hari Selasa mengurangi tekanan Senin sebelumnya, namun kekhawatiran krisis utang di AS dan Eropa serta
sinyal baru bahaya inflasi di Cina masih menahan minat terhadap aset‐aset beresiko. Lemahnya dolar AS mendorong naiknya harga emas
<XAU=> ke level rekor tertingginya di atas $1.500/troy ounce serta memicu kenaikan harga minyak di New York <CLc1> ke atas level
$108/barel. Harga Silver <XAG=> juga naik ke level tertinggi 31 tahun di $44/ounce.
 

• Sementara laporan keuangan perusahaan yang solid, setelah downgrade S&P terhadap outlook utang AS Senin, sempat mendorong
investor kembali melakukan aksi beli di bursa saham dan sejumlah aset beresiko.
 

• Berlarut‐larutnya pembahasan proposal pemerintah AS untuk menekan defisit $14 trilyun dan spekulasi terhadap restrukturisasi utang
Yunani semestinya masih akan memberikan tekanan di bursa saham, meskipun laporan keuangan perusahaan sekelas Apple nanti dirilis
optimis.
 

• Indeks bursa saham dunia yang tergabung dalam indeks MSCI naik 0,6 persen, mengurangi tekanan 1,6% Senin sebelumnya yang
merupakan tekanan harian terbesar selama sebulan.
 

• Laporan keuangan perusahaan yang lebih optimis dari perkiraan, seperti dari Goldman Sachs dan Johnson & Johnson memicu aksi beli di
bursa saham AS semalam setelah tertekan lebih dari 1% Senin akibat kekhawatiran utang. Bursa saham Eropa pun naik 0,4% karena
membaiknya laporan keuangan perusahaan dari LVMH dan Burberry setelah tekanan 2% Senin sebelumnya.
 

• Kegelisahan Investor terus mengemuka di tengah kemungkinan restrukturisasi utang Yunani, yang memicu ketegangan di Zona Eropa
saat ini. Yunani telah menjual obligasi 3 bulan senilai €1,6 milyar namun terpaksa harus membayar yield‐nya lebih dari 4% ‐ atau lebih
dari 4 kali lipat dari kewajiban pembayaran yield Jerman selaku negara dengan ekonomi terbesar di Zona Eropa.
 

• Indeks dolar AS terhadap mata uang utama dunia akhirnya tergelincir 0,6% Selasa kemarin setelah sempat menguat Senin sebelumnya
karena naiknya peran safe‐haven di tengah turunnya minat terhadap aset‐aset beresiko karena downgrade S&P terhadap outlook utang
AS.
 

• Isu S&P juga tampak tidak berpengaruh langsung pada Cina, yang memiliki holding asset Treasury AS terbesar. Namun kepala bank
sentral Cina sempat mengatakan seharusnya melakukan diversifikasi investasi karena sejumlah holding‐nya senilai $3 trilyun dalam
valuta asing telah bertumbuh terlalu besar. Pejabat bank sentral Cina lainnya mengungkapkan mengenai tingkat inflasi yang kini
memberikan ruang lebih besar untuk lebih lanjut memperketat kebijakan moneternya, yakni kenaikan rasio cadangan modal perbankan
yang telah dinaikkan 7 kali (termasuk 4 kali sepanjang 2011) sejak Oktober 2010.
 

• EUR/USD rebound kembali ke atas areal 1.4300‐an, terbantu sebagian oleh positifnya data ekonomi Zona Eropa. EUR/USD mengalami
koreksi cukup tajam, hingga ke 1.4159, setelah penguatannya yang mencapai level tertinggi 15 bulan, di 1.4520 minggu lalu.



GOLD & COMMODITIES 
• Emas mencapai level tertingginya sepanjang masa yang mendekati level $1500 per ons dalam dua harinya berturut‐turut Selasa lalu,
dengan hasrat pada resiko anjlok setelah Standard & Poor's memangkas outlook AS dan permasalahan sovereign debt zona euro yang
mengemuka kembali.
 

• Harga pada awalnya naik ke level tertingginya $1497,86 karena dollar merosot, tepat diatas level yang tercapai sebelumnya setelah
pengumuman S&P yang menekan pasar. Emas kemudian melemah kembali setelah mencapai resistance pada level tertingginya.
 

• Spot gold <XAU=> diperdagangkan pada level $1492,59 per ons pada pukul 1344 GMT, terhadap level $1495,08 pada penutupan New
York Senin lalu. U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> naik 30 sen ke level $1493,30.
 

• Afshin Nabavi, kepala trading pada MKS Finance di Geneva, mengatakan emas didorong oleh safe‐haven buying.
 

• "Gold, silver and (the Swiss franc) are all attracting lots of attention," ungkapnya. "Every corner of the world you look at, there is a
problem politically or economically."
 

• Euro sedikit menguat terhadap dollar AS Selasa lalu setelah sell‐off sehari sebelumnya, tetapi permasalahan debt pada zona euro tetap
mengkhawatirkan investor pada mata uang tunggal tersebut.
 

• Silver <XAG=> juga bertahan mendekati level tertinggi dalam 31‐tahun sehari sebelumnya $43.51 per ons, yang terakhir diperdagangkan
pada level $43.20 per ons terhadap level $43.32 Senin sebelumnya.
 

• Silver telah outperformed pada gold tahun ini, naik 40 persen sejauh ini terhadap peningkatan gold yang 5 persen. Rasio gold:silver
melemah dalam 28‐tahun terendahnya yang dibawah 35 Senin lalu.

Japan exports fall after quake, further fall likely

TOKYO | Tue Apr 19, 2011 9:34pm EDT
TOKYO (Reuters) - Japan's exports fell in March from a year earlier at a faster pace than economists expected, in a sign that shipments will continue to weaken and hurt economic growth after last month's earthquake and tsunami sparked a nuclear crisis and disrupted supply chains for many manufacturers.

A further decline in exports will likely push Japan's trade balance into a deficit and weigh on gross domestic product, economists say, as companies struggle with a shortage of electricity and parts needed to make goods in the wake of the March 11 natural disaster that struck Japan's northeast coast.

Japan's economy is likely to contract in the second quarter and then resume growing in the third quarter as efforts to rebuild the northeast take hold, but damage to supply chains and factory output could linger, depriving the export-focused country of a vital contribution to gross domestic product and setting the stage for further easing by the central bank.

"As supply chains are expected to recover in late May, the drop in exports may prove short-lived," said Yuichi Kodama, economist at Meiji Yasuda Life Insurance.
"But due to power supply constraints expected in the summer, a full pickup in exports is unlikely until at least the end of this year. The Bank of Japan is likely to be prompted to ease its policy further in coming months."

POWER SUPPLY CONSTRAINTS

Exports fell 2.2 percent in March from a year earlier, more than a median forecast for a 1.5 percent annual fall. That marked the first decline in 16 months. Imports rose 11.9 percent from a year earlier against a forecast for a 6.0 percent annual rise, trade data issued by the Finance Ministry showed.

Exports of cars tumbled 27.8 percent from a year earlier, making the biggest contribution to the decline in overall exports. Semiconductors and electronics fell 6.9 percent from a year ago.

Among Japan's two major export destinations, shipments to China rose an annual 3.8 percent while shipments to the United States fell an annual 3.4 percent.

The trade balance came to a surplus of 196.5 billion yen, much less than the median estimate for a 493.6 billion yen surplus.

Japan is facing its worst crisis since World War Two after a 9.0 magnitude earthquake and a tsunami towering more than 10 meters battered its northeast coast on March 11, leaving nearly 28,000 dead or missing and triggering radiation leaks at a nuclear power plant.

Shortages of electricity and important parts that manufacturers need to make their goods point to the possibility of deep and long-running output disruptions from Japan that could also hobble factories elsewhere in the world.

Japan's economy is expected to contract in the current quarter but will grow again in July-September on reconstruction efforts, a Reuters poll showed. Some economists say gross domestic product may have contracted in January-March, meaning three straight quarters of contraction to June cannot be ruled out.

Tuesday, April 19, 2011

Headline News 19.04.11

US & GLOBAL
 

• Ancaman oleh Standard & Poor's untuk men‐downgrade peringkat utang pemerintah AS dari levelnya saat ini (AAA‐rating) serta
munculnya kembali kekhawatiran tentang krisis utang Eropa mendorong aksi jual pada bursa saham dunia dan mata uang ber‐yield
tinggi Senin kemarin.
 

• Tekanan jual sudah mulai terlihat di sesi Eropa kemarin di tengah kekhawatiran bahwa Yunani harus merestrukturisasi hutangnya,
kemungkinan pada awal musim panas tahun ini. Aksi jual berkembang saat muncul laporan dari lembaga Standard & Poor’s, yang
merevisi turun outlook untuk Amerika Serikat menjadi negative dari stabil – dengan menyebut resiko bahwa proposal untuk
memangkas defisit anggaran AS dalam target 2 tahun tidak akan disetujui parlemen.
 

• Meskipun kemarin S&P masih mempertahankan peringkat utang AS di level AAA, langkah revisinya tersebut berpeluang membuatnya
memangkas peringkat jangka panjang utang AS tersebut dalam kurun waktu 2 tahun ini.
 

• Indeks bursa saham dunia yang tercakup dalam indeks saham MSCI mengawali minggu yang pendek ini (karena libur paskah Jumat)
dengan penurunan 1,5%. Sementara indeks bursa saham Wall Street rata‐rata mengalami penurunan lebih dari 1% akibat langkah S&P,
dan langkah pengetatan moneter Cina pada hari Minggu (17/Apr) dengan menaikkan rasio cadangan modal perbankan yang keempat
kalinya untuk tahun ini. Indeks bursa saham Eropa ditutup melemah di level terendah selama 3 pekan.
 

• EUR/USD pun mengalami tekanan terbesarnya selama 5 bulan untuk basis harian. EUR/USD tertekan ke level terendah selama 2 pekan
di 1,4155/59, sebelum kemudian mengalami sedikit rebound hingga 1,4230an setelah penutupan NY tadi. EUR/JPY merosot lebih dari
2% ke level 116.50. Tekanan euro mulai terakumulasi ketika sumber di pemerintah Jerman mengatakan mereka tidak percaya Yunani,
yang tahun lalu di‐bailout oleh EU dan IMF senilai €110 milyar ($157,milyar), bisa melalui musim panas ini tanpa restrukturisasi.
Sementara pemerintah Yunani telah berulang kali membantah bahwa pihaknya berencana untuk merestrukturisasi utang‐utangnya.
 

• Tekanan pada Portugal juga tumbuh setelah partai True Finns (di FInlandia) yang anti‐euro memenangkan pemilu hari Minggu dan
berikrar akan mendorong perubahan untuk penyelamatan Portugis yang diperkirakan akan mencapai nilai €80 milyar.
 

• Harga emas rally ke rekor tertinggi hampir $ 1.500/troy ounce, sementara komoditas lainnya jatuh karena para investor ‘lari’ ke aset
safe haven (yang beresiko rendah). Kekhawatiran tentang masalah utang Zona Eropa dan kondisi inflasi di China kian memicu
kegelisahan investor saat ini.
 

• Minyak berada di bawah tekanan setelah menteri OPEC mengatakan harga minyak yang tinggi dapat menimbulkan ketegangan ekonomi
para Negara konsumennya. Harga minyak mentah Brent tipe kontrak Juni <LCOc1> turun $1,84 ke level di $121,61/barel, setelah
tergelincir ke sesi rendah $121. Harga minyak mentas AS tipe kontrak Mei turun ke $107,58 (Reuters Graphic), setelah tergelincir hingga
areal $106,50‐an/barel.
 

• Tekanan jual di bursa saham dan beberapa komoditas mendorong penguatan yen karena investor melepas aset‐aset beresiko yang
didanai oleh mata uang Jepang yang ber‐yield rendah – USD/JPY merosot hingga 82,19.



GOLD & COMMODITIES
 

• Harga emas mengalami rally ke level puncaknya yang mendekati $1500 per ons Senin lalu setelah agen pemeringkat Standard & Poor's
memangkas outlook dari AS menjadi negatif dari stabil, yang mendorong arus safe‐haven menuju metal.
 

• S&P mencatatkan suatu "material risk" bahwa policymakers kemungkinan tidak menyetujui pada rencana untuk memangkas defisit
bujet AS.
 

• Spot gold <XAU=> naik ke level tertingginya $1497,20 per ons dan diperdagangkan pada level $1492,25 per ons pada pukul 1358 GMT,
terhadap level $1483,75 pada penutupan Jumat lalu di New York. U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> naik $7.60 per
ons ke level $1,493.60, yang menghentikan level puncaknya $1498,60.
 

• Pemangkasan menekan dollar AS, yang pada awalnya membagi kenaikan terhadap euro, sementara itu Treasury debt AS berbalik
menjadi negatif.
 

• Di antara logam mulia lainnya, silver <XAG=> diperdagangkan pada level $43.11 per ons terhadap $42.99, tercapai pada awalnya yang
menyentuh level tertingginya dalam 31‐tahun pada level $43.51 per ons. Silver telah membuat kinerja terbaiknya pada tahun ini, yang
naik 40 persen sejak bulan Januari.
 

• Analis mengatakan the metal, yang telah menguntungkan dari penguatan investment flows dan persepsi pada membaiknya permintaan
industri akan melemah berikutnya, kemungkinan overpriced pada levelnya saat ini.
 

• Platinum <XPT=> pada level $1782,49 per ons terhadap level $1782,70, sementara itu palladium <XPD=> diperdagangkan pada level
$744.22 terhadap level $760.55.

Gold firms below record and sovereign debt worries support

SINGAPORE | Mon Apr 18, 2011 8:40pm EDT
SINGAPORE (Reuters) - Spot gold prices firmed on Tuesday below their record high, as worries over sovereign debt problems in both Europe and the United States further stoked investors' interest in bullion, while silver took a breather from a recent rally.

FUNDAMENTALS

* Spot gold gained 0.8 percent to $1,493.29 an ounce by 7:19 p.m. EDT, off the record high of $1,497.20 hit in the previous session.

* U.S. gold futures were little changed, at $1,494.10.

* Spot gold reached record highs in two consecutive sessions, as the momentum was boosted on Monday after Standard & Poor's threatened to downgrade the U.S. credit rating, amid worries about Europe's debt crisis.

* Federal Reserve officials offered clashing views on Monday of whether soft U.S. growth or inflation pose a greater risk to the economy but the face-off looked unlikely to alter the Fed's ultra-loose stance for now.

* Spot silver eased 0.4 percent to $43.16 an ounce, after hitting 31-year highs for three sessions in a row, as the weakness in the equities market affected sentiment in the precious metals that have industrial applications, such as silver and palladium.

* Spot palladium fell 0.7 percent to $734.47.

MARKET NEWS

* Wall Street fell more than 1 percent on Monday as sovereign debt fears on both sides of the Atlantic and China's monetary tightening hurt the outlook for global economic growth. .N

* The euro nursed heavy losses early in Asia on Tuesday while the yen gained across the board as worries about sovereign debt problems in Europe and the United States prompted investors to unwind carry trades.

Monday, April 18, 2011

Headline News 18.04.11

US & GLOBAL
 

• Pergerakan harga pada aset pasar finansial dunia saat ini, dan juga dalam beberapa sesi ke depan, diwarnai oleh isu suku bunga dan munculnya kembali krisis utang Zona Eropa. Fokus akan tertuju pada sidang FOMC The Fed AS pada 26 April mendatang, menjelang itu aktifitas pasar ‘keluar‐masuk’ dana pada aset beresiko dan safe haven akan memicu fluktuasi.
 

• Isu suku bunga paling jelas pada pasar valuta asing, dimana aktifitas carry trade marak kembali – peminjaman dari mata uang ber‐yield (dengan acuan suku bunga) rendah untuk diinvestasikan ke yang ber‐yield tinggi. Hal ini yang memicu penguatan euro ke level tertingginya selam 15 bulan terhadap dollar, di 1.4520 minggu. Diferensiasi suku bunga adalah faktor yang menyebabkan ini, menyusul ECB beberapa waktu lalu menaikkan suku bunganya 0.25% ke level 1,25% dan diproyeksikan akan melanjutkannya kembali untuk tahun ini. Di sisi lain Jepang masih mempertahankan kebijakan moneter dan level suka bunga yang ultra‐rendah, diperparah oleh bencana gempa dan tsunami besar bulan Maret lalu. Dari AS, juga diperkirakan belum akan menaikkan suku bunganya tahun ini, namun dalam jangka pendek ini harus memutuskan apakah akan mengakhiri atau melanjutkan program Quantitative Easing (QE) – sebuah langkah penyelamatan ekonomi nasional – yang masa waktunya sampai bulan Juni.
 

• Isu QE telah melahirkan arus likuiditas di pasar yang memicu bangkitnya kembali bursa saham belakangan ini – bahkan mampu mengabaikan lonjakan harga minyak dunia, krisis utang Eropa, krisis nuklir Jepang dan panasnya isu geopolitik Timur Tengah. Analis mengatakan bahwa sebenarnya di sisi lain sentimen bullish para investor di pasar equity sudah menurun signifikan. Hal ini yang menyebabkan kerentanan terhadap gejolak pasar yang tiba‐tiba, atau perubahan yang mengejutkan.
 

• Untuk itu di perdagangan ke depan di bulan April ini, isu suku bunga AS dan The Fed sangat mungkin untuk mempengaruhi perdagangan tibatiba. Dari Eropa, data ekonomi, yang pada minggu ini akan diamati data PMI Zona Eropa, yang berpotensi mengarahkan pandangan pasar terhadap outlook suku bunga ke depan. Dari Asia pasar mulai mengkhawatirkan langkah pengetatan moneter dan kenaikan suku bunga China lebih lanjut setelah data CPI Maret mengalami akselerasi kenaikan. India juga dilaporkan mengalami akselerasi inflasi.
 

• Performansi di pasar equity dunia minggu ini akan diuji oleh laporan pendapatan perusahaan Q1 yang memasuki sesi puncak, seperti dari Eropa dan AS. Sejumlah perusahaan besar dunia, seperti Goldman Sachs, Citigroup, Novartis hingga Peugeot dijadwalkan akan dirilis minggu ini.
 

• Jumat lalu bursa saham global dan minyak mentah naik setelah data ekonomi AS dirilis lebih baik dari perkiraan dan meningkatnya kepercayaan konsumen AS karena meredanya kekhawatiran tentang biaya bahan bakar, meskipun emas mencapai rekor tinggi karena kekhawatiran inflasi.
 

• Core CPI Maret AS, harga konsumen tanpa makanan dan biaya energi, naik tipis 0,1% di bawah perkiraan, dibarengi oleh adanya ekspektasi inflasi konsumen untuk 5‐10 tahun ke depan yang jatuh – memberikan sentimen positif untuk aset pendapatan tetap, seperti obligasi. Data lain menunjukkan penggunaan kapasitas industri melonjak Maret ke level tertinggi sejak Agustus 2008, sementara aktivitas manufaktur di negara bagian New York lebih baik dari yang diharapkan, mengurangi kekhawatiran tentang pertumbuhan lebih lambat. Tapi harga emas naik 1 persen ke rekornya $ 1,487.90/ounce didorong oleh rally‐nya harga minyak dan penurunan peringkat utang Irlandia. Harga emas mencatat kenaikan
dalam 5 minggu berturut‐turut.



GOLD & COMMODITIES
 

• Emas mencatatkan level tertingginya Jumat lalu karena pemasalahan mengenai sovereign debt zona euro, kekhawatiran mengenai inflasi dan ekspektasi kebijakan moneter AS akan bertahan akomodatif yang kesemuanya mendorong pada harga logam mulia.
 

• Silver juga bertahan pada awalnya yang mendekati level tertingginya dalam 31‐tahun pada level $42.68. Logam ini melemah dari level tertingginya karena euro merosot pada pertengahan perdagangan sore harinya, tetapi mendapatkan traksi setelah data consumer confidence AS
mendorong dollar untuk menguat.
 

• Spot gold <XAU=> dperdagangkan pada level $1480,30 per ons pada pukul 1425 GMT, versus $1472,90 pada Kamis lalu, yang pada awalnya sempat mencapai level tertingginya $1481,14. Silver <XAG=> naik ke level $42.60 dari $42.08. U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> meningkat $9.30 menjadi level $1481,70.
 

• "Gold is still in a healthy upward trend," kata analis LGT Capital Management Bayram Dincer. "You have so much uncertainty over whether the U.S. economy will recover, what the next monetary policy step will be."
 

• "I don't think real interest rates will be (a drag) in the short term or medium term for the gold price," tambahnya. "As long as the opportunity cost for gold holding is low, we will see higher prices."
 

• Di antara logam mulai lainnya, platinum <XPT=> berada pada level $1789,74 per ons terhadap level $1786,49, sementara itu palladium <XPD=> diperdagangkan pada level $770.50 dari level $760.63.

Friday, April 15, 2011

Headline News 15.04.11

US & GLOBAL 
• Mayoritas bursa saham utama dunia dan dolar AS tergelincir pada hari Kamis akibat terdorongnya kembali dominasi kekhawatiran
perlambatan ekonomi global di kalangan investor oleh krisis utang Yunani, inflasi Cina dan rilis pesimis data pekerjaan AS. Akibatnya
aset‐aset safe‐haven seperti obligasi dan emas kembali diburu. Belakangan ini para investor senantiasa memindahkan dana mereka
pada aset beresiko dan aset safe‐haven karena belum jelasnya arah perekonomian global.
 

• Pelaku pasar juga menurunkan skala ekspektasi untuk pertumbuhan ekonomi global akibat kenaikan input cost. Sementara lemahnya
dolar AS memicu kembali kenaikan harga minyak.
 

• Indeks saham dunia, yang tergabung dalam indeks MSCI turun 0,1%, meskipun gejolak aktifitas korporasi saat ini bisa saja mengangkat
kembali sentiment investor. Sepanjang tahun 2011 berjalan, indeks tersebut masih terakumulasi naik 4,1%. Indeks saham Eropa
<.FTEU3> berakhir turun 0,6%. Sementara indeks saham Wall Street berakhir sedikit berubah dari sesi Rabu sebelumnya, meredam
tekanan di sesi awal terdorong oleh aksi beli saham‐saham sektor konsumsi dan energi di akhir sesi. Masih berbedanya pandangan di
antara investor, terhadap kondisi bisnis dan perekonomian, menyebabkan bursa saham diperdagangkan dalam kisaran sempit, yang
oleh para analis diproyeksikan akan bertahan dalam beberapa minggu ini.
 

• Tekanan di sesi awal pada bursa Wall Street dan Eropa Kamis kemarin dipicu oleh sebuah laporan yang mengatakan bahwa inflasi Cina
akan kembali terakselerasi setelah melambat belakangan ini. Stasiun televise Phoenix di Hong Kong, mengutip sumber yang tidak
disebutkan namanya, mengatakan tingkat inflasi tahunan China Maret (yang akan dirilis pagi ini) nampaknya akan mengalami ekspansi
5,3% hingga 5,4% ‐ melampaui hasil polling Reuters. Investor khawatir tentang inflasi Cina yang biasanya akan memicu kenaikan suku
bunganya sebagai upaya pemerintah untuk meredamnya – ini akan beresiko bagi kondisi ekonomi global yang baru saja mencoba
bangkit. Lonjakan data cadangan devisa dan money supply Cina yang telah dirilis sebelumnya, juga turut mengipasi kekhawatiran akan
agresifitas Cina dalam meredam gejolak inflasinya.
 

• DI saat investor resah atas perlambatan global dan kenaikan inflasi, ekonom dalam jajak pendapat terbaru Reuters memprediksi
pertumbuhan dunia 4,2% di tahun ini dan 4,3% pada tahun 2012, tidak berubah sejak jajak pendapat Januari.
 

• Bursa saham tertekan setelah yield obligasi Yunani melambung, setelah meningkatnya kembali antisipasi pasar mengenai besarnya
kemungkinan bahwa pemerintah Yunani akan didesak untuk merestrukturisasi utangnya. Yield obligasi Eropa lainnya juga meningkat
tajam. Setahun lalu, memburuknya masalah utang negara Eropa menahan pemulihan global dan memaksa Bank Sentral Eropa
mempertahankan tingkat bunganya di level rendah untuk waktu lebih lama dari yang diduga.
 

• Selain Eropa, persoalan Jepang akibat gempa dan tsunami besar yang memicu krisis nuklir, juga menjadi kekhawatiran lainnya bagi
pasar. Survei Reuters Tankan dari 400 perusahaan besar pada hari Kamis kemarin menunjukkan bahwa gangguan listrik akibat
lumpuhnya PLTN Jepang memukul hampir 60% perusahaan‐perusahaan lokal, mengganggu produksi dan rantai pasokan.
 

• Di Amerika Serikat, kenaikan yang mengejutkan pada klaim pengangguran menimbulkan keraguan atas pemulihan di pasar tenaga kerja.
Hal ini memicu tekanan terhadap dolar AS dan kian meyakinkan pelaku pasar bahwa The Fed AS masih akan mempertahankan program
– padahal minggu lalu ECB sudah mulai melakukan normalisasi kebijakan moneternya dengan menaikkan suku bunga dalam rangka
meredam inflasi. Indeks dolar AS <DXY.> turun 0,4%, menyentuh level terendah selama 16 bulan, di 74,617. Lemahnya dolar AS
mendukung kembali kenaikan harga minyak meskipun ada kekhawatiran terhadap lemahnya demand jika perekonomian dunia
melambat. Harga minyak US <CLc1> melonjak di atas areal $108/barel. Tapi di London, Brent kontrak Mei <LCOK1> mentah berakhir
turun 52 sen pada $122,39. Harga emas <XAU=> naik lebih dari 1% ke atas areal $1,470an/troy ounce.



GOLD & COMMODITIES
 

• Emas naik 1 persen dan silver meningkat Kamis lalu, karena kombinasi dari pelemahan dollar AS, crude oil naik dan mengemukanya
kembali kekhawatiran sovereign debt Yunani yang mendorong bullion/emas naik $10 dibawah rekor tertingginya.
 

• Emas mendapat dorongan dari kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh data yang menunjukkan kenaikan core producer prices AS bulan
Februari, dan karena menguat dari ekspektasinya jobless claims yang menekan dollar AS.
 

• Silver naik 1.5 persen menuju level tertingginya dalam 31‐tahun karena penguatan investment buying, yang membawa rasio gold/silver
untuk melemah sebelumnya.
 

• "The combination of higher oil prices, weaker dollar and the resurrection of discussions of Greek sovereign risk problems has galvanized
the gold market. It's particularly impressive because we ran into selling above the market yesterday," ucap James Steel, kepala
commodity analyst pada HSBC.
 

• Spot gold <XAU=> naik 0.9 persen ke level $1467,81 per ons pada pukul 11:28 a.m. EDT (1528 GMT), dalam jarak level tertinggi yang
pernah dicatatkannya $1476,21 yang terjadi Senin lalu. U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCM1> naik $13.80 ke level
$1469,40 per ons.
 

• Silver <XAG=> melejit 1.6 persen ke level $41.28, yang mendekati level tertingginya dalam 31‐tahun $41.93 per ons.
 

• Untuk platinum group metals, platinum <XPT=> naik 0.4 persen ke level $1775,75, sementara itu palladium <XPD=> menguat 0.1 persen
ke level $761.72.

China growth sizzles, inflation bubbles

BEIJING | Thu Apr 14, 2011 10:47pm EDT
BEIJING (Reuters) - China's turbo-charged growth eased just a touch in the first quarter, while its inflation jumped to a 32-month high, putting pressure on the government to do more to rein in prices and keep the economy on an even keel.

China's gross domestic product increased by 9.7 percent in the first quarter from a year earlier, down from 9.8 percent in the final three months of 2010 but ahead of an expected 9.5 percent pace.
Consumer price inflation sped to 5.4 percent in the year to March, the fastest since July 2008 and topping market forecasts for a 5.2 percent increase.

Taken together, the data published by the National Bureau of Statistics on Friday showed that the world's second-largest economy was still sizzling, little hindered by the central bank's half-year tightening campaign that many investors had feared would undermine growth.

"The economic figures in the first quarter are strong, but still within market expectations. I don't think the economy faces risks of overheating, and the growth momentum will slow down in coming months," said Wang Jin, an analyst with Guotai Junan Securities in Shanghai.

"The central bank will stick with its tightening stance, and we expect more increases in reserve requirements and interest rates," he added.


The People's Bank of China has increased benchmark interest rates four times since last October and has required the country's big banks to lock up a record high of 20.0 percent of their deposits as reserves.
Inflation had long been expected to run higher in March because of a lower base of comparison. It is likely to register another jump in June and July for the same reason, with officials confident that it will wane in the second half of the year.

Accepting this relatively sanguine view, many economists had thought that the central bank was near the end of its tightening cycle. The median forecast of Reuters poll last week was for just one more interest rate increase over the rest of this year.

But with growth still cruising near double-digits, the scope for the government to continue tightening may be bigger than previously anticipated.

Signaling a potentially hawkish stance in the coming months, Premier Wen Jiabao said this week that the government would use all tools at its disposal to wrestle inflation under control.

"We will try every means to stabilize prices, the top priority of our economic controls this year and also our most pressing task," Wen said at a cabinet meeting.

Thursday, April 14, 2011

No sign of global economy stalling this year

LONDON | Thu Apr 14, 2011 10:25am EDT
LONDON (Reuters) - Surging inflation pressures and the natural disasters that ravaged Japan last month look unlikely to stall an ascendant global economy, a Reuters poll of around 350 economists showed on Thursday.

The survey of analysts from all over the world again showed the United States leading a rich-world recovery along with Canada, while respondents expect a jumble of strong and weak performances from the top European economies.

The world's third largest economy, Japan, will likely contract this quarter after the March 11 earthquake and tsunami that left nearly 28,000 dead or missing, also triggering a nuclear crisis that could last for months.

While economists are still digesting the ramifications of the disaster on global supply lines, many pointed to surging oil prices as the key risk for now.

"We've taken down our global growth forecasts over the last quarter very slightly, and that's on the back of higher oil prices," said Karen Ward, senior global economist at HSBC in London.

"The oil price impact is a net negative for the global economy, particularly for the United States. In the developed world, where wage growth is so weak, it already has dented U.S. consumer confidence and it will be an issue for consumer confidence elsewhere."

The poll showed global growth at 4.2 percent this year and 4.3 percent next year -- unchanged since the January poll.

That was just slightly less optimistic than the International Monetary Fund's forecast on Monday of 4.4 percent for this year. The IMF said oil prices and inflation posed new challenges to the progress of the world economy.

Just as finance ministers from the Group of 20 rich and emerging market nations meet in Washington, the latest Reuters survey showed rich-world economies will lag far behind India and China, which will see near double-digit rates of growth in 2011.

G20 finance ministers will be hoping to make progress on a plan to identify the countries that put the global economy at risk -- but that could be tricky with a fast-diverging array of economic policies and prospects.

Canada and the United States should lead the rich world recovery in 2011 with annual average growth rates of 3.0 and 2.9 percent, respectively. Even rising inflation pressure is unlikely to dent this view in the case of the U.S. economy.

"Inflation is going to be higher than most expect, but I do expect it to moderate some in 2012," said Hugh Johnson, chief investment officer of Hugh Johnson Advisors LLC in Albany, New York. "Does this mean there is a genuine threat to the recovery? No."

On Monday, Brent crude hit a 32-month high above $127 a barrel, pushed higher by unrest in oil producer Libya. While it has since fallen, the commodity and energy rallies since the start of the year have sent gauges much higher, especially in Europe and emerging countries.

REBUILDING JAPAN

The Japan poll of around 30 economists showed the economy flatlining in the first quarter and declining 0.6 percent between April and June.

While they see the economy rebounding in the third quarter once the reconstruction effort gets into full swing, the nuclear crisis and consequent energy shortages will depress the economy for the next few months.

"Not only exports, but private consumption will decline. And unstable power supply will probably prompt companies to postpone capital spending," said Junko Nishioka, chief economist at RBS Securities.

"Also a possible power shortage in the summer is seen weighing on consumer sentiment and pulling down spending, which could drag into the latter half of the year."

The Bank of Japan, which was already struggling to escape deflation before the disaster, will keep rates on hold until at least 2013.

The euro zone, which has already seen an interest rate hike this month in response to above-target inflation, will see mixed fortunes among its biggest economies.

While Germany could rival the growth rates expected of the North American economies with a 2.8 percent expansion this year, economists see the French economy growing 1.7 percent this year and Italy lagging behind with just 1.1 percent growth.

"Higher inflation and significant fiscal tightening will continue to constrain the recovery despite the resurgence in global manufacturing," said James Nixon at Societe Generale.

Overall, the 17-nation euro zone economy will expand around 1.7 percent this year, the poll showed.
Forecasters trimmed their 2011 UK growth forecasts for the third month running, as Britons toil under the strongest levels of inflation anywhere in the G7 and fierce austerity measures.

Headline News 14.04.11

US & GLOBAL
 

• Harga obligasi dan dolar AS naik pada hari Rabu di tengah harapan bahwa pengurangan defisit $4 trilyun Presiden Barack Obama akan
menopang kelayakan kredit Amerika Serikat dan status cadangan devisa dolar. Harga minyak rebound, pulih dari dua hari penurunan,
setelah data inventory bahan bakar AS (gasoline) menunjukkan penurunan mingguan terbesar sejak Oktober 1998.
 

• Obama menetapkan kerangka waktu paling lama 12 tahun untuk program pengurangan defisit hingga $4 trilyun setelah dikatakannya
bahwa terus meningkatnya utang akan beresiko bagi lapangan kerja, merugikan ekonomi dan memaksa Washington untuk meminjam
lebih banyak dari negara lain seperti Cina.
 

• Pergulatan petinggi di pemerintahan AS belakangan ini mengenai bagaimana cara untuk mengatasi kesulitan jangka panjang fiskal
Amerika Serikat, membuat para investor enggan untuk berkomitmen saham dan aset berisiko lainnya karena ketidakpastian atas
ketahanan pertumbuhan ekonomi dan keuntungan global.
 

• Yield obligasi pemerintah AS untuk tenor 10‐tahun turun ke level terendah selama seminggu meskipun lelangnya minim di luar dugaan,
sementara dollar membukukan keuntungan versus yen dan euro. Wall Street berakhir datar, sedikit lebih tinggi dari perdagangan Selasa
sebelumnya setelah berjuang di sepanjang sesi kemarin di tengah keraguan atas perolehan keuntungan perusahaan. Kenaikan awal
pada saham AS melempem, meski ada laporan pertumbuhan laba yang kuat dari JPMorgan Chase & Co, bank terbesar ke‐2 AS. Analis
mempertanyakan apakah hasil dari JPMorgan, bank besar pertama di bursa Wall Street yang merilis laporan keuangannya untuk kuartal
pertama, akan berkelanjutan. Hal tersebut menghambat rebound di bursa Wall Street.
 

• Indeks Dow Jones <. DJI> ditutup naik 0,06%, sedangkan Standard & Poor's 500 <SPX.> naik 0,02%. Indeks Nasdaq Composite Index
<IXIC.> naik 0,61%. Sementara indeks saham dunia, yang dihitung dalam indeks MSCI, naik 0,3%. Indeks FTSEurofirst 300, <FTEU3.>
untuk bursa saham terbaik Eropa ditutup naik 0,7%, setelah Selasa sebelumnya mengalami penurunan harian terbesar selama sebulan.
Saham perbankan Eropa naik, didorong oleh hasil JPMorgan. Sementara Indeks Nikkei <. N225> naik 0,9% di tengah tipisnya volume
perdagangan Rabu kemarin.
 

• Seperti saham, komoditas pun bergerak fluktuatif Rabu kemarin. Harga minyak mentah Brent <LCOc1> akhirnya naik lebih dari $1,50 ke
level $122,61 per barel setelah dua hari mengalami aksi sell‐off karena meningkatnya kekhawatiran bahwa tingginya harga akan
mengganggu demand. Harga minyak mentah AS <CLc1> ditutup naik di $ 107,38, menghapus penurunan di sore hari. Harga emas di
pasar spot <XAU=> ditutup naik sekitar $3 ke level $1456.74 per troy ounce.
 

• Dollar sedikit rebound terhadap yen setelah pemerintah Jepang menurunkan prospek ekonomi sebagai refleksi dari bencana gempa dan
tsunami besar bulan lalu. Ini merupakan pertama kalinya selama 6 bulan terakhir pemerintah Jepang melakukan hal tersebut. Pada hari
Selasa dolar mencatat penurunan harian terbesar dalam persentase selama empat bulan terakhir terhadap yen, sekitar 83.40‐an.
EUR/USD turun 0,3% ke level $ 1,4437, setelah sebelumnya sempat mencapai puncak selama 15‐bulan, di $ 1,4520.
 

• Namun secara keseluruhan sentimen terhadap dolar AS masih bearish karena selama ekspektasi bahwa The Fed AS akan mengalami
ketertinggalan dari bank‐bank sentral dunia lainnya dalam melakukan normalisasi kebijakan moneter – yakni dimulainya siklus kenaikan
suku bunga.


GOLD & COMMODITIES
 

• Emas naik di Eropa Rabu lalu, recovery setelah penurunan terbesar hariannya yang mendekati satu bulan karena dollar AS melemah
ditengah ekspektasi the Fed yang akan menjaga kebijakan moneter yang akomodatif saat ini.
 

• Metals consultancy GFMS mengeluarkan secara luas laporan antisipasi industri yang mengatakan gold's decade‐long price rally dapat
diatas level $1600 per ons sampai akhir tahun, karena hasrat investor terhadap emas menguat berikutnya.
 

• Perusahaan melihat harga emas rata‐rata dilevel $1455 per ons tahun ini dan berada dikisaran $1319‐1620 per ons, executive chairman
Philip Klapwijk mengatakan pada delegasi dalam Gold Survey 2011.
 

• Spot gold <XAU=> diperdagangkan pada level $1458,09 per ons pada pukul 1416 GMT, terhadap $1453,95 pada penutupan New York
Selasa lalu. U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> naik $5.60 per ons ke level $1459,20.
 

• Silver <XAG=> berada pada level $40.34 per ons dari level $40.04. Platinum <XPT=> diperdagangkan pada level $1781 per ons terhadap
level $1765.70, sementara itu palladium <XPD=> pada level $764.97 terhadap $761.40 level sebelumnya.


Obama says will "refuse" to renew tax cuts for rich



WASHINGTON | Wed Apr 13, 2011 1:59pm EDT
WASHINGTON (Reuters) - President Barack Obama said on Wednesday that tackling the U.S. budget deficit would require broad sacrifice and said that he would refuse to renew Bush-era tax breaks for wealthier Americans.
"We cannot afford $1 trillion worth of tax cuts for every millionaire and billionaire in our society. And I refuse to renew them again," Obama said in remarks prepared for delivery.

Wednesday, April 13, 2011

Headline News 13.04.11

US & GLOBAL 
• Harga minyak menderita penurunan terbesar selama 11 bulan untuk basis 2 harian, dibarengi dengan kejatuhan bursa saham pada hari Selasa
kemarin di tengah kembali munculnya kekhawatiran tentang prospek pemulihan ekonomi global serta adanya warning dari Goldman Sachs
bahwa harga minyak dunia (brent crude oil) akan mengalami tekanan dari penguatannya – ke level $105 dalam beberapa bulan ke depan dari
areal puncaknya di $127an Senin lalu. Harga minyak mentah yang diperdagangkan di New York turun lebih dari 3% dan sekaligus mengakumulasi
penurunannya sebesar 5,8% sejak Jumat lalu. Sementara lembaga energi dunia (IEA) mengatakan bahwa tingginya harga minyak/bahan bakar
energi justru akan menekan demand‐nya di pasar dunia.
 

• Indeks bursa saham dunia, yang diukur dalam indeks MSCI turun 1,3%, merupakan terbesarnya selama 4 minggu terakhir untuk basis harian.
Kekhawatiran atas prospek pemulihan ekonomi global kembali meningkat setelah menteri ekonomi Jepang memperingatkan bahwa kerusakan
yang disebabkan oleh gempa bumi dan tsunami besar bulan lalu bisa lebih buruk dari yang diduga. Pernyataan dari otoritas Jepang yang
mensejajarkan keparahan kebocoran radiasi di PLTN Fukushima dengan bencana nuklir terburuk dunia, di Chernobyl, juga menekan sentimen.
 

• Pasar semakin menjadi prihatin dengan situasi di Jepang sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia, dan oleh karenanya harga
minyak dan harga komoditas yang tinggi pada akhirnya akan memperparah tekanan ekonomi. Saham AS berakhir lebih rendah setelah angka
pendapatan mengecewakan dari produsen aluminium Alcoa Inc, komponen Dow yang menandai awal musim pendapatan triwulanan dengan rilis
setelah pasar tutup pada hari Senin. Saham Energi memimpin penurunan pada indeks S&P500. Sub‐Indeks energi S&P <. GSPE>, top performer
pada kuartal pertama, turun 3% Selasa kemarin. Sub‐indeks tersebut telah memimpin penguatan di bursa Wall Street sedemikian lama mengikuti
kenaikan harga komoditas dan optimisme pertumbuhan ekonomi global kala itu. Jadi saat harga komoditas mulai berguling, maka bursa saham
pun mengikuti.
 

• Indeks FTSEurofirst 300 <. FTEU3> saham top Eropa tergelincir 1,7%, yang juga dipimpin oleh saham‐saham energy dan pertambangan. Bursa
saham di negara‐negara berkembang, yang mengandalkan eksportir sumber daya alam, jatuh 1,9%.
 

• Brent <LC0c1> minyak mentah jatuh $3,06 untuk menetap di $120,92 per barel. Kontrak Mei Brent berakhir pada hari Kamis. Harga minyak
mentah di pasar AS tipe kontrak bulan Mei <CLc1> jatuh hingga areal $106/barel. Kekhawatiran terhadap rusaknya demand di sektor ini
menyebabkan tekanan di pasar. Pasar pun meragukan level kenaikannya belakangan ini tidak akan lestari. Harga emas di pasar spot <XAU=>
turun dari rekor tinggi Senin sementara perak <XAG=> merosot dari level tertinggi selama 31 tahun yang dicapai sehari sebelumnya. Reuters‐
Jefferies CRB index <.CRB>, patokan komoditas global, jatuh sekitar 2% dalam penurunan tertajamnya selama 1 bulan untuk basis harian akibat
harga bahan baku mengalami tekanan dari sell off‐nya minyak.
 

• Arus safe‐haven meningkat dan memicu kenaikan harga obligasi di pasar Treasury AS serta menguatkan nilai tukar yen dan Swiss franc – karena
para investor yang mulai gelisah melakukan aksi jual aset‐aset beresiko mereka yang didanai dengan meminjam mata uang ber‐yield rendah.
Carry Trade ini nampaknya demikian marak, terutama yen terhadap mata uang dunia – sehingga membuatnya berfluktuasi cukup besar kemarin.
Yen bergerak ke level terkuatnya selama 1,5 minggu terhadap dolar AS di 83.47, meskipun geraknya ke depan kemungkinan akan diatasi oleh
sikap BoJ yang menjaga kebijakan moneter yang longgar untuk membantu pemulihan ekonomi. Dolar melemah 1,2% ke level terendahnya
selama lebih dari 3 minggu terhadap Swiss franc <CHF=EBS> di 0,8943.
 

• Sementara euro masih perkasa dengan melanjutkan kenaikan ke level tertinggi 15 bulan terhadap dolar di atas 1,45, didorong oleh laporan aksi
beli dari China dan berita bahwa Cina, ekonomi terbesar kedua dunia, bersedia untuk membeli lebih banyak obligasi Spanyol.
 

• Komentar lunak dari pejabat penting Federal Reserve AS menekan sentimen dolar. Adalah Janet Yellen dan William Dudley yang kemarin
mengatakan bahwa bank sentral AS harus tetap berpegang pada kebijakan moneter yang super‐longgar karena inflasi bukan merupakan
ancaman dan tingkat pengangguran masih terlalu tinggi. Indeks dolar AS <. DXY>, yang merupakan indeks dollar terhadap sejumlah mata uang
utama dunia, turun hingga level terendah sejak Desember 2009, di 74,704.



GOLD & COMMODITIES 
• Emas anjlok 1 persen Selasa lalu, yang mencatatkan penurunan terbesarnya dalam satu bulan, karena penurunan tajam pada minyak mentah
mengikuti perkiraan bearish dari Goldman Sachs yang menekan metal kedepannya dari level tertingginya.
 

• Bullion/emas juga melemah setelah data menunjukkan defisit perdagangan AS merosot bulan Februari, suatu pertanda dari melambatnya
permintaan global. Emas telah menguntungkan dalam beberapa bulan karena rally pada oil dan gandum yang memicu kekhawatiran inflasi.
 

• Silver melemah dari level tertingginya Senin lalu dalam level tertingginya 31‐tahun.
 

• "That (Goldman report) has given enough reasons for investors to trim their positions, in particular for those markets that have gone parabolic.
That's enough to cool enthusiasm for commodities at the moment," ungkap Mark Luschini, kepala investment strategist pada broker‐dealer
Janney Montgomery Scott dengan $53 milyar assets under management.
 

• Tetapi dia menambahkan: "I don't think this is the end of the commodity bull market."
 

• Spot gold <XAU=> turun 1 persen ke level $1451,40 per ons hingga pukul 11:46 a.m. EDT (1546 GMT), yang pada awalnya telah sempat mencapai
level terendahnya dalam satu minggu level $1443,49. Senin lalu, emas mencapai level tertingginya $1476,21.
 

• U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCM1> merosot 1.1 persen ke level $1452,60 per ons, dengan volume perdagangan rebound
setelah melambat dari aktivitas normal pada beberapa hari sebelumnya.
 

• Silver <XAG=> membalikkan kenaikan pada awalnya untuk diperdagangkan turun 0.5 persen ke level $39.97 per ons, dan sekitar 5 persen
dibawah level tertingginya dalam 31‐tahun Senin lalu level $41.93.
 

• Di antara platinum group metals, platinum <XPT=> melemah 0.3 persen ke level $1774,49 per ons, sementara itu palladium <XPD=> turun 1.7
persen ke level $768.

Tuesday, April 12, 2011

Japan raises nuclear crisis to same level as Chernobyl


TOKYO | Tue Apr 12, 2011 7:51am EDT
TOKYO (Reuters) - Japan put its nuclear calamity on a par with the world's worst nuclear disaster, Chernobyl, on Tuesday after new data showed that more radiation leaked from its earthquake-crippled power plant in the early days of the crisis than first thought.

Japanese officials said it had taken time to measure radiation from the plant after it was smashed by March 11's massive quake and tsunami, and the upgrade in its severity rating to the highest level on a globally recognised scale did not mean the situation had suddenly become more critical.

"The situation at the Fukushima Daiichi plant is slowly stabilizing, step by step, and the emission of radioactive substances is on a declining trend," Prime Minister Naoto Kan told a press briefing on Tuesday.
Kan said he wanted to move from emergency response to long-term rebuilding.

"A month has passed. We need to take steps toward restoration and reconstruction," he said.
He also called on opposition parties, whose help he needs to pass bills in a divided parliament, to take part in drafting reconstruction plans from an early stage.

The operator of the stricken facility appears to be no closer to restoring cooling systems at the reactors, critical to lowering the temperature of overheated nuclear fuel rods. Late on Tuesday, Japan's science ministry said small amounts of strontium, one of the most harmful and long-lasting radioactive elements, had been found in soil near Fukushima Daiichi.

Hidehiko Nishiyama, a deputy director-general of the Nuclear and Industrial Safety Agency (NISA), said the decision to raise the severity of the incident from level 5 to 7 -- the same as the Chernobyl disaster in Ukraine in 1986 -- was based on cumulative quantities of radiation released.

No radiation-linked deaths have been reported since the earthquake struck, and only 21 plant workers have been affected by minor radiation sickness, according to Chief Cabinet Secretary Yukio Edano.

"Although the level has been raised to 7 today, it doesn't mean the situation today is worse than it was yesterday, it means the event as a whole is worse than previously thought," said nuclear expert John Price, a former member of the Safety Policy Unit at the UK's National Nuclear Corporation.


"NOWHERE NEAR CHERNOBYL"


A level 7 incident means a major release of radiation with a widespread health and environmental impact, while a 5 level is a limited release of radioactive material, with several deaths, according to the International Atomic Energy Agency (IAEA).
Several experts said the new rating exaggerated the severity of the crisis.

"It's nowhere near that level. Chernobyl was terrible -- it blew and they had no containment, and they were stuck," said nuclear industry specialist Murray Jennex, an associate professor at San Diego State University in California.
"Their containment has been holding, the only thing that hasn't is the fuel pool that caught fire."

The blast at Chernobyl blew the roof off a reactor and sent large amounts of radiation wafting across Europe. The accident contaminated vast areas and led to the evacuation of well over 100,000 people.

Nevertheless, the increase in the severity level heightens the risk of diplomatic tension with Japan's neighbors over radioactive fallout. Chinese Premier Wen Jiabao told Kan on Tuesday he was "concerned" about the release of radiation into the ocean.

"If Japan mishandles this issue, especially if, to solve its own problems, it affects the safety of neighboring countries, then that will have a bad effect on relations at the government and public levels," said Sun Cheng, a professor specializing in Japanese politics and Sino-Japanese relations at the China University of Political Science and Law in Beijing.

Chinese worries have not reached that point yet, he said.
China has so far been sympathetic rather than angry, though it and South Korea have criticized the plant operator's decision to pump radioactive water into the sea, a process it has now stopped.

HUGE ECONOMIC DAMAGE

The March earthquake and tsunami killed up to 28,000 people and the estimated financial cost stands at $300 billion, making it the world's most expensive disaster.

Japan's economics minister warned the damage was likely to be worse than first thought as power shortages would cut factory output and disrupt supply chains.

The Bank of Japan governor said the economy was in a "severe state," while central bankers were uncertain when efforts to rebuild the northeast would boost growth, according to minutes from a meeting held three days after the earthquake struck.

NISA said the amount of radiation released into the atmosphere from the plant, 240 km (150 miles) north of Tokyo, was around 10 percent that of Chernobyl.

"Radiation released into the atmosphere peaked from March 15 to 16. Radiation is still being released, but the amount now has fallen considerably," said NISA's Nishiyama.

Lam Ching-wan, a chemical pathologist at the University of Hong Kong and member of the American Board of Toxicology, said this level of radiation was harmful.

"It means there is damage to soil, ecosystem, water, food and people. People receive this radiation. You can't escape it by just shutting the window," Lam said.

Headline News 12.04.11

US & GLOBAL 
• Harga minyak mentah turun tajam pada hari Senin di tengah kekhawatiran tingginya harga bisa mengikis permintaan dan mengancam pemulihan
ekonomi, sementara aksi jual saham energi dan kegelisahan menjelang musim rilis laporan pendapatan perusahaan kuartal pertama 2011
menekan bursa saham AS.
 

• Tekanan harga minyak mentah juga dipicu oleh Uni‐Afrika mengatakan pemimpin Libya Muammar Khadafi menyambut upaya untuk mengakhiri
perang sipil, termasuk gencatan senjata dalam waktu dekat, meskipun pemberontak mengatakan penyelesaian apapun akan menuntutnya
mundur. Para analis masih skeptis terhadap kondisi di Libya, meskipun kesepakatan damai dan upaya untuk mengakhiri perang sipil sudah di
depan mata. Menurut mereka masih perlu waktu untuk mengembalikan ekspor (minyak) Libya ke tingkat sebelum konflik. Sementara Goldman
Sachs tetap mengatakan kepada nasabahnya bahwa ada kemungkinan kuat harga komoditas akan berbalik, dan merekomendasikan untuk
mengambil keuntungan. Faktor lain, seperti pemilu di Nigeria, sebagai salah satu produsen minyak terbesar dunia, juga menurut Goldman akan
membatasi gerak naik harga‐harga minyak saat ini.
 

• Harga minyak mentah Brent untuk Mei <LCOc1> berakhir $2,67 lebih rendah ke $123,98 per barel, setelah mencapai puncak 32‐bulan $127,02.
Harga minyak mentah AS <CLc1> jatuh ke $ 108,86 dari puncak tertinggi sejak September 2008, di $113,46 yang dicapai Jumat lalu.
 

• Bursa saham Wall Street mayoritas mengalami tekanan, setelah turunnya harga minyak membebani saham energi dan mulai maraknya aksi jual
di tengah kekhawatiran terhadap laporan pendapatan perusahaan untuk kuartal pertama tahun ini. Tapi Alcoa Inc, komponen Dow pertama yang
merilis hasil, melaporkan laba kuartal pertama yang besar Senin kemarin, setelah mengalami kerugian tahun lalu. Naiknya harga alumunium,
produk utama Alcoa, akibat permintaan untuk logam, menjadi pemicu perolehan keuntungannya di periode tersebut. Ada proyeksi dari Thomson
Reuters yang mengatakan bahwa laba perusahaan pada kuartal pertama tahun 2011 di indeks S&P500 akan meningkat 11,4% dari tahun lalu.
 

• Indeks saham industri Dow Jones <DJI.> naik tipis 0,01 persen, tapi 500 benchmark Standard & Poor's Index turun <SPX.> 0,28%. Indeks Nasdaq
Composite Index <. IXIC> juga turun 0,32 persen. Ada keraguan di pasar apakah perusahaan dapat memenuhi harapan yang cukup optimis. Ada
potensi kekecewaan, tetapi jika data‐data laporan pendapatan perusahaan tersebut dirilis sesuai atau di atas estimasi pasar, maka bukan tidak
mungkin bisa mengalami rally lanjutan.
 

• Sementara indeks saham di bursa dunia yang dihitung dalam indeks MSCI juga mengalami penurunan kemarin, sebesar 0,2%. Sementara untuk
bursa saham di Negara‐negara berkembang turun 0,6%. Saham Eropa jatuh, ditandai dengan turunnya indeks FTSEurofirst 300 sebesar 0,2%.
 

• Dana Moneter Internasional mengatakan pada hari Senin bahwa tidak percaya bahwa kenaikan harga komoditas akan menggagalkan pemulihan
ekonomi global tetapi memang memperingatkan bahwa inflasi akan tetap tinggi untuk sementara waktu.
 

• Dolar AS menguat terhadap euro setelah Kongres AS pada hari Jumat mencapai kesepakatan menit‐menit terakhir anggaran federal yang
menghindari government shutdown. Namun, fokus pada perdebatan batas maksimum utang AS dapat membatasi keuntungan. Rebound dolar
kemarin juga sebagai reaksi dari turun tajamnya terhadap euro pada hari Jumat melanjutkan downtrend‐nya dari empat bulan terakhir. Untuk
bulan April, dolar masih turun sekitar 2,0 persen. Pada hari Senin EUR/USD terkoreksi 0,4% dari level tertingginya selama 15‐bulan, di sekitar $
1,4486 pada hari Jumat.
 

• Sentimen negatif dollar berpotensi terus berkembang selama The Fed masih mempertahankan suku bunga yang rendah dan sementara bank
sentral di luar negeri, yaitu Bank Sentral Eropa dan Bank of England, cenderung akan menaikkan suku bunganya. Potensi kelanjutan kenaikan
suku bunga ECB di bulan Juli masih akan mendukung kenaikan EUR/USD dan juga mata uang euro terhadap mata uang utama dunia lainnya.
 

• Yen cenderung rebound dari pelemahannya yang mencapai level di 11‐bulan sebelumnya terhadap euro dan di 2,5 tahun terhadap dolar
Australia setelah gempa bumi kembali mengguncang Jepang Senin kemarin yang menyebabkan beberapa investor melepas aset‐aset beresiko
mereka yang didanai dari pinjaman murah (carry trade) mata uang Jepang.



GOLD & COMMODITIES 
• Emas naik ke level tertingginya Senin lalu karena ekspektasi the Fed akan menekan bank sentral lainnya dalam memperketat kebijakan moneter
yang menekan dollar AS, meskipun kemudian mereda dengan harga minyak dari tanda‐tanda kemungkinan perjanjian damai di Libya.
 

• Spot gold <XAU=> naik ke level tertingginya $1476,21 per ons dan diperdagangkan pada level $1467,40 per ons pada pukul 1323 GMT, terhadap
$1472,70 pada perdagangan terakhir New York Jumat lalu. Silver <XAG=> mencapai level tertingginya sejak awal 1980 pada level $41.93 dan
kemudian terakhir diperdagangkan $41.13 per ons terhadap level $40.85.
 

• Investor money telah mengarah pada komoditas pada umumnya dan logam mulia khususnya bulan ini karena investor khawatir mengenai
kenaikan inflasi yang potensial dalam perkembangan pasar dan perubahan pada kebijakan moneter di AS.
 

• "Gold investor interest is likely driven by ongoing concerns about inflationary pressures, both in emerging and developed economies, sovereign
debt levels and economic uncertainty, notably in the light of current high oil prices," kata analis BNP Paribas Anne‐Laure Tremblay.
 

• "Global monetary policy ‐‐ not only the U.S. ‐‐ is one of the key themes for gold in 2011," tambahnya.
 

• U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> melemah $5.60 per ons ke level $1468,50. Diantara harga logam mulai lainnya, platinum
<XPT=> diperdagangkan pada level $1798,24 per ons terhadap level $1803,75, sementara itu palladium <XPD=> ke level $792.98 terhadap level
$790.75.