title cover

title cover

Monday, May 9, 2011

Headline News 09.05.11


US & GLOBAL
 

• Aksi sell‐off di bursa komoditas minggu lalu seketika membawa ‘situasi dingin’ di pasar financial yang membuat investor dirundung kehatihatian.
Musim pengetatan moneter perbankan di Eropa dan sejumlah negara‐negara berkembang, terutama Cina, mengundang kembali kekhawatiran investor terhadap prospek pemulihan ekonomi. Harga komoditas silver dan minyak mentah anjlok secara dramatis minggu lalu, dan bahkan penurunan di hari Kamis minggu lalu merupakan rekor penurunan terbesar untuk kapasitas harian. Harga minyak mentah dunia merosot hingga 17% di minggu lalu, yang juga merupakan rekor tekanan mingguan terbesar, sedangkan indeks seluruh komoditas (CRB) Jefferies Reuters, patokan komoditas global, turun lebih dari 8%, sebuah penurunan mingguan terbesarnya sejak Juli 2008. Meskipun tekanan ini terlihat lebih didorong oleh aksi spekulatif unwinding‐position (likuidasi dari maraknya aksi beli sebelumnya) ketimbang perubahan sentimen,
namun itu ternyata cukup untuk mendorong investor untuk melakukan scale‐back (mengurangi) kepemilikan mereka terhadap aset‐aset beresiko.
 

• Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir rilis data ekonomi mayoritas dirilis tidak sesuai harapan positif pasar, ditandai dengan rilis survei global yang menunjukkan pertumbuhan manufaktur di Amerika Serikat dan China yang melambat pada bulan April. Pasar komoditas pun merosot secara bersamaan akibat reaksi spekulatif yang muncul karena sebelumnya juga terjadi penguatan harga yang signifikan. Analis menilai
bahwa untuk riil‐investor sebenarnya rilis data ekonomi yang kurang optimis tidak cukup signifikan mempengaruhi perubahan alokasi aset mereka. Dan nampaknya pasar akan kembali dalam pandangan yang netral jika kondisi tidak terus diperburuk (oleh data ekonomi maupun isu sesaat).
 

• Di perdagangan ke depan pasar akan berpotensi dipengaruhi oleh rilis data dan peristiwa ekonomi di Cina, yang memiliki serangkaian pengetatan moneter untuk meredam inflasi sehingga mengangkat kegelisahan terhadap prospek pertumbuhan negara dengan ekonomi terbesar ke‐2 dunia untuk saat ini. Di awali dengan forum pertemuan dialog ekonomi Cina‐AS yang dimulai hari Senin ini, dan kemudian akan diikuti dengan rilis trade balance, inflasi, industrial production dan retail sales Cina di minggu ini.
 

• Sementara itu, kita bisa melihat korelasi tinggi antara ekuitas dan komoditas, karena efek permintaan yang datang dari negara‐negara berkembang, dan ini memberikan kontribusi tekanan yang juga terjadi di bursa saham dunia. Indeks saham MSCI untuk negara‐negara berkembang mengalami tekanan yang menelan hampir semua perolehan kenaikan mereka sejak Januari, sementara bursa saham negara negara maju merosot lebih dari 3% dari areal puncak tertinggi mereka selama 3 tahun yang dicapai minggu lalu. Hal ini nampaknya akan memberikan gambaran yang cukup rumit pada kinerja bursa saham di perdagangan ke depan – ada perkiraan bahwa akan terjadi gerak sideways (flat) dalam waktu yang panjang sebelum kenaikan berlanjut kembali. Sementara tekanan jual kemungkinan tidak akan berlanjut lebih tajam, karena tidak banyak peluang yang menjanjikan pada aset‐aset lain.
 

• Cina telah menaikkan suku bunga 4 kali dan persyaratan cadangan modal bank 7 kali sejak Oktober, sebagai upaya melawan laju inflasi tinggi.
Pemerintah Cina bahkan ‘rela’ menguatkan mata uang yuan <CNY=> terhadap dolar, yang kemudian mengantarnya ke rekor penguatan berkelanjutan. Banyak estimasi yang mengatakan bahwa mata uang yuan Cina akan terus menguat secara stabil tahun ini. Bank‐bank sentral di Korea, Chili dan Polandia diperkirakan akan menaikkan suku bunga di pertemuan kebijakan mereka pada minggu ini, mengikuti jejak Rusia dan
India yang menaikkannya minggu lalu.
 

• EURUSD tenggelam 1,2% hingga $1,435 pada hari Jumat setelah majalah Jerman Der Spiegel melaporkan Yunani telah dianggap keluar dari zona euro, yang bisa memperburuk kondisi pasar, terutama untuk sektor perbankan, dan terutama jika Uni Eropa menyatakan Yunani mengalami default terhadap utang‐utangnya. Hal inilah yang kemungkinan besar akan terjadi, jika memang Yunani menginginkan untuk meninggalkan Zona Eropa.
 

• Sementara bursa saham AS sempat melonjak lebih dari 1% di awal sesi Jumat setelah Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 244.000 untuk non‐farm payrolls April, tertinggi selama 11 bulan dan jauh di atas estimasi pasar (186.000). Namun meningkatnya kembali krisis utang Eropa (isu Yunani) menghambat kenaikan, meskipun 3 indeks utama bursa saham AS masih mampu ditutup naik. Indeks saham MSCI untuk negara‐negara dunia ditutup flat Jumat tersebut. Indeks bursa saham Eropa FTSEurofirst 300 <.FTEU3> bahkan ditutup naik 1,2%.
 

GOLD & COMMODITIES
 

• Silver melonjak 4 persen Jumat lalu, menekan penurunan dalam lima harinya berturut‐turut yang memangkas harga hampir sepertiganya, sementara itu emas naik setelah terdorong oleh data jobs AS yang memicu meluasnya penguatan yang sempat menekan komoditas.
 

• Meskipun terjadi rally Jumat lalu, silver menghadapi minggu terburuknya sejak the Hunt Brothers collapse tahun 1980 setelah anjlok 25 persen minggu ini karena tingginya futures margin requirements yang mendorong spekulator untuk melepas bullish positions.
 

• Spot silver <XAG=> pada awalnya diperdagangkan melemah ke level $33.16, level terendahnya sejak 25 Feb., ditekan oleh aksi jual setelah merosot 12 persen Kamis lalu. Telah naik 4.5 persen ke level $36.22 pada pukul 11:23 a.m. EDT (1523 GMT).
 

• Spot gold <XAU=> naik 1.6 persen ke level $1494,97 per ons, masih jauh dibawah level tertingginya yang pernah terjadi $1575,79 yang tercatat 2 Mei lalu.
 

• COMEX June gold futures <GCM1>, yang telah mencapai level terendahnya Kamis lalu, naik $13.90 ke level $1495,30.
 

• India, pembeli terbesar bullion/emas didunia, membawa penurunan emas sebelumnya untuk naik pada aksi buy dari perayaan Akshaya Tritiya, salah satu major gold‐buying festivals, dan karena musim menikah di India secara bersamaan.
 

• Precious metals menguat karena dollar AS anjlok terhadap euro setelah laporan data jobs AS.

Friday, May 6, 2011

Headline News 06.05.11

US & GLOBAL 
• Minyak mentah AS anjlok dan berakhir di bawah $100/barel dipengaruhi oleh rilis pesimis data weekly jobless claims yang naik ke level tertinggi 8 bulan dan melambatnya produktifitas di kuartal pertama – meningkatkan keraguan terhadap kekuatan pemulihan ekonomi global yang kemudian turut menyeret turun saham serta meningkatkan permintaan aset safe‐haven.
 

• Dengan demikian harga minyak telah mengalami rekor penurunan harian terbesar selama 2 hari berturut‐turut. Sementara minyak mentah Brent kemarin baru mencetak rekor penurunan harian terbesarnya. EURUSD tergelincir signifikan hingga 2%, yang merupakan penurunan terbesar EURUSD sejak Agustus lalu, setelah ECB memberikan sinyalemen akan menahan diri dari menaikkan suku bunga bulan depan. Di bursa Wall Street, indeks saham Dow Jones dan S&P500 turun sekitar 1% dipicu merosotnya saham energi merosot dengan harga minyak.
 

• Tekanan jual di bursa komoditas berlanjut selama 4 sesi berturut‐turut dipicu oleh rasa khawatir para investor terhadap laju pemulihan ekonomi global dan kekhawatiran pengetatan moneter China lebih lanjut, konsumen terbesar bahan baku dunia. Harga minyak mentah AS <CLc1> tertekan hingga lebih dari 8% ke $99,84/barel, kemudian berlanjut turun hingga $98,25/barel pasca settlement. Harga minyak mentah Brent <LCOc1> juga merosot lebih dari 8% ke level $110,80/barel.
 

• Indeks komoditas global Reuters‐Jefferies CRB <.CRB> turun 4,9% Kamis kemarin, mengakumulasi tekanan minggu ini hingga sebesar 8%. Silver <XAG=> mengalami penurunan minggu terbesar sejak akhir 1980‐an setelah CME Group, dalam sebuah langkah untuk meredam spekulasi, menaikkan persyaratan margin untuk 5.000 ons perak di kontrak berjangka silver di pasar COMEX. Perak telah merosot lebih dari 20% minggu ini, akibat dominasi aksi profit‐taking investor dari kenaikannya baru‐baru ini ke level tertinggi 31 tahun di areal $50/ounce. Kamis kemarin, silver mengalami penurunan 10% ke level $35,34/ounce, tekanan harian terbesar sejak Oktober 2008.
 

• Siklus bullish jangka panjang minyak masih bertahan, meskipun koreksi saat ini dapat memiliki rentang waktu beberapa bulan dipengaruhi oleh pandangan pesimis pada perekonomian, terutama sektor tenaga kerja menjelang rilis non‐farm payroll AS nanti malam.
 

• Putusan ECB untuk mempertahankan suku bunganya di pertemuan Kamis kemarin mampu menahan bursa saham Eropa dari tekanan lebih besar dan akhirnya hanya ditutup sedikit lebih rendah dipengaruhi kekhawatiran global dan rilis pesimis di luar dugaan data industrial orders Maret Jerman. Indeks FTSEurofirst 300 <.FTEU3> ditutup turun 0,29% dibandingkan kejatuhan besar Rabu sebelumnya,
hingga 1,4%. Indeks bursa saham dunia MSCI merosot 1,3% sementara indeks saham negara‐negara berkembang MSCI turun 1,0%.
Sebelum penurunan minggu ini, saham dunia telah mengalami kenaikan lebih dari 8,0% tahun ini karena berkembangnya kepercayaan investor terhadap pendapatan perusahaan yang kuat dan pertumbuhan yang kuat di pasar negara berkembang.
 

• Aset‐aset safe‐haven kembali diburu Kamis kemarin, mendorong kenaikan harga obligasi 10‐tahun di pasar Treasury AS naik 17/32, sementara yield‐nya turun menjadi 3,16%. Mata uang yen Jepang menguat atas dolar AS sekitar 0,5% ke level 80,20an pagi ini.
 

• EURUSD terkoreksi signifikan sekitar 2%, hingga $1,4525, setelah Presiden ECB Jean‐Claude Trichet menyebutkan risiko kenaikan harga namun tidak menggunakan kalimat "strong vigilance" untuk inflasi, yang kemudian diasumsikan pasar bahwa ECB juga tidak akan melakukan kenaikan suku bunga di pertemuannya Juni mendatang.
 

GOLD & COMMODITIES 
• Silver merosot 7 persen Kamis lalu, menghadapi penurunan terbesar mingguannya sejak tahun 1983 dan menekan gold anjlok 2 persen, karena panic selling berakselerasi diantara sektor komoditas.
 

• Silver saat ini telah anjlok lebih dari 20 persen, kriteria konvensional untuk suatu bear market, sejak mencapai level puncaknya yang mendekati $50 per ons Kamis lalu. Silver melemah tajam dalam lima harinya yang kelihatan memicu pada penurunan tajam pada crude oil dan komoditas lainnya. The Reuters/Jefferies CRB index <.CRB> mengalami penurunan mingguan terbesarnya sejak akhir 2008.
 

• Spot silver <XAG=> melemah hingga 8 persen ke level terendahnya dalam enam minggu level $35.82 per ons, turun sekitar 25 persen dalam minggu ini.
 

• Telah sempat melemah ke level terendahnya $36.26 by 12:25 p.m. EDT (1625 GMT).
 

• Investor liquidation mendorong gold untuk melemah sekitar 2 persen ke level $1478,70 per ons, level terendahnya sejak April 18.
 

• Spot gold <XAU=> turun 1.6 persen ke level $1491,91 per ons. COMEX June gold futures <GCM1> terakhir diperdagangkan melemah $23.60 ke level $1491,70.
 

• Penurunan silver membawa gold/silver ratio, yang menilai berapa banyak silver per ons untuk dapat membeli gold, ke level tertingginya dalam delapan minggu diatas 40 dari hanya dibawah 32 Kamis lalu.

Thursday, May 5, 2011

Headline News 05.05.11

US & GLOBAL 
• Harga minyak mentah dan komoditas logam turun tajam pada Rabu kemarin, yang kemudian juga turut menekan bursa saham global. Rilis pesimis data ekonomi AS dan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi Cina menyebabkan investor ‘mengendurkan’ kepemilikan mereka pada aset‐aset beresiko. Indeks dolar AS mencapai level terendah barunya selama 3 tahun dan bursa saham Wall Street merosot hingga 1,0% dipengaruhi oleh rilis pesimis mayoritas data ekonomi AS untuk periode April – termasuk sektor jasa dan data tenaga kerja sektor swasta.
 

• Euro mencapai puncak tertinggi 17 bulan terhadap dolar setelah investor menafsirkan data ekonomi sebagai tanda terbaru bahwa The Fed AS akan mempertahankan stimulus moneter saat ini, sementara kebijakan moneter dan suku bunga zona euro sudah mulai dinaikkan. Tanda‐tanda kelemahan dalam pemulihan ekonomi AS tersebut semakin kuat Rabu kemarin. Kekhawatiran tentang kenaikan BBM dan harga komoditas terindikasi melalui rilis data sektor jasa AS (ISM), yang mengalami perlambatan pertumbuhan terbesar sejak Agustus 2010. Di sektor tenaga kerja, data ADP Employer Service menunjukkan penyerapan tenaga kerja AS April hanya sebesar 179.000, di bawah ekspektasi ekonom yang memperkirakan sebesar 198.000. Hal ini tampaknya akan menghadang langkah pemulihan ekonomi jika laju pemulihan pekerjaan mengalami perlambatan. Dan juga, hal tersebut semakin memperkuat prospek bahwa suku bunga The Fed AS belum akan dinaikkan dalam waktu dekat. Kekecewaan pun meningkat di kalangan ekonom menjelang laporan pasar tenaga kerja utama April AS (non‐farm payroll) pada hari Jumat yang juga diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan yang melambat. Sebuah jajak pendapat Reuters memperkirakan non‐farm payrolls April AS akan dirilis 186.000 dan private payrolls‐nya di perkirakan sebesar 200.000. Jika pada rilisnya data tersebut menunjukkan angka di atas 200.000, maka itu akan memperkuat gagasan bahwa langkah pemulihan ekonomi terus berkembang.
 

• Kekhawatiran tentang pemulihan ekonomi global meningkat saat investor kembali mengantisipasi langkah‐langkah pengetatan moneter di Cina, Negara konsumen terbesar di dunia komoditas. Di Hanoi, Cina Wakil Menteri Keuangan Li Yong mengatakan bahwa pemerintah akan terus menggunakan langkah‐langkah seperti kenaikan suku bunga dan rasio modal perbankan untuk membatasi inflasi. Minat terhadap aset‐set beresiko juga mulai surut kembali karena kekhawatiran kelanjutan pengetatan moneter Cina – karena belum ada gambaran sampai mana dan sampai kapan Cina akan menaikkan suku bunga dan rasio modal perbankan.
 

• Harga minyak mentah di bursa berjangka AS <CLc1> turun hingga $ 108,81/barel usai penutupan AS, terbebani oleh keprihatinan atas Cina dan lonjakan di atas perkiraan pada persediaan minyak mentah AS. Namun, harganya masih berada di kisaran puncaknya selama 31‐bulan, sehingga masih belum meredam kekhawatiran inflasi. Harga Silver berlanjut turun dalam 3 hari berturut‐turut, Rabu kemarin tercatat terkoreksi lebih dari 4,0%. Ini juga turut menyeret harga emas dari rekornya, setelah Wall Street Journal melaporkan bahwa miliarder George Soros juga telah menjual perak dan emas sejak akhir bulan lalu.
 

• Indeks dolar AS, terhadap sejumlah mata uang utama dunia, tertekan ke level terendah barunya selama 3 tahun setelah rilis data ekonomi AS, meskipun kemudian ditutup sedikit bangkit dari level terendahnya tersebut. EURUSD naik hingga $1,4939, level tertinggi 17‐bulan, sebelum kemudian diperdagangkan di areal 1.4820‐1.4830an setelah penutupan pasar AS.
 

• Di Wall Street, kekecewaan dengan data ekonomi meredam isu positif merger dan akuisisi korporasi, yang kemudian memperbesar kehati‐hatian investor menjelang data nonfarm payrolls hari Jumat. Saham‐saham energi dan komoditas menekan bursa. Sub indeks saham energi S&P <GSPE.> yang naik 34% sejak September, terkoreksi 1,5% Rabu kemarin. Sedangkan indeks saham materialnya <GSPM.> turun 1,7%. Indeks saham dunia yang diukur dalam indeks MSCI terkoreksi 1,0% dari level tertinggi selama hampir 3 tahun minggu lalu. Di Eropa, indeks FTSEurofirst 300 <FTEU3.> ditutup turun 1,41% karena penurunan saham‐saham minyak dan tambang. Sementara indeks saham di negara‐negara berkembang <. MSCIEF> terkoreksi 1,2%.
Sebelum penurunan minggu ini, saham global telah meningkat lebih dari 8,0% sepanjang 2011 ini didorong oleh meningkatnya keyakinan investor di tengah semakin kuatnya pendapatan perusahaan, kuatnya pertumbuhan di pasar negara berkembang dan besarnya likuiditas – yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi global dalam tingkat yang wajar.
 

• Turunnya minat terhadap aset‐aset beresiko Rabu kemarin, berimbas pada naiknya harga pada aset safe‐haven. Harga obligasi Treasury AS untuk jangka 10 tahun naik 8/32, menekan yield‐nya 3,2215%. Yield obligasi Portugis juga turun setelah pemerintahnya menyetujui program bail‐out 3 tahun Uni Eropa dan IMF senilai 78‐miliar euro ($116 milyar) pada hari Selasa. Ini menjadikannya sebagai negara ke‐3 di Zona Eropa, setelah Irlandia dan Yunani, yang menerima bantuan keuangan pada tahun 2011 ini.
 

GOLD & COMMODITIES 
• Silver melemah tajam pada tiga harinya berturut‐turut Rabu lalu, menggerek emas turun, mengikuti aksi jual setelah bursa menaikkan margin requirements untuk ketiga kalinya dalam seminggu.
 

• Bullion merosot dalam rangkaian tiga harinya berturut‐turut meskipun dollar AS melemah secara meluas dan setelah berita bahwa Meksiko menjadi negara berkembang terakhir yang mendukung gold. Gold telah tertekan bersamaan dengan silver, yang telah merosot seperlima dari nilainya setelah suatu rally singkatnya ke level puncaknya yang mendekati level $50 per ons Kamis lalu.
 

• Sentimen diantara investor precious metals juga terpukul setelah laporan mengatakan high‐profile investor George Soros, yang mendukung pada gold dan seorang top investor pada gold funds, telah menjual gold dan silver dalam bulan terakhir ini.
 

• "With the CME raising three times in a week the margin requirement of silver, that was enough to disrupt the parabolic move in silver prices," kata Mark Luschini, chief investment strategist dari broker‐dealer Janney Montgomery Scott, yang mengelola sekitar $53 milyar pada aset‐aset klien.
 

• Spot silver <XAG=> anjlok 4.3 persen ke level $39.85 per ons pada pukul 11:23 a.m. EDT (1523 GMT), yang pada awalnya sempat mencapai level terendahnya satu bulan pada level $39.66.
 

• Spot gold <XAU=> merosot 1.2 persen ke level $1522,12 per ons, yang telah mencapai level puncaknya $1575,79 Senin lalu. COMEX June gold futures <GCM1> melemah 1.2 persen ke level $1522,70.
 

• Platinum <XPT=> merosot ke level $1831,74 per ons, sementara itu palladium <XPD=> anjlok lebih dari 3 persen ke level $756.47.

Wednesday, May 4, 2011

Headline News 04.05.11

US & GLOBAL 
• Selasa kemarin harga komoditas mengalami penurunan dalam kapasitas terbesarnya untuk basis harian selama 2 minggu, yang kemudian berimbas turut menekan bursa saham Wall Street. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa rally di bursa komoditas April lalu terlalu tajam.
Selain itu, rebound dolar AS dari tekanannya seama 10 hari berturut‐turut juga merupakan pemicu tekanan jual di bursa komoditas.
 

• Indeks dolar bergerak fluktuatif Selasa kemarin, naik saat pembukaan pasar AS, kemudian jatuh pada tengah hari sebelum kembali naik di penutupan. Analis mengatakan dolar berayun karena kekhawatiran bahwa levelnya sudah oversold saat di areal terendah 3 tahun, sementara bursa saham dan komoditas hampir bersamaan mencatat kenaikan besar di bulan April.
 

• Tekanan jual di bursa komoditas dimulai sejak awal sesi, setelah kenaikan suku bunga yang lebih tinggi dari yang diperkirakan oleh bank sentral India, kemudian terakselerasi pada sesi pertengahan. Para analis mengatakan minyak dapat turun lebih lanjut, dengan estimasi target di bawah level $100 kembali. Saham di Wall Street terkoreksi dalam 2 hari berturut‐turut minggu ini, ditandai oleh penurunan saham teknologi lebih dari 1%. Harga minyak turun hingga 3%, terkoreksi cukup tajam dari areal tertinggi 31‐bulan di atas $114/barel (/CLc1‐New York) dan di atas $126/barel <LCOc1‐London>.
 

• Harga emas di pasar spot <XAU=> turun lebih dari 0,5% dan telah merosot sekitar 2% dari rekor tertinggi $1.575/ounce yang dicapai Senin lalu. Para pedagang mengatakan rebound dolar menyebabkan koreksi emas. Fluktuasi dolar AS juga disebabkan oleh tekanan jual komoditas perak <XAG=>, yang turun hampir 6% dari rekor tertinggi baru‐baru ini di dekat $50/ounce. Bahkan tekanan jual komoditas awalnya terakselerasi pada silver, yang biasanya memiliki margin kecil, sebelum terjadi di emas dan minyak mentah yang ber‐margin besar. Bila terjadi tekanan jual di margin besar di komoditas, maka akan mempengaruhi ke seluruh pasar. Indeks 19‐komoditas Reuters‐Jefferies CRB <CRB.> turun 0,9%, merupakan penurunan harian terbesarnya sejak April 18.
 

• Akselerasi kenaikan bursa saham global belakangan ini mayoritas didukung semata oleh optimisme pendapatan perusahaan di Amerika Serikat dan Eropa untuk kuartal pertama 2011. Kemudian saat ini, kenaikan bursa saham AS/global dipandang pasar sudah mencapai tingkat overbought. Harga komoditas yang tinggi, dipicu oleh melemahnya dolar AS dan kekhawatiran pasokan, akan menjadi kekhawatiran tersendiri untuk kinerja perusahaan ke depan. Indeks saham dunia yang diukur oleh MSCI, turun 1% setelah naik dalam 5 hari berturut‐turut, sementara indeks bursa saham negara‐negara berkembang turun 1,7% ke titik terendah dua minggu. Indeks saham dunia MSCI naik 3,9% bulan lalu, dan mencatata akumulasi kenaikan hingga 7,5% tahun ini.
 

• Indeks dolar <.DXY> AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia, naik 0,3% setelah sempat 0,4% persen di awal sesi. Sebuah jajak pendapat Reuters kemarin menunjukkan bahwa para investor telah menarik kembali sebagian dari eksposur mereka terhadap ekuitas yang sempat meningkat pada bulan April, untuk kemudian membeli obligasi dan beralih ke aset safe‐haven akibat mulai munculnya kembali kekhawatiran
bahwa pertumbuhan ekonomi global dapat goyah dari ekspansinya saat ini.
 

• Pemicu yang paling mungkin adalah kebijakan ekonomi jangka panjang ke depan. Sebuah perlambatan ekonomi dikhawatirkan akan terjadi di tengah prospek pengetatan moneter global saat ini. Investor sedang menghadapi uncertainty tentang suku bunga, ditandai dengan kenaikan suku bunga ECB bulan lalu yang kemudian menempatkan BoE di bawah tekanan untuk mengikutinya. Kemarin, kenaikan suku bunga India yang lebih besar dari perkiraan, sebesar 50 bps, meningkatkan kekhawatiran investor. Sementara di Amerika Serikat, The Fed AS telah berkomitmen untuk menjaga tingkat bunga di level yang sangat rendah, namun memberikan isyarat bahwa program bantuan ekonomi (QE‐2) berupa pembelian obligasi senilai $600 milyar akan diakhiri sesuai jadwal, yakni pada bulan Juni.
 

• Nampaknya kita akan memasuki fase koreksi (untuk bursa saham) memasuki Mei hingga Juni (akhir kuartal kedua) mendatang. Resiko fase koreksi bursa saham tersebut berpeluang semakin besar jika harga minyak melonjak ke atas $130/barel. Masih banyak hal yang beresiko menekan pasar financial memasuki bulan Mei‐Juni ini. Sebuah jajak pendapat Reuters terhadap sejumlah perusahaan manajemen investasi terkemuka AS, Eropa dan Jepang menunjukkan bahwa exposure di bursa saham April turun menjadi 51,3% dari 52,6% Maret. Minat terhadap aset‐aset cash naik menjadi 5,1% dalam balanced‐portofolio dari 4,7% Maret. Ini adalah exposure tertinggi pada aset‐aset cash – yang biasanya meningkat saat uncertainty memuncak – sejak September 2010. mana uang investor taman di masa ketidakpastian – sejak September lalu, saat bursa saham mulai mulai menguat karena The Fed mulai menerapkan program bantuan ekonomi (quantitative easing).
 

GOLD & COMMODITIES 
• Emas melemah pada hari Selasa dari rekor tertingginya diatas level $1570 per ons sehari sebelumnya, karena dollar AS naik dan karena safehaven buying dari metal kehilangan beberapa momentum mengikuti meninggalnya pemimpin al Qaeda Osama bin Laden.
 

• Spot silver <XAG=> juga berada dibawah aksi tekanan jual setelah sempat mencatatkan level terendahnya dua minggu level $42.58 per on Senin lalu, ketika precious industrial metal mendapatkan penurunan harian terbesarnya dalam 29 bulan.
 

• Spot gold <XAU=> diperdagangkan pada level $1537,79 per ons pada pukul 1409 GMT, yang telah mencatatkan rekor puncaknya level $1575,79 per ons Senin lalu dan dibandingkan dengan level $1544,30 pada penutupan New York Senin lalu. COMEX gold futures <GCcv1> merosot 1.2 persen ke level $1538,50 per ons.
 

• "The dollar is stronger and gold is overstretched at these levels ... There is some profit‐taking going on," kata Walter de Wet, analis pada Standard Bank.
 

• Silver <XAG=> melemah 1.2 persen ke level $43.36 per ons, yang telah membukukan penurunan terbesar hariannya yang hampir dalam 2‐1/2 tahun Senin lalu yang mencapai level terendahnya dua minggu.
 

• Platinum <XPT=> bertahan pada level $1855,74 per ons, sementara itu palladium <XPD=> meningkat 0.5 persen ke level $774.00.

Tuesday, May 3, 2011

Headline News 03.05.11

US & GLOBAL 
• Kenaikan di sesi awal saham‐saham AS terpangkas untuk kemudian ditutup sedikit turun, demikian pula dengan harga komoditas minyak dunia pada hari Senin kemarin. Para investor menyimpulkan kematian Osama bin Laden dalam operasi militer AS di Pakistan tidak akan banyak meringankan beban ekonomi dan uncertainty kondisi politik global saat ini. Pada akhirnya, arah kebijakan moneter lah yang akan mengambil
peran yang akan mempengaruhi pergerakan pasar untuk saat ini – hal ini kembali menekan dolar AS yang pada awalnya sempat menguat setelah isu kematian pemimpin Al Qaeda tersebut.
 

• Berita bahwa pemimpin al Qaeda telah dibunuh oleh pasukan AS pada hari Minggu (1/Mei), awalnya mendorong para investor untuk mengambil risiko, yang mendorong kenaikan saham lebih tinggi dari level puncak sebelumnya, dan menekan harga minyak lebih dari 3%.
Namun investor kembali fokus pada keadaan ekonomi global dan pengakuan bahwa kematian bin Laden tidak akan mengurangi resiko politik di Timur Tengah dan Afrika Utara, yang telah mendorong harga minyak lebih tinggi dalam beberapa bulan terakhir ini. Isu Bin Laden adalah berita bagus untuk pecinta kedamaian, tetapi hanya akan berdampak pada ekonomi sejauh mana hal tersebut akan menekan harga minyak. Pasar
pada gilirannya akan kembali pada persoalan utama, yakni kondisi geopolitik Timur Tengah‐Afrika Utara yang masih tidak menentu, serta isu ekonomi yang masih belum menunjukkan gambaran jelas untuk prospek pemulihannya.
 

• Setelah anjlok di sesi awal Senin kemarin, harga minyak berkelok‐kelok antara areal positif dan negatif karena masih dipengaruhi oleh ketidakpastian kondisi geopolitik Timur‐Tengah dan Afrika Utara. Kekhawatiran terhadap kemungkinan aksi balas dendam dari kematian Obama, juga turut memicu fluktuasi. Harga minyak mentah berjangka AS tipe kontrak Juni <CLc1> turun 0,66% di $112,98/barel usai penutupan
sesi AS Senin, setelah sempat jatuh hingga $110,82 semalam. Minyak mentah Brent tipe kontrak Juni <LCOc1> turun 0,61% ke level $125,12/barel.
 

• Di bursa Wall Street, sentimen positif dari kematian Bin Laden pudar di pertengahan sesi karena investor mulai meragukan kelangsungan rally bursa saham AS yang sudah demikian panjang belakangan ini – tercatat bursa saham AS memiliki akselerasi kenaikan yang cukup fantastis dalam dua tahun terakhir ini. Bahkan jika kematian bin Laden berpotensi menimbulkan sentimen positif jangka panjang, bursa saham AS tidak akan luput dari resiko ambil untung investor karena langkah kenaikannya yang sudah demikian jauh saat ini. Perlu diwaspadai munculnya pemicu aksi ambil‐untung tersebut – masih labilnya ekonomi AS, krisis utang Eropa dan tidak menentunya kondisi geopolitik Timur Tengah‐Afrika Utara merupakan hal‐hal besar yang ‘bisa dimunculkan’ sebagai pemicu tersebut.
 

• Sementara di bursa saham Eropa, indeks FTSEurofirst 300 <FTEU3.> ditutup naik tipis saja 0,02%. Indeks saham negara‐negara dunia, yang diukur dalam indeks MSCI, juga naik tipis saja 0,15%.
 

• Dolar AS yang awalnya sempat rebound terhadap mata uang utama dunia, kembali melemah. Hal ini menyebabkan kenaikan EURUSD ke level tertinggi terbarunya selama 17 bulan, di 1.4902, dipengaruhi oleh rilis optimis data manufaktur Jerman dan Eropa April yang berpotensi mendukung kenaikan suku bunga Eropa lebih lanjut. Sementara data manufaktur AS dan Cina cenderung terkoreksi dari periode Maret sebelumnya. EURUSD kemudian ditutup flat di level $1,4825.
 

GOLD & COMMODITIES 
• Emas berbalik untuk lebih tinggi lagi dan silver memangkas penurunannya dalam perdagangan yang choppy Senin lalu karena dollar AS anjlok dan oil mengalami rebound, dengan precious metals mengalami recovery dari penurunan tajam setelah tewasnya Osama bin Laden yang melemahkan safe‐haven buying.
 

• Bullion kembali naik kearah level puncaknya lagi pada awalnya karena pasar memfokuskan pada krisis utang yang masih tersisa di Eropa, civil war di Libya dan kekerasan di Timur Tengah.
 

• Pada perdagangan Asia, berita terbunuhnya pemimpin al Qaeda oleh U.S. forces membawa gold anjlok hampir 2 persen.
 

• "We see selling from hedge funds and recent buyers placing sell‐stops on the bin Laden news, thinking that risk premiums may be shifting," kata George Gero, vice president pada RBC Capital Markets.
 

• Spot gold <XAU=> menguat 0.3 persen ke level $1569,09 per ons pada pukul 11:38 a.m. EDT (1538 GMT), setelah sempat mencapai level puncaknya dalam rangkaian empat harinya berturut‐turut pada level $1575,79. U.S. June <GCM1> gold futures naik 0.9 persen k level $1569,50.
 

• Emas mendapatkan dukungan oleh permasalahan tingkat kesehatan finansial ekonomi beberapa negara zona euro, kekhawatiran mengenai defisit bujet AS, dan kebijakan moneter AS yang ultra‐akomodatif/longgar, ungkap analis.
 

• Silver <XAG=> merosot 2 persen ke level $46.86 per ons, yang telah anjlok hingga $5 ke level terendah mingguannya level $42.58.
 

• Platinum <XPT=> sedikit menguat 0.4 persen ke level $1871,49 per ons, sementara itu palladium <XPD=> anjlok 0.6 persen ke level $784.97.

Monday, May 2, 2011

Headline News 02.05.11


 US & GLOBAL 
• Pasar global mengalami kinerja yang cukup signifikan minggu kemarin setelah Ben Bernanke menyatakan akan mempertahankan cheap money dalam perekonomian (mempertahankan kebijakan moneter yang ‘ultra‐longgar’), ditandai dengan melonjaknya Nasdaq ke level tertinggi 10‐tahun, serta emas dan perak terus memecahkan rekor tertingginya. Investasi komoditas khususnya sangat panas – indeks seluruh komoditas dunia, Reuters‐Jefferies CRB index <.CRB>, mengalami kenaikan selama 8 bulan berturut‐turut hingga April 2011, yang merupakan periode kenaikan beruntun yang terpanjang sejak 2003. Silver mencatat kenaikan 27%.
 

• Bernanke mengisyaratkan pada hari Rabu bahwa bank sentral AS tidak terburu‐buru untuk mencabut kembali program dukungan bagi ekonomi mengingat pasar tenaga kerja masih dalam tekanannya. Bernanke menegaskan dewan moneter (FOMC) The Fed AS akan mempertahankan tingkat bunga yang rendah untuk waktu lebih panjang. Putusan pertemuan FOMC The Fed AS dan pernyataan ketua umumnya, Ben Bernanke, dalam konferensi pers usai pertemuan yang pertama kalinya digelar sepanjang sejarah The Fed AS, minggu lalu membuat para investor kembali memburu aset‐aset beresiko bahkan dalam berbagai kelompok aset dan komoditas, baik di dalam maupun di luar AS.
 

• Para investor terus menekan dolar AS, yang mengantarnya ke level terendah terbarunya selama 3 tahun, di tengah kekhawatiran operasi cetak uang The Fed AS ke depan akan semakin menurunkan nilai dolar AS. Selain itu tekanan dolar AS juga diperoleh dari keprihatinan mendalam di antara para investor terhadap pertumbuhan ekonomi AS – yang masih di bawah mitra‐mitra dagang terbesarnya.
 

• Kebijakan moneter The Fed yang ultra‐longgar juga mendorong pandangan investasi tradisional, yang mendorong kenaikan saham di sektor transportasi meskipun harga minyak ‐ biaya utama untuk perusahaan angkutan – melonjak ke level tertinggi multi‐tahunan. Indeks transportasi Dow Jones <.DJT>
melonjak ke rekor tertingginya pada hari Kamis, hari yang sama saat harga minyak AS menyentuh level tertinggi 31‐bulan.
 

• Harga silver di pasar berjangka AS <SIN1> naik hampir 4% minggu lalu mendekati areal $50/ounce. Harga emas juga memperoleh kenaikan harian terbesar dalam lima bulan pada hari Jumat, berakhir di sekitar areal $1.560/ounce. Indeks Dow Jones mencatat performa terbaiknya untuk basis bulanan (April) sejak Desember lalu. Sementara indeks saham‐saham AS berkapitalisasi kecil‐menengah melonjak mencapai rekor tertingginya.
 

• Indeks saham utama, termasuk Nasdaq, mengalami ketertinggalan rally dari logam mulia tetapi berhasil membukukan kenaikan mingguan dan bulanannya terbaiknya, meskipun dibayangi kekhawatiran atas kerusuhan di Timur Tengah, yang belum terpecahkan masalah hutang publik di Eropa dan AS, dampak bencana alam (gempa‐tsunami) di Jepang Maret.
 

• Miliaran dolar uang yang telah dicetak bank sentral AS untuk membantu perekonomian telah berhasil menggembungkan harga aset dan menghadang deflasi, namun belum berhasil mendorong pertumbuhan yang kuat dan meredam pengangguran. Putusan FOMC The Fed menjaga tingkat suku bunga AS
mendekati nol memicu tekanan lebih lanjut untuk dolar AS karena para trader melakukan "carry trades" – meminjam dolar dengan bunga rendah untuk mendanai investasi mereka.
 

• Indeks saham dunia, yang diukur dalam indeks MSCI, naik 3,9% sepanjang April, meskipun dibayangi kecemasan terhadap lonjakan harga minyak yang akan memperlambat pertumbuhan global. Harga minyak mentah terus naik karena tekanan dolar AS dan masih berkembangnya konflik geopolitik di Timur Tengah dan Afrika Utara – yang notabene adalah produsen‐produsen minyak dunia. Harga minyak mentah berjangka London <LCOc1> berada di atas $125 per penutupan Jumat lalu. Harga minyak mentah berjangka AS <CLc1> ditutup di areal $113,73/barel setelah sebelumnya menyentuh $114,18, harga intraday tertinggi sejak 22 September 2008.
 

• Didorong oleh rally logam mulia, Indeks 19‐komoditas CRB (indikator utama dari pasar komoditas), mengalami rally hingga 10% tahun ini, sehingga menjadikannya sebagai kelompok aset yang berkinerja terbaik di dunia saat ini. Pada hari Jumat, indeks naik 1,2% ke level penutupan 370,56, setelah sebelumnya menyentuh 370,71, level intraday high tertinggi selama 52 minggu.
 

• Lonjakan pasar saham dan komoditas di bulan April ini adalah berkat lemahnya dolar AS, diawali oleh prospek revisi turun peringkat utang AS oleh  Standard & Poor's. Rilis pesimis data GDP Q1 AS dan data manufaktur regional akhir minggu kemarin, dibarengi oleh naiknya harga bahan bakar, kian merapuhkan pandangan terhadap perekonomian AS dan juga akan menekan daya beli konsumennya.
 

• Indeks dolar AS terhadap mata uang utama dunia, merosot hingga level terendah sejak 2008, di 72,834. Hari Jumat lalu, indeks dolar turun 0,1% di 73,036. EURUSD menyentuh level tertinggi 17 bulan, diperdagangkan pada $1,4844 di pertengahan sesi NY Jumat lalu. Harga obligasi di pasar Treasury
AS naik harga naik, dengan penekanan rally April yang mengangkat pasar ke dalam wilayah positif untuk tahun ini, karena meningkatnya minat investor di tengah prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi dan dipertahankannya kebijakan moneter AS yang ultra‐longgar. 


GOLD & COMMODITIES
 

• Emas naik dalam rangkaian tiga harinya berturut‐turut Jumat lalu, berada pada level $1550 per ons karena dollar AS merosot ke level terendahnya dalam tiga tahun dari ekspektasi the Fed akan menjaga kebijakan easy money.
 

• Silver naik terhadap level puncak sebelumnya yang mendekati level $50 per ons. Logam ini mendekati kenaikan 30 persen pada bulan April, kenaikan terbesar bulanannya sejak April 1987.
 

• Logam mulia naik dari didepannya data menunjukkan consumer spending AS naik pada bulan Maret karena sektor rumah tangga mencatatkan untuk menutup tingginya biaya makanan dan bahwan bakar, dengan inflasi mencatatkan kenaikan terbesarnya pada basis tahunan yang naik ke level tertingginya dalam 10 bulan.
 

• "Gold is showing a text‐book bull market behavior, a steady ascent without major spikes. It's the continuation of the same theme, as the Fed's posture seems to be fairly dovish still,"kata James Dailey, portfolio manager pada TEAM Asset Strategy Fund.
 

• Spot gold <XAU=> terakhir diperdagangkan naik 0.6 persen ke level $1543,79 per ons pada pukul 11:31 a.m. EDT (1531 GMT), yang telah naik 8 persen dalam bulanannya, penguatan tertingginya sejak bulan November. Bullion juga mencatatkan kenaikan tujuh minggunya berturut‐turut, penguatan rangkaian terpanjangnya sejak 2007.
 

• U.S. June futures <GCM1> melejit 0.9 persen ke level $1544,30 per ons, dengan volume perdagangan dibatasi oleh liburan di London.
 

• Untuk platinum group metals, platinum <XPT=> memicu penguatan pada gold dan silver, yang naik 0.6 persen dalam hariannya ke level $1847 per ons, sementara itu palladium <XPD=> melejit 1.5 persen ke level $782.47.

Friday, April 29, 2011

Headline News 29.04.11


US & GLOBAL 
• Dollar berlanjut tertekan Kamis kemarin, memicu lonjakan komoditas perak ke rekornya, namun Wall Street rebound terbantu oleh kenaikan di sesi akhir karena pandangan rilis pesimis data ekonomi AS kemarin tidak akan mempengaruhi pertumbuhan dan dominasi sentimen bullish di bursa. Harga perak di pasar spot <XAG=> mencapai rekor tertinggi di $49,51/ounce akibat kelanjutan tekanan dolar AS dan rally emas ke level rekornya – yang memicu aksi beli spekulatif di komoditas logam mulia.
 

• Indeks dollar AS jatuh ke level terendah barunya selama 3 tahun terhadap mata uang utama setelah The Fed AS Rabu sebelumnya mengeluarkan sinyalemen masih mempertahankan suku bunga yang berada di level ‘ultra‐rendah’ (mendekati 0%). Lebih pesimisnya dari perkiraan rilis data GDP Q1 dan sektor tenaga kerja mingguan AS tidak banyak mempengaruhi sentimen pasar kemarin. Bahkan bursa saham Wall Street berlanjut rally menembus level tertinggi terbarunya untuk tahun ini, ditopang oleh kenaikan saham‐saham di sektor transportasi yang mencapai rekor tertingginya karena perannya sebagai batu ujian permintaan ekonomi.
 

• Indeks Dow Jones dan Standard & Poor's 500 telah rally selama enam dari tujuh sesi terakhir, sedangkan Nasdaq minggu ini melonjak ke level tertinggi 10‐tahun. Bursa saham global melonjak mendekati tertinggi tiga tahun pada Rabu setelah hasil pertemuan FOMC The Fed AS mengisyaratkan kebijakan moneter (suku bunga) yang ultra‐rendah masih akan dipertahankan untuk beberapa waktu mendatang.
Indeks saham dunia MSCI naik 0,8% kemarin.
 

• Dengan data volume perdagangan yang rendah dan ekonomi menunjukkan jalan masih goyah untuk pemulihan, maka menimbulkan pertanyaan sampai berapa lama lagi pasar saham dapat mempertahankan kenaikannya.
 

• Di Wall Street, saham pada awalnya goyah oleh tanda‐tanda pertumbuhan yang lambat, tetapi investor mengatakan mereka perlu melihat data (yang pesimis) lebih lanjut sebelum menghentikan aksi beli di ekuitas. Data claim pengangguran mingguan AS menunjukkan kenaikan di luar dugaan sebesar 429.000 pekan lalu. Pada saat ini, kenaikan tersebut dianggap pasar akibat faktor teknis saja. Untuk rilis minggu depan, pasar perlu melihat penurunan signifikan di bawah level 400.000 untuk memastikan perekonomian tidak melambat di tengah kenaikan harga bensin di AS belakangan ini.
 

• Harga minyak mentah AS di bursa berjangka mencapai level tertinggi 31‐bulan akibat lemahnya dolar, sebelum kemudian terkoreksi tipis di akhir perdagangan. Dolar turun 0,8% hingga ditutup di 81,53 yen <JPY=>, sementara indeks dolar AS terhadap mata uang utama dunia, jatuh ke level terendah sejak Juli 2008, dan berakhir turun 0,5% di 73,116. EURUSD ditutup naik ke $ 1,4825, setelah mencapai level tertinggi 17‐bulan di $1,4881.
 

• Diferensiasi suku bunga AS, yang masih ultra rendah, dengan suku bunga Eropa, yang telah dinaikkan awal bulan ini dan diproyeksikan akan berlanjut, telah menekan dolar AS dan memberikan keuntungan luas terhadap euro – yang tahun ini melonjak hampir 11%.

GOLD & COMMODITIES
 

• Silver menguat ke level puncaknya yang pernah ada Kamis lalu dan emas naik ke level terbarunya lagi, karena penurunan dollar AS dan tanda‐tanda bahwa the Fed akan menjaga kebijakan moneter yang longgar yang mendorong ketertarikan pada precious metals sebagai hedge/lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
 

• Silver secara singkat naik hingga $50 per ons, mencapai puncaknya ketika Texan brothers William Hebert dan Nelson Bunker Hunt membuat sisi dari pasar silver tiga dekade lalu. The metal berikutnya tertekan dari technical selling.
 

• "Yesterday's speech from the Fed was an acknowledgment of the continuing of the strategy by the Fed and Washington ... to monetize our debt, and basically to devalue the dollar," kata Robert Lutts, chief investment officer pada Cabot Money Management, yang mengawasi lebih dari $500 juta pada aset‐aset kliennya.
 

• Spot silver <XAG=>, yang meroket mendekati 60 persen hingga tahun ini, naik 1.5 persen ke level $48.49 per ons pada pukul 12:24 p.m. EDT (1624 GMT), yang pada awalnya sempat mencapai level tertingginya $49.51 per ons.
 

• Menyesuaikan dengan inflasi, harga saat ini pada silver masih jauh dibawah catatan levelnya yang diatas $100 per ons.
 

• Spot gold <XAU=> menguat ke level puncaknya yang penah ada $1538,35 per ons, memecahkan rekor dari sembilan kenaikannya dari 10 sessions. Terakhir diperdagangkan pada level $1527,87 per ons, yang naik 0.1 persen.

Thursday, April 28, 2011

Headline News 28.04.11


US & GLOBAL 
• Bursa saham global melanjutkan rally dan indeks dolar AS merosot hingga ke level terendah terbarunya selama 3 tahun terhadap mata uang utama dunia Rabu malam The Fed AS mengisyaratkan akan mempertahankan dukungan (QE2) yang luas bagi ekonomi AS.

• Ben Bernanke, dalam konferensi pers usai pertemuan moneter FOMC The Fed AS mengatakan akan menyelesaikan program pembelian obligasi senilai $600 milyar sesuai jadwal pada bulan Juni dan menyatakan tidak akan membiarkan neraca merosot seketika. Komentar ketua umum The Fed AS tersebut, bersama dengan rilis laporan pendapatan perusahaan yang kembali dirilis optimis, mendorong kenaikan bursa saham Wall Street. Investor yang ‘puas’ dengan komentar Bernanke juga semakin mendorong optimisme di pasar. Menurut mereka konferensi pers Bernanke mampu mengetengahkan keseimbangan yang tepat antara pendidikan, keterusterangan dan keterbatasan pembuatan kebijakan di tengah uncertainty global saat ini. Ini adalah konferensi pers pertama oleh seorang ketua umum The Fed AS dalam sejarah bank sentral AS
selama 97 tahun.
 

• Bursa saham Wall Street mengalami akselerasi kenaikan dan juga harga minyak naik setelah The Fed mengatakan dalam putusannya bahwa pemulihan sedang berjalan dengan kecepatan yang moderat dan masih akan mempertahankan suku bunga yang sangat rendah, kini mendekati 0%, untuk "jangka waktu yang panjang." (extended period).
 

• Didukung oleh komentar bullish dari General Electric dan rilis laporan pendapatan perusahaan yang optimis belakangan ini, mendekati akhir sesi optimisme dari Boeing Co, Whirlpool Corp dan WellPoint Inc. juga turut membantu kenaikan saham lebih lanjut. Indeks komposit Nasdaq ditutup pada level tertinggi sejak 12 Desember 2000 sedangkan harga emas di pasar spot <XAU=> terus‐menerus menembus rekor tertingginya
dalam 9 sesi terakhir setelah Bernanke menegaskan kembali sikap Fed bahwa inflasi merupakan masalah sementara terkait sebagian besar oleh harga komoditas.
 

• Dolar, yang telah berada di bawah tekanan terus‐menerus dalam beberapa bulan terakhir, tergelincir lebih lanjut saat Bernanke menetapkan target yang lebih lemah untuk pertumbuhan ekonomi AS di kuartal pertama 2011. Dollar jatuh ke titik terendah sejak 2008 terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Indeks dolar merosot hingga 73,261, tidak jauh dari rekor terendahnya 70,698 yang dicapai bulan Juli 2008. EURUSD
naik hingga $1,4787, sedangkan USDJPY naik hingga 82,27.
 

• Harga minyak turut naik setelah data pemerintah menunjukkan stok bahan bakar AS menurun. Minyak mentah AS untuk pengiriman Mei <CLc1> naik hingga di $113,17/barel. Di London, harga minyak mentah brent tipe kontrak Mei <LCOc1> ditutup naik di $125,13/barel.
 

• Harga Obligasi AS di pasar Treasury untuk jangka 30‐tahun jatuh ke posisi terendah di hari itu setelah The Fed menaikkan perkiraan inflasinya.
Untuk tahun 2011 The Fed meng‐upgrade estimasi core inflation menjadi 1.3%‐1.6% dari 1.0%‐1.3% sebelumnya. Namun The Fed mendowngrade estimasi GDP AS menjadi 3.1%‐3.3% dari 3.4%‐3.9% sebelumnya. Estimasi tingkat pengangguran juga direvisi menjadi 8.4%‐8.7%
dari 8.8%‐9.0% sebelumnya.
 

GOLD & COMMODITIES 
• Emas naik dalam hari keduanya Rabu lalu, mendapatkan keuntungan dari pelemahan dollar AS, yang berada dibawah tekanan dimana didepannya terdapat rilis tingkat suku bunga the Fed, sementara itu silver sedikit naik dari penurunan hari sebelumnya.
 

• The Fed tidak diekspektasi untuk menandai dengan buru‐buru dalam menentukan kembali mekanisme dukungan multi‐billion dollar (QE) terhadap ekonomi, hingga investor menunggu untuk mendengarkan mengenai outlook dari kebijakan moneter oleh kepala the Fed Ben Bernanke ketika dia memberikan konferensi pers pertamanya setelah sidang pada hari tersebut.
 

• Dengan dollar AS dibawah tekanan dan membalikkan hubungannya pada penguatan gold untuk pertama kalinya dalam satu minggu, harga bullion sempat mencatatkan kenaikan hari keduanya, meskipun rangkaian liburan publik di Inggris yang membatasi volume perdagangan.
 

• Spot gold <XAU=> terakhir diperdagangkan naik 0.7 persen ke level $1510,50 per ons pada pukul 1400 GMT, sempat dibawah 0.8 persen dari level tertingginya Senin lalu pada level $1518,10. U.S. futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> terakhir naik 0.5 persen ke level $1510,90.
 

• "It is definitely the main event that the market is looking ahead to," kata analis Credit Suisse Tom Kendall.
 

• "We've seen yet again the dollar under pressure ahead of that statement and precious metals definitely benefitting and base metals soggy," katanya, menambahkan ekspektasinya tidak adanya perubahan pada kebijakan the Fed, meskipun kunci utama pada harga gold masih dalam jalurnya.
 

• "It is the dollar, it is sovereign debt, whether that is the U.S. or the periphery of Europe. It is headline rates of inflation in emerging markets and developed markets and it is a bit of geopolitical uncertainty."
 

• U.S. silver <SIcv1> terakhir naik 1.4 persen ke level $45.62.
 

• Platinum <XPT=> terakhir naik 0.6 persen ke level $1805,99 per ons, sementara itu palladium <XPD=> naik 0.4 persen ke level $752.97.

Wednesday, April 27, 2011

Headline News 27.04.11

US & GLOBAL 
• Bursa saham global naik ke level tertinggi 3 tahun Selasa kemarin dan dolar AS melemah kembali atas euro karena investor bertaruh FOMC The Fed AS akan menjaga kebijakan moneter yang rendah di pertemuan nanti malam.
 

• Saham‐saham menguat, ditandai dengan naiknya indeks Standard & Poor's 500 dan indeks Dow Jones ke level tertinggi terbarunya tahun ini, sekaligus level tertingginya selama 3 tahun, setelah solidnya laporan pendapatan Ford Motor Co, 3M Co dan United Parcel Service. Investor juga terhibur oleh rilis indeks consumer confidence April AS yang naik menjadi 65,4 pada bulan April dari revisi 63,8 pada bulan Maret. Indeks S&P500 telah naik 7% untuk tahun ini.
 

• Bursa saham Eropa melanjutkan kenaikan selama 4 hari perdagangan berturut‐turut ke level penutupan tertinggi 2 pekan, juga didorong oleh laporan pendapatan perusahaan yang solid baik di Amerika Serikat maupun Eropa, termasuk UBS bank Swiss. Indeks FTSEurofirst 300 <.FTEU3> naik 0,3% ke 1,145.96, penutupan tertinggi sejak 11 April. Euro melaju ke level tertinggi 16 bulan terhadap dolar namun beresiko fluktuatif menjelang putusan sidang FOMC nanti malam.
 

• Indeks bursa saham dunia yang tergabung dalam indeks MSCI, meningkat hingga 0,67%, mendaki ke puncak baru untuk tahun 2.011, di 352,40, sekaligus level tertingginya sejak Juli 2008.
 

• Investor dan pedagang tidak banyak berspekulasi terhadap konferensi pers Ketua umum The Fed AS, Ben Bernanke, pukul 01:15 WIB nanti malam, dan nampaknya masih tetap fokus pada rilis hasil sidang yang dijadwalkan akan keluar pukul 23.30 WIB nanti malam – meliputi kebijakan moneter dan prakiraan ekonomi. Konferensi pers The Fed usai sidang merupakan yang pertama kalinya sepanjang sejarah 97 tahun
The Fed AS. Pasar masih berpegang pada suatu pandangan bahwa, meskipun The Fed mendekati akhir tahap kedua untuk membeli obligasi pada Juni mendatang – sebuah program yang dikenal sebagai Quantitative Easing, atau QE2 – level suku bunga dan kebijakan moneter masih akan diakomodir dalam beberapa waktu ke depan.
 

• Tidak mungkin akan ada QE3, tetapi tidak mungkin pula QE2 akan ditarik menjelang Juni, demikian penilaian pasar saat ini. The Fed diperkirakan akan mengatakan akan menyelesaikan program QE2 berupa pembelian obligasi senilai $600 milyar, yang dijadwalkan akan berakhir pada bulan Juni. Namun, jika The Fed mengambil putusan yang mengejutkan pasar, dengan lebih hawkish (memperketat kebijakannya yang ultra longgar tersebut), maka akan menimbulkan risiko tekanan jual dolar AS yang cukup besar di pasar mata uang.
 

• Harga obligasi AS naik (yield turun) karena ekspektasi The Fed masih akan mempertahankan kebijakan moneternya yang ultra‐longgar meskipun akan memberikan sinyal berakhirnya QE2. Indeks dolar AS, yang mengukur kinerja dolar terhadap mata uang utama dunia, berlanjut turun ke 73,802, sedangkan EURUSD naik hingga 1,4657.
 

• Harga minyak dunia juga berfluktuasi menjelang putusan sidang FOMC The Fed AS nanti malam. Harga minyak mentah AS tipe kontrak Juni <CLc1> melemah ke $111,94 dari penutupan sebelumnya, $112,20. Sementara komoditas logam, seperti silver, membukukan penurunan harian terbesar dalam enam minggu setelah mencapai level puncak terbarunya selama 31‐tahun di hari sebelumnya. Emas juga berada di bawah
tekanan dari ketidakpastian investor menjelang putusan sidang FOMC The Fed AS nanti malam. Harga silver di pasar spot <XAG=> turun hingga 4,9% ke sesi rendah $ 44,62 per ounce, setelah kenaikan pada hari Senin ke rekornya $49,48 yang pernah dicapai Januari 1980. Harga emas di pasar spot <XAU=> mencapai rekor tertinggi $1,518.10/troy ounce pada hari Senin, dan kemarin merosot signifikan ke $1,502.85. Rally
komoditas logam tersebut terlalu tajam, sehingga tidaklah mengejutkan jika terjadi profit taking besar‐besaran menjelang putusan FOMC.
 

Pelaku pasar komoditas mengharapkan putusan FOMC masih mengakomodasi kebijakan moneter yang ultra‐longgar namun ada kekhawatiran di antara mereka bahwa program QE2 akan diakhiri sebelum waktunya. (Research – Rekhmen)
 

GOLD & COMMODITIES 
• Silver membuat penurunan terbesar hariannya dalam enam minggu Selasa lalu setelah sebelumnya mencapai level tertingginya dalam 31‐tahun, sementara itu gold dibawah tekanan dari investor yang tidak pasti mengenai kemungkinan kebijakan moneter 
AS.
 

• Spot silver <XAG=> melemah pada awalnya hingga 4.9 persen ke level terendahnya $44.63 per ons, setelah naik ke level $49.31 Senin lalu, level tertingginya sempat menyentuh level $49.48 pada Januari 1980.
 

• Volatilitas yang tinggi dan expiry dari U.S. silver options menambah intensitas penurunan, mempengaruhi gold, yang mana merosot kembali dari level puncaknya Senin lalu level $1518,10 per ons dimana berikutnya meeting the Fed Rabu ini.
 

• The Fed diekspektasi untuk mengindikasikan tidak terburu‐buru untuk menaikkan tingkat suku bunga.
 

• "There are quite a few things coming out in the next day or two ‐‐ the FOMC and the GDP release. People are just taking profits on these markets around that event risk," kata analis Standard Chartered Daniel Smith. "The key thing for me is any indication that interest rates might rise."
 

• Silver diperdagangkan pada level $45.77 per ons pada pukul 1400 GMT, dibandingkan level $46.90 pada penutupan New York Senin lalu, membuat penurunan terbesarnya sejak 15 Maret.
 

• Gold <XAU=> membuat dua hari penurunannya, meskipun pelemahan pada dollar AS, yang mana berlaku sebagai insentif pada investor non AS untuk buy the metal.
 

• Harga spot terakhir melemah 1 persen ke level $1494,00 per ons, sementara itu U.S. gold futures untuk pengiriman bulan Juni <GCv1> turun 0.9 persen ke level $1494,50.
 

• Platinum <XPT=> terakhir merosot 1.2 persen ke level $1797,24 per ons dari level $1819,30, sementara itu palladium <XPD=> turun 1.5 persen ke level $747.50 per ons.

Strong earnings push S&P through key level

NEW YORK | Tue Apr 26, 2011 5:12pm EDT
NEW YORK (Reuters) - A fresh batch of corporate results pushed U.S. stocks to their best levels since June 2008 on Tuesday, renewing optimism that profit growth will remain resilient enough to keep equities on the rise.

The S&P 500 barreled through the 1,344 level, seen as a key resistance point the benchmark index needed to surpass in order to trigger further gains.

Ford Motor Co (F.N), 3M Co (MMM.N) and United Parcel Services Inc (UPS.N) were among the bellwether names to impress, continuing a string of better-than-expected results. 3M and UPS also raised their full-year profit outlooks.

"It is really from the multinationals that have been reporting good numbers and speaking of good things to come -- these are big, big blue chips that are starting to see a bright light," said Joseph Benanti, managing director at Rosenblatt Securities in New York.

Shares of 3M, a Dow component, rose 1.9 percent to $95.94 while UPS was up 0.9 percent at $74.30. Ford advanced 0.7 percent to $15.66.

According to Thomson Reuters data, 35 percent of S&P 500 companies have reported earnings through Tuesday, with 76 percent exceeding analysts' expectations.

But there were some disappointments -- Coca-Cola Co (KO.N) fell 1.2 percent to $66.93 and was the Dow's biggest drag after its results were hurt by lost Japanese revenue. U.S. Steel Corp (X.N) and Netflix Inc (NFLX.O) also fell after results.

The three major U.S. stock indexes hit fresh highs for the year and the Nasdaq climbed to its highest level since October 2007. But some caution remained a day before a press conference by U.S. Federal Reserve Chairman Ben Bernanke.

The Dow Jones industrial average .DJI rose 115.49 points, or 0.93 percent, at 12,595.37. The Standard & Poor's 500 Index .SPX gained 11.99 points, or 0.90 percent, at 1,347.24. The Nasdaq Composite Index .IXIC climbed 21.66 points, or 0.77 percent, to end at 2,847.54.

FED AHEAD, AMAZON DIPS LATE

The press conference will follow the Fed's last policy statement before it is expected to stop its quantitative easing program at the end of June. Investors have concerns that the end of that program could remove support for buying stocks.

After the closing bell, Amazon.com (AMZN.O) slipped 0.2 percent to $182 after the online retailer reported a drop in profit for the first quarter as its investment in new businesses ate into earnings.

U.S. consumer confidence rose in April as inflation expectations eased somewhat and consumers felt better about the short-term outlook, according to a report from the Conference Board, a private-sector group. The data helped ease concerns that the recent rise in oil prices have started to hit shoppers.

Volume was tepid, with about 7.31 billion shares traded on the New York Stock Exchange, NYSE Amex and Nasdaq, slightly below the daily average of 7.73 billion.
Advancing stocks outnumbered declining ones on the NYSE by 2,188 to 837, while on the Nasdaq, advancers beat decliners 1,648 to 941.

Tuesday, April 26, 2011

Headline News 26.04.11

US & GLOBAL
 

• Perdagangan masih tipis di mayoritas pasar global Senin kemarin, dibarengi oleh keraguan investor terhadap putusan The Fed AS apakah akan merubah kebijakan moneternya yang sudah sangat longgar di pertemuan regulernya yang dijadwalkan akan berlangsung 26‐27 April ini.
Komoditas silver mengalami sell off (tekanan jual) setelah gagal menembus rekor tertinggi 30‐tahunnya, memicu lemahnya harga minyak.
Sementara kenaikan bursa saham Wall Street tertahan oleh estimasi earning korporasi yang mulai pesimis..
 


• EUR/USD masih naik di tengah sesi perdagangan yang volatile karena sepinya pasar global Senin kemarin. Sementara pelaku pasar masih mengkhawatirkan indeks dolar AS (terhadap mata uang utama dunia) bisa menguji level terendahnya kembali jika The Fed masih
mempertahankan kebijakan moneternya yang longgar di sidangnya minggu ini. EUR/USD naik 0,20% pada $ 1,4580.
 

• Harga‐harga komoditas terkoreksi setelah mencapai puncaknya masing‐masing. Harga silver naik hingga 8% ke $49,31 sebelum turun kembali secara tajam ke $46,90 setelah gagal menembus level rekornya dari tahun 1980. Harga silver di pasar berjangka AS <SIK1> melonjak ke intraday tinggi $49,82, hampir menyentuh level $50,35 yang pernah dicapai pada bulan Januari 1980 silam.
 

• Harga minyak jatuh setelah minyak mentah AS menyentuh level tertinggi sejak September 2008, dipicu oleh profit taking pelaku pasar pada komoditas silver. Minyak dan komoditas lainnya sempat naik di awal sesi karena berkembang kekhawatiran inflasi dan karena pasar masih terus mengamati kekacauan di Libia, Timur Tengah maupun Nigeria yang belum reda. Harga minyak mentah AS tipe kontrak Juni <CLc1>
diperdagangkan di $112,20 di penutupan sesi NY, turun dari puncak $113,48, harga intraday tertinggi sejak September 2008 yang dicapai di sesi awal. Harga emas di pasar spot <XAU=> sempat naik ke rekor tertinggi $1518,10/ounce dan jatuh bersamaan dengan perak hingga $1506,40 setelah penutupan NY. Harga tembaga ditutup dengan kerugian curam karena outlook ekonomi jangka pendek di Amerika Serikat, Inggris dan prospek ekonomi Cina menawarkan sedikit insentif untuk mendorong akselerasi logam industri dari level tinggi mereka saat ini.
 

• Bursa saham Wall Street jatuh menyusul mulai ada tanda‐tanda bahwa tingginya harga bahan baku mengganggu outlook perusahaan, termasuk Kimberly‐Clark Corp, yang kembali merendahkan estimasi pendapatannya tahun ini akibat meningkatnya harga bahan baku hingga lebih dari 2 kali lipat dari ekspektasi.
 

• Pasar saat ini juga masih meragukan pertumbuhan ekonomi AS, dibarengi tingginya harga bensin hal tersebut akan beresiko menekan sektor konsumsi (consumer spending). Ini merupakan bias fundamental bahwa data ekonomi yang cenderung melambat disertai harga bahan bakar yang meningkat akan mengambil korban mereka para konsumen.
 

• Indeks dolar AS naik kembali merosot hingga 73,813 namun kemudian diakhiri flat dengan kenaikan sangat tipis di 74.009. Sementara USD/JPY masih turun 0,20% di 81,70.
 

• Sejak 4 minggu terakhir ini para spekulan sebenarnya telah mengurangi tekanan jual mereka atas dolar AS, namun seperti yang ditunjukkan oleh CFTC (Komisi Perdagangan Berjangka dan Komoditas) AS bahwa posisi di pasar masih net‐short (dominan jual) untuk dolar AS senilai $24,36 milyar. Waspadai jika Fed dalam putusan moneternya Rabu besok ternyata lebih hawkish (cenderung merubah kebijakannya dari level yang ultra longgar saat ini), akan memicu pengaruh pada pergerakan dolar di pasar. (Research – Rekhmen)
 

GOLD & COMMODITIES

• Harga spot silver anjlok mendekati 2 persen Senin lalu, menghapuskan kenaikan tajam sebelumnya setelah teknikal gagal untuk mencapai level tertingginya tahun 1980 yang dipicu oleh heavy selling.
 

• Penurunan tajam silver bersamaan dengan pelemahan pada harga emas dan minyak mentah.
 

• Perdagangan silver futures AS sangat berat meskipun pasar libur di Inggris, Kanada dan Australia, dan mencatatkan rekor volume tertingginya.
 

• "This morning's action so far does look like a potential exhaustion," kata James Dailey, portfolio manager pada TEAM Asset Strategy Fund.
 

• Chart teknikal silver menunjukkan suatu classic island reversal pattern, dengan mencatatkan volume yang besar pada pembukaan dan pembalikan berikutnya, kata Dailey.
 

• Spot silver <XAG=> turun 0.8 persen ke level $46.29 per ons pada pukul 10:32 a.m. EDT (1432 GMT), turun tajam dibawah level tertinggi
hariannya $49.31.
 

• U.S. silver futures <SIK1> sempat melonjak hingga 8 persen dalam intraday high level $49.82 per ons, hanya 50 sen dari level puncaknya $50.35
yang tercapai 18 Jan, 1980. Kemudian terakhir diperdagangkan pada level $46.285 per ons.
 

• Spot gold <XAU=> mencapai level tertingginya $1518,10 per ons. Kemudian melemah bersamaan dengan silver ke level $1504,90 per ons.

Monday, April 25, 2011

Headline News 25.04.11

US & GLOBAL
 
• Indeks dolar masih berada di areal terendahnya 3 tahun Jumat lalu dan berpotensi melanjutkan penurunannya di perdagangan minggu ini.
Sementara penguatan yen akibat lemahnya dolar AS memicu koreksi Nikkei menghambat rebound di tengah tipisnya volume perdagangan akhir minggu tersebut. Harga emas berlanjut menembus new‐record high di $1.512/ons, melanjutkan rally dalam 6 sesi berturut‐turut akibat lemahnya dolar menyebabkan investor memburu aset‐aset yang minim ketergantungan terhadap ekonomi AS.
 
• Indeks dolar stabil (terhadap mata uang utama dunia) berada di sekitar 74 di penutupan perdagangan minggu lalu setelah tergelincir ke titik terendah sejak pertengahan 2008 pada hari Kamis, di 73,735, terbebani oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve masih akan mempertahankan suku bunga sebesar rekor terendah dan belum tuntasnya pembahasan parlemen mengenai rencana pemerintah AS memangkas defisit $14 trilyunnya dalam program 2 tahun.
 
• Pelemahan indeks dolar AS diproyeksikan akan berlanjut dengan potensi menuju rekor terendah 70,698 yang pernah dicapai Maret 2008.
Alasan terbesar di balik kejatuhan dolar AS saat ini adalah berkurang kepercayaan investor pada aset AS. Pasar sepertinya mulai menyadari fakta bahwa masalah fiskal (krisis utang) bukan hanya milik negara‐negara ‘pinggiran’ Eropa.
 
• Perdagangan diperkirakan tetap tipis di awal minggu karena mayoritas pasar utama dunia masih tutup hari Senin, merayakan Hari Raya Paskah sejak Jumat akhir minggu lalu.
 
• Menambah tekanan pada dolar, data pada Kamis menunjukkan ekonomi AS belum cukup meraih momentumnya kembali. Indeks manufaktur negara bagian Atlantik Tengah AS melambat tajam pada bulan April, klaim pengangguran mingguan turun tidak sebanyak yang diproyeksikan dan laporan lain menunjukkan penurunan tajam harga rumah pada bulan Februari. Untuk itu banyak yang memperkirakan data GDP Q1 AS pada 27 April ini akan menunjukkan indikasi pertumbuhan ekonomi AS yang melambat secara signifikan.
 
• Indeks Nikkei Jepang mengakhiri perdagangan minggu lalu dengan koreksi 0,04% setelah berhasil meredam tekanan di sesi awal dipengaruhi oleh berita bahwa perusahaan Renesas Electronics, pemasok utama chip untuk industri otomotif, akan kembali mengoperasikan pabriknya yang dilanda gempa‐tsunami besar lebih cepat di luar dugaan. Mayoritas tekanan bursa saham Tokyo di perdagangan awal Jumat dipicu oleh tekanan USD/JPY.
 
• Di Seoul, salah satu pasar Asia yang buka pada hari Jumat, indeks saham Kospi <. KS11> beringsut turun 0,03% dari penguatan tajam minggu lalu, sedangkan indeks Shanghai <SSEC.> turun 0,7%, mengabaikan kenaikan bursa Wall Street Kamis sebelumnya, yang merupakan penguatan mingguan pertama dalam 3 minggu terakhir. Namun penguatan Wall Street nampaknya akan terbatas karena maraknya rilis laporan keuangan perusahaan‐perusahaan yang listing dalam indeks S&P500 minggu ini.
 
• Mata uang yuan China mencapai rekor tinggi, diperdagangkan di 6,5096 terhadap dolar Jumat sore lalu karena bank sentral Cina masih mempertahankan level mid point di titik tertingginya. Seperti yang banyak negara Asia lakukan tahun ini, pemerintah China berupaya menjinakkan inflasi impor dengan cara memperkuat mata uangnya. Tapi analis tidak mengatakan bahwa pengawasan nilai tukar oleh bank sentral China saat ini sebagai langkah awal sebelum melakukan revaluasi mata uang.
 
• Harga minyak rebound dari tekanannya terkait dengan lemahnya data ekonomi AS dan dolar AS. Harga minyak mentah AS tipe kontrak Juni <CLc1> naik ke $ 112,35/barel.
 
• Pasar keuangan AS ditutup Jumat memperingati Paskah, sementara pasar Inggris akan ditutup baik Jumat dan Senin ini untuk perayaan tersebut.
 
GOLD & COMMODITIES
 
• Spot gold meningkat ke level tertingginya sepanjang masa Jumat lalu dalam volume perdagangan yang tipis, mencapai level tertingginya dalam rangkaian enam harinya dari pelemahan dollar AS dan dibayangi faktor‐faktor dari permasalahan ketidakpastian geopolitik hingga inflasi.
 
• Silver juga mencapai level terhebatnya dalam 31 tahun, mencatatkan puncak dalam tujuh harinya dan melampaui kenaikan mingguan emas oleh besarnya marjin.
 
• Berlanjutnya krisis sovereign debt zona euro, gejolak di Timur Tengah dan Afrika Utara, naiknya inflasi global, dan meningkatnya kekhawatiran berkenaan stabilitas fiskal AS yang mendorong rally yang mencapai level tertingginya pada precious metals.
 
• Spot gold <XAU=> naik untuk mencatatkan rekor tertingginya $1512,50 per ons, sebelum melemah ke level $1507,69 pada pukul 0853 GMT, yang tercatat dalam mingguannya telah naik 1.5 persen – kenaikan dalam enam minggunya.
 
• Spot silver/perak <XAG=> mencapai level $46.69 per ons, level puncaknya sejak tahun 1980, dengan kenaikan mingguannya hingga 8.4 persen, penguatan tertinggi mingguannya dalam dua bulan.
 
• Perak telah meningkat 51 persen hingga tahun ini, dan gold 6 persen. Perbandingan sama dengan 1 persen kenaikan tembaga pada harga London Metal Exchange, the bellwether pada industrial metals complex.

Friday, April 22, 2011

Gold soars to record in sixth straight session

SINGAPORE | Fri Apr 22, 2011 9:28am EDT
SINGAPORE (Reuters) - Spot gold surged to a lifetime high on Friday in thin holiday trade, hitting a record for a sixth consecutive session on a weak dollar and factors ranging from geopolitical uncertainty to inflation concerns.

Silver also raced to its loftiest in 31 years, notching the milestone for a seventh straight day and outstripping gold's weekly gains by a huge margin.

The ongoing euro zone sovereign debt crisis, unrest in the Middle East and North Africa, rising global inflation, and most recently worries over the fiscal stability of the United States have fueled the record-breaking rally in these precious metals.

Spot gold rose to an record of $1,512.50 an ounce, before easing to $1,507.69 by 4:53 a.m. EST, on track for a weekly gain of 1.5 percent -- its sixth consecutive week of gains.
Spot silver hit $46.69 an ounce, its highest since 1980, on course for a weekly rise of 8.4 percent, its biggest weekly increase in two months.

Silver has gained 51 percent so far this year, and gold 6 percent. This compares with a corresponding 1 percent rise in the London Metal Exchange price of copper, the bellwether of the industrial metals complex.
Supporting precious metals, the dollar was languishing near a three-year low against a basket of currencies, and could take a run at the all-time low hit in 2008, pressured by record low interest rates and the crushing weight of the U.S. budget deficit.

So long as the overall environment stays supportive and the dollar remains weak, gold is expected to retain its strength. Price of bullion is seen to rise to $1,700 an ounce by 2015, analysts polled by Reuters said in a poll.

However, a correction might be on the horizon after the recent rapid ascent, traders and analysts said.
"Gold is likely to consolidate around the $1,500-level next week," said Li Ning, an analyst at Shanghai CIFCO Futures. "The angle of the recent rally is very sharp, and we are bound to see some correction in the near term."

MORE STEAM TO RUN ON?

Spot gold has rallied more than $50, or 4 percent, in the past eight sessions. The Relative Strength Index, or RSI, rose to nearly 75, a level unseen since October last year, suggesting the market has been heavily overbought.

The RSI on spot silver climbed close to near 89, its highest since April 1987.
The gold market may have topped out, and now is the time to sell while there are still people willing to buy, said Barry Schwartz, vice president and portfolio manager at Toronto-based wealth manager Baskin Financial Services.

However, Shanghai CIFCO's Li said gold has more steam to run on and expected prices to peak at $1,550 by the end of the second quarter, buoyed by the Middle East unrest, sovereign debt concerns on both sides of the Atlantic and inflation worries.

The Shanghai Gold Exchange has started a trial for over-the-counter trading, providing a convenient tool for institutional clients to trade large quantities of gold, to catch up with exploding investment demand in China.

Holdings in the physically backed exchange-traded precious metals funds dipped ahead of the long Easter weekend. SPDR Gold Trust, the world's biggest gold ETF, saw holdings dip 0.6 metric tons to 1,229.643 metric tonne.

Financial markets in Singapore and Hong Kong are closed on Friday for a public holiday, and Hong Kong will remain closed on Monday.

Headline News 22.04.11

US & GLOBAL

• Erosi  dolar  AS  terus  terakselerasi  minggu  ini setelah warning lembaga  Standard  &  Poor's  terhadap  beban  utang besar Amerika Serikat  serta  tanda-tanda  perlambatan  ekonominya.  Namun  pasar  saham  tidak  terpengaruh  oleh  peringatan  S&P's,  yang  pada  hari  Senin  lalu  menyatakan  akan  men-downgrade peringkat  utang  Amerika Serikat  (yang saat ini  di  level AAA)  jika  gagal  mencapai  kesepakatan untuk rencana pemangkasan  utang  $14  trilyun dalam kurun
waktu 2  tahun ini.

• Indeks  dolar  AS  (terhadap  mata  uang  utama  dunia)  merosot  ke  level  terendah  3  tahun  Kamis  kemarin  yang  memicu  lonjakan  harga  komoditas  emas  ke rekor  tertinggi  di  tengah  arus  investasi  yang  marak  pada  aset-aset  yang  memiliki ketergantungan  minim  pada  ekonomi  AS.  Sementara  optimisnya  rilis laporan pendapatan perusahaan AS dan  Eropa kuartal pertama tahun 2011 memicu kenaikan bursa saham dunia  ke  level  tertinggi 33-bulan. 

• Banyak perusahaan Amerika yang memiliki exposure bisnis di  luar negeri, di mana permintaan dan investasi sedang  meningkat. Hal  ini meredam pesimisme dari kinerja ekonomi AS yang kembali menunjukkan tanda-tanda  melambat  karena pertumbuhan lapangan kerja  yang lemah dan harga minyak naik.

• Dolar  mengalami  tekanan  karena  masih  dipertahankannya  level  suku  bunga  yang  ultra-rendah  dan  arus  diversifikasi  bank  sentral  global  dari  dolar  AS  ke
denominasi mata uang dunia lain, meskipun krisis  utang Eropa  kembali mengemuka belakangan ini. Proyeksi bahwa bank  sentral  AS akan  mempertahankan
suku  bunga  sebesar  nol  dekat  untuk  masa  yang  akan  datang,  bahkan  ketika  bank  sentral  utama  lainnya  menaikkan  suku  atau  akan  memperketat,  telah
menekan  dolar dalam beberapa pekan terakhir.

• Indeks  dolar  <.DXY>  turun ke  73,735,  level  terendah  sejak  Agustus  2008.  Minimnya  volume  perdagangan  menjelang
long-weekend Paskah  memperbesar pengurangan bertahap  aset  dolar  bank  sentral  asing  dari  cadangan  mereka.  Secara teknis  ada potensi  indeks  dolar  AS  akan  menuju rekor  rendah  70,698
yang pernah dicapai tahun 2008 lalu.

• Investor  cenderung memburu kembali  aset-aset beresiko, meskipun ada warning karena kekhawatiran  tentang  krisis  utang zona  euro dan  dampak gempa-
tsunami  Jepang  yang  mengganggu rantai  pasokan. Semua faktor  ini  memberikan  sentimen  negatif untuk dolar,  yang akan memicu  akselerasi tekanannya
lebih lanjut. 

• Namun  bursa  saham  tidak  didukung  oleh  kredibilitas  dolar  AS,  karena  banyak  sekali  perusahaan-perusahaan  AS  yang  memiliki
exposure di  luar  negeri. Investor  memburu  saham-saham setelah  laporan  pendapatan  perusahaan  global di  kuartal  pertama  2011 meredam  pesimisme  rilis  data  ekonomi  dunia,
seperti  dari  Jerman  (Ifo)  dan  Amerika  Serikat ( weekly  jobless  claims ).  Indeks  bursa  saham  dunia  yang  tergabung  dalam  indeks  MSCI  naik  selama  3  hari
berturut-turut, dan Kamis kemarin naik 0,7% ke  level tertinggi sejak  Juli 2008. 

• Bursa  saham Wall  Street mengalami  kenaikan pertama  kalinya untuk  basis  mingguan selama 3 minggu terakhir,  setelah laporan  pendapatan  yang  sangat
optimis  dari  sejumlah  perusahaan  industrinya, termasuk Apple,  yang  mendongkrak kembali  sentimen
bullish
pasar. Indeks saham  Eropa,  FTSEurofirst  300
<.FTEU3>, 0,4%, indeks saham  Asia naik ke level tertinggi mereka sejak Januari  2008.

• Lemahnya  dolar  AS  dan  kekhawatiran  inflasi  dunia  memicu  akselerasi  kenaikan  harga  emas  ke  rekor  tertingginya,  $1,508.75,  sementara  harga  perak
<XAG=> melonjak ke level tertinggi 31 tahun di $46,66/ounce.  Harga minyak mentah AS tipe kontrak Juni (CLc1) berlanjut rebound ke  $ 112,35/barel.
Pasar  keuangan  AS  tutup  hari  ini  memperingati  Jumat  Agung  (Paskah),  sementara  pasar  Inggris  akan  ditutup  baik  Jumat  dan  Senin  untuk  akhir  pekan
panjang  merayakan Paskah.